Undo

Undo
Menggali Informasi



Pengap. Nafas Alex serasa sesak dan tubuhnya merasa sangat gerah, secara perlahan Alex membuka matanya.


Gelap. Ruangan ini berbeda dengan kamarnya, terlihat sangat berantakan dan tak terurus, hanya ada sedikit cahaya yang masuk ke kamarnya memasuki celah-celah fentilasi udara.


Alex berusaha bangkit. Tetapi, rasa sakit langsung menyengat kepalanya, rasa nyeri tak tertahankan hingga Alex mengerang kesakitan memegangi kepalanya, dengan susah payah dia untuk bangkit dari ranjangnya yang terasa sangat tidak nyaman.


Air. Hal pertama yang ada dalam benak Alex adalah mencari air untuk mengobati dahaganya dan sedikit mengurangi rasa nyeri di kepalanya saat ini. dia berjalan sambil memegangi kepalanya, plastik sampah makanan ringan serta minuman kemasan memenuhi lantai ruangan itu.


Alex menemukan sebuah lemari pendingin, dan tanpa pikir panjang dia buka dan ambil sembarang botol yang ada didalamnya, langsung saja dia buka tutup botol itu dan dia tenggak isi didalamnya.


Alex mengernyitkan dahinya, rasa pahit menyiksa pangkal lidahnya, serta dadanya terasa sangat panas, jantungnya seperti terbakar saat itu, dia dekatkan wajahnya untuk melihat apa yang sebenarnya barusan dia minum.


“Vod-ka.” Ucap Alex kaget. Lalu dia banting botol itu ke lantai dengan geram, “Air putih.” Gumamnya.


Dia lebih teliti dan berhati-hati untuk melihat isi botol satu demi satu, hingga dia mendapatkan sebuah botol beling berisi air putih, langsung saja dia tenggak air itu sebanyak-banyaknya, dan melesat cepat melewati kerongkongannya.


Alex menutup lemari pendingin itu dengan sangat keras, lalu dia terduduk lemas di depan pintu pendingin sembari mengatur nafasnya. “Dimana aku sekarang?” Gumam Alex.


Lalu Alex berdiri dan mencari saklar lampu dan menghidupkan lampu ruangan itu agar lebih terang, “Huwaaa…” Alex berteriak kencang seketika saat lampu dalam ruangan itu berpijar.


3 gadis yang hanya mengenakan kain tipis dan minim mengejutkannya, “Ada apa?” teriak Willy, dia bangkit dari tidurnya seketika setelah teriakan kencang Alex membangunkannya.


“Huwa…” Alex berteriak kencang dan hampir pingsan saat dilihatnya willy yang tiba-tiba bangun hanya mengenakan celana dalam.


“Ada apa Lex?” tanya Willy sambil melihat ke sekeliling ruangan.


“Siapa wanita-wanita itu, kenapa mereka pakai baju seperti itu?” tanya Alex terengah-engah karena jantungnya hampir meledak akibat kaget.


“Wanita sewaan yang kubawa semalam.” Jawab Willy dengan santainya, “Kenapa kamu teriak-teriak?” tanya Willy.


“Aku kaget, kenapa ada mereka disini.” jawab Alex cepat, lalu dia menelan air liurnya dan mengatur nafasnya, “Pakai celana dan baju Willy!” perintah Alex.


“Aku kira ada apa? Ternyata cuma itu, kamu seperti anak SMP yang polos saja, hanya melihat wanita berpakaian seperti itu langsung berteriak.” Jawab Willy. Lalu dia kembali menjatuhkan badannya diatas kasurnya.


“Suruh mereka pergi Willy! Cepat!” teriak Alex.


“Lakukan sendiri!” ucap Willy malas.


Lalu Alex berjalan cepat menghampiri Willy di kasurnya, “Willy cepat suruh mereka pergi!” perintah Alex sambil mengguncang-guncang badan Willy.


“Aku ngantuk, semalam aku minum banyak sekali, kamu lakukan sendiri!” jawab Willy.


“Willy cepat suruh mereka pergi! Atau akan kuhancurkan tempat ini.” ancam Alex.


Willy langsung beranjak dari tidurnya, “Jangan mengamuk disini!” jawab Willy, lalu dia membangunkan ketiga wanita itu dan memberikan mereka segepok uang, setelah itu Willy menyuruh mereka untuk cepat pergi dari ruangan itu.


“Kamu seperti remaja yang baru tumbuh kumis saja.” Ucap Willy, lalu dia menghela nafasnya dan kembali berjalan menuju kasurnya.


“Apa yang telah kita lakukan semalam?” tanya Alex.


“Kamu lupa? kita baru saja merayakan suksesnya tugas pertamamu.” Jawab Willy yang langsung menjatuhkan badan besarnya keatas kasur hingga kasur itu berguncang hebat, “Padahal kamu hanya minum sedikit semalam, tapi kamu bisa mabuk separah itu, aku menyesal mengajakmu minum… aku tidak akan lagi memperbolehkanmu untuk minum alkohol.” Ucap willy kesal, setelah itu dia kembali memejamkan matanya, dan tidak lama kemudian Willy sudah mendengkur keras.


