Undo

Undo
Triangle



Pagi hari Alex bangun dari tidur nyenyaknya dengan wajah yang berseri-seri karena mimpi indah yang dia alami semalam. Bermimpi sedang hidup bahagia dan membangun keluarga kecil bersama Clara.


“Pagi sayang!” ketika Alex membuka matanya Cassandra sudah memberikan kecupan selamat pagi di kening Alex.


“Pagi!” jawab Alex dingin.


Lalu Alex langsung bangkit dari ranjangnya dan mengambil Handphone miliknya, terlihat dia mengetik sebuah pesan di layar handphone-nya. Dan tidak lama kemudian ada telfon masuk dari Willy.


“Bagaimana Frengky, dan Kru yang ada di rumah sakit?” tanya Alex tanpa basa-basi.


“Frengky mulai membaik, dan keadaan di rumah sakit aman Bos.” Jawab Willy.


“Willy aku beri waktu kamu hingga siang hari, cari dan temukan mereka, kalau masih belum ketemu juga aku akan turun tangan lagi!” perintah Alex.


“Baik Bos!” jawab Willy.


Lalu Alex langsung menutup telfonnya, dan menaruh handphone-nya disamping tempat tidurnya, dan Alex kembali masuk ke dalam selimutnya dan mulai memejamkan matanya kembali.


“Sayang!” bisik Cassandra manja di telinga Alex.


“Kenapa?” tanya Alex dengan malas.


“Aku ingin bermain denganmu.” Bisik Cassandra dengan lembut.


“Bermain apa? Ini masih pagi.” tanya Alex dengan mata yang masih terpejam.


“Ayolah sayang, kamu tahu, kan, kita sudah lama tidak bermain.” Jawab Cassandra, lalu dia menggigit lembut daun telinga Alex.


“Cassandra aku lelah, kamu juga sedang hamil, kan, jangan macam-macam! aku tidak mau ada masalah lagi.” Ucap Alex dengan kesal.


“Tapi aku pengen sekarang.” Paksa Cassandra.


Lalu Alex bangun dari tidurnya dengan kesal ia menatap Cassandra, lalu dia pergi ke toilet dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat, tidak lama kemudian alex keluar dari toilet dan memakai masker dan juga mantelnya.


“Kamu mau kemana?” tanya Cassandra.


“Mencari pelaku yang memukul Frengky.” Jawab Alex dingin.


“Serahkan saja pada Willy, kamu temani aku saja disini.” pinta Cassandra, lalu Cassandra bangkit dari ranjangnya dan melangkah menghampiri Alex, “setidaknya aku ingin bermain sebentar saja.” Ucap Cassandra, lalu dia dengan manja mendekap lengan Alex.


Alex menghela nafasnya dengan kesal, “tahan sebentar sampai anak kita lahir, aku tidak mau terjadi sesuatu antara kamu dan juga anakku, aku harap kamu bisa mengerti!” Jawab Alex, lalu dia melepaskan tangan Cassandra yang mendekap erat lengannya.


Cassandra menyerah. Dan dengan wajah cemberut dia tidur di ranjangnya, sedangkan Alex membiarkan Cassandra yang terlihat kecewa karena tidak dapat dia turuti keinginannya.


Setelah selesai Alex mengenakan pakaiannya dia berjalan menghampiri Cassandra, “aku berangkat.” Alex mengecup kening Cassandra, lalu dia pergi meninggalkan Cassandra dalam kamarnya sendirian.


“Aku tahu Alex, kamu pasti ingin menemui wanita itu, kan… tapi sayang, dia sudah mati hari ini, kamu rasakan akibatnya jika mengkhianatiku.” Gumam Cassandra tersenyum dengan lebar.


Alex pergi memacu mobilnya menuju rumah Clara, sudah tidak sabar dirinya untuk kembali menemui Clara. Di perjalanan dia selalu tersenyum dengan lebar, dan bersiul-siul, karena suasana hatinya sedang sangat baik, tidak seperti hari-hari sebelumnya.


Saat sampai di depan rumah Clara, Alex terkejut, rumah Clara telah di kelilingi oleh garis polisi dan ada bendera kuning menancap di gerbang rumahnya. Alex langsung saja keluar dari mobilnya, dan menyopot maskernya, lalu dia melangkah cepat menuju rumah Clara.


“Pak ada apa ini? kenapa disini dikasih garis polisi?” tanya Alex dengan raut wajah khawatir.


