
3 bulan sudah Alex dan Willy memegang kendali Night Raven, yang artinya hari ini Clara akan menjalankan operasi transplantasi hati. Di bawah kendali Alex dan Willy Night Raven menjadi organisasi yang sangat mengerikan, hampir semua perdagangan gelap dan organisasi kriminal lain dapat mereka kuasai.
Bahkan anggota kepolisian berpikir seribu kali untuk menyentuh anggota organisasi Night Raven. Cara Alex dan Cassandra memimpin dan mengatur strategi sangatlah berbeda.
Jika Cassandra lebih memilih untuk memimmpin menggunakan rasa hormat, Alex memimpin Night Raven dengan menggabungkan rasa hormat dan takut, Alex benar-benar memanfaatkan potensi Willy yang sangat buas dan ganas dalam pertarungan.
Cassandra tidak memusingkan bagaimana cara Alex dan Willy memimpin Night Raven, asalkan mereka menghasilkan banyak uang menggunakan cara apapun tidak masalah bagi Cassandra.
Cassandra yang selama ini menghabiskan waktunya berfokus untuk menyiapkan operasi penyelamatan Clara telah keluar dari tempat persembunyiannya, dia menuju ke ruangannya untuk menengok pekerjaan Alex dan Willy.
“Alex.” Panggil Cassandra.
Alex memutar kursinya dan menghadap ke arah Cassandra yang baru saja memanggilnya, dan Cassandra berjalan mendekat dan duduk tepat dihadapan Alex, “Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Cassandra.
Alex tersenyum kecil pada Cassandra, “tenang saja… Night Raven aman ditanganku dan Willy, kita juga banyak menghasilkan uang sekarang.” Jawab Alex, lalu tiba-tiba saja raut wajah Alex berubah menjadi serius, “Clara?” tanya Alex.
“Hari ini akan aku jalankan operasinya, apakah kamu ingin melihatnya?” tanya Cassandra.
“Tentu saja aku ingin melihatnya, tapi bukan itu yang aku tanyakan… tapi, bagaimana kondisinya?” tanya Alex.
“Kondisinya baik, kamu tidak perlu khawatir, aku yakin tubuhnya dapat menerima organ baru, dan kecocokkan hati baru dan tubuhnya ini cukup tinggi menurutku.” Jawab Cassandra dengan tenang.
“Aku lega mendengarnya.” Jawab Alex, lalu dia menghela panjang nafasnya, “jam berapa kamu akan mulai operasinya?” tanya Alex.
“mungkin sebentar lagi, karena dia juga baru saja aku bius.” Jawab Cassandra.
“Apa dia sudah tidur?” tanya Alex.
“Sudah… makanya aku kesini, kamu ingin melihatnya kan.” Jawab Cassandra.
“Kamu cukup pengertian juga.” Jawab Alex dengan senyumnya yang merekah.
“Ayo!” ajak Cassandra sambil berdiri dari duduknya, “kamu sudah tidak sabar melihatnya kan.” Ucap Cassandra.
Alex tersenyum dan langsung berdiri dan mengikuti Cassandra menuju ruangan operasi. Cemas dan senang melebur jadi satu dalam hati Alex, cemas akan hasil dari operasi serta senang karena dapat melihat wajah kekasihnya, hingga Alex bingung harus berbuat apa sekarang.
Cassandra masuk ke dalam ruangan operasi diikuti Alex yang mengekor di belakangnya, Alex langsung saja menggenggam lengan Clara yang sedang tertidur pulas akibat bius yang diberikan oleh Cassandra.
“Yang kuat ya sayang.” Gumam Alex.
Mata Alex berkaca-kaca ia pandangi terus wajah lemah Clara yang sedang terlelap, sedangkan Cassandra hanya diam sambil memandang Alex dengan berjuta makna dalam sorot matanya, “Udah waktunya aku harus siap-siap.” Ucap Cassandra.
Alex menoleh pelan, lalu tersenyum kecil pada Cassandra, Alex mengecup kening Clara untuk beberapa saat, lalu dia membalikkan badannya menghadap Cassandra, “Lakukan yang terbaik, aku percayakan nyawanya padamu.” Ucap Alex, lalu Alex menepuk bahu Cassandra pelan sembari melangkah keluar dari ruangan.
“Hmpph… kamu akan liat pertunjukkan dariku, Si Legenda Dewi Penyelamat Hati, Cassandra.” Ucap Cassandra dengan sombong.
Lalu Cassandra menutup dan mengunci rapat ruangan operasi yang dia rancang sendiri, dan sekitar setengah jam kemudian Cassandra memulai tahap operasi tanpa bantuan dari siapapun.
Alex memerhatikan Cassandra yang sedang membedah tubuh Clara dengan sangat tenang. Tapi, hanya Cassandra yang terlihat sangat tenang, sedangkan raut wajah Alex terlihat sangat tegang dan harap-harap cemas.
Badannya terus gemetaran dan mengeluarkan bulir keringat tak henti-hentinya, hingga sekitar 6 jam berlalu Cassandra melepas maskernya dan berjalan melangkah keluar dari ruangan itu.
Ketika daun pintu terbuka Alex dengan sigap langsung menghampiri Cassandra, “Bagaimana?” tanya Alex cepat.
“Operasinya berjalan sukses, dan semuanya normal sekarang, kita tunggu beberapa minggu ini, apakah tubuhnya menolak, atau menerima organ barunya.” Jawab Cassandra dengan tenang.
