
Jam terus berdetik melahap waktu, siang ke malam, dan malam menjadi siang kembali, roda waktu seakan bergerak lambat bagi Alex, semua waktu yang telah dia lewatkan semenjak Clara pergi terasa sangat menjenuhkan.
Hidangan mewah yang selalu tersedia setiap harinya terasa hambar tak memiliki rasa di lidahnya, hingga diri tak ada selera untuk melahapnya. Gelimang harta yang dia miliki saat ini seakan tak memiliki arti, karena separuh nyawanya telah pergi meninggalkannya sendiri.
Menatap kosong, hilang tujuan dan arah, hembusan angin tak lagi dapat dirasakan, kemana harus melangkah? jawabannya adalah tidak tahu.
Rindu dan kangen. Rindu dengan seorang wanita yang selalu dia perjuangkan, dan kangen kepada seorang wanita yang dia rindukan kehadirannya. Sama tapi tak serupa, adalah pepatah yang menggambarkan jalinan antara kata rindu dan kangen.
Kangen adalah sebuah rasa, sedangkan rindu adalah sebuah keinginan, keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu bertemu. Kangen akan hilang saat bertemu dan rindu akan terobati saat sudah berjumpa.
Hati terus begetar, bergejolak, dan sesak saat menahan dua rasa itu, begitu pula dengan Alex, meski dirinya sekarang menjadi pemimpin yang sangat ditakuti, tetapi tetap dia tak dapat mengalahkan rasa dan keinginan itu.
Menghadapi rasa kangen saja sudah terlalu sulit, apalagi ditambah rindu, hati menjadi tersiksa, pikiran menjadi tak tenang, diselimuti resah dan gelisah yang tak menentu.
Saat rasa rindu menyerang, kenapa waktu terlalu lama terasa, seolah menikmati derita dari orang yang merasakan rindu seperti Alex.
Apapun yang dia lakukan terasa sangat hampa dan kosong. Hidup yang dijalani seperti tiada arti, tidak memiliki makna, terasa sepi dan terasa membosankan. Bosan karena semua yang terjadi tak ada yang menarik, dan berjalan statis.
Hanya satu cara agar rasa dan keinginan hati terobati, menjumpai wanita yang menyebabkan rindu dan kangen terjadi. Tetapi, keadaan tak memihak dengan kondisi hati.
Kesepakatan yang telah terjadi tak dapat diubah kembali, janji yang telah terucap harus ditepati. Namun, hati terus berbisik agar segera bertemu, dan apa yang mengganjal di hati menjadi terobati.
“Sayang kamu gak mau makan lagi? Kamu dari siang belum makan lo? Apa kamu sakit?” pertanyaan itu masuk ke dalam gendang telinga Alex, senang mendengarnya jika kata-kata itu, keluar dari mulut sang wanita tercinta Clara, tapi fakta memang kejam, suara itu adalah milik Cassandra wanita yang tidak Alex cintai sama sekali.
“Sayang!” panggil Cassandra sembari mengguncang-guncang tubuh Alex.
“Hm… iya, kenapa?” tanya Alex kaget.
“Kamu gak mau makan apa?” tanya Cassandra kesal.
“Mau kok, nanti aku makan.” Jawab Alex dingin.
“Gak usah, nanti aku makan sendiri aja.” Jawab Alex kesal.
“Nanti kamu sakit! Kamu harus makan sekarang!” paksa Cassandra.
“Hufft…” Alex menghembuskan nafasnya dengan sangat kesal, “iya aku makan.” Jawab Alex.
“Aku suapin ya?” tanya Cassandra yang langsung saja mengarahkan sendok ke mulut Alex.
“Iya.” Jawab Alex dingin, lalu Alex membuka lebar mulutnya dan mengunyah makanan yang tidak memiliki rasa sama sekali di lidahnya.
“Gimana sayang? Enak gak?” tanya Cassandra.
“Enak.” Jawab Alex dengan senyum kaku, “rasanya hambar gini enak darimana?” gumam Alex kesal.
Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Alex, dia telan semua makanan itu dengan sangat terpaksa. Meski tenggorokannya menolak dan berusaha untuk memuntahkan makanan itu, Alex tahan dengan sekuat tenaga, agar Cassandra tidak sakit hati.
Tapi, tidak lama kemudian perutnya terasa sangat mual, lalu dia bangkit dari duduknya, “Mau kemana?” tanya Cassandra dengan penuh selidik.
“Mau buang air besar, apa kamu mau ikut juga?” tanya Alex kesal.
“Jangan lama-lama ya! Aku tunggu disini.” jawab Cassandra dengan senyum kecil menghias wajahnya.
Alex langsung memutar badannya dan berjalan cepat menuju toilet, sesampainya disana dia langsung memuntahkan seluruh makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
Alex duduk lemas menyandar pada tembok, dia memejamkan matanya, dan merapatkan giginya.
“Aku udah gak tahan, aku kangen Clara, aku rindu Clara, semua itu udah sampai pada puncaknya, aku harus ketemu dia secepatnya.” Gumam Alex.