Undo

Undo
Penculikan



Alex berdiri menghadap jendela apartmennya. Apartmen yang Cassandra berikan pada setiap anak buahnya, dan fasilitas serta kondisi apartmen akan ditentukan berdasarkan kinerja mereka.


Karena Alex adalah seorang pemula dia mendapatkan sebuah apartmen yang sangat standar tidak ada yang dapat disebut barang mewah didalamnya, dan ruangannya tidak terlalu luas, berbanding terbalik dengan apartmen milik Willy yang luas dan dipenuhi kemewahan.


Hanya saja, apartmen Willy terasa sempit, sesak dan sangat pengap, karena Willy memang orang yang sangat malas, sehingga apartmennya yang luas terasa sangat sempit dan tidak sedap dipandang.


Satu minggu sudah Alex menjalani harinya sejak dia membuat kesepakatan dengan Cassandra, Si Pemimpin Grup Night Raven. Seorang Wanita berumur 30-an, namun masih terlihat sangat muda dan cantik, mungkin itu karena faktor fisiknya, yang tidak terlalu tinggi dan berkulit putih, seperti keturunan Chinese, maka dari itu dia terlihat lebih muda.


Alex mengamati sudut kota dari apartmennya yang terletak cukup tinggi, pikirannya tidak tenang dan merasa cemas, karena hari ini Clara akan diculik oleh Willy Si Anak Emas, dan tangan kanan dari Cassandra.


Tangannya tak berhenti gemetaran, jantungnya berdegup tak beraturan, Willy adalah orang yang sangat kasar, tidak peduli dia Pria ataupun Wanita, selama itu Cassandra akan dia hantam jika melawan dirinya.


Gumpalan awan putih menggantung diatas langit biru, bulatan cahaya kuning keemasan semakin turun ke bawah kaki langit, “Sudah jam 4, harusnya sekarang Clara sedang bersepeda bersama kucing kesayangannya.” Gumam Alex sambil melihat arloji bulat berwarna perak mengkilap yang melingkar dilengannya.


“Semoga dia baik-baik aja.” Ucap Alex, lalu dia pergi ke arah dapurnya untuk membuat segelas kopi.


Di tempat lain. Clara sedang bersepeda bersama kucing kesayangannya yang dia beri nama Lexa, seekor kucing Persia berjenis kelamin betina, berwarna oranye, dengan warna mata yang mirip dengan bulu-bulu halusnya yang lebat, berumur 3 tahun. Seekor kucing yang Alex berikan padanya tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18 tahun.


Willy mengendap-endap mengikuti Clara menggunakan sebuah mobil tanpa disadari olehnya, Willy menggunakan masker, kacamata hitam dan hoodie yang bertudung untuk menutupi kepalanya.


Dia memandang foto yang Cassandra berikan padanya, lalu dia memerhatikan Clara berkali-kali untuk memastikan kemiripan wajah Clara dengan foto yang sedang ia pegang.


“Cantik, dia cukup tinggi dan wajahnya sangat manis… mau Cassandra apakan wanita ini?” gumam Willy heran.


Sekali lagi dia perhatikan wajah Clara yang sedang mengayuh sepedanya, rambut panjangnya melambai-lambai terhempas angin, “Sayang sekali Cassandra tidak memperbolehkanku untuk menyentuhnya… padahal dia adalah tipe kesukaanku.” Gumam Willy sembari menggelengkan kepalanya.


Willy terus mengikuti Clara hingga Clara berhenti disebuah bangku taman dan duduk sembari menggendong kucing kesayangannya. Willy menghentikan mobilnya tidak jauh dari tempat Clara sedang duduk, dia memulai rencana untuk menjalankan aksinya.


Willy berjalan tenang ke arah Clara, sembari menggenggam dua botol air minum kemasan, lalu tanpa basa-basi dia duduk disebelah Clara.


Clara menatap heran Willy yang sedang duduk disampingnya, badan besar Willy membuat Clara bergidik ngeri, lalu dia langsung saja bangkit dari duduknya untuk pergi menjauh dari Willy.


“Tunggu sebentar nona!” ucap Willy.


Clara yang sudah berdiri sembari menggendong kucingnya, meoleh lemah ke arah Willy, “Saya?” tanya Clara sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Memangnya ada orang lain selain kita berdua disini?” tanya Willy, lalu dia memberikan minuman kemasan yang berada ditangan kanannya pada Clara, “Aku ingin berbicara penting padamu, apakah kamu ada waktu?” tanya Willy.


Clara menatap Willy dengan penuh selidik wajahnya yang ditutupi oleh masker membuat kecurigaan Clara menguat, “Maaf ini sudah sore aku harus pulang sekarang!” jawab Clara.


“Sayang sekali! Padahal aku ingin berbicara sedikit tentang seseorang yang mungkin cukup berharga untukmu.” Ucap Willy.


Clara menatap tajam Willy, lalu sedetik kemudian dia merapatkan gigi-giginya, “Apa yang kamu maksud dengan seseorang yang berharga untukku?” tanya Clara.


“Kekasih mungkin, atau lebih tepatnya pacar, apa mungkin kalian sudah menikah?” tanya Willy yang tersenyum kecil dibalik maskernya.


“Dimana Alex?” bentak Clara.