“Bukankah kamu sudah yakin kalau tubuhnya akan menerima organ itu?” tanya Alex cemas.
Cassandra menghela nafasnya secara perlahan, lalu dia memegang bahu Alex, “Dokter hanya perantara, tetapi tetap tuhanlah yang menentukan jalannya takdir.” Jawab Cassandra.
“Aku tidak terima kegagalan Cassandra!” bentak Alex.
“Kalau kamu tidak bisa tenang, bagaimana caranya aku menyelamatkan kekasihmu, tenang dan aku akan melakukan yang terbaik.” Jawab Cassandra, lalu Cassandra pergi untuk mengganti pakaian dan membersihkan dirinya.
Sedikit pun hatinya tidak dapat tenang, resah dan gelisah hinggap di hatinya, kegagalannya yang sebelumnya masih menjadi momok paling menakutkan dalam hidupnya, dia telah dua kali gagal dan sudah tiga kali memakai kekuatan yang diberikan oleh Dewi Bulan, yang artinya tulang rusuknya tersisa 20 lagi.
Dan dia juga belum tahu apa efek dari hilangnya tulang rusuk bagi hidupnya nanti, saat amarah menguasainya, dia asal saja berucap untuk menggunakan kekuatan dari Dewi Bulan tanpa sebuah perhitungan dan rencana yang matang.
“Kenapa kamu masih disini?” tanya Cassandra heran.
Alex menoleh pelan ke arah Cassandra, “Aku akan menunggu dia disini sampai dia sadar.” Jawab Alex.
“Aku tidak bisa pastikan kapan dia sadar, kamu juga punya tugas untuk mengurusi Night Raven bukan?” tanya Cassandra.
“Tenang saja, aku sudah atur strategi dan rencana kita ke depannya, kamu tidak perlu khawatir, aku akan memberikan mereka perintah dari sini.” jawab Alex.
“Baiklah, aku beri kamu sedikit kebebasan.” Jawab Cassandra.
Lalu Cassandra kembali masuk ke dalam ruangan untuk mengamati kondisi Clara, dan Alex hanya dapat memperhatikan mereka dari luar lewat kaca besar yang sudah Cassandra persiapkan untuknya.
Tak bergeming Alex mematung mengamati Clara, meski Cassandra sudah berkali-kali bolak-balik masuk dan keluar ruangan itu, Alex masih saja memperhatikan Clara.
Hingga dia tidak sadar sudah berpuasa dan tidak tidur selama 3 hari lamanya, wajahnya sudah pucat, matanya merah dan kering, di sekitar kelopak matanya muncul bulatan hitam akibat kurang tidur, Cassandra yang tidak tega melihat Alex, melangkah menghampirinya.
“Alex!!!” panggil Cassandra.
“Bagaimana dia?” tanya Alex.
“Aku akan beritahukan kondisinya, setelah kamu makan dan tidur, aku tidak terima penolakan atau bantahan apapun darimu, atau aku akan berhenti untuk merawatnya!” ancam Cassandra.
“Baiklah aku akan tidur dan makan disini! tapi, jika dia sadar secepatnya bangunkan aku!” jawab Alex.
Alex lalu menghilang dari pandangan Cassandra, dia pergi ke ruangan Cassandra untuk tidur dan makan sebentar, sedangkan Cassandra tersenyum melihat tanda-tanda kesuksesan yang sudah mulai terlihat jelas.
Dan sekitar 7 jam kemudian, Clara sadar, dia dapat melewati masa-masa kritisnya, Cassandra yang sejak tadi memerhatikannya langsung memeriksa kondisi Clara.
“Kamu bisa bicara?” tanya Cassandra, sembari memeriksa Clara.
Clara mengangguk pelan , lalu membuka selang ventilator yang membekap mulutnya dengan paksa, “Hei… pelan-pelan kamu baru saja sadar!” perintah Cassandra.
“Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Clara lemas.
“3 hari.” Jawab Cassandra.
“Lalu, kapan aku bisa pulang?” tanya Clara.
“Mungkin beberapa bulan lagi, sampai kondisimu benar-benar pulih.” Jawab Cassandra.
“Aku tidak bisa lama-lama disini, aku harus mencari Alex.” Ucap Clara.
“Bagaimana caranya kamu mencarinya, kalau kamu sendiri tidak bisa untuk berjalan.” Jawab Cassandra.
Lalu Cassandra melangkah menuju ruangannya untuk menemui Alex. Dan setelah sampai di ruangannya, dia mengguncang-guncang tubuh Alex yang sedang tertidur pulas.
“Kekasihmu sudah sadar.” Ucap Cassandra.
Dengan cepat Alex membuka matanya, dan bangkit dari tidurnya, “Aku akan kesana sekarang.” Jawab Alex.
“Tunggu! Duduk dulu!” perintah Cassandra.
Alex menuruti perintah Cassandra dia duduk berhadapan dengan Cassandra, dengan mata saling menatap satu sama lain, “Aku mau minta syarat dari kesepakatan kita.” Ucap Cassandra.
“Jadi, apa yang kamu mau?” tanya Alex, dengan wajah tegang.
Cassandra tersenyum kecil mentap Alex, sorot matanya terasa aneh bagi Alex, wajahnya merah padam, hingga membuat Alex bingung apa yang Cassandra inginkan darinya.