
Keringat membasahi tubuh Alex hingga meresap ke serat-serat pakaian yang dia kenakan, tubuhnya merasa gerah hingga lelapnya mulai terganggu. Kesadarannya telah kembali, jiwanya pun telah kembali menyatu dengan raganya, tapi matanya tetap terpejam tak dapat dibuka.
Kedua kelopak matanya seperti menempel lekat tak dapat dibuka, ingin badannya untuk bangkit dan berdiri, namun tubuh dan keinginannya tak dapat bersinkronisasi.
Ranjangnya seperti sebuah besi magnet besar yang selalu menarik tubuhnya setiap berusaha untuk bangkit dari tidurnya.
Aneh, Alex berpikir ini adalah sesuatu yang tidak wajar dan tidak semestinya terjadi pada dirinya. Tubuhnya selalu menolak kehendak hatinya, seakan tak memperbolehkan Alex untuk bangkit dari tidurnya.
“Apa ini efek obat?” ucap Alex dalam hati.
“Tapi seharusnya gak separah ini efeknya, aku cuma minum obat penurun panas dan beberapa vitamin.” Pikir Alex.
Heran. Tanda tanya berkutat dalam kepalanya, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Gerakkan tubuhnya tak sesuai dengan keinginannya, seakan ada sesuatu yang memaksa dirinya untuk terus berbaring diatas ranjangnya.
“Clara dimana?” Ucap Alex dalam hati.
Entah mengapa Alex langsung terpikir nama Clara dikepalanya dan Alex bertanya-tanya dimana keberadaan Clara sekarang. Dia ingat betul dirinya menggenggam lengan Clara saat akan tertidur.
Tapi, lengan halus itu tak terasa lagi oleh Alex, dia berusaha mencari lengan Clara disekitar ranjangnya, namun lengan itu tak
ditemukan keberadaannya oleh Alex.
“Mungkin dia sudah tidur sama Ibu.” Begitu pikir Alex.
“Alex bangun Nak!” suara itu terdengar samar ditelinga Alex, dia berusaha memekakan telinganya dan fokus untuk mendengar suara itu, “Alex bangun! Clara kecelakaan.” Ucap Ibu Alex sembari mengguncang-guncang tubuh Alex sekuat tenaganya.
“Apa Bu?” teriak Alex. Seketika saja tubuhnya bergerak, matanya terbuka dan tubuhnya langsung duduk dan memegang lengan Ibunya. “Clara kecelakaan barusan.” Ucap Ibu Alex yang pipinya sudah basah dengan air mata.
“Dimana dia sekarang?” tanya Alex.
“Dia di rumah sakit, ayo kita langsung kesana!” ajak Ibu Alex.
“Ayo Bu.” Jawab Alex langsung beranjak dari ranjangnya. “Kamu gak ganti baju dulu?” tanya Ibu Alex.
“Gak usah, langsung berangkat aja.” Jawab Alex.
Lalu Alex dan ibunya berlari menuju garasi mobil mereka. Mobil Alex melaju dengan kecepatan penuh, pedal gas mobilnya dia injak hingga maksimal. Alex seperti sedang dirasuki oleh iblis, hingga dia tidak takut dengan kematian, padahal Ibu Alex terus berteriak agar Alex lebih tenang dan dapat melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tapi, Alex tak mendengarkan teriakan dari Ibunya, dia hanya menuruti bisikkan hatinya yang ingin cepat sampai ke rumah sakit.
Beruntung, jalanan lengang karena sudah masuk dini hari, kendaraan tak memadati jalan raya seperti di waktu siang hari. Dengan begitu, Alex dapat lebih leluasa dalam menggunakan jalan dan dapat memacu kendaraannya hingga kecepatan maksimal.
“Alex kalo kamu ngebut gini, kita juga bisa kecelakaan.” Teriak Ibu Alex sambil berpegangan pada kursi mobil.
Alex yang sudah hilang akal sehatnya, tak menggubris perkataan Ibunya sedikit pun, emosinya sudah lepas kendali dia tak mampu berpikir dengan jernih. Dia ingin secepatnya untuk sampai ke rumah sakit dan melihat kondisi Clara.
“Kenapa dia bisa kecelakaan?” ucap Alex dalam hati. Amarahnya sudah memenuhi rongga dadanya, bola matanya dikelilingi guratan merah, serta air mata yang tertahan disekitar kelopal matanya.
Setelah sampai di rumah sakit, dia langsung berlarian di lorong rumah sakit, dan bertanya pada resepsionis dimanakah ruangan pasien yang bernama Clara. Lalu dia berlari kencang hingga menabrak beberapa orang dalam perjalanannya menuju ke ruangan tempat Clara mendapatkan perawatan.
