
Alex terdiam sejenak sambil mengucek matanya hingga berair, lalu dia kembali melihat kalender yang menggantung di tembok kamarnya, namun tetap tak ada yang berubah angka yang tertulis di kalender.
Alex yang masih tak percaya meninju kepalanya sendiri hingga ia jatuh tersungkur ke lantai kamarnya. Alex memegangi kepalanya yang terasa sakit dan pusing akibat tinjuannya.
Dia berdiri sambil memegangi kepalanya dan kembali melihat kalendernya, dan hasilnya masih tetap sama tak ada yang berubah.
Alex yang masih berat untuk percaya bahwa dia telah kembali ke masa lalu.
Berlari ke meja yang berada dikamarnya. Alex membuka laci tersebut, dan mencari jarum yang selalu ada di lacinya.
Setelah menemukan jarum itu Alex tanpa ragu menancapkan jarum itu ke jari telunjukknya, Alex merapatkan giginya menahan rasa sakit dari jarum yang ia tusuk ke jari telunjukknya. Setetes darah segar keluar dari lubang bekas tusukkan jarumnya.
Alex duduk di bibir ranjangnya, sambil membungkus jari telunjuknya dengan tisu untuk menghentikan darah yang keluar. Lalu Alex meraba dan menghitung jumlah tulang rusuknya.
Dan benar saja tulang rusuknya masih lengkap tidak berkurang satupun. Alex diam termenung menatap kaca yang berada dikamarnya.
Alex menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya sekuat mungkin.
Lalu Alex keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan dari Ibunya, Alex melangkah tergesa-gesa memanggil ibunya untuk memastikan dirinya benar-benar kembali ke masa lalu.
“Bu… Ibu…” teriak Alex memanggil Ibunya.
“Kenapa sih Lex? kok teriak-teriak, kamu lupa lagi dimana headsetmu?” sahut Ibu Alex dari kamar mandi.
“Bukan Bu, sekarang tahun berapa?” tanya Alex.
“Apa?” ucap Ibu Alex, lalu Ibunya keluar dari kamar mandi dan dengan heran dia memandang wajah anaknya, “ Sekarang kamu lupa ini tahun berapa?” Tanya Ibu alex.
“Ya gitu deh.” Jawab Alex salah tingkah.
“Dua ribu tujuh belas.” Ucap Ibunya dengan kesal, “Udah gak ada yang mau ditanyain lagi?” tanya Ibu Alex.
“Tanggal sama bulannya sekalian Bu.” Jawab Alex.
“Bulan 10 tanggal 15, kamu tuh aneh, bisa lupa tanggal sama tahun, kamu kejedot apa bisa lupa tahun sama tanggal sekarang?” Tanya Ibu Alex, menatap Alex penuh curiga.
Alex terdiam saat Ibunya menatapnya penuh selidik, karena Alex sangat sulit untuk mengelabui Ibunya.
“Kalau aku bilang aku datang dari masa depan pasti Ibu gak akan percaya, aku harus jawab apa sekarang.” Pikir Alex, dia bingung dan berpikir dengan keras, dia menundukkan kepalanya kebawah tak berani menatap Ibunya, tiba-tiba Alex tersenyum dan menatap Ibunya, “Aku cuma bercanda Hahahaha… aku bosen gak ada kerjaan hahaha…” Jawab Alex tertawa dengan keras.
“Durhaka kamu, ngerjain Ibu sendiri.” Ucap Ibu Alex dengan kesal, “Nakal banget kamu jadi anak.” Ucap Ibu Alex sambil menjewer kuping Alex.
“Aduh… sakit Bu, udah dong.” Alex mengaduh kesakitan sambil memegang tangan Ibunya, berusaha melepaskan jeweran Ibunya dari daun telinganya.
“Makanya jangan kurang ajar sama Ibu sendiri.” Ucap Ibu Alex sambil melepaskan jewerannya.
“Iya maaf deh, aku main game aja deh kalo gitu.” Jawab Alex sambil melangkah pelan menuju kamarnya.
Alex duduk di depan meja belajarnya, dia melamun, menatap kosong ke arah koleksi buku-buku yang berbaris rapih di rak bukunya, dia bingung harus darimana memulai semuanya.
