
Alex duduk di bangku taman menunggu kehadiran Clara dengan resah dan gelisah, kakinya dia hentak-hentakan ke tanah secara bergantian, dan sesekali ia menghembuskan nafasnya dengan begitu kencang, karena Clara tak kunjung nampak.
Tubuhnya selalu ingin digerakkan tak mau diam, dia gugup untuk bertemu dengan Clara kali ini, hingga tangannya bergetar hebat.
Senyum Alex mengembang saat Clara terlihat mengendarai sepedanya, dan menghampiri dirinya, Clara menaruh sepedanya tidak jauh dari bangku taman, dan mengambil kucing kesayangannya dari dalam keranjang sepeda.
Dia gendong kucing itu dalam buaiannya, dan dengan tenang Clara menghampiri Alex yang terlihat sudah menunggu kehadirannya, “maaf kalo lama!” ucap Clara sembari duduk di samping Alex.
“Gak masalah kok, baru juga berapa menit, seribu tahun juga aku tungguin demi kamu, mah.” Ucap Alex kikuk.
“Kamu mati dong, udahan.” Jawab Clara dengan wajah datar.
“Iya juga, hahaha… hahaha…” ucap Alex yang memaksakan tawanya.
“Aneh kamu! gak jelas banget!” ucap Clara sembari mengerutkan dahinya.
“Kan, kamu yang buat aku aneh dan jadi gak jelas.” Jawab Alex sembari mengedipkan matanya.
“Aku?” tanya Clara bingung, “kok bisa gitu?” tanya Clara bingung.
“Karena kamu... udah buat aku jatuh cinta padamu.” Jawab Alex tersenyum kecil dan menatap dalam wajah Clara.
“Hmpph… itu bohong, kamu pasti bilang gitu sama mantan-mantan kamu iya, kan.” Jawab Clara dengan raut wajah tidak percaya pada Alex, lalu dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, “aku gak mempan sama kata-kata itu, aku beda dari mantan-mantanmu, aku gak akan makan umpanmu gitu aja.” ucap Clara dengan sombong.
“Eh… aku ngomong gitu cuma sama kamu, bener deh!” bantah Alex sembari mengangkat tangannya.
“Masa sih, kok aku gak yakin.” Jawab Clara sembari mengangkat satu alisnya.
“Sumpah demi apapun, Sayang.” Jawab Alex dengan tegas.
Lalu Clara memerhatikan Alex dengan seksama, matanya menelusur penuh selidik, hingga Alex bingung dibuatnya, “bagus deh, kalo gitu.” Jawab Clara dengan wajah datar.
“Bagus deh, kalo gitu.” Ucap Alex dengan berusaha menirukan suara Clara, “udah cuma gitu aja.” potes Alex dengan kesal.
“Ya emang aku harus gimana?” tanya Clara bingung.
Lalu Alex menghela panjang nafasnya dengan raut wajah penuh kekecewaan, “emang susah kalo punya pacar dingin.” Ucap Alex pelan.
“Apa? coba ulangin lagi!” bentak Clara yang ekspresi wajahnya berubah dari datar menjadi penuh amarah sangat menyeramkan.
“Aku gak ngomong apa-apa yang.” Bantah Alex, lalu dia mengangkat tangannya dan membuat symbol peace dengan jari tengah dan telunjuknya.
“Maaf kalo aku dingin, gak kayak mantan-mantan kamu yang lain.” Jawab Clara lemas.
“Kan, yang penting, aku sayang sama kamu.”
“Serius?” ucap Clara dengan wajah merengut.
“Sumpah Sayang, kamu itu gak ada gantinya.” Jawab Alex dengan lantang.
Clara langsung tersipu malu wajahnya merah padam terasa panas, dia mengalihkan wajahnya dari pandangan Alex, jantungnya berpacu dengan sangat cepat, dan Clara menggenggam erat bajunya hingga ia tak dapat berucap sepatah kata.
“Sayang kamu kenapa?” tanya Alex heran.
“Aku gak kenapa-kenapa, kok.” Jawab Clara sembari melirik ke arah Alex.
“Beneran, tapi mukamu merah lo, apa—“ jawab Alex terhenti sejenak.
“Apaan?” tanya Clara, lalu Clara menggigit bibir bawahnya.
“Apa… kamu kebelet kencing?” tanya Alex sambil mengerutkan dahinya.
“Aww…” Clara mengerang kesakitan sembari membekap mulutnya, karena dia tidak sengaja menggigit bibirnya terlalu kencang.
“Kenapa sayang?” tanya Alex kaget saat Clara mengerang kesakitan. “kamu kenapa, ada apa?” tanya Alex panik.
“Gak ada apa-apa.” jawab Clara kesal, lalu dia menoleh ke arah Alex dan menatap Alex dengan tajam, “Alex bego!” ucap Clara dengan raut wajah yang terlihat sangat marah.
“Kok kamu marah, aku salah apa memang?” tanya Alex ketakutan dan juga bingung disaat yang bersamaan.
“Hei… kamu jangan cemberut dong, tuh Si Lexa aja sampai takut ngeliatnya.” Ucap Alex sembari menunjuk kucing kesayangan Clara.
