Undo

Undo
Hilang Dua Tulang Rusuk



Buram. Seketika pandangan Alex gelap saat Dewi Bulan hadir dihadapannya, dia tak ingat apa yang terjadi setelah melihat Dewi Bulan.


Kembali Alex terbangun di kamarnya. Badannya terasa sangat panas dan berkeringat, matanya perih, dan kepalanya berat. Perlahan matanya terbuka, kepalanya seperti berputar seketika.


“Kamu udah bangun?”.


Alex menoleh pelan ke arah suara lembut tersebut. Langsung saja matanya terbuka lebar, dan nafasnya tertahan dalam dada, “Cla-ra.” Ucap Alex terkejut melihat Sang Kekasih sudah berada disampingnya.


“Kamu mau apa? Biar aku bantu?” tanya Clara dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Alex terdiam. Perasaan kaget menghentikkan kerja otaknya, nafasnya pun tertahan ditenggorokannya, hanya jantungnya yang bekerja memompa darahnya bersirkulasi dengan sangat cepat.


“Kok diem? kamu kenapa? ada yang sakit?” Tanya Clara.


“Gak apa-apa kok, aku kaget aja kamu ada disini.” jawab Alex dengan spontan.


“Kata Ibu kamu sakit. Jadi, aku kesini, badan kamu panas banget, demamnya tinggi, mungkin kamu kena tifus.” Ucap Clara. Lalu Clara mengambil segelas air putih yang berada disamping tempat tidur Alex, “Minum dulu!” perintah Clara.


Alex berusaha untuk duduk dengan dibantu Clara, dia menenggak habis segelas air putih itu, hingga gelas yang digenggamnya kosong.


“Makanya, jangan tidur malam-malam, jadi sakit gini kan, kasian Ibu kalo kamu sakit begini.” Ucap Clara sambil menaruh gelas kosong itu diatas meja.


“Aku tahu kejadian ini, sepertinya ini sekitar dua minggu setelah aku pertama kali memakai kekuatan yang diberikan Dewi Bulan.” Ucap Alex dalam hati, “Sial… padahal aku ingin bertanya dengannya, tapi dia malah menghilang duluan.” Gumam Alex kesal.


“Kamu denger kan, apa yang aku omongin tadi.” Ucap Clara.


“Denger kok.” Jawab Alex sambil tersenyum pada Clara.


“Aku buatin kamu bubur sebentar.” Clara pergi keluar dari kamar Alex, menuju dapur rumahnya.


Alex menganggukkan kepalanya, meski Clara tak melihatnya. Lalu Alex menatap ke langit-langit kamarnya. Dia melamun sesaat, kegagalan Alex dipercobaannya yang pertama masih lekat teringat dalam otaknya.


“Sekarang dua tulang rusukku sudah hilang, percobaan pertamaku gagal, aku harus cari rencana lain.” Pikir Alex.


Sesalnya masih ada membayangi kepalanya, hati yang dia dapatkan dengan susah payah tidak dapat membantu Clara. Belum lupa gagalnya, masih menyiksa pikirannya, amarahnya meluap begitu saja saat mengingat perjuangannya berujung sia-sia.


Alex termenung, pikirannya melanglang buana kemana-mana, mencari rencana terbaik agar kesempatan ini tidak berujung gagal dan sia-sia kembali.


Tatapan matanya kosong seperti tak bernyawa, sedihnya melihat Clara masih menghantuinya. Alex tidak ingin Clara merasakan siksaan penyakit yang bersarang didalam tubuhnya.


Senyum Clara yang menahan derita menyiksa hati Alex disetiap waktunya, hingga matanya tak sanggup untuk menatap senyum yang Clara perlihatkan untuk menghibur dirinya.


Pengorbanannya seakan tak ada artinya, dipupuskan takdir kejam yang menimpa Clara dirinya, terbesit kata dihatinya, Apakah aku dan Clara tidak ditakdirkan untuk bersama.


Namun, secepat mungkin dia lenyapkan kata itu dengan sebuah semangat dan harapan yang besar, dia meyakinkan dirinya kekuatan dari Dewi Bulan akan menyelamatkan Clara, dan akan mewujudkan mimpinya untuk hidup bahagia bersama Clara.