Sekarang adalah tahun ketiganya berkuliah, pada waktu ini penyakit Clara belum terdeteksi. Dari kesaksian orang tua Clara, penyakitnya terdeteksi tidak lama setelah Alex dan Clara menyelesaikan perkuliahan mereka, jadi kurang lebihnya satu tahun lagi penyakit Clara akan terdeteksi.
Dia menjambak dan mengacak-acak rambutnya karena tak menemukan jawaban dari pertanyaan yang dia buat sendiri, harus darimana dia mulai semuanya? Pertanyaan itu tak mampu ia temukan jawabannya saat ini.
Alex menggigit bibirnya dengan kedua taringnya, dia berpikir dengan keras untuk memulai langkah awal yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan wanita terkasihnya.
Alex tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang dia punya untuk merubah takdir.
Meski dia masih memiliki 22 tulang rusuk lagi yang dapat ia gunakan untuk memakai kekuatan yang dia dapat dari dewi Bulan.
Dia masih tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya jika dia kehilangan satu tulang rusuknya.
“Harusnya aku bertanya terlebih dahulu pada dewi bulan, apa akibatnya jika aku kehilangan satu tulang rusukku.” Pikir Alex dengan penuh penyesalan, “Lebih baik aku tanyakan nanti saja, sekarang aku harus pikirkan langkah awal untuk menyelamatkan Clara, waktuku gak banyak.” Gumam Alex.
Setelah memikirkan matang-matang, Alex mengambil keputusan untuk mengambil tindakan mencegah timbulnya penyakit Clara.
Walaupun sebenarnya dia masih ragu kalau pada saat ini Clara belum memiliki penyakit itu sekarang, pikir Alex tidak ada salahnya untuk mencobanya terlebih dahulu.
Untuk mengantisipasi kegagalan pada langkah rencananya. Alex memutuskan untuk mengambil cuti dari masa perkuliahannya dan fokus mencari pendonor untuk Transplantasi Hati Clara, dengan begitu dia dapat meminimalisir kegagalan dari rencananya.
“Dulu aku mencari Pendonor yang mau mendonorkan hatinya secara sukarela untuk Clara, berarti aku harus menawarkan uang sebagai gantinya, kalau memang tidak ditemukan juga aku akan cari di pasar gelap yang menjual organ secara illegal itu pilihan terakhirnya.” Pikir Alex.
Alex sudah tidak mempedulikan bagaimana caranya dia mendapatkan Hati itu untuk Clara, mau secara sukarela atau secara paksa, baik itu secara legal atau illegal intinya Clara harus mendapatkan Hati untuk ditransplantasi.
Transplantasi Hati merupakan jalan satu-satunya agar Clara dapat selamat, jika rencana pertama Alex gagal.
Alex mencari data tentang penyakit Liver di internet apapun itu bentuknya, artikel, jurnal, dan Juga Alex tidak ragu untuk membeli buku terkait penyakit Liver, serta bertanya di forum-forum yang tersedia di internet tentang penyakit Liver.
Alex tak ingat sudah berapa lama dia mencari informasi tentang penyakit Liver. Hingga perut Alex berbunyi dengan sangat keras, dia beberapa kali membuka lebar-lebar mulutnya karena mengantuk, matanya bengkak dan menghitam karena terlalu lama menatap komputernya.
Alex membuka jendela kamarnya karena dia merasa pengap dan butuh udara segar, seketika sinar matahari langsung menerpa wajahnya, Alex menyipitkan kedua pupil matanya, dia kaget karena matahari bersinar dengan terang, Alex mengambil handphone miliknya.
Banyak notifikasi pesan terlihat di layar Handphone miliknya dari Clara. Alex terdiam seketika bola matanya membesar dan mendekatkan matanya pada Handpone yang sedang ia genggam.
“Sudah lebih dari 24 jam aku mencari informasi tentang penyakit Liver.” Gumam Alex tak percaya.
Lalu Alex melangkah gontai menuju dapur rumahnya, dia menyeduh segelas kopi hitam untuk membunuh kantuknya serta memasak makanan untuk mengisi perutnya yang kosong sejak kemarin.
Alex menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menaruh segelas kopi dan sepiring nasi goreng di samping komputernya, Alex masih tak percaya bahwa hari telah berganti, dia merasa baru saja mencari informasi yang dibutuhkan untuk mencegah penyakit Liver.
Tapi nyatanya dia sudah melakukannya selama 24 jam lebih.