“Semalam telah terjadi pembunuhan, korbannya adalah anak perempuan dari pemilik rumah.” Jawab salah satu polisi yang sedang bertugas.


Waktu seakan berhenti berputar, jantung Alex berhenti berdetak, sesaat pandangannya kabur, dan tidak lama kemudian, jantungnya berpacu begitu kencang, dan Alex terhuyung lemas dan jatuh terduduk.


“Anda tidak apa-apa?” tanya salah satu polisi yang melihat Alex jatuh seketika.


“Clara!!!” Alex berteriak dengan kencang, “dimana Clara sekarang?” tanya Alex dengan tatapan mata tajam.


“Korban sedang di autopsi di Rumah Sakit Bhayangkara.” Jawab Polisi tersebut.


Lalu Alex langsung berdiri dan berlari menuju mobilnya. Dengan tergesa-gesa dia mengendarai mobilnya menuju ke Rumah Sakit Bhayangkara, pikirannya sudah kalut, dirinya sudah diambil alih oleh amarah, tubuhnya bergerak mengikuti perintah dari amarahnya yang saat ini meluap-luap begitu hebatnya.


Sesampainya disana dia Alex melihat Orangtua Clara beserta Ibunya sedang menangis tersedu-sedu, secepat kilat Alex berlari menghampiri Ibu dan Orangtua Clara.


“Om, Tante apa benar yang dikatakan Polisi yang ada di rumah Om dan Tante?” tanya Alex dengan mata berkaca-kaca.


“Alex!” ucap Ibu dan kedua Orangtua Clara terkejut melihat kedatangan Alex.


“Kamu darimana aja Nak selama ini?” tanya Ibu Alex yang langsung memeluk erat Alex.


“Itu gak penting sekarang, apa bener kata polisi itu?” tanya Alex sembari melepaskan pelukan Ibunya.


“Iya itu bener Lex.” Jawab Ibu Cassandra yang semakin kencang menangis.


“Clara!!!” Alex berteriak kencang hingga seluruh orang yang berada di sekitarnya terpaku untuk sesaat, Alex menangis sejadi-jadinya sembari memukuli lantai, “Om atau Tante tau ciri-ciri orang yang melakukan ini pada Clara?” tanya Alex dengan tatapan penuh amarah.


“Gak tau Lex, kami semua gak ada yang tahu, tiba-tiba aja waktu Tante mau bangunin Clara, kasurnya udah di penuhi darah.” Jawab Ibu Clara.


“Iya Lex, darahnya juga udah kering waktu pagi tadi.” Ucap Ayah Clara sembari memeluk istrinya agar kuat untuk menerima kenyataan, “sepertinya Clara ditusuk berkali-kali, sampai jantungnya hancur.” Ucap Ayah Clara.


“Kamu mau kemana lagi Nak?” tanya Ibu Alex.


“Aku ada urusan sebentar.” jawab Alex, lalu dia memutar badannya dan berjalan cepat meninggalkan rumah sakit.


Alex memacu mobilnya menuju ke kediaman Cassandra, “pasti ini ulah kamu, kan, Willy!” gumam Alex.


Alex berusaha menyembunyikan kesedihannya saat telah sampai di kediamannya dan juga Cassandra, dia melangkah tegap mencari keberadaan Willy, namun tidak ia temukan keberadaannya.


“Willy kamu dimana?” tanya Alex menelfon Willy.


“Masih mencari tahu tentang pemukulan kemarin Bos.” Jawab Willy.


“Temui aku di ruanganku!” lalu Alex menutup telfonnya, dan dia kembali pergi menuju ke gedung Night Raven.


Setelah sampai disana ia langsung masuk ke dalam ruangannya sembari menunggu kedatangan Willy. Setengah jam dia menunggu Willy datang menemui Alex, dengan wajah tertunduk.


“Kenapa kamu menunduk Willy?” tanya Alex sembari tersenyum dengan lebar.


“Maaf Bos! Saya belum temukan orangnya.” Jawab Willy.


“Gak masalah.” Jawab Alex, lalu dia berdiri dan melangkah mendekati Willy yang sedang menunduk, Alex berjalan mengitari Willy berkali-kali, hingga membuat Willy ketakutan.


“Semalam kamu ada dimana?” tanya Alex dengan tenang.


“Di rumah Bos sama Kru yang lain.” Jawab Willy.


