Undo

Undo
Sia-sianya Sebuah Perjuangan



Alex langsung pergi melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Clara dirawat, dia membeli seikat bunga untuk sang kekasihnya.


Alex berjalan melewati lorong rumah sakit, dia mencari kamar tempat Clara membaringkan dirinya.


Setelah dia menemukan kamar yang dia tuju, dia langsung membuka pintu kamar itu, Alex melihat Ibunya tertidur disamping Clara.


“Bu.” Alex menggoyang-goyang punggung Ibunya.


Ibu Alex perlahan membuka matanya, lalu dia mengucek-ngucek matanya, hampir saja Ibunya berteriak, tetapi dengan sigap Alex membungkam mulut Ibunya dengan tangannya, “Nanti Clara bangun.” Ucap Alex.


“Kamu darimana aja? Selama ini kamu gak kasih kabar apapun sama kita?” tanya Ibu Alex.


“Cari uang buat Clara, aku cuma mau fokus aja.” Jawab Alex sambil tersenyum kecil.


Lalu Alex menaruh bunga yang dia genggam ke meja yang berada disamping ranjang tidur Clara, dan dia duduk didekat Ibunya.


“Bagaimana pengobatan Clara?” tanya Alex.


Wajah Ibu Alex lemas dia hanya menggeleng kecil, wajahnya tertunduk ke bawah, dia tidak tega mengatakan fakta bahwa penyakit yang Clara derita semakin memburuk.


“Begitu ya.” Jawab Alex pelan, “Apa cuma transplantasi jalan satu-satunya?” tanya Alex.


“Kata dokternya begitu, tapi keberhasilannya juga gak 100 persen hanya sekitar 65 persen, belum lagi sulit cari relawan yang mau memberikan organ secara cuma-cuma.” Jawab Ibu Alex.


“Peluangnya juga cukup tinggi, 65 dari seratus orang, Clara pasti bisa masuk ke dalam 65 orang itu.” pikir Alex.


“Minggu depan siapin operasinya, aku akan cari hati buat Clara!” perintah Alex.


Mata Ibu Alex terbelalak, dia terkejut mendengar ucapan Alex, untuk beberapa saat dia terdiam dengan mulut ternganga, “Kamu serius Lex? Emang udah dapat hati buat Clara?” tanya Ibunya.


“Ibu gak usah pusingin itu, biar aku yang urus.” Jawab Alex dengan tenang, “Ibu tidur aja, kalau mau pulang juga gak apa-apa nanti aku pesenin taksi, biar aku yang jagain Clara!” perintah Alex.


“Bener kamu yang mau jaga Clara?” tanya Ibu Alex.


“Iya Bu beneran.” Jawab Alex.


“Ya udah Ibu pulang aja, mau ganti baju, pagi Ibu kesini lagi.” Ucap Ibu Alex.


“Aku pesenin taksi ya?” tanya Alex.


“Gak usah Ibu bisa sendiri.” Jawab Ibu Alex.


Lalu Alex menganggukkan pelan kepalanya, “Oke, hati-hati Bu.” Ucap Alex.


Ibu Alex langsung bergegas pergi dari ruangan itu, meninggalkan Alex bersama Clara dalam satu ruangan. Alex menggenggam erat tangan Clara yang sedang tertidur pulas, “Kali ini gak akan gagal, pasti berhasil.” Gumam Alex.


Dia pandangi wajah Clara yang sedang terlelap tertidur dengan pulas, “Kamu tidur aja masih tetap cantik, kapan kamu itu keliatan jeleknya.” Ucap Alex dalam hati.


Lalu Alex memainkan Handphonenya sambil beberapa kali memperhatikan Clara, matanya sudah sangat berat ingin terpejam, tapi hati Alex ingin terus membuka matanya sampai Clara bangun dari tidurnya.


Hampir satu tahun sudah dia menghilang tak mengabari Clara, meski Clara terus-terusan berusaha menghubungi Alex, tetapi Alex tidak sedikitpun membalas pesan yang Clara kirimkan.


Suara Clara yang terdengar dari handphonenya sudah cukup untuk mengobati rasa rindunya, tiap hari yang dia lewati selalu merindukan kehadiran Clara, tidak satu hari pun dia lewatkan untuk tidak memikirkan wanita yang sangat dia cintai.


Hingga akhirnya, hari ini Alex dapat menemani Clara melewati masa-masa kritisnya tanpa beban, dia sudah mendapatkan hati untuk transplantasi, sekarang dirinya harus menemani Clara menjalani hari-hari penuh rasa bosan karena hanya dapat terbaring diatas ranjang rumah sakit.


