Undo

Undo
Tekad



"Lex, Alex, kamu gak apa-apa, kan,?” ucap Clara sembari menepuk-nepuk wajah Alex.


Alex perlahan membuka matanya, kepalanya terasa sakit tak tertahankan saat mencoba untuk bangkit, “Awww...” Alex mengerang kesakitan memegangi kepalanya.


“Jangan bangun dulu! Kepalamu kebentur keras banget tadi.” Ucap Clara berusaha menahan Alex untuk bangkit.


“Aku dimana?” tanya Alex bingung.


“Kamu tadi jatuh waktu naik sepeda, karena ngehindarin anak kucing.” Jawab Clara dengan tenang, “sekarang kita masih di taman.” Sambung Clara.


Alex menatap dalam wajah Clara, dia senang dapat kembali melihat wajah cantik dengan ekspresi dingin itu masih dapat dia lihat, rambut panjangnya yang selalu harum masih dapat dia rasakan oleh hidungnya.


Perlahan tangan Alex mendekat ingin meraih wajah Clara, ingin dia belai lembut wajah halus dan lembut itu dengan tangannya. Tetapi, tangan Alex tertahan oleh si pemilik wajah cantik berekspresi dingin itu.


Dengan tatapan tajam dia meremas kuat lengan Alex yang masih terasa lemas, “aw… sakit, sakit.” Ucap Alex sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Clara.


“Kamu mau apa?” tanya Clara dengan raut wajah yang diselimuti oleh amarah dan menatap dengan penuh selidik.


“Aku cuma mau pegang wajahmu sebentar.” jawab Alex dengan mata berkaca-kaca, “Boleh?” tanya Alex.


“Kamu kenapa? kok mau nangis?” tanya Clara heran.


“Aku cuma terharu aja, boleh, kan, aku pegang wajahmu sebentar aja?” pinta Alex.


“Hm… boleh deh.” Jawab Clara menatap Alex kebingungan.


Tangan Alex bergetar saat bersentuhan dengan wajah Clara, air matanya tak kuasa lagi ia bendung mengalir deras terjun bebas di pipinya. Dia memejamkan matanya berusaha meresapi lembutnya wajah sang kekasih.


“Maafin aku sayang, aku gagal lagi.” Ucap Alex lirih.


“Gagal apaan?” tanya Clara bingung.


“Bukan apa-apa kok.” Jawab Alex dengan tenang, lalu dia menarik tangannya dari wajah Clara.


“Udah seneng?” tanya Clara.


“Aku seneng banget, kalau boleh aku mau pegang lebih lama lagi.” Jawab Alex sembari menyeka air matanya.


“Kamu kenapa sih? aneh banget deh, apa kamu gegar otak mungkin ya?” tanya Clara.


“Gak masuk akal.” Jawab Clara dengan raut wajah tak percaya.


“Cinta itu memang gak masuk akal.” Ucap Alex.


“Udah bisa bangun, kan? Ayo pulang! ini udah sore!” ajak Clara sambil berdiri dari bangku.


“Pulang? padahal aku masih pengen sama kamu.” Ucap Alex.


“Besok lagi aja deh.” Jawab Clara sembari melangkah meninggalkan Alex.


Lalu Alex mengantar Clara pulang menuju rumahnya, dan setelah itu dia bingung harus kemana, dia bingung harus melakukan apa, dan dia juga bingung harus membuat rencana seperti apa lagi agar Clara dapat selamat.


Di tengah bingungnya dia putuskan untuk kembali ke taman tempat biasa dia dan Clara menghabiskan waktu bersama hingga petang. Matahari sudah mulai tenggelam berganti cahaya bintang yang berbaris di langit malam.


Rencananya yang kembali mengalami kegagalan mulai membuatnya frustasi, dia mengalami ketakutan untuk kembali meracik rencana, bayangan-bayangan kegagalan masih terus berputar dalam benaknya, tak mau hilang meski dia telah berusaha untuk melupakannya.


Melihat Clara pergi dari sisinya berkali-kali, membuat hatinya perih dan membekas luka, tubuhnya lemas saat kembali mengingat kembali kematian Clara. Meski Transplantasi Clara berjalan dengan baik, dan tubuh Clara dapat menerima organ baru itu, tetap saja tak dapat menyelamatkannya dari takdir kematiannya, dan membuat rencana yang dia bangun dan susun dengan susah payah menjadi tak ada artinya.


Kini sendiri dia merenung, menyesali dirinya yang tidak mampu untuk menyelamatkan Clara, meski dia telah memiliki kekuatan yang dapat merubah jalannya takdir, tapi mengapa, Clara dan dirinya masih tak dapat hidup bersama.


Mereka selalu terpisahkan oleh dua dimensi yang berbeda, tak dapat menyatu dalam dimensi yang sama, Clara selalu pergi meninggalkannya sendiri dalam dimensi yang menyiksa Alex dengan kesedihan.


“Kenapa semuanya gak berjalan sesuai rencanaku.” Gumam Alex.


Lalu dia memukul bangku taman yang dia tempati dengan sangat kuat, Alex masih merasa kesal karena rencananya gagal, dan Alex marah karena rencananya tidak berjalan sesuai dengan harapannya.


Takdir yang tak memihaknya, membuat amarah menguasai diri Alex, tubuhnya sudah tak dapat dia kendalikan lagi, karena jiwanya sudah dilahap oleh amarahnya, hingga hati, tubuh, dan pikirannya sudah bertindak bukan berdasarkan keinginan Alex, melainkan menuruti keinginan dari amarah yang meminta pelampiasan.


“Kita lihat siapa yang akan menyerah terlebih dahulu, takdir atau aku yang menyerah duluan, apapun yang harus dikorbankan akan aku korbankan demi dapat hidup bersama dengan Clara.” Ucap Alex yang sedang diliputi oleh amarahnya.


Lalu dia menatap bulan yang menggantung di tengah langit kelam, dia membulatkan tekadnya dengan sempurna sama seperti bulan yang sedang berwujud sempurna di malam ini.


Hidup bersama Clara adalah harga mati, mutlak tak dapat diganggu gugat, apapun yang harus dikorbankan akan dikorbankan, apapun caranya akan dilakukan, asalkan harapannya dapat terpenuhi dia tidak peduli.


Cintanya kepada Clara sudah terlalu besar, hingga untuk hidup bersama wanita lain pun tidak akan dia lakukan.


“Clara kali ini aku akan berhasil, aku janji sama kamu.” Gumam Alex.