
Alex meninggalkan Clara dari ruangan itu, pikirannya sudah tak karuan, dia bingung harus bertindak apa sekarang, badannya lemas dengan tatapan mata kosong, lalu dia terduduk lemas disamping pintu.
“Argghh…” teriak Alex sambil memukul tembok sekuat tenaga hingga mengucur darah segar dari tangannya.
“Kenapa bisa gagal sih?” ucap Alex. Lalu dia menjambak dan mengacak-ngacak rambutnya.
Dan tidak lama kemudian Clara keluar dari ruangan, badannya lemas namun ia masih dapat sedikit tersenyum, dia tersenyum kecil pada Alex yang sedang duduk frustasi disamping pintu.
“Sayang Ayo Pulang! Kata dokter aku bisa berobat jalan kok.” ajak Clara.
Alex diam dan menunduk tak menggubris ajakan Clara. Lalu Alex menoleh pelan ke arah Clara senyum kecil wanita pujaannya terlihat oleh mata Alex. “Kenapa kamu masih bisa senyum?” tanya Alex menatap tajam Clara.
“Aku gak akan sembuh kalo merasa sedih, obat paling hebat yang dapat menyembuhkan segala penyakit adalah senyuman,” jawab Clara.
“Kamu bukan lagi demam Ra!” bentak Alex sambil kembali memukul tembok, Clara terkejut dengan reaksi Alex senyumannya berubah menjadi ketakutan. nafas Alex tak beraturan emosinya meluap seulit untuk dikendalikan, “Jangan-jangan kamu selama ini sembunyiin tentang gejala-gejalanya.” Ucap Alex.
“Maaf Lex! Aku gak mau kamu khawatir.” Jawab Clara pelan.
“Sekarang aku lebih khawatir lagi Clara!” ucap Alex sambil menjambak rambutnya sendiri.
“Kata dokternya berlum terlalu parah kok, aku masih bisa berobat jalan.” Jawab Clara berusaha menenangkan emosi Alex.
Alex langsung berdiri seketika, lalu dia menatap wajah Clara dalam-dalam, “Ayo kita pulang!” ajak Alex.
Clara mengangguk dan tersenyum kecil pada sang kekasih, Alex menggandeng tangan Clara dengan erat, dan mengantarnya pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah Clara, Alex langsung pergi tak meninggalkan kata-kata untuk Clara.
Dia dengan cepat menuju rumahnya, dalam perjalanan pikirannya tidak dapat tenang, dia terus mengumpat dalam hatinya menyalahkan dirinya yang sudah gagal untuk mencegah penyakit yang Clara derita.
Sesampainya di rumahnya dia langsung masuk ke kamarnya dia membanting pintu kamarnya dengan sangat keras, dia berkeli-kali mengarahkan kepalan tangannya ke tembok, dia meluapkan emosinya dengan menghajar tembok kamarnya.
Dia terduduk di sudut ranjang, dia melamun untuk memikirkan rencana terkahirnya, “Kali ini aku harus benar-benar fokus, aku gak boleh gagal, dan gak boleh ada kesalahan sedikitpun.” Gumam Alex.
Lalu Alex dengan cepat membuka isi lemarinya, dia memasukkan baju-bajunya ke dalam koper besar miliknya, tidak lupa Alex juga membawa laptop miliknya, guratan merah dimatanya menyala terang.
Alex mengetuk pintu kamar ibunya dengan sangat lembut, “Kenapa Lex.” Sahut Ibunya dari dalam kamar. Lalu Ibu Alex membuka daun pintu secara perlahan, dia terkejut saat melihat Alex sudah membawa koper dan memanggul tas besar di punggungnya, lalu dia menatap tajam mata anaknya, “Mau kemana kamu?” tanya Ibu Alex.
“Menyelamatkan orang yang berharga untukku.” Jawab Alex. Ibu Alex terdiam sejenak, tatapan matanya sendu seakan berat untuk melepas pergi anaknya. Alex merapatkan giginya, dia menundukkan wajahnya dan menggenggam erat kopernya.
“Pergilah Nak! Ibu selalu dukung kamu dimanapun dan kapanpun itu, perjuangkanlah sesuatu yang paling berharga untukmu, Ibu hanya bisa mendukungmu dan mendo’akanmu dari kejauhan.” Jawab Ibunya dengan air mata yang sudah berkumpul dikelopak matanya.
“Makasih Bu.” Jawab Alex sambil memeluk Ibunya dengan erat, “Do’ain aku berhasil menyelamatkan orang yang berharga untukku.” Ucap Alex.
“Ibu akan selalu do’ain kamu.” jawab Ibu Alex sambil mencium kedua belah pipi anaknya, air mata Ibu Alex sudah merembes tak lagi terbendung, air mata itu sudah membasahi wajah Ibunya.
Lalu Alex melepaskan pelukannya dari Ibunya, dan dia menyeret kopernya keluar menuju rumahnya. Ibu Alex mengekor dari belakang hingga sampai di depan pintu mobil Alex, “Kamu udah kasih tahu Clara?” tanya Ibu Alex.