Dia mengubur rasa takutnya akan kegagalan yang mungkin akan terjadi, optimistis menenggelamkan pikiran negatifnya dalam dasar hatinya yang gelap tak bercahaya.


Keyakinannya membangkitkan daya juangnya untuk tak menyerah hingga harapannya jadi nyata.


“Aku harus cari pendonor yang benar-benar kuketahui dan jelas asal-usulnya, untuk mencegah udah mustahil, mungkin penyakit itu sudah sejak lama ada dalam tubuh Clara, hanya saja gejalanya belum nampak oleh mata.” Pikir Alex.


Alex mengangguk-anggukan kepalanya, dia sudah yakin dengan rencananya kali ini, belajar dari kesalahannya sebelumnya yang asal mencari hati dari pasar gelap. Kali ini dia harus mencari pendonor yang sudah dia ketahui asal-usulnya dan akan dia seleksi tingkat kecocokannya dengan tubuh Clara.


Dulu dia gagal karena mencari pendonor yang mau memberikan hatinya secara cuma-cuma. Kali ini Alex akan menawarkan uang untuk para pendonor yang mau memberikan hatinya pada Clara.


Alex menaruh kedua tangannya di belakang kepalanya, dan dia menghela panjang nafasnya, “Terpaksa aku harus masuk dunia hitam itu lagi.” Ucap Alex.


“Dunia hitam apa?” tanya Clara yang tanpa Alex sadari sudah berada disampingnya sedang memegang semangkuk bubur hangat.


Alex terkejut. Lalu dia menengok ke arah Clara yang terlihat sangat penasaran menunggu jawaban dari Alex, “Aku harus jawab apa?” Alex bertanya pada dirinya sendiri.


“Alex, kamu kenapa sih bengong terus?” tanya Clara.


“Gak apa-apa, aku terharu aja kamu perhatian banget sama aku.” Elak Alex.


“Iyalah aku perhatian, gak kayak kamu yang cuek.” ucap Clara dengan kesal.


“Mulai dari sekarang gak cuek lagi deh.” Jawab Alex.


“Syukur deh.” Jawab Clara. Lalu Clara menyendok bubur yang berada dalam mangkuk itu dan meniup-niupnya dengan mulut Clara, “Aaakk…” Clara menyuapkan sesendok bubur itu pada Alex.


“Syukur deh, dia lupa.” Ucap Alex dalam hati dengan lega.


Clara langsung fokus untuk menyuapi Alex hingga mangkuk itu bersih tak bersisa. Masih tak percaya Alex masih dapat bertemu dengan Clara lagi, dan dapat merasakan kehangatan yang Clara selalu berikan untuknya.


Alex menikmati setiap suapan dari Clara, Air matanya hampir jatuh berlinang, dengan sekuat tenanga dia bendung air mata itu agar tak membanjiri pipinya, dia benar-benar terharu karena masih dapat menikmati waktu bersama dengan Clara.


“Mau tidur lagi?” tanya Clara sambil meletakkan mangkuk diatas meja.


“Baru juga bangun, masa tidur lagi.” Jawab Alex.


“Biar cepet sembuh, dan gak ngerepotin orang lain!” ucap Clara dengan tenang.


“Aku gak mau sembuh, biar bisa disuapin sama kamu terus.” Jawab Alex.


“Aku yang gak mau.” Jawab Clara dengan mata menatap tajam Alex, seperti ingin menelannya hidup-hidup.


“Besok udah sembuh.” Jawab Alex sammbil menelan air liurnya.


“Bagus deh.” Jawab Clara sambil memberikan Alex segelas air putih.


Alex menenggak air itu. matanya tak dapat lepas memandang Clara, siapa sangka Clara yang terlihat tidak pernah sakit dan selalu sehat, nantinya akan berbaring tak berdaya diatas ranjang rumah sakit.


Pemandangan itu mengiris hati Alex, tidak tega dirinya melihat wajah pucat Clara terus memaksakan senyum sembari menahan sakit yang dia derita. Membuat Alex menangis tersedu-sedu disetiap malamnya, disaat Clara sedang terlelap tidur.


“Aku akan bebasin penderitaanmu itu Clara, berapapun tulang rusukku yang menjadi bayarannya, akan aku berikan, asal aku dapat hidup bahagia bersamamu, aku janji Clara.” Ucap Alex dalam hati.