Mata Alex menatap fokus ke arah layar komputernya sembari menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya, dia membaca jurnal ataupun artikel yang dia simpan di komputernya.
Dia menghentikan aktivitasnya saat mendengar pintu kamarnya di ketuk, Alex seketika kalang kabut saat dia mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya, tanpa pikir panjang Alex menekan tombol power CPU komputernya.
“Sebentar.” teriak Alex yang dengan panik mematikan komputernya dengan paksa, lalu dia berjalan dengan membusungkan dadanya membuka pintu kamarnya.
“Kamu ngapain dari semalem gak ada kabar?” bentak Clara, saat gagang pintu Alex bergerak, dan Alex muncul dihadapan Clara diiringi derit pintu kamarnya yang terbuka.
“Maaf ya Sayang, aku ketiduran semalem.” Ucap Alex tersenyum kikuk menutupi kebohongannya.
“Bohong… kamu semalem gak tidur, kamu ngapain semalem?” Bentak Clara.
“Beneran aku gak bohong.” Jawab Alex sambil mengangkat kedua tangannya.
“Sumpah demi apapun kamu tanya Ibu kalo gak percaya, aku tidur semalem.” Jawab Alex.
“Terus kenapa mata kamu mirip panda, bengkak, hitam juga, semalem kamu gak tidur kan? Kamu begadang kan?” Cecar Clara.
“Sial… jelas aja ketahuan kalau bohong” ucap Alex dalam hati.
“Aku main Game.” jawab Alex dengan cepat, “Iya aku main game, kali ini aku gak bohong.” Sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Clara masih menatap tajam Alex penuh curiga, Alex terdiam melihat tatapan Clara dan dia beberapa kali menelan air liurnya karena melihat tatapan Clara yang sangat tajam seperti ingin menusuk mata Alex.
“Minggir!” perintah Clara yang masih menatap Alex penuh kecurigaan.
“Mau ngapain?” tanya Alex dengan senyum terpaksa, menyembunyikan rasa takutnya dari tatapan Clara.
“Minggir!” Perintah Clara sambil menggerakan jari telunjuknya.
“Iya Sayang.” Jawab Alex yang langsung menuruti perkataan kekasihnya, dan menyandarkan badannya ke tembok.
Clara berjalan masuk ke dalam kamar Alex. Lalu dia duduk disudut ranjang sambil menyilangkan kakinya, dan menatap Alex dengan tajam diselimuti amarah.
Alex hanya membuang wajahnya dan bertingkah seakan dia tidak tahu kalau Clara sedang marah padanya.
“Kita putus aja ya!” ucap Clara secara tiba-tiba.
“Ya jangan dong sayang, masa iya cuma karena aku gak ngabarin kamu semalem aja kita putus.” Ucap Alex yang langsung berlari mendekati Clara.
“Aku gak masalah sebenernya kalau kamu bilang, kamu juga keliatannya gak merasa bersalah sama sekali, minta maaf aja gak.” Jawab Clara dengan kesal.
“Udah tadi waktu aku buka pintu.” Bantah Alex.
“Maaf ya sayang, aku ketiduran, itu kata kamu, kamu gak minta maaf atas kebohonganmu?” tanya Clara.
“Maaf, aku gak ngulangin lagi, tapi jangan putus ya.” Jawab Alex dengan wajah memelas menatap Clara.
“Hufftt… gimana ya?” tanya Clara sambil mendongakkan kepalanya keatas.
Jantung Alex berdegup kencang menunggu jawaban dari Clara, dan keningnya muncul bulir keringat dingin yang perlahan menetes membasahi wajahnya menyiapkan mentalnya untuk menerima jawaban dari Clara.
“Makan Siang yuk!” ucap Alex cepat.
Clara menaikkan sebelah alisnya dan menatap Alex dengan sinis. Alex yang melihat ekspresi wajah dari Clara yang dengan sinis menatap wajahnya, memejamkan matanya, dan berserah diri untuk mendengar jawaban yang tidak dia inginkan.
“Kamu udah makan, ngapain ngajak makan lagi?” tanya Clara.
“Masih laper.” Jawab Alex cepat.
“Hm… oke deh” jawab Clara sambil berdiri dari, “Kamu mandi, aku tunggu di bawah 10 menit lagi gak lebih.” Jawab Clara sambil melangkah keluar dari kamar Alex.