Alex tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan, “Belum Bu.” Jawab Alex.
“Nanti biar Ibu yang ngomong, berangkatlah dan fokus sama tujuan kamu!” ucap Ibu Alex.
Alex tersenyum dan menganggukan kepalanya, lalu dia masuk ke dalam mobilnya, ia menatap Ibunya yang bercucuran air mata melepas kepergiannya, “Aku akan secepatnya kembali Bu.” Ucap Alex.
Lalu Alex menginjak pedal gas mobilnya, dia mengarahkan mobilnya ke tempat yang belum jelas, dia hanya bertujuan untuk mencari uang dan mengumpulkannya untuk membelikan Clara hati untuk transplantasinya di pasar gelap.
Tapi disisi hatinya yang lain Alex ingin Clara selamat dan terus hidup bersama dirinya hingga maut memisahkan, dia ingin hidup bahagia bersama Clara bagaimanapun caranya, dan dia ingin membangun keluarga kecil bersama-sama dengan Clara.
Dikehidupan yang sebelumnya Clara dan Alex dipisahkan oleh takdir, mereka terpisahkan oleh dua alam yang berbeda. Alex berada di alam yang kejam bernama dunia nyata sedangkan Clara berada di alam kematian yang tidak Alex ketahui seperti apakah alam kematian itu.
Dan hari ini Alex gagal untuk membuat keinginan hatinya menjadi sebuah kenyataan, dia gagal untuk mencegah penyakit Clara bersarang dalam dirinya, kini Alex harus menjalankan rencana keduanya yang dia buat untuk mengantisipasi kegagalan dari rencananya mencegah penyakit Clara.
Meski Alex sudah merancang rencana ini sejak lama namun rencananya yang terakhir ini menurut Alex sangatlah sulit. Jalan yang ia lalui terjal dan berbatu, dikelilingi jurang dan jalan yang berkelok-kelok.
Dia akan masuk ke dalam dunia hitam, sebuah dunia criminal yang dapat membuat seseorang sengsara jatuh ke dalam jurang penyesalan. Meski Alex tahu apa yang sedang menunggu di depannya dia tetap melangkahkan kakinya untuk maju ke gerbang menuju dunia itu.
Dia masuk dalam sebuah komunitas kriminal paling kuat di kota itu, dia tanpa ragu masuk ke sebuah bangunan yang berisikan mafia kriminal yang melakukan apapun demi uang.
Alex melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah ruangan yang menjadi ruangan khusus dari Si Pemimpin. Dia berjalan dengan tatapan tajam dengan dada membusung, amarah alex dapat dirasakan oleh orang yang berada disekitarnya.
Alex langsung diantar untuk menemui Si Pemimpin yang menjalankan bisnis kriminal, seorang wanita yang berumur sekitar 30 tahun, terlihat duduk sambil memegang sebuah gelas kaca, lalu seseorang menuangkan air berwarna merah ke dalam dari sebuah botol beling ke dalam gelas itu.
“Nama?” tanya wanita itu sambil meneguk air yang berada dalam gelasnya.
“Alex.” Jawab Alex sambil menatap tajam orang itu.
“Jangan terlalu tegang, kamu membuat takut wanita jika memasang wajah seperti itu.” ucap orang itu sambil menyuruh orang yang berada disampingnya untuk memberikan minuman pada Alex, “Jadi, apa yang kamu mau?” tanya Wanita itu.
“Hati… aku mau hati untuk transplantasi.” Jawab Alex cepat, “Aku akan lakukan apapun asal aku bisa dapatkan itu.” ucap Alex. Lalu dia mengambil gelas yang diberikan oleh orang yang berada di sebelah wanita itu.
“Apapun?” ucap orang itu sambil tersenyum penuh arti pada Alex.
“Iya apapun.” Jawab Alex dengan tegas.
Lalu wanita itu mengamati Alex dengan teliti, dia memandangi wajah Alex dengan tajam, lalu dia tersenyum kecil dan melangkah mendekat pada Alex.
“Aku suka tatapan mata kamu… sepertinya kamu orang yang dapat kuandalkan, aku akan berikan apa yang kamu mau, jika kamu dapat memberikanku keuntungan besar.” Ucap Wanita itu.
“Waktuku tidak banyak, apa yang harus aku lakukan?” tanya Alex.
“Jadilah anak buahku, tinggallah disini! dan besok aku akan berikan kamu tugas pertama.” Perintah Wanita itu sambil tersenyum pada Alex.
“Baiklah, aku akan tururti kemauanmu, asalkan kamu dapat memberikan hati itu secepatnya padaku.” jawab Alex.
“Will antar dia!” ucap Wanita itu.
“Baik Bos.” Jawab laki-laki besar yang berada disebelahnya.
“Sebelum aku pergi aku ingin tahu siapa nama dari tuanku?” tanya Alex.
Wanita itu tersenyum lalu dia mendekatkan bibirnya ke telinga Alex, “Cassandra.” Bisiknya.