
Alex mencari kesempatan untuk lepas dari pandangan Cassandra, yang selalu menguntit hampir ke setiap tempat ia pergi. Tidak peduli kapanpun, dan kemanapun, suka atau tidak sukanya Alex, Cassandra tidak peduli.
Cassandra sudah seperti majikan yang selalu mengikuti kemanapun peliharaannya pergi, dan selalu curiga serta tidak mempercayai Alex. Semenjak Cassandra mengangkat Alex sebagai pemimpin Night Raven, Cassandra menjadi sangat posesif dan overprotektif pada Alex.
Risih, jelas sangat risih, dibuntuti hampir kemanapun kaki melangkah siapa yang tidak merasa risih, jika senang dan nyaman selalu diikuti semua itu hanya dusta. Kesal, hidup seperti terkekang dan tak memiliki kebebasan lagi, privasi diri Alex satu demi satu Cassandra ketahui, tubuh Alex telah menjadi milik Cassandra, Alex seperti boneka kesayangan Cassandra yang selalu ia dekap dan selalu dia bawa kemanapun dia pergi.
Pagi hari Alex terbangun dari tidurnya, seperti biasa Cassandra tertidur lelap dalam dekapan Alex, tetapi tubuh Cassandra dirasa sangat panas oleh tubuh Alex.
“Cassandra, badanmu panas?” tanya Alex, lalu dia menempelkan punggung tangannya di kening Cassandra.
Cassandra tak menjawab pertanyaan Alex, bibirnya hanya terus bergetar menggigil kedinginan, “Cassandra kamu kenapa?” teriak Alex kaget.
“Cassandra… Cassandra.” Alex menepuk-nepuk pipi Cassandra berulang kali.
Alex langsung membungkus tubuh Cassandra dengan selimut, lalu dia dengan panik mengambil handphone miliknya, dia memencet nomor yang ada di kontak handhpone-nya.
“Ada apa Bos?” tanya Willy dengan malas saat mengangkan telfon dari Alex.
“Willy, cepat panggil dokter! tubuh Cassandra panas.” Jawab Alex dengan panik.
“Apa?!” Teriak Willy dengan sangat kencang hingga memekakan telinga Alex, “Aku akan bawa dokter secepatnya.” Jawab Willy, lalu sambungan telfon langsung terputus.
Alex menunggu dokter, dengan cemas beberapa kali dia mencoba membangunkan Cassandra, tetapi Cassandra tetap tak sadarkan diri badannya masih menggigil kedinginan, karena panik Alex mencoba menghubungi willy kembali.
Tetapi, Willy tak mengangkat telfon Alex, lalu Alex mencoba membangunkan Cassandra kembali, dengan menepuk-nepuk pipi Cassandra.
“Cassandra… Cassandra…” ucap Alex panik, lalu tiba-tiba saja Cassandra bangkit dari tidurnya, dan memuntahkan isi perutnya di samping ranjangnya, “Huekk… huek…” Cassandra berkali-kali mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya.
“Cassandra, kamu kenapa?” tanya Alex kaget.
“Aku gak tau, perutku mual, mungkin aku kecapean aja.” Jawab Cassandra, tersenyum kecil, menatap Alex penuh cinta.
“Kenapa?” tanya Alex heran dengan Cassandra yang terus menatapnya.
“Aku seneng kamu khawatir denganku.” Jawab Cassandra, lalu dia menjatuhkan kepalanya ke dada Alex.
“Hm… iya.” Jawab Alex kikuk, “Istirahat disini! dan jangan kemana-mana! aku sudah panggilkan dokter untukmu.” Perintah Alex dengan tegas.
“Aku gak mau, aku ingin terus bersamamu.” Bantah Cassandra manja.
“Jadilah gadis yang baik dan penurut! kalau kamu ada apa-apa lagi itu akan membuatku repot… baru bangun tidur saja jantungku sudah mau copot rasanya.” Ucap Alex kesal.
“Baiklah, aku tidak ingin membuatmu repot lagi, aku akan beristirahat dan mengikuti keinginanmu.” Jawab Cassandra sambil mendekap tubuh Alex.
“Terima kasih sudah mau jadi gadis yang baik!” jawab Alex lega. Akhirnya, hari ini dia bebas tidak diikuti oleh Cassandra.
“Aku sudah bukan gadis lagi, apa kamu lupa siapa yang membuatku bukan lagi menjadi seorang gadis.” Bantah Cassandra.
“Maafkan aku kalau begitu!” jawab Alex kesal, lalu dia melepaskan dekapan Cassandra dari tubuhnya, dan bangkit dari ranjang.
“Kamu mau kemana?” tanya Cassandra dengan tatapan penuh selidik.
“Tunggu sebentar! aku akan buatkan teh dan bubur hangat untukmu!” jawab Alex cepat.
