
“Bagaimana kabarmu Sayang? Aku disini baik-baik saja, Ibu, Mama dan Papa selalu menemaniku dan rajin menjengukku setiap hari, pengobatanku tetap berjalan lancar tanpa hambatan, aku harap kamu baik-baik saja saat ini, dan aku harap kamu segera berada disisiku kembali.” Suara merdu itu keluar dari Handphone milik Alex, dia tersenyum kecil mendengarkan suara Clara, air matanya menitik terharu karena suara sendu Clara yang mengharapkan kehadirannya.
“Lex!.” Suara berat seorang laki-laki memanggil Alex, “Sekarang bukan waktunya bersantai! Cepat bekerja! Aku ingin cepat-cepat pulang dan meneguk segelas bir.” Perintah laki-laki bersuara berat itu.
“Kamu merusak suasana Gorila.” Jawab Alex geram, lalu Alex memasukkan Handphonenya ke saku jaketnya, “Gak bisa ya untuk memahami suasana, otak otot.” Ucap Alex.
“Terserah kamu… aku cuma ingin menyelesaikan pekerjaan ini secepatnya dan pulang lebih awal agar aku punya waktu lebih banyak untuk menikmati hidup.” Jawab Pria itu acuh. Lalu dia berbalik badan dan Alex mengikutinya dengan raut wajah kesal dibelakangnya, “Dasar Si Willy, gak pernah bisa untuk memahami situasi, apa yang ada dikepalanya cuma mabuk saja.” Gumam Alex
.
Alex dan Willy Pria yang berbadan besar masuk ke dalam sebuah club malam, dentuman musik menggema dalam ruangan, bau alkohol dan tembakau menyengat di hidung, “Orang bodoh itu, menari-nari seperti orang yang gak punya otak.” Gumam Alex sambil menggelengkan kepalanya.
Willy menepuk bahu Alex dengan sangat keras hingga Alex tersentak kaget dan langsung menatap tajam Willy.
Willy langsung membalas tatapan Alex dan menggerakkan kepalanya menyuruh Alex untuk lebih cepat bekerja. Mereka berjalan ditengah kerumunan orang-orang yang sudah kehilangan kesadarannya, mereka bergerak sesuka hati mereka menggoyangkan badan mereka menikmati dentuman musik yang dimainkan.
Hingga Alex tiba dalam sebuah ruangan yang sangat tenang dan nyaman, tidak berantakan dengan bau tubuh, alkohol, dan tembakau yang menjadi satu dan menyiksa hidung.
Tanpa basa-basi Willy dan Alex langsung duduk disebuah kursi sofa yang empuk, meskipun belum dipersilahkan untuk duduk. Lalu Willy langsung menuangkan sebotol wine jenis Cabernet sauvignon ke dalam gelas, dia teguk wine itu dengan tenang.
Alex hanya terdiam melihat ketidaksopanan rekannya, sudah berkali-kali Alex untuk memperingatinya, tetapi kata-kata Alex hanya seperti kampanye politik, tidak ada pentingnya, dan hanya terdengar seperti angin lewat.
“Maafkan rekan saya yang sudah tidak sopan.” Ucap Alex pada seorang pria yang duduk dihadapannya.
“Gak masalah, semua ini memang sudah dipersiapkan untuk menyambut kalian.” Jawab Pria berkumis lebat dengan rambut mengkilap.
“Tidak usah basa-basi lagi Romi, mana uangnya?” tanya Willy sambil menatap tajam Romi si pria berkumis lebat dengan rambut yang mengkilap.
Lalu Romi menyuruh orang yang disampingnya untuk memberikan koper pada Willy dan Alex, “Lex hitung!” perintah Willy.
Alex menghitung uang yang berada dalam koper itu dengan teliti, sementara Alex masih menghitung uang itu, Willy kembali meneguk wine yang berada dalam gelas yang dia genggam.
“Ini cuma setengah.” Ucap Alex.
“Jangan membuatku kesal Romi! aku sudah bilang waktuku tidak banyak.” Bentak Willy sambil menaruh gelasnya.
“Mungkin temanmu salah hitung.” Jawab Romi sambil tersenyum kecil, lalu dia menjentikkan jarinya.
Tiba-tiba saja sudah ada 15 orang yang berkumpul mengelilingi mereka, Alex menutup koper itu dengan tenang dan willy hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
“Setidaknya kamu harus bawa seratus orang untuk membunuhku.” Ucap Willy.
“Kekuatan dari mereka lebih dari seratus orang Willy.” Jawab Romi sambil tersenyum.
Praang… Alex melemparkan sebuah botol ke arah Romi, lalu dia melompat dengan cepat dan langsung mendaratkan tinjunya diwajah Romi. Melihat gerakkan dari Alex Romi langsung bergerak untuk melindungi Alex yang sedang menghajar Romi, dia memukul semua orang yang mendekat ke arah Alex tanpa ampun, tidak dibutuhkan waktu lama mereka semua sudah terkapar bersimbah darah di lantai.