Clara diam tanpa kata seperti bias ajika sedang marah, dan akhirnya kini hening tercipta antara Alex dan Clara. Alex berusaha memutar otak agar suasana hening menjengkelkan ini dapat lenyap, karena Alex ingin lebih banyak menghabiskan waktu untuk tertawa bersama Clara, bukan untuk melihat Clara yang marah tanpa alasan seperti ini.
Beberapa kali Alex mencoba mencairkan suasana. Tetapi, Clara tetap diam merengut asyik mengelus-ngelus kepala kucing tersayangnya. Alex menengok ke arah sekitar taman untuk mencari ide agar suasana hening ini dapat lenyap.
Dan kepalanya terhenti saat tidak jauh dari tempatnya berdiri terdapat pelukis jalanan yang sedang fokus menatap ke arah sebuah Canvas. Tanpa pikir panjang Alex pergi menghampiri pelukis itu tanpa Clara sadari.
“Maaf kak!” ucap Alex dengan lembut, “oh iya ada apa ya?” ucap si pelukis yang langsung menghentikan aktifitasnya.
“Kakak bisa melukis wanita itu gak?” tanya Alex sembari menunjuk Clara.
“Hm… bisa.” Jawab Si Pelukis sembari menganggukan kepalanya.
“Saya minta tolong lukisin wanita itu ya Kak, bisa, kan.” Ucap Alex sembari tersenyum kecil, “Hm… bayarnya berapa Kak, kalo saya minta Kakak lukis dia?” tanya Alex sembari mengeluarkan dompetnya.
“Hm… 300 ribu aja deh.” Jawab Si Pelukis.
Alex mengambil 3 lembar uang pecahan 100 ribu serta 2 lembar uang pecahan lima puluh ribu dari dalam dompetnya, “ini Kak.” ucap Alex sembari menyodorkan uang kepada Si Pelukis.
“Ini Kelebihan.” Ucap Si Pelukis setelah menerima uang dari Alex.
“Ambil aja Kak, tapi saya minta tolong Kakak bawain ke dia ya, ngelukisnya juga harus dari sini, soalnya dia agak pemalu orangnya.” Ucap Alex sembari tersenyum kecil.
“Oke, tunggu aja! gak lama kok, paling lama 2 jam” Jawab Si Pelukis yang langsung menyiapkan canvas dan kuasnya.
“Langsung kasihin aja ke wanita itu kalo udah selesai Kak, dan jangan bilang-bilang kalo itu dari saya!” ucap Alex sembari menaruh jari telunjuk di depan bibirnya.
Dan Si Pelukis mengacungkan jari jempolnya pada Alex, lalu dia langsung saja pergi bersembunyi sembari menunggu lukisan yang dia pesan sampai di tangan Clara.
Waktu berlalu begitu lama bagi Alex 2 jam terasa seperti 2 hari baginya. Tetapi berbeda dengan Clara yang sangat tenang dan terlihat seperti tak tahu jika Alex sudah tidak berada disampingnya lagi.
Hingga akhirnya wajah Alex terlihat berseri-seri saat melihat si pelukis menenteng canvasnya dan berjalan menuju ke arah Clara.
“Mbak!” Si Pelukis memanggil Clara yang sedang asyik mengelus-elus kucingnya.
“Ada perlu apa ya?” tanya Clara bingung melihat Si Pelukis.
“Ini Mbak, saya disuruh orang tadi buat melukis Mbak.” Jawab Si Pelukis sambil memberikan Canvas yang sudah di bingkai dan terlukis wajah Clara yang sedang menggendong kucingnya.
“Dari siapa ya?” tanya Clara yang menerima lukisan itu dengan wajah bingung.
“Saya juga gak tau.” Jawab Si Pelukis sembari menggelengkan kepalanya, “saya permisi Mbak.” Ucap Si Pelukis sembari menundukan kepalanya, lalu dia pergi menjauh dari hadapan Clara.
Lalu setelah Si Pelukis pergi Alex berjalan sembari tersenyum kecil menuju ke arah Clara yang sedang kebingungan mencari Alex. Saat mata Clara menangkap Alex dia langsung tersenyum lebar sembari mendekap erat lukisan itu.
“Ah… lega.” Ucap Alex sembari menjatuhkan bokongnya ke bangku tepat di samping Clara.
“Makasih.” Ucap Clara pelan hingga hampir tak terdengar.
“Gak denger.” Ucap Alex setengah berteriak.
“Gak denger, tapi kok, bisa jawab.” Protes Clara kesal.
“Kamu suka?” tanya Alex sembari melirik ke arah Clara.
Clara mengangguk pelan, sembari tersenyum lebar menatap Alex, “aku suka, makasih ya.” Ucap Clara.
“Simpen baik-baik! aku paling suka kalau kamu lagi seperti di lukisan itu.” ucap Alex membalas senyum lebar Clara.
“Jelas dong.” Ucap Clara sembari menambah erat dekapannya pada lukisan dirinya, “tapi, apa bagusnya aku kalau kayak gini?” tanya Clara heran.
“Menggetarkan hati.” jawab Alex menatap dalam wajah Clara, “aku semakin yakin untuk hidupmu bersamamu Clara.” Ucap Alex dalam hati.
Clara salah tingkah saat Alex dengan spontan menjawab pertanyaan Clara, “terima kasih Lex, kamu buat aku semakin yakin untuk memilih kamu.” ucap Clara dalam hati.