Alex membuat segelas kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya, dia membaca buku-buku yang berada disamping meja tempat Clara berbaring, waktu tak Alex rasa, pagi sudah menyambut sejak tadi, Clara membuka perlahan matanya, “Argghh…” ucap Clara dia menggeliat karena badannya terasa pegal.


Alex tersenyum kecil saat menyadari Clara sudah bangun dari tidurnya, “Good Morning.” Ucap Alex sambil tersenyum lebar.


Clara menengok pelan ke arah suara yang sangat dia kenali, suara yang tidak asing di telinganya, dia terpaku untuk sementara waktu saat senyuman lebar Alex terperangkap matanya, “Mimpi… aku tidur lagi ah.” Ucap Clara sambil memejamkan matanya kembali.


“Hei… ini beneran aku, ini bukan mimpi, apa segitu gak percayanya kamu kalo aku dateng kesini?” tanya Alex.


“Beneran ini kamu?” tanya Clara kaget.


“Iya bener dong, baru ditinggal satu tahun aja kamu udah lupa sama aku.” Jawab Alex.


“Kamu yang gak ada kabar selama satu tahun.” elak Clara.


“Maaf ya. Aku cari uang buat berobat kamu.” jawab Alex dengan raut wajah bersalah.


“Gak apa-apa kok, yang penting kamu masih inget jalan untuk pulang.” Jawab Clara sambil berusaha untuk duduk.


“Aku bantu.” Ucap Alex sambil berusaha membantu Clara untuk bangkit dari tidurnya.


“Terima kasih sayang.” Jawab Clara.


Alex tersenyum kecil pada Clara, lalu dia mengambil seikat bunga yang dia beli semalam, “Maaf ya… mungkin udah layu.” Ucap Alex sambil memberikan bunga itu pada Clara.


“Terima kasih… bunganya masih harum kok.” Jawab Clara sambil mendekatkan hidungnya pada bunga yang Alex berikan padanya, dia tarik nafas panjang untuk menghirup harum bunga yang membuat badannya lebih segar.


“Kamu dari kapan datangnya, kenapa gak bangunin aku?” cecar Clara.


“Aku datang dari semalem, aku gak mau bangunin kamu, karena kamu cantik banget waktu lagi tidur.” Jawab Alex.


“Gombal… mana ada orang yang cantik pas lagi tidur?” ucap Clara dengan wajah merah merona.


“Ada kok, buktinya kamu cantik.” Bantah Alex.


“Mata kamu aja yang rabun.” Jawab Clara.


“Kalo begitu biarlah rabun, supaya aku dapat terus melihat karya terbaik dari tuhan.” Ucap Alex.


“Hahaha…” Clara langsung tertawa terbahak-bahak hingga air matanya membasahi bulu matanya, “Kamu sejak kapan jadi puitis begitu, padahal dulu kamu gak ada romantis-romantisnya sama sekali.” Jawab Clara sambil memegangi perutnya dan mengusap matanya.


“Kalo aku gak romantis, nanti kamu bisa berpaling dari aku.” Jawab Alex salah tingkah.


“Seharusnya aku yang bilang gitu, apa hanya aku yang ada dalam hatimu saat ini?” tanya Clara.


“Hanya kamu selamanya yang ada dihatiku sayang.” Jawab Alex.


“Tapi aku kan penya—“ ucap Clara, “Itu tetap gak merubah pendirianku sama sekali aku gak peduli dengan kondisimu.” Potong Alex.


Lalu Alex menggenggam kedua bahu Clara, dan menatap dalam mata Clara jauh hingga ke dalam hatinya, “Gak akan ada wanita lain yang bisa merebut singgasanamu dalam hatiku.” Alex Clara.


Wajahnya terasa sangat panas, jantungnya serasa ingin pecah karena terlalu memompa darah terlalu cepat, kepalanya berat berputar-putar serasa ingin pingsan, “Sayang… kok kamu diem aja?” tanya Alex.


“Gak apa-apa kok.” Jawab Clara salah tingkah, “Terima kasih ya, udah mau nerima kondisiku yang sekarang.” Jawab Clara.


“Iya sayang.” Jawab Alex. Lalu Alex melepaskan genggamannya dari bahu Clara, “Kamu mau jalan-jalan diluar sama aku?” tanya Alex.


“Aku udah ngomong kok, tenang aja kamu pecayain aja sama Alex.” Jawab Alex dengan sombong.


“Kalo boleh aku mau.” Jawab Clara dengan wajah riang dan bersemangat, mungkin Clara sudah terlalu jenuh berada didalam ruangan, dia ingin menikmati udara ditempat terbuka, merasakan hangatnya sinar mentari menerpa kulitnya.


