Without Time Until Last

Without Time Until Last
Episode 40



Adrian meninggalkan ruangan tersebut di ikuti Hardin yang juga meninggalkan ruangan


tersebut, pria itu menghampiri Adrian yang berdiri di luar ruangan.


“kenapa kalian masih mengangkut anak-anak?”. Tanya Adrian tanpa melihat kearah Hardin


“itu sudah menjadi bisnis utama organisasi gelap yang paling menguntungkan”.


“Juliet tahu?”.


“iya sangat tahu, kau mengingat Juliet sewaktu kecil saat melihat anak itu”.


“ya benar”.


“anak kecil adalah asset paling menguntungkan untuk organisasi gelap, mereka akan


dilatih untuk bergabung, tidak akan dilepaskan untuk seorang pedofil, tenang


saja”.


“kalian melakukan hal seperti ini sejak dulu”.


“ya benar, termasuk Yasmine juga asset organisasi gelap, tapi sepertinya dia di


sukai salah satu anggota organisasi kami”.


Adrian terkekeh, karena saat itu dia juga ada dan melihat pengakuan seorang pria yang


mencintai Yasmine. Jeff menghampiri mereka berdua sambil membawa dua gelas


wine.


“apa yang kalian bicarakan? Naik ke lantai dua?”. Ajak Jeff di ikuti Adrian dan


Hardin. Mereka naik kelantai dua sambil melihat keramaian di bawah.


“bagaimana keadaan Niana?”. Tanya Hardin


“dia baik-baik saja”.


“kapan dia kembali ke California?”.


“lusa”.


“baguslah, tuan Aero selalu menanyakan tentangnya”.


“kenapa tidak menghubungiku atau Juliet langsung”.


“entahlah, dia tidak ingin mengganggu kalian”.


Selesai dengan urusannya, Adrian langsung pulang kemansion, pria itu tidak menemukan


Juliet diranjang mereka, Adrian menanyakan pada pelayan kalau Juliet masih stay


di ruang baca. Saat pintu terbuka, Adrian melihat Juliet yang tertidur disofa dengan


buku yang masih ada di tangannya. Adrian mengambil buku tersebut dan menaruhnya


dimeja lalu membopong Juliet kekamar mereka yang ada dilantai bawah.


Adrian membaringkan istrinya di ranjang, menyelimuti tubuhnya lalu pergi kekamar mandi


untuk membersihkan diri.



Pesawat yang membawa Adrian dan Juliet sampai di California, mereka berdua langsung


pulang kerumah keluarga Aero, Juliet merindukan ayahnya begitupula Adrian yang


tak bisa menuruti keinginan istrinya. Wanita itu langsung memeluk pria paruh


baya begitu memasuki rumah, “Niana merindukan daddy”.


“astaga, kau sudah menjadi seorang istri Niana”.


“tapi Niana tetap anak daddy”.


“ya benar sampai kapanpun, istirahatlah kau habis perjalanan”.


Adrian mengantarkan Juliet ke kamar sedangkan pria itu turun kembali kelantai bawah


menghampiri tuan Aero yang duduk di sofa sambil membaca majalah bisnis.


“dad”. Panggil Adrian


Tuan Aero tersenyum padanya, melepas kacamata baca yang dia pakai dan meletakkan


majalahnya dimeja.


“kau sudah menjaga anakku”. Ucap tuan Aero


“maafkan mommy”.


“tidak masalah, kau juga sudah berkorban untuk Niana selama ini”.


“aku mencintainya sejak dulu”.


“waktu itu ku kira kau hanya cinta monyet ternyata kau benar-benar menyukai Niana yang


sombong padamu”.


“Niana tidak sombong, dia hanya mencintai daddy nya, wajar jika tidak menginginkan


pria lain disisinya”.


“kau benar”.


Dari lantai atas, Juliet melihat Adrian dan ayahnya yang sangat akrab membuatnya


tersenyum. Bahkan mengingatnya membuatnya kembali tersenyum.


Pagi menyapa kembali, Juliet terbangun dari tidurnya, wanita itu langsung ke kamar


mandi tanpa membangunkan Adrian, hingga selesai make up Adrian masih tertidur.


Juliet menghampiri pria itu dan mencoba membangunkannya.


“bangun”.


“emm bentar sayang”.


“aku tinggal kalau begitu”.


Adrian langsung membuka matanya dan menahan tangan Juliet “morning kiss”.


“astaga”.


Juliet mendekatkan wajahnya kearah Adrian mengecup bibirnya singkat namun Adrian


menahan leher Juliet dan memperdalam ciuman mereka hingga wanita itu


terengah-engah dan mendorong Adrian.


“cukup Adrian, saat nya ke kamar mandi, aku harus berangkat pagi ini”.


“baiklah”.


