
Beberapa hari semenjak Cassandra dinyatakan mengandung, Alex berusaha untuk mencari kesempatan untuk dapat pergi, dan lolos dari mata para anak buahnya yang selalu mengawasinya.
Alex yakin, seluruh anggota kru Night Raven pasti Cassandra perintahkan untuk terus mengawasi gerak-geriknya, saat tak bersama dengan Cassandra. Alex makin stress karena sukit untuk mendapatkan celah agar dapat bertemu dengan Clara, selalu saja ada orang yang mengikutinya saat ia akan pergi.
Meski mereka mengendap-endap dan diam-diam membuntuti Alex dengan merubah penampilan mereka. Tetapi tetap saja Alex dapat menyadari keberadaan mereka semua.
Dan mau tidak mau dia harus mengurungkan niatnya, dan berusaha bertingkah manis, khawatir dan perhatian pada Cassandra, agar kecurigaan Cassandra padanya akan sedikit demi sedikit memudar.
Hingga suatu ketika ada sebuah masalah di daerah kekuasaan Alex, anak buahnya diserang hingga sekarat berada di rumah sakit. Alex langsung memanggil Willy untuk menemuinya ke ruangannya.
“Bagaimana keadaan fregky?” tanya Alex dengan mata merah menyala dan raut wajah penuh amarah.
“Masih kritis Bos.” Jawab Willy sembari menundukkan kepalanya.
“Pelakunya?” tanya Alex dengan tatapan tajam.
“Belum ketemu Bos.” Jawab Willy sembari menggelengkan kepalanya.
“Belum ketemu!” bentak Alex, lalu dia membanting gelas yang berada di mejanya ke lantai, “Pergi jaga Cassandra, biar aku sendiri yang mencarinya.” Alex langsung berdiri memakai mantel dan maskernya.
“Tapi Bos—“ bantah Willy.
“Tapi apa?” tanya Alex kesal, “Cassandra dan anakku terancam sekarang, karena kalian tidak becus mencari pelakunya.” Ucap Alex.
“Maafkan saya Bos, beri saya waktu sebentar lagi!” pinta Willy.
“Tidak! Aku sudah bosan menunggu, kerahkan seluruh kru untuk menjaga Cassandra, aku tidak mau diikuti oleh siapapun!” perintah Alex.
“Jangan Bos! Itu terlalu bahaya.” Willy melarang keputusan Alex untuk pergi sendirian.
“Jangan membangkang! Aku tidak ingin penyamaranku ketahuan karena ada yang mengikutiku, aku tidak mau tahu, kamu harus laksanakan perintahku sekarang!” lalu Alex melenggang pergi dari ruangannya, begitu Alex pergi Willy dengan cepat menyiapkan seluruh anggota kru Night Raven untuk menjaga Cassandra, dan sisanya menjaga kru yang sedang kritis.
Alex berjalan tenang saat sudah berada di luar gedung Night Raven, senyum lebarnya tersembunyi dibalik masker yang dia pakai, hatinya merasa senang karena terbebas dari orang-orang yang selalu mengikutinya, dan akhirnya dia dapat mengobati rindu yang sudah ia bendung selama ini.
Alex melihat arloji yang melingkar di lengannya, “Pas… sekarang Clara sedang bersepeda bersama kucingnya.” Gumam Alex.
Lalu Alex mengendarai mobilnya, menuju ke alamat rumah Clara, dia memacu kencang kuda besinya dengan kecepatan penuh, keinginan hati dan rasa ingin bertemu dengan Clara sudah tak dapat ia tahan lagi.
Hatinya sudah tidak sabar ingin melihat wajah sang pujaan hati, meski tubuhnya telah milik Cassandra, namun hati dan cintanya tetaplah milik Clara seorang. Setelah sampai disana, Alex menunggu Clara keluar dari rumahnya dengan tegang dan gelisah.
Hingga akhirnya penantiannya terbayar tuntas, sang wanita pujaan menampakkan wajahnya, dia keluar dari gerbang rumahnya bersama sepeda dan kucingnya yang ia taruh di keranjang depan sepedanya.
Clara menaiki sepedanya dan bersenandung menikmati angin sejuk di sore hari, rambut panjang yang biasa dia gerai hingga hampir mencapai bokongnya, kini sudah ia potong pendek sebahu.
Meski rambutnya panjang yang selalu mencuri perhatian sudah ia potong, di mata Alex kecantikan Clara tidaklah berubah, tidak ada duanya di dunia ini. Alex membuntuti Clara dengan jantung yang berdebar-debar dan senyum lebar yang terhalang oleh maskernya.