Alex langsung mengambil sebuah kursi roda, dia menggendong Clara untuk duduk di kursi roda. Alex mengajak Clara berkeliling di seputaran area rumah sakit dengan selang infus masih menancap di lengan Clara.


Raut wajah gembira Clara tak dapat dia sembunyikan, dia bersemangat saat berkeliling ditemani oleh pria terkasihnya. Tawanya sering pecah tanpa alasan yang jelas, hanya hal kecil dapat memicu tawa Clara hingga sulit untuk dia hentikan.


Alex menemani Clara hingga dia tidur dengan lelap menutup matanya, senyum lebarnya masih ia tunjukkan meski dia sudah tidak sadar berpindah ke alam mimpi. Alex tidur disamping Clara sembari menggenggam erat tangan wanita yang dia cintai.


“Genggamanku gak akan lepas lagi Clara.”


Satu minggu telah berlalu Alex mendatangi Cassandra yang sedang santai didalam ruangannya. Alex terlihat sangat tergesa-gesa dan terburu-buru. Dia langsung masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Mana hati yang aku minta?” tanya Alex.


Cassandra yang sedang berdiri menghadap jendela langsung memutar balik badannya, dia berjalan pelan sambil tersenyum kecil mendekat kepada Alex, “Kamu harusnya mengetuk pintu dulu.” Bisik Cassandra.


Lalu Cassandra menuju ke sebuah Brankas, dia memencet tombol kombinasi, untuk membuka brankas itu.


“Ini.” ucap Cassandra sambil memberikan kotak besar pada Alex, “kamu sedang buru-buru bukan?” tanya Cassandra.


“Apa ini benar-benar yang aku inginkan?” tanya Alex.


“Aku sangat membenci pengkhianatan, aku tidak akan mengingkari janjiku sendiri, aku bisa jamin itu dengan nyawaku… tetapi aku tidak tahu hasilnya akan berhasil atau tidak, karena tingkat keberhasilan dari transplantasi hati tidaklah terlalu besar, jadi jangan salahkan aku kalau kamu menemui kegagalan.” Jawab Cassandra.


“Kenapa kamu bisa tahu sampai sejauh itu?” tanya Alex dengan mata penuh selidik.


“Kamu meminta hati... jelas aku langsung tahu buat apa hati itu, dan Ibuku juga pernah melakukan transplantasi hati.” Jawab Cassandra.


“Oh iya… aku tidak pernah melihat Ibumu?” tanya Alex penasaran.


“Dia meninggal saat operasi dijalankan.” Jawab Cassandra dengan mata berkaca-kaca, “Aku hanya bisa membantumu sejauh ini, sisanya hanya takdir yang menentukan.” Ucap Cassandra.


“Terima kasih Cassandra, aku juga akan menepati janjiku.” Jawab Alex.


Lalu Alex langsung pergi meninggalkan ruangan itu, waktunya sudah tidak banyak lagi dia harus sesegera mungkin untuk sampai ke rumah sakit karena operasi akan segera dilakukan.


Alex memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, klakson mobilnya terus ia bunyikan agar kendaraan yang memadati jalan memberikannya ruang supaya dapat segera sampai menuju rumah sakit.


Setelah sampai dia langsung berlari kencang menuju ke ruangan dokter yang sedang menunggu Alex. Dia menggedor ruangan doketer itu dengan sangat kencang, dokter itu membuka pintu yang Alex gedor, “Saya udah dapat hatinya.” Jawab Alex sambil masuk ke dalam ruangan itu.


“Mana pendonornya?” tanya Dokter itu heran.


“Ini hatinya.” Jawab Alex sambil menunjukkan kotak besar yang ia genggam.


“Jangan-jangan kamu—“ ucapan dokter itu langsung terhenti saat Alex menodongkan pistol ke arah dokter itu.


“Jalankan operasinya atau otakmu yang cerdas itu akan berlubang.” Ancam Alex.


Dokter itu langsung berkeringat dingin, wajahnya penuh ketakutan, dia terus memandangi Alex tanpa henti, bibirnya gemetar hebat, “Resiko kegagalannya akan besar kalau saya gak tahu asal-usul hati itu, jangan salahkan saya kalau hasilnya gagal!” jawab dokter itu.


“Lakuin yang terbaik untuk Clara! saya yakin ini akan berhasil.” Perintah Alex.


“Baik akan saya lakukan!” jawab dokter itu.


“Jangan bilang sama siapapun tentang hal ini, kalau gak, semua keluargamu yang akan saya bantai didepan matamu sendiri.” Ancam Alex dengan tatapan tajam, “Kamu mengerti?” tanya Alex.


“Saya mengerti, kamu tenang saja, ini akan jadi rahasia kita berdua, dan akan saya bawa sampai saya mati.” Jawab Dokter itu.