“Belum sampai 24 jam kembali ke masa lalu, Clara sudah menemui ajalnya.” Gumam Alex dengan penuh penyesalan dalam dirinya.


Andai saja waktu itu Alex mengesampingkan egonya dan membiarkan Clara untuk pulang, kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi.


Tetapi berkat kecerobohan dan ego dirinya, Clara lagi-lagi pergi meninggalkan dirinya.


Sungguh, peristiwa itu sama sekali tidak terbayangkan dan sangat tidak disangka oleh Alex, dia fokus pada penyakit Clara, sehingga dia mengesampingkan hal lain yang tidak terduga.


Pikirannya tidak dapat tenang, tangannya terus bergetar hebat tak dapat dia hentikan, pikirannya benar-benar tersiksa dengan bayangan-bayangan kejadian yang merenggut nyawa Clara.


“Kenapa semua ini bisa terjadi pada aku dan Clara? Mengapa harus aku dan Clara yang harus merasakan takdir kejam ini? semuanya sangat sederhana, aku ingin hidup bahagia bersama Clara, tapi mengapa kerja kerasku selama ini gagal?” ucap Alex dengan geram.


Dia menggenggam erat gelas berisikan kopi yang masih panas hingga mengalami keretakan. Dia masih marah dan tidak terima dengan kenyataan bahwa selama ini dia telah gagal untuk menyelamatkan Clara.


“Kenapa usaha kerasku selalu gagal?” ucap Alex, matanya berair, dan giginya bergemelutuk saling bergesekan, nafasnya mulai terasa sangat berat, karena dadanya sudah disesaki oleh amarahnya.


“Padahal aku berjuang keras, sangat keras, dan sangat keras, tapi kenapa gagal.” Teriak Alex sambil membanting gelas yang dia genggam sedari tadi.


“Ada apa lagi?” tanya Willy.


“Gak ada apa-apa, kamu tidur saja lagi.” Jawab Alex dengan mata menyorot tajam ke arah gelas yang hancur berkeping-keping.


“Begitu ya, aku ingatkan sekali lagi jangan mengamuk disini!” ucap Willy, lalu dia kembali memejamkan matanya dan mendengkur dengan sangat keras.


Lalu Alex duduk dan menunduk sambil menjambak rambutnya. Dia masih bingung dengan semua yang telah terjadi, kegagalan seperti sebuah kata yang tidak dapat lepas dari dirinya.


Tidak untuk bersama, bagaikan takdir mutlak yang tidak dapat dirubah sekeras apapun Alex mencobanya. Tetapi, dirinya dengan sangat keras menolak takdir itu, tidak peduli cara apa yang harus ditempuh dia harus menyelamatkan Clara dan hidup bahagia bersamanya, itu adalah kata mutlak yang selalu Alex yakini.


Takdir atau apapun itu, akan dia taklukkan demi Clara. Hanya ada satu rasa takut yang selalu menjadi momok bagi dirinya yaitu, dia dan Clara tidak dapat hidup bersama dengan bahagia.


“Cassandra sepertinya tahu banyak tentang transplantasi hati, aku harus gali informasi dari dia.” Pikir Alex.


Alex berdiri dan memakai rapih bajunya, lalu dia berjalan cepat menuju ruangan tempat Cassandra menalani hari-harinya sebagai pemimpin di komunitas kriminal dengan nama Night Raven ini.


Alex mengetuk pintu ruangan Cassandra dengan sangat lembut, “Siapa?” suara wanita terdengar meskipun pintu belum terbuka, karena ada sebuah speaker yang terhubung ke dalam ruangan milik Cassandra.


“Alex.” Teriak Alex menjawab pertanyaan Cassandra.


Pintu itu langsung bergeser dengan sendirinya, tanpa pikir panjang Alex masuk ke dalam ruangan itu, baru beberapa langkah Alex menginjakkan kakinya dalam ruangan itu, pintu itu kembali bergeser dan menutup, “Ada perlu apa kamu pagi-pagi sekali menemuiku?” tanya Cassandra sambil bersandar dikursi besarnya dan menyilangkan kakinya.


“Aku ingin tahu tentang transplantasi hati.” Jawab Alex.


Wajah Cassandra yang tadinya terlihat tenang dan penuh wibawa, berubah menjadi ketakutan, lalu matanya menatap tajam mata Alex, “Kenapa kamu bertanya itu padaku? Bagaimana caranya kamu bisa tahu kalau aku mengerti tentang transplantasi hati?” tanya Cassandra, lalu dia merapatkan giginya dan terlihat bulir keringat muncul dikeningnya.


Alex terkejut dengan perubahan ekspresi dari Cassandra yang sangat cepat dan tiba-tiba, entah mengapa Cassandra terlihat sangat takut sekaligus emosi saat mendengar jawaban dari Alex.


“Hanya Instingku.” Jawab Alex.