Wajah Romi sudah tak karuan darah memenuhi wajahnya, hidungnya sudah patah, dan beberapa giginya ada yang goyang karena dipukuli Alex habis-habisan.
“Kurang ajar.” Ucap Alex sambil memukul wajah Romi.
“Ampun Lex! Ampun! Aku kasih uangnya, jangan pukulin aku lagi.” Jawab Romi.
“Brankas.” Jawab Romi pelan sambil menunjuk brankas yang berada tidak jauh darinya, suaranya tertahan dikerongkongannya, lalu Alex melangkah menuju brankas itu, “Berapa?” tanya Alex.
“00732917.” Lalu Alex menekan tombol-tombol pada brankas itu, dan brankas itu terbuka, Alex mengambil semua uang yang memenuhi isi brankas itu, dia menghitungnya dengan teliti.
“Coba aja kamu gak macem-macem, mungkin isi brankasmu gak bakal habis begini.” Ucap Alex sambil menenteng koper besar yang berisikan uang, “Ayo pulang Will!” ucap Alex.
Willy melangkah sambil menyepakkan kakinya ke arah orang-orang yang jatuh tersungkur di lantai, “Lain kali kalau kamu berani macam-macam! Nyawamu akan benar-benar melayang.” Ucap Willy.
Lalu Willy dan Alex pergi dan menutup pintu ruangan itu, “Rasanya aku mau berhenti saja dari pekerjaan ini.” celetuk Alex.
“Alex!” Willy menghentikan langkah kakinya sejenak, “Sekali kamu masuk ke dalam dunia hitam ini, pintu keluar untukmu sudah tertutup.” Ucap Willy.
“Tinggal kita hancurkan aja pintunya, dan setelah itu kita bisa keluar.” Jawab Alex dengan santai.
“Kalau memang bisa, dari dulu aku keluar dari dunia ini.” jawab Willy.
Alex mengangkat bahunya tak menanggapi perkataan Willy dia melanjutkan langkah kakinya yang terhenti untuk pulang menyetor uang yang telah mereka dapatkan.
Setelah sampai di markas mereka, yang sering disebut sebagai kantor penyedia jasa keamanan, Alex langsung masuk ke dalam ruangan Cassandra, wanita yang menjadi pemimpin di bisnis dunia hitam tempat Alex mencari uang.
“Ini setoran dari Romi, dia sedikit buat ulah tadi, tapi masih bisa aku dan Willy tangani.” ucap Alex sambil menaruh koper besar dimeja.
“Kerja bagus! Kalian bisa istirahat sekarang!” perintah Cassandra sambil mengambil koper.
Willy langsung pergi meninggalkan ruangan itu, tetapi Alex justru duduk di kursi yang berhadapan dengan Cassandra. Cassandra terkejut melihat Alex yang duduk dikursi, lalu Cassandra menatap wajah Alex, mencoba menerka-nerka keinginan yang akan Alex utarakan.
“Apa kamu ingin menemaniku minum?” tanya Cassandra.
“Kamu tahu bukan itu yang aku inginkan.” Jawab Alex sambil menatap tajam Cassandra.
“Jadi apa yang sedang kamu inginkan, hingga kamu menatapku seperti itu?” tanya Cassandra.
“Aku ingin kamu menyiapkan hati yang kuminta minggu depan.” Jawab Alex.
“Kamu belum lama bekerja disini, belum genap satu tahun kamu bekerja disini, tapi kamu sudah meminta sesuatu yang sulit padaku, tidak sopan sama sekali.” Jawab Cassandra tersenyum kecil sambil membalas tatapan tajam Alex.
“Hm… tapi aku juga telah memberikan uang yang banyak padamu bukan?” tanya Alex sambil merapatkan giginya, “Aku akan terus memberikanmu uang yang berlimpah jika kamu mengabulkan permintaanku.” Ucap Alex.
“Apa hanya itu keinginanmu?” tanya Cassandra.
“Dan aku ingin menemani seseorang untuk melewati masa kritisnya, setelah selesai aku akan kembali kesini, aku janji itu.” jawab Alex.
“Baiklah! Karena kamu selama ini selalu menurut dan tidak pernah bermain-main denganku, aku akan menuruti permintaanmu.” Jawab Clara sambil menyandarkan punggungnya pada kursi besarnya, “Tapi jika kamu mengingkari janjimu, kamu tahu apa yang akan aku lakukan!” Ucap Cassandra.
“Aku tahu itu.” jawab Alex tenang.
“Aku akan siapkan apa yang kamu minta, kamu bisa kembali kesini, satu minggu lagi!” ucap Cassandra.
Lalu Alex berdiri dari duduknya, dan dia menundukkan kepalanya pada Cassandra, lalu dia pergi meninggalkan ruangan itu, “Tunggu aku sayang, kali ini pasti kamu akan selamat.” Gumam Alex.