Lalu Alex meninggalkan kotak itu diatas meja Dokter yang akan menangani operasi transplantasi hati kekasihnya, dia langsung berlari menuju ruangan Clara sedang di rawat, jadwal operasi itu akan berlangsung 2 jam lagi, Alex ingin menemui kekasihnya dan memberikannya semangat agar dia dapat berjuang dengan sekuat tenaga nantinya.


“Clara.” Alex membuka pintu kamar Clara dengan nafas terengah-engah.


“Alex.” Ucap Clara kaget, “kamu abis ngapain, mirip orang habis dikejar-kejar anjing?” tanya Clara heran.


“Gak apa-apa, aku hanya terlalu rindu sama kamu, jadinya, aku cepat-cepat lari kesini supaya bisa ketemu kamu.” jawab Alex.


“Alex, kamu gak sopan deh, itu ada Orangtuaku sama Ibumu loh.” Ucap Clara sambil menunduk malu.


“Emang aku salah ya Om, Tante, kalau rindu sama ibu dari anakku?” tanya Alex.


“Alex!!!” ucap Clara geram.


“Gak ada yang salah sih sebenernya, itu hal yang wajar untuk laki-laki.” Jawab Papa Clara sambil mengedipkan matanya pada Alex.


“Kamu denger tuh, dari orang yang udah punya jam terbang tinggi!” Ucap Alex.


“Aku gak tau.” Jawab Clara sambil memalingkan wajahnya.


Lalu Alex bercengkrama dengan Clara, Ibunya, serta kedua Orangtua Clara. Dia berusaha untuk membuat Clara dapat lebih tenang sebelum operasi dilakukan. Waktu terus berjalan para dokter yang bertugas sudah bersiap untuk menjalankan rangakaian operasi, Clara dibawa menuju ruangan operasi oleh beberapa perawat yang bertugas.


Wajah Clara tetap tersenyum lebar seakan tidak merasakan takut untuk menjalankan operasi. Tetapi Alex tetap memasang wajah tegang, Orangtua Clara dan Ibunya berusaha untuk meredakan kecemasan Alex.


Mereka menunggu dengan wajah cemas. Tubuh Alex tak dapat diam terus gemetaran menunggu proses itu berlangsung. Saat dokter membuka pintu ruangan operasi, Alex dengan cepat langsung menghampiri dokter, “gimana dok?” tanya Alex.


“Operasinya sudah selesai, tapi Pasien belum sadarkan diri, kita tunggu hasilnya, apakah tubuh Clara menerima hati itu atau dia menolak hati itu.” jawab Dokter dengan tenang.


“Berapa lama Dok pastinya?” tanya Alex.


“Saya gak bisa pastikan, bisa berbulan-bulan sampai satu tahun.” Jawab Dokter itu lalu dia pergi meninggalkan Alex beserta Orangtua, dan Ibu Alex.


Alex terduduk lemas seketika, Ibu Alex berusaha membuat anak semata wayangnya untuk tetap tegar dan percaya bahwa Clara dapat melewati proses itu.


Hari demi hari berlalu Clara masih belum membuka matanya, perkembangan kondisi Clara tidak mengarah ke arah yang lebih baik, justru kondisinya makin memburuk dan mengalami penurunan, setiap hari para dokter berjuang keras dengan segala upaya untuk membuat Clara tetap hidup dan melewati masa kritisnya.


Alex selalu menunggu didepan pintu ruangan, berharap Clara dapat membuka matanya. Tetapi dokter berjalan lemas menuju keluar ruangan, “Dok gimana Clara?” tanya Alex dengan cepat.


“Maaf!” ucap dokter seraya menundukkan kepalanya, “Kami semua sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi hanya sampai sini kemampuan kami.” Jawab dokter itu.


Alex membelalakkan matanya, emosinya langsung meledak, air matanya langsung mengalir dengan deras, “Jangan bohong *******! Saya udah susah-susah dapatin hati itu, kenapa bisa gagal?” teriak Alex sambil menarik baju dokter itu.


“Tubuh Clara menolak hati itu, kami sudah usahkan yang terbaik, tapi hanya ini yang kami mampu.” Jawab Dokter itu.


“Bajingan! Sialan!” teriak Alex dia memukul wajah dokter itu sekuat tenaganya.


“Dewi Bulan… aku mau kembali ke 3 tahun sebelum sekarang, Dewi Bulan, Dewi Bulan, Dewi Bulan.” Teriak Alex.


“Kontrak disetujui.” Dewi Bulan hadir di hadapan Alex, “Kamu akan kembali ke 3 tahun sebelum hari ini.”