
Bahagia. Alex tak menyia-nyiakan kesempatannya bertemu dengan Clara, dia berusaha menciptakan suasana yang hangat beriring canda tawa bahagia.
Tapi, sedih tetap tak begitu saja dapat sirna dari ingatannya, wajah Clara yang berusaha melawan kematian masih lekat dibenaknya, Clara tidak menyerah hingga detik-detik terakhirnya. Namun keyakinan pantang menyerah tidak dapat menlong Clara dari maut, semua itu belum cukup untuk membuat Clara melewati masa kritisnya.
Tak akan ada yang menyangka. Sosok wanita kuat dengan tatapan mata tajam yang dapat membius para lelaki ini akan berubah menjadi sendu, dan sosok wanita yang terlihat sangat tangguh akan berbaring lemah tak berdaya diatas ranjang menunggu malaikat menuntaskan deritanya.
Pilu hati Alex melihat Clara dengan kondisi yang sangat memprihatinkan seperti itu, matanya tak sanggup untuk menatap Clara, hingga tidak tau bagaimana caranya untuk tersenyum.
Matahari hilang dari cakrawala dan cahaya senja menghias kaki langit, angin malam menelan rasa nyaman dan dingin menyesaki ruangan. Clara menutup jendela kamar Alex yang menganga terbuka lebar, hawa dingin sudah tak mampu untuk ditahan.
“Kamu minum obatnya, habis itu tidur!” ucap Clara sambil mengambil tasnya.
“Kamu mau kemana?” tanya Alex.
“Pulang.” Jawab Clara dengan tenang, “Ini udah mau malam.” Ucap Clara.
“Kan belum terlalu larut, matahari barusan tenggelam, kenapa kamu harus buru-buru pulang?” tanya Alex. Matanya menatap sendu, karena tak terasa waktu telah berlalu begitu cepat.
“Gak baik perempuan pulang malam-malam.” Jawab Clara.
“Ya udah kamu gak usah pulang nginep aja disini.” ucap Alex.
“Apa kata orang nantinya… lagipula, buat apa juga aku nginep disini?” tanya Clara menatap heran Alex.
“Temenin aku… aku bosen kalo cuma sendirian tidur dikamar.” Jawab Alex. Seolah mengemis agar Clara tak pergi meninggalkan dirinya.
“Itu salahmu… gak ada yang nyuruh kamu untuk sakit.” Ucap Clara.
“Aku gak bilang kalo aku pengen sakit.” Bantah Alex sambil menggelengkan kepalanya.
“Makanya, jangan tidur malam-malam! Kalo gak mau sakit.” Jawab Clara kesal.
“Iya aku gak tidur malam-malam lagi.” Jawab Alex sambil menundukkan kepalanya, “Aku janji gak akan tidur malam-malam lagi, tapi kamu temenin aku malam ini, aku masih pengen sama kamu.” Pinta Alex.
Clara diam sejenak, dia memandangi Alex, bola matanya naik turun menyelidiki Alex, suatu kecurigaan muncul dalam benaknya, apa yang sedang Alex rencanakan.
“Tumben, biasanya kamu gak nyaman kalo lama-lama sama aku?” tanya Clara dengan sorot mata tajam mengintimidasi Alex.
Tatapan mata Clara yang tajam menyelidik, membuat Alex meneguk air liurnya sendiri, entah mengapa tatapan itu dapat mengikis mental Alex hingga dia hanya bisa menundukkan kepalanya, “Kan biasanya… kemaren sama sekarang ya beda dong, sekarang aku pengen punya waktu lebih banyak aja buat sama-sama kamu.” jawab Alex.
Clara mendekatkan wajahnya pada Alex agar dapat melihat ekspresi wajah Alex saat ini, dengan begitu dia dapat mendikte rencana dari Alex, “Gak ada maksud lain?” tanya Clara.
“Sumpah… gak ada.” Jawab Alex sambil mengangkat kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya.
“Cuma malam ini aja ya.” Jawab Clara.
“Jadi—“ ucap Alex dengan mata berbinar-binar.
“Yes…” ucap Alex kegirangan. “Makasih ya sayang, aku tambah cinta deh.” Alex mencubit pipi Clara dengan gemas.
“Aww… sakit Alex!” Teriak Clara sambil berusaha melepaskan cubitan Alex.
“Aku tuh gemes banget sama kamu.” jawab Alex.
“Aku pulang aja deh, kalo gini.” Ancam Clara kesal.
Alex langsung melepaskan cubitannya pada pipi Clara, “Jangan dong! Aku minta maaf ya, habisnya aku seneng banget.” Jawab Alex.
Clara, meringis kesakitan dan memegangi pipinya yang terasa sakit, “Seneng kenapa sih memang?” tanya Clara kesal.
“Karena malamku takkan terasa sunyi, ditemani oleh seorang dewi yang membunuh sepi gulita malam yang membunuh secara perlahan.” Jawab Alex.
“Apa sih? gak jelas sama sekali.” Jawab Clara.
“Padahal kamu tersipu malu, pipimu aja sampai merah begitu.” Ucap Alex.
“Ini merah karena kamu cubit.” Bantah Clara.
“Hm…” Alex mendekatkan wajahnya pada wajah Clara, dia menatap seluruh area wajah Clara, “Kenapa?” tanya Clara heran.
“Pipimu dua-duanya merah, aku tadi kan cuma cubit pipi kirimu aja.” Jawab Alex.
“Perasaanmu aja.” Jawab Clara membuang wajahnya dan mengalihkan pandangannya dan menatap ke langit-langit kamar Alex.
“Aku suka kalau kamu malu-malu kucing dan berusaha untuk bohong dari aku.” Ucap Alex sambil tersenyum kecil, “kamu lebih cantik kalau lagi pasang ekspresi begini, aku jadi gak sabar—“ ucap Alex.
“Gak sabar apa?” tanya Clara penasaran.
“Gak sabar untuk membangun keluarga bersamamu.” Jawab Alex.
“Berenti ngegombal! Minum obatmu!” perintah Clara dengan sangat tegas.
“Tapi—“ ucap Alex.
“Mi-num o-bat-mu!” Clara menegaskan kata-katanya dengan tatapan tajam.
“I-ya sayang.” Jawab Alex lemas.
Alex meminum obat-obatnya dengan sangat terpaksa, karena Clara berada disampingnya, dan memelototi dirinya. Tidak lama setelah itu kantuk mulai menyerangnya, matanya berat, dan terus menguap, seringkali matanya terpejam tanpa ia sadari, namun keinginan hatinya untuk terus bersama Clara membuatnya kembali membuka lebar matanya, dan menggelengkan kepalanya dengan sangat keras.
Alex masih ingin berada didekat Clara menikmati setiap detik hidup Clara yang tersisa. Rindunya belum tuntas akibat dirinya tidak bertemu dengan Clara satu tahun lamanya dipercobaan Alex untuk menyelamatkan Clara sebelumnya.
Tapi, tubuh Alex tak mau menuruti keinginan hatinya. Dia tertidur pulas sambil menggenggam erat lengan Clara, seakan ingin Sang Kekasih terus bersama dirinya.