Alex dengan cepat bereaksi mengambil handuknya dan berlari menuju kamar mandi, Alex melucuti pakaiannya dan menggosok badannya secepat mungkin, lalu dia berpakaian rapih dan menghampiri Clara yang sedang menunggunya di ruang tamu sambil memainkan Handphone miliknya.
Clara menatap heran Alex yang berpakaian rapih dan tersenyum lebar pada Clara, Clara menutup hidungnya karena bau parfum dari alex yang sangat menyengat hingga Clara merasa mual.
“Kamu mau kemana udah pake baju rapih gitu?” tanya Clara sambil menutup hidungnya.
“Mau makan sama kamu dong, kamu lupa?” tanya Alex kebingungan.
“Emang aku bilang mau makan diluar?” Tanya Clara.
“Terus kita mau makan dimana?” Tanya Alex.
“Ya dirumah kamu aja, masak sana! Aku gak tahan sama bau parfum kamu! ditumpahin semua apa Parfum satu botol ?” Jawab Clara dengan kesal.
“Bilang dong dari awal kalo mau makan disini, tau gitu aku kan gak usah mandi tadi.” Jawab Alex sambil melangkah gontai menuju dapurnya.
Dengan kesal Alex mengiris bawang hingga bunyi keras dari pisau yang menghantam talenan tempatnya mengiris bahan-bahan untuk memasak nasi goreng. Dan dengan kesalnya Alex menyiapkan masakannya di meja makan.
“Udah jadi nih.” Teriak Alex yang langsung duduk di kursi.
Clara melangkah menghampiri Alex dan duduk disampingnya dengan tenang, Clara memejamkan matanya, dia berdoa sebelum memakan masakan Alex, lalu dengan santainya dia menyantap nasi goreng tanpa memerhatikan ekspresi Alex yang menatapnya dengan kesal.
“Kamu marah?” tanya Clara dengan polosnya.
“Gak tuh, mana mungkin aku marah.” Jawab Alex yang dengan kesal menyuap nasi goreng ke mulutnya, hingga terdengar bunyi sendok yang berbenturan dengan giginya.
“Hm… bagus deh.” Ucap Clara.
“Jelas-jelas mukaku lagi kesal.” Umpat Alex dalam hati.
Mereka makan dengan tenang tanpa berbicara satu sama lain, seperti itu memang Clara dan Alex jika sedang makan mereka tak akan bicara sampai piring mereka bersih tak ada makanan tersisa.
Alex menatap kekasihnya yang baru saja selesai menghabiskan makanannya. Dan tiba-tiba saja Alex mengingat saat kepergian Clara, dia bersyukur dapat bertemu dengan Clara dan mendapatkan kekuatan yang dapat merubah takdir untuk menyelamatkan Clara.
“Yang…” panggil Alex sembari menyilangkan sendok dan garpunya diatas piring.
“Hm… kenapa?” tanya Clara yang sedang fokus memainkan Handphone miliknya.
“Aku mau cuti kuliah satu tahun.” Jawab Alex cepat.
Clara menoleh pelan dan menatap tajam Alex, ekspresi wajahnya terlihat berbeda seperti akan ada sesuatu yang akan meledak dalam dirinya.
Alex membalas tatapan tajam dari Clara dan membusungkan dadanya, melambangkan dia sudah membulatkan keputusannya.
Suasana menjadi hening mencekam seketika keduanya hanya diam tak mau berucap, hanya tatapan mata yang berbicara, tak mampu lagi bibir mengucap sebuah kata, hanya mata yang saling memandang adalah cara yang tepat mengungkapkan perasaan masing-masing.
“Alasannya?” Tanya Clara.
“Aku cuma bosen sama perkuliahan, aku pengen istirahat sebentar aja.” Jawab Alex.
“Terserah kamu deh, aku juga gak bisa larang kamu sekarang.” Jawab Clara kembali menatap layar Handphone miliknya.
Setelah itu mereka hanya diam, dan Clara asyik memainkan handphonenya, Alex menatap Clara yang terlihat kesal dan tak mau menerima keputusan Alex yang sangat tiba-tiba.
“Marahlah Ra, aku gak masalah asalkan aku berhasil menyelamatkan kamu, aku akan terima kemarahanmu.” Ucap Alex dalam Hati.