Undo

Undo
Padang Harapan



Selama 2 hari Alex mengurung diri dalam kamarnya, entah mengapa dirinya sangat malas untuk keluar dari kamarnya. Hatinya terus tak tenang memikirkan langkah selanjutnya dan rencana apa yang harus dia lakukan agar dapat berjalan dengan lancar.


Alex masih ragu untuk memutuskan langkah karena kegagalan kemarin masih membekas dalam ingatannya. Dan selama dua hari dan dua malam belakangan ini dirinya tidak dapat tidur dengan nyenyak, di teror oleh mimpi dari kejadian-kejadian yang sebelumnya.


Dalam ruangan pengap nan gelap kamarnya, dia terus memutar otak agar dapat melawan takdirnya yang tak dapat menyatu dengan Clara. Kematian Clara yang terjadi berulang-ulang membuat dirinya sulit untuk berpikir dengan jernih.


Untuk kembali lagi menemui Cassandra, Alex masih merasa ketakutan, karena Cassandra yang membuat rencananya hancur sebelumnya. Meskipun, Cassandra adalah jalannya untuk menyelamatkan Clara, tetapi apa gunanya jika Clara selamat namun tak dapat hidup bersamanya.


Ketakutan-ketakutan itu membuat Alex bimbang, pikirannya terus berkecamuk karena tak dapat menemukan jalan, dan tak dapat menemukan rencana sempurna yang dapat mengakhiri perjuangannya melawan takdir yang tak sesuai dengan harapannya.


Dia hanya dapat berdiam diri karena terus menengok ke belakang, dirinya tak dapat memutar kepalanya untuk menatap lurus membusungkan dada ke depan, tubuhnya seperti membatu untuk diputar.


Bagaimana caranya untuk lari dari kegagalan? Apakah usaha keras saja tidak cukup untuk meraih kesuksesan? Pertanyaan itu muncul karena usaha Alex yang selalu berujung kegagalan.


Jika usaha saja belum mampu untuk mengubah takdir, lalu apa lagi yang dibutuhkan agar takdirnya berubah, pengorbanan? Apa lagi hal yang harus di korbankan? Apakah tulang rusuk dan resiko yang tidak dia ketahui akibatnya itu masih kurang? tak ada yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kepala Alex itu.


Malam hanya menunjukkan kelam dan siang hanya menunjukan cahaya, tak ada jawaban yang dia dapat meski siang dan malam terus berganti. Barisan bintang hanya berkelip bergantian sedangkan mtahari hanya menunjukan kekuasaannya dengan sinar terangnya, tidak sama sekali mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyiksa batin Alex.


Waktu terus berputar dan takdir terus melaju, jika saja takdir dan waktu dapat berhenti, semua yang dia lakukan tidak akan berakhir seperti ini. karena waktu dan takdir yang tak mau berhenti perjuangannya menjadi tiada artinya lagi.


Seperti ikan yang ingin hidup di daratan sekeras apapun dia berusaha hasil yang dia dapat hanyalah kematian, tidak akan mungkin dia melawan takdirnya untuk hidup di tempat yang tidak memiliki air.


Sama seperti beruang yang ingin terbang bebas seperti elang, itu semua hanya ada dalam fantasi pikiran, selebar apapun dia merentangkan kedua tangannya, dan sekuat apapun dia mengepakkan tangannya, sehelai rambut pun tubuhnya takkan terangkat.


Namun, hatinya terus berteriak bahwa dia harus melawan takdirnya, dia harus menjadikan Clara sebagai miliknya, dan harus berusaha lebih keras lagi agar Clara menjadi jodohnya.


Suara hatinya tak mau berhenti berteriak meski sudah berkali-kali ia coba membuatnya berhenti, apapun yang terjadi dia harus lawan kekang takdir, dia tidak boleh menyerah dan mengaku kalah dengan takdir.


Ingin memutar badan dan melangkah maju ke depan. Tetapi, jurang tak berdasar nampak oleh pandangannya, jurang dalam yang tak terlihat dasarnya, gelap tak dapat melihat apa-apa.


Takut, sangat ketakutan jika memasuki jurang gelap yang tak memiliki cahaya, tak dapat melihat apa-apa dan tak dapat berbuat apa-apa. meski jauh di seberang jurang terlihat sebuah padang harapan yang membentang luas, tapi tidak tahu harus dengan cara apa untuk pergi ke sana.


Apakah lompatannya sampai ke seberang sana? Jelas tidak jawabannya. Terbang, manusia tidak mungkin untuk mengepakkan tangannya dan terbang melayang di udara.


“Jembatan.” Gumam Alex sembari terseyum lebar, lalu dia berdiri sembari mengepalkan tangannya, “kalau ada jurang aku bisa buat jembatan agar bisa menyebranginya, jika dia tidak bisa terbang tinggal membuat pesawat dan aku akan terbang melayang di udara, jika ingin menyelam di air, aku tinggal buat kapal selam dan aku dapat melihat dasar lautan, seekor ayam pun terus mengepakkan sayapnya meski tidak dapat menembus awan, tapi, setidaknya tubuhnya dapat melayang di udara walau hanya sekejap saja.” Ucap Alex dengan lantang.


“Ya, aku harus bertemu Cassandra, dan kembali meminta tolong padanya, aku harus coba cari lain, hasil tidak akan pernah ada yang tahu sampai kita selesai mencobanya.” Ucap Alex dengan penuh percaya diri, lalu dia menatap kaca di kamarnya, “dulu dia jatuh cinta padaku karena pandangan pertama, kalau begitu aku tinggal sembunyikan wajahku dan mataku dengan begitu dia tidak akan jatuh cinta padaku, Clara tunggu aku sebentar lagi, aku akan berusaha sampai kita dapat benar-benar bersama.” ucap Alex tersenyum dengan lebar menatap refleksi wajahnya yang terpampang jelas di kaca.


Dengan penuh keyakinan dan keberanian dia kembali merajut asa, mengatur rencana untuk mengalahkan takdir yang tidak selaras dengan keinginannya. Seringai lebar Alex mengawali kebangkitannya untuk menantang takdir.


Kini Alex sudah menetapkan keputusannya berapa kali pun ia jatuh dan kalah, dia akan kembali bangkit dan terus menantang takdir hingga ia dapat menang.


“Takdir atau nasib akan terus aku lawan sampai semuanya berjalan sesuai dengan keinginanku.” Ucap Alex dalam hati.