Dengan berat Adrian beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan


tubuhnya. Dilantai bawah Juliet sudah menunggu pria itu memakan sarapan


“maaf aku kesiangan”. Ucap Adrian duduk di samping Juliet


“tidak masalah”. Mereka menghabiskan sarapan, kemudian Adrian mengantar Juliet


bekerja, sedangkan dirinya harus mendatangi meeting penting di salah satu hotel


mewah di California.


Bersamaan Juliet turun dari mobilnya, seorang wanita berdiri didepan pintu masuk.


“nyonya Adrian”. Panggil wanita itu


“ya”. Juliet menghentikan langkahnya


“saya mahasiswi Jurnalistik”.


“kau datang pagi sekali”.


“sekretaris anda mengatakan kalau anda ada waktu pagi hanya lima belas menit”.


“ya, kalau begitu masuk”.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruangan Juliet. Wanita itu duduk di sofa yang


ada diruangan Juliet begitupula Juliet yang duduk tak jauh darinya.


“perkenalkan nama saya Luna, saya mahasiswi pengganti yang akan mewawancarai anda, teman


saya Rose tidak bisa datang”.


“baiklah, saya Juliet Niana Aero dari Aero Corp”.


“saya akan bertanya sesuai dengan pertanyaan yang Rose tulis dikertasnya”.


“silakan”.


“anda seorang wanita, menurut anda pemimpin itu harus pria atau wanita?”.


“ngga ada keharusan untuk menjadi seorang pemimpin, pemimpin itu bukan soal gender


melainkan kesanggupan dan tanggung jawab manusia akan amanah yang diberikan.


Mungkin awalnya saya ragu bisa duduk di kursi CEO, tapi saya harus melakukannya,


belajar apa yang sebelumnya belum saya pelajari”.


“baik. Soal pernikahan anda dengan tuan Adrian dari keluarga Nicoline apakah itu


memperkuat kedudukan keluarga”.


“tidak, sama sekali tidak, saya dengan Adrian suddah mengenal lama, saya mencintainya


sebagai Adrian bukan karena dia keluarga Nicoline dan untuk memperkuat


kedudukan”.


“berita yang beredar?”.


“itu hak mereka untuk menyimpulkan kehidupan seseorang karena mungkin saja hal


tersebut benar adanya, tapi untuk perjodohan ataupun yang lainnya tidak”.


“anda sukses seperti sekarang karena keluarga?”.


“iya salah satunya, karena saya satu-satunya keturunan keluarga Aero”.


“baiklah terima kasih atas waktunya”.


“sama-sama”.


“nyonya, apakah saya boleh bertanya lagi?”.


“tentu saja”.


“apakah anda dahulu mengalami hal buruk sebelum sampai sekarang atau lika-liku hidup”.


“lika liku pasti ada, haal buruk pun pernah saya rasakan. Saya tinggal tidak dengan


keluarga Aero, menyembunyikan identitas sebagai pewaris Aero dan lain


sebagainya, itu adalah proses”.


“bagaimana dengan menghancurkan hidup orang lain?”.


Juliet mengangguk “setiap orang memiliki alasan untuk menghancurkan atau memperbaiki,


dan ketika kita menghancurkan orang lain pasti ada alasannya dan alasan itu


pasti lebih dari cukup dan setara”.


Luna terdiam, dia mengingat Kyle. Kyle tidak pernah mengatakan kalau dia


menghancurkan hidup Juliet, Kyle korban Adrian karena Juliet.


Dering ponsel Juliet membuat wanita itu beranjak dari duduknya “sebentar”. Juliet


menerima telepon yang masuk dari sekretarisnya.


“ya”.


“saya belum mendapatkan pengganti saya hari ini nona”.


“tidak masalah, aku sudah mendapatkannya”.


“benarkah?”.


“ya”. Juliet menutup ponselnya dan menghampiri Luna kembali.


“kau tertarik bekerja di Aero?”.


“saya belum lulus kuliah”.


“untuk belajar?”.


“saya bermimpi bekerja di Aero Corp tapi saya rasa tidak mungkin”.


“apa kau mau?”.


Luna mengangguk


“Sekretaris saya tengah cuti, apa kau sanggup menggantikannya?”.


“saya?”.


“ya”.


“tapi mana mungkin saya bisa?”.


“kau bisa belajar, hanya dua bulan lalu kau bisa selesaikan kuliahmu kembali”.


“baiklah saya mau”.


“bagus, kau bisa mulai bekerja besok, kau bisa menghubungi sekretarisku sebelumnya”.


“iya, terima kasih banyak”.


Luna meninggalkan Aero corp dengan perasaan bahagia melupakan kalau dia ingin


mengetahui siapa Juliet sebenarnya dan apa benar Juliet membenci Kyle.