“Aku akan tunggu!” jawab Cassandra dengan hati berbunga-bunga wajahnya merah padam, dan senyumnya lebar mengembang.
Alex melenggang pergi meninggalkan Cassandra, dia membuatkan segelas teh dan semangkuk bubur untuk Cassandra. setelah selesai Alex masuk ke dalam kamar, dan dalam kamar itu telah ada dokter serta Willy.
“Kenapa?” tanya Alex bingung.
“Selamat Bos.” Ucap Willy tersenyum dengan lebar, dengan mata berkaca-kaca.
“Maksudnya?” tanya Alex kebingungan.
“Aku hamil sayang!” ucap Cassandra dengan lantang.
Praang… Alex kaget seketika, tubuhnya langsung lemas dan mulai muncul bulir keringat dari keningnya, tanpa dia sadari gelas teh dan mangkuk bubur yang dia bawa jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.
“Alex?” tanya Cassandra heran.
“Apa?” tanya Alex bingung, lalu dia melihat tangannya sudah tak melihat mangkuk dan gelas lagi, dia menatap bingung ke bawah saat dilihatnya mangkuk dan gelas yang tadi dia pegang sudah hancur dan berkeping-keping, “ha… kenapa aku?” tanya Alex bingung.
“Bos kamu tidak apa-apa?” tanya Willy panik.
“Apa Will?” tanya Alex yang seperti orang linglung.
“Alex kamu kenapa?” tanya Cassandra panik.
“Mungkin suaminya masih kaget, masih gak percaya kalau punya anak, shock aja mungkin karena udah nungguin dari lama, tiba-tiba dapat kabar udah hamil aja.” Ucap Dokter berusaha menenangkan Cassandra, “Ibu jangan panik dan banyak pikiran, sering-sering istirahat aja! Biar janinnya sehat.” Perintah Dokter.
“Baik Dok!” jawab Cassandra.
“Saya permisi Bu! kalau begitu.” Lalu Dokter itu berdiri dan melenggang pergi dari ruangan kamar Cassandra dan Alex.
Sedangkan Alex masih terpaku tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar oleh kedua telinganya sendiri, dia seperti orang yang bingung tak tahu harus bagaimana.
“Bos… Bos… Bos…” Panggil Willy sembari menguncang-guncang tubuh Alex.
“Iya kenapa?” jawab Alex dengan tatapan kosong.
“Duduk dulu Bos! Saya ambilkan minum dan suruh pembantu untuk merapihkan ini.” ucap Willy, lalu Willy menuntun Alex duduk disamping Cassandra, lalu melenggang pergi untuk mengambilkan Alex segelas air putih.
“Alex! Apa kamu gak seneng kalau aku mengandung anakmu?” tanya Cassandra.
Lalu Alex menoleh pelan dan memaksakan senyumnya, “Seneng kok, mana mungkin gak seneng.” Jawab Alex.
“Syukurlah kalau kamu seneng.” Cassandra menempatkan kepalanya di bahu kanan Alex dan mendekap Alex dengan manja.
Tiba-tiba saja Alex tersenyum lebar tanpa sebab dan alasan yang jelas, “mulai sekarang kamu gak boleh kemana-mana! Kamu harus tetap di kamarmu!” perintah Alex.
“Kenapa? aku bosan kalau gak ada kamu.” tanya Cassandra.
“Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anakku dan Ibu dari anakku.” Lalu Alex mengecup kening Cassandra dengan lembut.
“Kamu khawatir ya? Tapi aku akan baik-baik saja, aku akan menjaganya sekuat tenaga, aku masih kuat untuk menemanimu.” Bantah Cassandra.
Alex menatap mata Cassandra, lalu dia memegang kedua bahu Cassandra dengan erat, “Cassandra, aku takut ada yang mengincarmu, kamu tahu, kan, Night Raven punya banyak musuh dalam selimut, kamu harus tetap disini, aku tidak mau mendengar bantahan dari mulutmu.” Terang Alex.
“Tapi—“ Bantah Cassandra. Jari telunjuk Alex sudah berada di bibirnya, “sssttt… aku sudah bilang, aku tidak ingin mendengar bantahanmu, keselamatanmu dan bayi kecil kita yang terpenting saat ini, kamu bersabarlah untuk sementara waktu sampai dia lahir ke dunia ini, paham, kan!” potong Alex.
“Baik aku paham, aku akan coba untuk bersabar.” Jawab Cassandra dengan sangat terpaksa.
“Terima kasih, sudah mau mengerti.” Lalu Alex mendekap erat tubuh Cassandra, “bodoh… aku tidak peduli dengan janin dalam perutmu ataupun dirimu, ini kesempatanku, ya ini adalah kesempatanku untuk bertemu dengannya.” Ucap Alex dalam hati.