“Jangan galak-galak, duduk dan minum ini agar kamu dapat lebih tenang.” Jawab Willy.


“Cepat katakan! Dimana dia!” ucap Clara.


“Sopanlah sedikit pada orang yang ingin membantumu.” Ucap Willy dengan sorot mata tajam menatap Clara.


Clara yang melihat sorot mata tajam itu langsung terintimidasi, tubuhnya tanpa disadari duduk menuruti perintah dari Willy.


“Dimana dia?” tanya Clara, sembari meletakkan botol yang baru saja dia minum disebelahnya.


Willy diam, dia memerhatikan botol yang tadi Clara minum, lalu dia melihat arloji ditangannya, “2 menit lagi.” Gumamnya.


“Jawab pertanyaanku!” ucap Clara yang sudah tidak sabar ingin mendengar kabar tentang kekasihnya.


“Sebentar!” jawab Willy, lalu dia kembali memerhatikan arloji yang melingkar ditangannya, “Sebentar lagi dia pasti pusing.” Gumam Willy.


“Aku tidak tahu!” jawab Willy.


Clara membelalakkan matanya, darahnya langsung mengalir cepat dan berkumpul diubun-ubunnya, amarahnya menyesaki seluruh rongga dadanya, “Kamu jangan mempermainkanku!” bentak Clara.


“Kepalamu akan terasa pusing 5 detik lagi.” Jawab Willy dengan tenang.


“Apa yang sedang kamu bicarakan? Jang—“ ucap Clara, lalu dia memegangi kepalanya yang terasa sangat nyeri.


“Lebih cepat dari dugaanku, tidak lama lagi pandanganmu akan buram.” Ucap Willy.


“Apa?” ucap Clara yang sedang meringis kesakitan, lalu beberapa detik kemudian pandangannya mulai kabur.


“Dan sebentar lagi, matamu akan terpejam untuk beberapa saat.” Ucap Willy.


Bukhh… Clara jatuh tepat dibahu kanan Willy, Clara sudah tak sadarkan diri. Lalu Willy langsung menggendong Clara masuk dalam mobilnya, yang berada tidak jauh dari bangku taman tempat mereka duduk.


Setelah masuk dalam mobil, Willy menidurkan Clara di bangku belakang mobilnya, lalu dia mengikat tangan dan kaki serta membungkam mulut Clara. Setelah itu Willy kembali lagi membawa sepeda dan kucing Clara yang masih berada di dekat bangku taman.


Willy langsung mengarahkan mobilnya menuju gedung Night Raven dengan kecepatan penuh. Dan setelah sampai dia membawa Clara ke dalam ruangan khusus yang sudah ditunggu oleh Cassandra.


“Jadi, dia kekasih Alex.” Gumam Cassandra, lalu dia menyuruh Willy untuk mengikat Clara pada ranjang dalam ruangan itu, Cassandra memerhatikan wajah Clara dengan seksama, sembari menunggu Clara sadar dari pingsannya, “Pantas saja Alex sangat mencintainya, wanita ini sangat manis, daya tariknya sangat kuat, cukup hebat Alex bisa mendapatkan hati wanita ini.” ucap Cassandra tersenyum kecil.


Satu jam sudah Cassandra menunggu Clara untuk sadarkan diri dalam ruangan itu, Clara mulai menunjukkan tanda-tanda sadar dari pingsannya, Clara membuka perlahan matanya, kepalanya masih terasa berat dirasa olehnya, disaat dia ingin memegang kepalanya dia kaget.


Clara kaget karena kaki dan tangannya sudah terikat sangat kencang pada sebuah ranjang, belum lagi dia langsung tahu bahwa dia sedang berada dalam ruangan yang tidak ia kenali, “dimana aku?” ucap Clara sambil meronta-ronta berusaha untuk lepas dari ikatan yang membuat kaki dan tangannya sulit untuk digerakkan.


“Percuma kamu meronta, semakin kuat kamu meronta semakin kuat pula ikatannya.” Ucap Cassandra, lalu dia mendekat ke bibir ranjang, “Jangan khawatir… aku tidak akan berbuat macam-macam, aku hanya ingin menolongmu.” Ucap Cassandra.


“Lepaskan aku!” bentak Clara, dan matanya menyorot tajam Cassandra, “Apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Cassandra.


“Aku hanya ingin membantumu.” Jawab Cassandra tenang, lalu dia mendekatkan wajahnya dan melihat warna bola mata Clara, lalu dia melihat jari-jari dan lengan Clara, “Ini sudah tidak lama lagi, mungkin sudah stadium III.” Gumam Cassandra.


“Siapa kamu dan apa yang sedang kamu lakukan padaku?” tanya Clara.


“Aku hanya seorang dokter yang ingin membantumu.” Jawab Cassandra yang masih fokus melihat lengan Clara.


“Apa Alex yang menyuruhmu?” tanya Clara.


Cassandra tersenyum kecil pada Clara, “dia cukup pintar.” Gumam Cassandra.


“Aku tidak mengenalnya.” Jawab Cassandra.


“Lalu siapa yang menyuruhmu melakukan ini padaku?” tanya Clara.


“Temanku.” Jawab Casandara, lalu dia pergi meninggalkan Clara sendirian dengan posisi masih terikat kaki dan tangannya.