Alex berjalan cepat mendekati Clara, dia sudah tidak sabar ingin menggenggam erat tangan Clara, dia sudah tidak sabar ingin berbicara dengan Clara, dan dia sudah tidak sabar untuk mendekap erat tubuh Clara, yang kini sudah kembali sehat dan berhasil lari dari kematian.
Alex mengendap-endap mendekati Clara, lalu dari belakang dia tutup mata Clara, “Siapa kamu?” Clara berusaha berontak melepaskan tangan Alex yang sedang menutup matanya.
“Tebak!” bisik Alex di telinga Clara.
“Al—“ mulut Clara langusng Alex bekap dengan erat, lalu dia menghadap ke wajah Clara dan menaruh telunjuknya di depan bibirnya, “sssttt… jangan berisik oke!” perintah Alex.
Clara menganggukkan kepalanya dengan cepat, dan Alex langsung melepas bekapannya dari mulut Clara, “gimana kabarmu?” tanya Alex, sembari membuka masker hitam yang dia kenakan untuk menutupi wajahnya.
“Ba-baik.” Jawab Cassandra dengan bibir bergetar dan mata yang berkaca-kaca, Alex tersenyum saat mendengar suara yang keluar dari mulut Clara, “Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja, aku bahagia mendengarnya.” Ucap Alex.
Lalu Clara mendekap tubuh Alex dengan erat dan isak tangisnya pecah di waktu yang sama, “aku kangen kamu, kamu kemana aja selama ini?” tanya Clara.
Alex melepas dekapan Clara dari tubuhnya, lalu Alex tersenyum dan memegang wajah Clara, “aku gak kemana-mana, aku tetap ada di hatimu.” Jawab Alex, dia mengusap air mata yang membasahi pipi Clara dengan kedua ibu jarinya, “jangan nangis oke!” ucap Alex.
“Aku selama ini cari kamu terus, tapi gak ada yang tahu kamu dimana, Ibu juga gak tahu kamu dimana, aku bingung, aku khawatir sama kamu.” jawab Clara,
“Kamu kangen aku?” tanya Alex.
“Bukan kangen, tapi rindu.” Jawab Clara dengan kesal.
“Aku juga sama kok, gimana sekarang kamu seneng?” tanya Alex, lalu Alex duduk di samping Clara.
“Aku seneng banget.” Jawab Clara menggelayut manja di lengan Alex, “kamu gak akan pergi lagi, kan?” tanya Clara.
“Maaf ya sayang, aku akan pergi sebentar lagi, kamu jadilah gadis yang baik dan tunggu aku kembali, kamu bisa, kan?” tanya Alex.
“Berapa lama lagi kamu akan disini menemaniku? Dan berapa lama lagi kamu akan pergi dariku?” tanya Clara menatap Alex dengan tatapan sendu.
Alex memegang kedua bahu Clara dengan erat, “aku janji gak akan lama aku pasti kembali lagi.” Jawab Alex, lalu dia mendekap erat sang kekasih, seakan tak ingin melepaskannya.
Begitu pula dengan Clara, dia memeluk Alex dengan begitu eratnya, seakan tak ingin Alex kembali pergi meninggalkannya, untuk beberapa saat mereka hanya saling mendekap sembari memejamkan mata mereka, menikmati kebersamaan mereka saat ini, dan mengobati dahaga rindu yang sudah berada di puncaknya.
Tidak lama kemudian, Alex melepaskan dekapannya dari tubuh Clara, dia pegang wajah Clara, dan dia tatap dengan penuh cinta, lalu dia kecup kening lebar Clara dengan lembut. Clara hanya terpejam saat merasakan kecupan lembut Alex di keningnya, menikmati kemesraan yang sedang terjadi.
“Aku harus pergi sekarang, kamu jaga diri baik-baik ya!” ucap Alex.
Clara mengangguk pelan, dengan senyum mengembang menghias wajahnya, lalu Alex memasang kembali maskernya dan bangkit dari duduknya, dia mengawasi keadaan di sekitarnya setelah di rasa aman. Dia mengendap-endap pergi menuju mobilnya, dan pergi meninggalkan Clara sendiri, yang sedang menangis tersedu-sedu.
“Sialan kamu Alex!” Cassandra membanting headset yang dia pakai, dia merapatkan giginya dengan sorot mata tajam penuh amarah, menatap bingkai foto Alex, “kamu akan lihat nanti!” gumam Cassandra.