
Kelam hampir menelan Sang Matahari, bulatan penuh itu kini hanya tersisa separuh, tidak lama lagi cahaya perak keemasan akan menggantikan peran Sang Matahari untuk menerangi bumi.
Handphone Alex berdering. Suara dering itu mengagetkan Alex yang sedang melamun menikmati sunset, dia menaruh gelas kopi diatas mejanya seketika, dia buru-buru meraba saku celananya mencari keberadaan Handphone-nya.
“Bagaimana kekasihku, Cassandra?” tanya Alex tanpa basa-basi lagi.
“Setidaknya beri salam dulu…” bentak Cassandra, lalu dia menghela panjang nafasnya, “Keruanganku, aku jelaskan disana, kamu tenang saja, kulitnya tidak tergores sedikit pun.” Jawab Cassandra.
Sambungan telfon langsung terputus. Alex, langsung saja bergegas menuju ke Gedung Night Raven yang jaraknya sekitar 10 menit dari Apartmennya jika menggunakan mobil.
Dia tergesa-gesa mengendarai mobilnya, memacu kecepatan sedang mobilnya karena jalanan sedang padat merayap.
Begitu sampai didepan Gedung Night Raven, dia memarkirkan mobilnya sembarang dan setengah berlari menuju ruangan Cassandra.
Setelah sampai didepan ruangan Cassandra, pintu itu telah terbuka lebar menyuruh Alex untuk segera masuk dalam ruangan. Alex tanpa pikir panjang langsung masuk dan duduk tanpa mengucap salam.
“Bagaimana kekasihku?” tanya Alex dengan nafas terengah-engah.
“Sopan sedikit, aku ini Bossmu!” ucap Cassandra.
“Maafkan aku!” jawab Alex cepat.
“Kali ini akan kumaafkan, karena aku tahu kamu sangat cemas dan khawatir pada kekasihmu.” Ucap Cassandra, lalu Cassandra meletakkan kedua tangannya menyilang diatas meja, “Dia hanya bisa bertahan tidak lebih dari 2 tahun lagi, aku perkirakan satu tahun dan 8 bulan, dan mungkin tidak lebih dari satu tahun jika tidak menggunakan peralatan medis untuk membantunya terus bernafas.” Ucap Cassandra.
Alex membelalakan matanya seketika, dirinya seakan tidak percaya dengan apa yang telah Cassandra ucapkan, “Bagaimana caranya dia bisa memprediksi sampai setepat itu, jika dihitung perkiraannya memang tidak meleset Clara akan mati dalam waktu 20 bulan lagi… ternyata, Si Dewi Penyelamat Hati bukanlah sebuah bualan.” Pikir Alex.
“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Alex berpura-pura kaget.
“Hanya melihatnya saja aku sudah bisa tahu, aku tidak perlu peralatan medis untuk mengetahuinya, tanda-tandanya sudah sangat jelas dimataku, penyakitnya sudah hampir masuk stadium IV.” Jawab Cassandra dengan tenang.
“Hanya dengan melihat?” gumam Alex terkejut kaget, “Tidak dapat dipercaya, dia sangat jenius… aku yakin Clara dapat selamat kali ini.” Ucap Alex dalam Hati.
“Lalu apa rencanamu untuk menyelamatkan kekasihku?” tanya Alex.
“Aku akan melakukan operasi padanya 6 bulan lagi.” Jawab Cassandra.
“Kenapa harus selama itu?” tanya Alex.
Cassandra tersenyum kecil, sambil menggelengkan kepalanya, “Aku berbeda Alex, aku harus persiapkan dia dengan matang, mengontrol apapun yang masuk dan keluar pada tubuhnya, agar tubuhnya benar-benar kuat untuk menerima organ baru, lalu aku harus mencari orang yang benar-benar cocok untuk dirinya dengan beberapa rangakaian tes kecocokkan antara Pendonor dan Penerima, dengan begitu tingkat keberhasilan transplantasi akan menjadi lebih tinggi.” Jawab Cassandra.
“Pertanyaanku sekarang, bagaimana caranya mendapatkan pendonor itu, bukankah itu sangat sulit didapatkan?” tanya Alex.
“Tapi bagiku semudah membalikkan telapak tanganku.” Jawab Cassandra cepat.
“Cassandra memang sangat hebat, pantas saja dia bisa mendapatkan hati yang aku minta dalam waktu satu minggu pada waktu itu.” Gumam Alex kagum.
“Kamu tinggal tunggu saja keberhasilannya! Si Dewi Penyelamat Hati telah kembali dari tidur panjangnya.” Ucap Cassandra dengan penuh percaya diri.
“Kenapa kamu bisa sangat percaya diri seperti itu?” tanya Alex heran.
“Lalu aku harus percaya dengan siapa jika aku tidak dapat mempercayai diriku sendiri… saat aku percaya diri aku selalu berhasil, hanya saja waktu itu aku terlalu gugup dan takut maka dari itu aku gagal untuk menyelamatkan Ibuku sendiri, hal itu, takkan pernah terjadi lagi untuk selamanya, hanya Ibuku yang terakhir merasakan kegagalanku.” Jawab Cassandra dengan sorot mata tajam menatap tangannya yang sedang mengepal.
“Aku percaya padamu Cassandra, lakukanlah yang terbaik untuknya! maka aku akan membalas semua kebaikanmu dengan cara apapun.” Ucap Alex.