Setelah dia menemukan ruangan itu, dia berhenti sejenak di depan pintu, dia mengatur nafasnya yang terengah-engah, serta jantungnya yang berdetak tak karuan.
Kreekk… terbukalah daun pintu itu sebelum Alex sempat untuk meraih gagangnya, “Dokter, gimana Clara?” tanya Alex.
Dokter itu menatap lemah Alex, lalu dia memegang pundak Alex dan menepuk punggungnya beberapa kali. Dokter itu menggelengkan kepalanya dengan lemah, seketika Alex lemas, air matanya langsung merembes keluar dari kelopak matanya, dia menggelengakan kepalanya dengan sangat lemah, “Gak mungkin.” Ucap Alex dengan suara tertahan di kerongkongan.
“Lukanya fatal tulang punggungnya patah, dia terlalu banyak kehilangan darah serta dia mengalami gegar otak.” Ucap Dokter lemas dan dia menatap pilu Alex yang seketika menangis, “Maafkan saya! saya sudah berusaha semampu saya, tapi tuhan tak mengizinkan saya untuk menyelamatkan kerabat anda.” Ucap Dokter.
“Gak mungkin! Periksa lagi Dok! Pasti anda melakukan kesalahan, ini gak mungkin terjadi.” Jawab Alex sambil memegang kedua bahu Si Dokter.
“Kuatkan hati dan terima takdir dari tuhan, jantungnya sudah tak lagi berdetak.” Bantah Si Dokter.
“Itu alatnya rusak! ganti dengan yang lain!” teriak Alex membentak Si Dokter.
“Maafkan kami!” ucap Si Dokter sambil melepaskan genggaman tangan Alex pada bahunya yang mulai mengencang.
“Clara gak bakal hidup lagi hanya dengan kata maaf!” teriak Alex sambil menarik kerah baju Si Dokter, “Pokoknya anda harus selamatkan dia!” ucap Alex dengan sorot mata tajam.
“Maaf…” ucap Si Dokter sambil menundukkan kepalanya pada Alex.
“Sial—“ ucap Alex. Tangannya mengepal dan ingin mengarahkan tinjunya pada Si Dokter.
Dokter itu sudah pasrah, matanya terpejam bersiap menerima pukulan dari Alex yang mengarah ke wajahnya.
“Alex udah Nak!” Ibu Alex langsung memeluk Alex dan menahan tangan anaknya.
“Lepasin aku Bu! bisa-bisanya dia bilang Clara sudah meninggal.” Ucap Alex meronta berusaha lepas dari dekapan Ibunya.
“Udah Lex! Udah cukup! Clara gak akan hidup lagi walaupun kamu hajar sampai mati Dokter itu, ini sudah takdirnya.” Tahan Ibu Alex.
“Gak Bu! Clara belum mati, Dokter itu pasti salah!” jawab Alex.
“Alex!” teriak Ibunya dengan sangat kencang hingga menggema disekitar lorong rumah sakit, Plaak… Ibu Alex menampar keras wajah Alex hingga membuatnya terdiam dan mematung, “Cukup Lex! Clara udah gak ada.” Ucap Ibunya sambil menangis tersedu-sedu.
“Argghh…” Alex berteriak kencang hingga dia lemas dan jatuh dipelukan Ibunya, tangisnya sudah tak dapat ditahan lagi, air matanya mengalir deras membasahi wajahnya.
Ibu Alex mengusap-usap rambut Alex, agar dia dapat lebih tenang dan dapat menghentikan tangisannya. Si Dokter pun hanya dapat menatap pilu keduanya, dan raut wajah bersalahnya tak dapat dia sembunyikan lagi.
“Ini salah Ibu! Ngebiarin dia pulang malam-malam begini.” Ucap Ibu Alex.
“Dia pulang? bukannya dia aku suruh menginap dan tidur sama Ibu?” tanya Alex.
“Dia maksa mau pulang, Ibu gak bisa nahan dia Lex!” jawab Ibunya.
“Argghh… ini salahku, ini salahku” teriak Alex dengan penuh penyesalan dalam kepalanya.
“Lex udah Nak! Ini takdirnya.” Ucap Ibu Alex.
Dia merapatkan giginya dan mengepalkan tangannya, “Dewi Bulan… Dewi Bulan… Dewi Bulan… aku ingin kembali ke waktu 2 tahun sebelum hari ini.” ucap Alex pelan sambil memejamkan matanya.
“Kontrak disetujui, kamu akan kembali ke waktu 2 tahun sebelum hari ini.” ucap Dewi Bulan yang tiba-tiba hadir di hadapan Alex, dengan tatapan mata menyorot tajam Alex.