
Seorang pria berlutut dan menangis di bawah sinar rembulan. Tangan kanannya memegang erat nisan bertuliskan nama Clara, dan tangan kirinya mengusap wajahnya yang basah oleh air matanya yang tak berhenti bercucuran sejak tubuh Clara tertimbun dengan tanah.
Ia menggenggam tanah merah yang berbaur dengan bunga tabur yang tersebar di gundukkan tanah yang masih hangat.
Hatinya masih berat untuk merelakkan kepergian wanita terkasihnya untuk pergi meninggalkannya sendiri di dunia yang begitu kejam bagi dirinya.
Pria itu bernama Alex, dia adalah kekasih dari wanita bernisan Clara, wanita yang sangat ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya.
Alex tak bergeming dari tempat ia berlutut sejak matahari berada tepat di ubun-ubunnya, hingga malam berwarna hitam pekat membungkus langit berjuta bintang.
Hatinya masih menolak untuk ikhlas melepas kepergian Clara dari hidupnya untuk selama-lamanya.
Dinginnya angin malam tak mampu untuk mengusir Alex pergi meninggalkan makam Clara. Alex tetap bersikeras berada di tempat peristirahatan terakhir Clara. Dia terus menagis meratapi kepergian Clara, air matanya terus mengalir sejak tadi siang, dan masih terus mengalir hingga saat ini, tak mengering sedikit pun.
Langit yang terlihat cerah tak berkabut, merintikkan bulir air hujan, seakan ikut menangis meratapi kepergian Clara. Alex masih tetap berdiam diri ditempat yang sama meskipun hujan dengan deras membasahi sekujur tubuhnya, berbaur dengan air mata kepedihan Alex.
Ia terus mengucapkan nama Clara di tengah derasnya hujan yang tak berbelas kasihan menerpa tubuh Alex, dinginnya air hujan membuat bibirnya pucat, serta membuat kerutan di tangannya, namun tetap tak dapat membuat surut pendirian Alex yang tetap memegang degan erat nisan Clara.
Meski Alex tahu tangisannya takkan merubah keadaan dan takdirnya saat ini, tetap saja dia tak dapat menghentikan tangisannya walau hanya sedetik. Hingga matanya sembab karena tak henti-hentinya dia menangis dan mengeluarkan air matanya.
Alex masih tak percaya Clara pergi meninggalkannya karena sakit yang sudah lama dia derita, Clara yang selalu aktif dan ceria seakan tak memiliki penyakit, ternyata semua itu hanyalah cara Clara untuk merahasiakan penyakit liver yang dia derita.
Alex tak dapat berbuat banyak saat tahu, Satu-satunya cara untuk menyelamatkan Clara adalah dengan Transplantasi Hati.
Mencari pendonor yang dengan sukarela memberikan nyawanya kepada orang lain, itu hampir mustahil untuk ditemukan di dunia ini.
Walaupun dia tahu semua itu mustahil Alex tetap tak menyerah mencari pendonor yang dengan sukarela mau memberikan hatinya kepada Clara. Namun hingga Clara tak dapat menghembuskan nafasnya lagi, tak ada satupun orang yang mau mendonorkan hati mereka untuk Clara.
usaha Alex yang tanpa lelah terus mencari pendonor untuk menyelamatkan Clara menjadi tak berarti dan hanya sia-sia belaka, hanya meninggalkan luka dan penyesalan yang dalam untuk Alex.
Dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak mampu mendapatkan pendonor untuk Transplantasi Hati Clara. Dia terus mengucap kata maaf didepan nisan Clara yang dengan erat dia genggam. Alex membenci takdir yang tak dapat menyelamatkan hidup Clara.
Kata-kata umpatan untuk dirinya terus ia ucapkan dalam hatinya, dia terus bertanya dalam hatinya mengapa takdir begitu kejam merenggut wanita yang ia cintai.
Dia merebahkan kepalanya diatas gundukkan tanah merah yang berbaur dengan bunga tabur. Badannya menggigil kedinginan akibat air hujan yang membasahi seluruh pakaiannya.
Matanya terpejam sambil memegang erat nisan yang bertuliskan Clara. Dia terlelap tidur diatas tempat peristirahatan terakhir kekasihnya, yang belum genap satu hari menghembuskan nafas terakhirnya.
Saat itu dia menggenggam dengan erat tangan dingin dari kekasihnya, dia mengamuk menghancurkan segala peralatan yang berada diruangan itu, tanpa ampun dia membantingnya sambil berteriak sekuat tenaga hingga menggema di seluruh sudut ruangan.
Air matanya mengalir dengan deras saat itu. Beberapa orang berusaha menghentikan amukannya yang sudah tak terkendali, tetapi dia juga tidak ragu untuk menghantam orang-orang yang berusaha menghentikan amukannya.
Hingga seorang dokter menancapkan jarum suntik, yang dengan asal dia tancapkan dilengannya, dan hanya beberapa menit kemudian, tenaganya melemah dan akhirnya dia jatuh tersungkur, akibat obat bius yang dengan paksa disuntikkan kepadanya waktu itu.
Saat Alex tersadar dia sudah berada di rumah duka, tempat tinggal dari Clara. Dia menghampiri Clara yang wajahnya sudah pucat, Alex menggenggam tangan Clara yang sudah dingin, dan kembali air matanya mengalir saat melihat Clara sudah menutup matanya.