Dor… Dor… kedua paha Willy bersarang timah panas yang Alex tembakan hingga membuat Willy langsung jatuh tersungkur, “Arggghhh…” Willy mengerang kesakitan dia berteriak meronta-ronta sembari memegangi pahanya.


“Semalam kamu dimana?” tanya Alex dengan tatapan mata penuh amarah.


“Di rumah Bos sama Kru yang lain.” Jawab Willy.


Lalu Alex menyeret Willy menuju mejanya dengan sangat kasar, “dimana kamu semalam?” tanya Alex, sembari mengeluarkan sebilah pisau dari balik mantelnya.


“Di rum—“ belum selesai Willy menjawab, Alex menusuk tangan Willy menggunakan pisau yang ia pegang hingga menembus tangannya dan menancap kuat di meja kayu miliknya, “argghhh…” sontak Willy mengerang kesakitan, Alex tersenyum kecil pada Willy lalu dia menjambak rambut Willy dengan kencang, “kubuat sederhana… siapa yang menyuruhmu membunuh wanita itu semalam?” tanya Alex.


“Nyonya Bos, Nyonya yang suruh saya.” jawab Willy.


Dor… Alex menembak kepala Willy dengan pistolnya, dan meninggalkan Willy yang kepalanya sudah berlubang begitu saja, dia dengan cepat menuju ke kediamannya dan masuk ke dalam kamarnya.


“Sayang kamu sudah pulang.” ucap Cassandra, yang seketika langsung menghampiri Alex.


“Duduk!” perintah Alex dengan raut wajah penuh amarah.


“Ada apa sayang? Kenapa kamu terlihat sangat marah?” tanya Cassandra bingung.


“Duduk!” bentak Alex.


Lalu Cassandra duduk di pinggir ranjangnya mengikuti perintah Alex, sedangkan Alex masih berdiri dengan sorot mata tajam menatap Cassandra, seketika suasana menjadi hening dan mencekam, hingga membuat Cassandra gemetar hebat.


“Kenapa kamu bunuh dia?” tanya Alex.


“Apa yang kamu maksud sayang? Bunuh, masudmu membunuh siapa?” tanya Cassandra berlagak pilon.


“Jangan berpura-pura bodoh atau aku akan membuatmu sama seperti Willy.” Ancam Alex.


“Memangnya Willy kenapa?” tanya Cassandra bingung.


“Kenapa kamu menyuruh Willy untuk membunuh Clara?” tanya Alex sembari mengepalkan tangannya.


“Alex bukan aku yang menyuruhnya.” Bantah Cassandra.


“Willy tidak akan menuruti perintah orang lain, selain aku dan kamu Cassandra.” jawab Alex dengan tatapan mata penuh emosi, “mengakulah dengan begitu aku akan memafkanmu.” Ucap alex.


“Iya Alex aku yang menyuruh Willy untuk membunuhnya karena kamu telah melanggar kesepakatan kita.” Jawab Cassandra dengan mata berkaca-kaca.


“Apa maksudmu?” tanya Alex kaget.


“Kemarin kamu bertemu dengannya, kan, di mantelmu aku pasang perekam suara dan juga GPS, aku tahu kemarin kamu berjumpa dengannya, itu semua salahmu.” Jawab Cassandra dengan berurai air mata.


“Begitu ya, hahaha…” ucap Alex sembari tertawa dengan sangat keras, lalu dia mengambil pistol yang dia simpan di balik mantelnya sembari tersenyum lebar dia mendekati Cassandra yang terlihat ketakutan.


“Alex, bukannya kamu janji akan memaafkanku?” tanya Cassandra yang berdiri dan langsung mundur secara perlahan, “aku melakukan ini demi kebahagiaan kita berdua… lihat, aku sedang mengandung anakmu, jika kamu membunuhku anakmu juga akan ikut terbunuh.” Ucap Cassandra.


“Aku tidak peduli dengan dirimu, maupun janinmu.” Jawab Alex.


Dor… Alex melontarkan timah panas ke arah jantung Cassandra, lalu Alex mengepalkan kedua tangannya dan mendongakkan kepalanya ke atas “Dewi Bulan… Dewi Bulan… Dewi Bulan… aku ingin kembali ke waktu 4 tahun sebelum hari ini.” ucap Alex.


Dewi Bulan hadir dihadapan Alex diiringi sinar terang yang menyilaukan mata, “Kontrak disetujui, kamu akan kembali ke waktu 4 tahun sebelum hari ini.” ucap Dewi Bulan.