“Tentu saja, serahkan semuanya padaku! Kamu tidak perlu berbuat apa-apa, biar aku yang mencari Pendonor dan mengeluarkan uang untuk menyelamatkan kekasihmu, kamu hanya perlu untuk menyaksikan hasilnya saja, dan jalankan kesepakatan diantara kita.” Jawab Cassandra, lalu dia tersenyum kecil dan menatap Alex dengan hangat.
“Terima kasih! Aku tidak akan pernah mengkhianati kesepakatan yang telah kita buat, tapi—“ ucap Alex tertahan.
“Tapia pa? apa ada hal lain lagi yang kamu mau?” tanya Cassandra.
Cassandra diam sejenak tak langsung menjawab pertanyaan Alex, dia terlihat berpikir keras melamun dan menatap kosong, mempertimbangkan permintaan Alex padanya.
“Boleh saja… tapi jangan terlalu lama, dan tutupi wajahmu!” perintah Cassandra.
“Aku tau… aku juga tidak ingin dia melihatku saat ini.” jawab Alex.
“Bukan itu yang aku khawatirkan.” Jawab Cassandra.
“Lalu?” tanya Alex heran.
“Dia cukup cerdas menurutku, aku hanya khawatir dia akan sadar hubungan antara kita, dan dapat mengenalimu meskipun kamu telah menyembunyikan wajahmu, aku tidak ingin psikologisnya terganggu, tingkat keberhasilanku akan menurun jika psikologisnya terganggu.” Jawab Cassandra.
“Hufftt… baiklah, aku akan melihatnya dari kejauhan saja, dan aku akan tetap memakai masker.” Jawab Alex.
“Ternyata psikologis pasien juga mempengaruhi jalannya operasi, aku baru tahu… dia dokter yang penuh dengan perhitungan, tidak salah aku meminta bantuannya saat itu.” gumam Alex.
Alex menutupi wajahnya dengan kain hitam, hingga hanya dua bola matanya saja yang tidak terhalang oleh kain hitam, bahkan hingga rambutnya pun ia tutupi dengan kain hitam.
Alex mebuntuti Cassandra yang mengantarkan Alex hingga ke dalam ruangan tempat Clara terisolasi.
Setelah sampai. Cassandra membuka pintu ruangan itu, mendengar pintu terbuka Clara langsung meronta-ronta dan melihat ke arah pintu itu, Clara terkejut saat ada seseorang dengan berpakaian hitam yang datang mengekor dibelakangnya, dan hanya kedua bola matanya yang dapat Clara lihat dengan sangat jelas.
“Lepaskan aku sekarang!” teriak Clara sembari meronta-ronta.
Lalu Cassandra menoleh pelan ke arah Alex, meminta persetujuan darinya. Tapi Alex menggelengkan kepalanya dengan lemah tanda tidak memperbolehkan Clara lepas dari ikatannya.
“Dimana Alex?” tanya Clara dengan mata menatap tajam Cassandra.
“Siapa Alex? dari tadi kamu menyebut nama orang itu, aku sama sekali tidak mengenalnya.” Jawab Cassandra.
“Aku disini sayang.” Gumam Alex menatap sendu Clara yang sedang meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari ikatan yang mengekang tubuhnya.
“Jangan bohong! Pasti kalian juga menyekap Alex sepertiku, lihat saja jika terjadi apa-apa dengannya, akan kubunuh kalian!” bentak Clara.
“Hanya kamu orang yang aku sekap, tidak ada orang lain.” Jawab Cassandra.
“Mana mungkin aku percaya pada orang yang menculikku.” Jawab Clara.
Cassandra mendekatkan wajahnya pada Clara hingga membuatnya kaget, jantungnya berdetak sangat cepat hingga badannya bergetar sangat hebat, sorot mata tajam Cassandra mengalahkan sorot mata penuh amarah dari Clara, “Aku hanya ingin membantumu untuk hidup, dan lari dari maut.” Ucap Cassandra.
“Kenapa kamu membantuku? Padahal kita tidak saling mengenal sebelumnya?” tanya Clara.
“Temanku… orang yang berada dibelakangku… adalah temanmu yang menyadari perubahan pada fisikmu.” Jawab Cassandra.
“Cassandra… hanya aku yang tahu tentang penyakitnya.” Gumam Alex. Lalu Alex meremas kuat tangan Clara, hingga membuatnya menengok ke arah Alex, lalu Alex menggeleng pelan pada Cassandra.
“Begitu ya? Yang aku tahu hanya Alex yang mengetahui gejala penyakitku, apa itu kamu Alex?” tanya Clara, dengan tatapan mata sendu.
“Dia bukan Alex.” Bantah Cassandra.
“Aku tidak bertanya padamu! Aku bertanya pada orang yang berada dibelakangmu… jawablah! kamu Alex atau bukan?” ucap Clara.
Keringat dingin muncul disekujur tubuh Alex, bibirnya gemetaran hingga sulit untuk berucap, lidahnya seperti membeku tak dapat digerakkan, dia memejamkan matanya, sembari berusaha keras untuk mengeluarkan suaranya, “Bu-bu-bu-kan.” Jawab Alex.
Cassandra dan Clara terkejut disaat yang bersamaan saat mendengar suara yang keluar dari mulut Alex, mereka mematung sesaat karena kaget.