Air matanya sempat terhenti saat kedua Orang Tua Clara menggenggam bahunya, berusaha menguatkan dirinya dan menghentikan air mata kesedihannya. Tetapi itu tak bertahan lama, saat tubuh Clara tertimbun dengan tanah, air matanya kembali menitik deras.
Hingga para keluarga dan kerabat pergi meninggalkan Alex sendirian di depan gundukkan tanah merah yang menjadi tempat Clara untuk beristirahat selama-lamanya, tapi dia masih tetap menangis dan berlutut menggenggam nisan dari Clara.
Alex berdiri seketika saat melihat cahaya putih yang sangat dekat dengannya. Seorang wanita berambut perak keemasan, terbang sekitar 1-2 meter tak menapakkan kakinya ke tanah. Dia tersenyum melihat Alex yang terlihat kaget dan heran dengan apa yang sedang dia lihat.
“Si-siapa kamu?” tanya Alex yang perlahan mundur dengan teratur.
“Aku Dewi Bulan.” Jawabnya singkat sembari menyunggingkan senyumnya pada Alex.
“Jangan bercanda.” Bentak Alex, “Tidak ada yang namanya Dewi di dunia ini.” Seru Alex.
Dewi Bulan tersenyum kecil, memperlihatkan barisan gigi rapihnya yang putih seperti salju, “Aku tidak sedang bercanda atau berbohong aku kesini ingin membantumu untuk merubah takdir.” Ucapnya.
“Tidak mungkin kamu bisa melakukannya, itu mustahil.” Bantah Alex.
Dewi Bulan mendekati wajah Alex, lalu dia menatap mata Alex, beberapa detik kemudian dia tersenyum lebar kepada Alex. Dan Alex hanya diam membatu saat Dewi Bulan mendekatinya, dia beberapa kali menelan ludahnya, serta muncul bulir keringat di keningnya.
“Kekasihmu baru saja pergi meninggalkanmu bukan?” tanya Dewi Bulan sambil memiringkan wajahnya, “Aku akan memberimu kekuatan untuk merubah takdirmu tetapi dengan satu syarat, Apa kamu bersedia?” tanya Dewi Bulan.
“Apa Syaratnya?” tanya Alex menatap tajam Dewi Bulan, sambil merapatkan giginya.
“Aku jelaskan dulu aturannya jika kamu bersedia.” Jawab Dewi Bulan.
“Jelaskanlah padaku! apapun syarat dan aturannya akan kupenuhi asal aku bisa menyelamatkan Clara!” ucap Alex.
“Aturannya hanya satu, kamu hanya bisa membatalkan takdir dan merubahnya, tetapi kamu tidak bisa kembali lagi ke takdirmu yang sebelumnya, dalam kata lain kamu hanya bisa mundur dan menulis ulang takdirmu, Apa kamu mengerti?” jelas dewi Bulan.
Alex terdiam sejenak, untuk mencerna aturan dari Dewi Bulan, lalu dia mengangukkan kepalanya, “Berarti aku sama saja, hanya bisa memakai Fitur Undo dan merubah tulisan, tanpa bisa menggunakan fitur Redo seperti di komputer.” Gumam Alex.
“Baik aku bersedia, lalu apa syaratnya?” Tanya alex.
“Setiap kamu membatalkan takdir dan merubahnya, satu tulang rusukmu akan kuambil sebagai gantinya, apa kamu sanggup?” Tanya Dewi Bulan.
“Bukan Masalah, jika hanya itu syaratnya.” Jawab Alex dengan cepat, “Berikan aku kekuatan itu sekarang!” ucap Alex.
“Baiklah, tapi sebelum perjanjian ini disetujui, ada satu hal yang ingin kuberitahu padamu, jika tulang rusukmu habis, maka kamu akan mati dan tak bisa mengubah takdirmu kembali.” Jawab Dewi Bulan.
“Aku tidak peduli.” Seru Alex setengah berteriak, “Asalkan Clara selamat, apapun akan aku lakukan untuknya.” Ucap Alex.
“Perjanjian disetujui, kamu tinggal memilih waktu yang kamu inginkan untuk kembali ke masa lalu dan merubah takdirmu, setalah itu kamu sebut namaku 3 kali, dan kamu akan kembali ke masa lalu dengan satu tulang rusukmu sebagai gantinya.” Jelas Dewi Bulan.
“Apakah tulang rusukku akan diambil saat itu juga?” Tanya Alex.
“Tidak… aku akan mengambilnya, jika salah satu dari dua kondisi terpenuhi, kondisi pertama adalah disaat kamu sudah menggunakan semua tulang rusuk yang kamu miliki, dan kondisi yang kedua, disaat kamu ingin melepaskan kekuatan yang telah kuberikan padamu.” Terang dewi Bulan.
“Aku setuju, aku ingin kembali ke 3 tahun sebelum sekarang, Dewi Bulan,Dewi Bulan, Dewi Bulan.” Ucap Alex.
Setelah itu Alex tak sadarkan diri untuk beberapa saat. dia membuka matanya secara perlahan, Alex kaget karena dirinya sedang berada di kamarnya. Lalu dia bangun dan melihat kalender yang tergantung di tembok kamarnya.
“dua ribu tujuh belas.” Ucap Alex kaget membelalakan matanya, seakan tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat.