
“Arghh…” Alex memegangi kepalanya yang terasa sangat nyeri. Baru saja dia terbangun dari tidurnya saat senja hampir tenggelam di ufuk barat.
Alex bangkit dari ranjangnya dan berjalan terhuyung-huyung sembari memegangi kepalanya. Lalu Alex meminum segelas air putih dan satu butir pil obat penghilang nyeri.
Sejenak dia duduk terdiam mengumpulkan tenaganya. Hingga rasa nyeri yang menyiksa kepalanya di rasa perlahan mereda, Alex melangkahkan kakinya untuk mandi agar tubuhnya terasa lebih segar lagi.
Selesai mandi Alex langsung mencari handphone miliknya yang masih tergeletak di atas kasurnya. Terlihat di layar handphone-nya beberapa panggilan dari Cassandra.
Tanpa pikir panjang Alex, langsung menelfon Cassandra.
“Ke ruanganku sekarang!” Cassandra langsung menutup telfonnya meski Alex belum menjawab perintah dari Cassandra.
Alex langsung memakai pakaian lengkapnya seperti kemarin, dan tidak lupa juga dia memakai penutup wajahnya. Dengan tergesa-gesa dia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Cassandra.
Setelah sampai di ruangan Alex mengetuk pintu dengan lembut, lalu memutar gagang pintu hingga daun pintu terbuka.
“Boleh aku masuk?” tanya Alex.
Cassandra menganggukan kepalanya dan setelah itu matanya kembali terfokus ke kertas-kertas yang tersusun rapih di mejanya. Alex menutup pintu ruangan dan duduk tepat di hadapan Cassandra.
“Ada apa kamu memanggilku? Ini belum waktunya aku bekerja.” Tanya Alex.
“Adikmu sudah disini.” jawab Cassandra yang masih terfokus membolak-balik kertas yang ada di mejanya.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Alex kaget.
“Tenang! dia baik-baik saja, tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang tergores meski hanya satu milimeter.” Jawab Cassandra, lalu Cassandra menyingkirkan tumpukan kertas itu ke samping mejanya, “Aku sudah cek kondisinya.” Ucap Cassandra sembari menatap Alex penuh selidik.
“Jadi, bagaimana sudah separah apa kondisinya?” tanya Alex.
“Aku semakin penasaran denganmu, gejalanya masih sangat awal, belum ada tanda-tanda di fisiknya. Tapi yang aku heran, kamu sudah bisa tahu kalau hatinya bermasalah, bahkan untuk mendeteksinya harus di butuhkan tes medis, dan belum tentu semua dokter ahli bisa yakin kalau hatinya mengalami gangguan. Lalu bagaimana caranya kamu bisa tahu kalau hatinya bermasalah?” tanya Cassandra penasaran.
“Dia sering muntah-muntah di malam hari, dan kadang aku sering melihatnya memegangi perutnya.” Jawab Alex dengan tenang.
“Hanya itu?” tanya Cassandra yang menunjukan raut wajah yang tidak mempercayai jawaban dari Alex, “bisa saja itu penyakit lain, kenapa kamu bisa tahu kalau livernya yang bermasalah?” tanya Cassandra.
“Betul, bisa saja itu penyakit lain, jika kamu tidak setiap malam melihatnya.” Jawab Alex.
“Kira-kira berapa lama kamu melihatnya?” tanya Cassandra yang semakin penasaran dengan Alex.
“3 bulan belakangan ini.” jawab Alex.
Cassandra mengangguk-anggukan kepalanya sembari berpikir dengan keras, menebak siapa Alex sebenarnya, kecurigaannya semakin menjadi pada Alex. Dalam hatinya dia meyakini Alex bukanlah orang biasa, dia sangat yakin Alex adalah seseorang yang ahli dalam medis, meskipun kenyataannya Alex bukanlah seorang ahli medis.
“Presentase keberhasilannya?” tanya Alex sembari mengepalkan tangannya.
“50% mungkin, tergantung dari adikmu, jika keinginannya untuk sembuh sangat kuat, tingkat keberhasilannya semakin meningkat. Tapi, jika keinginannya masih kalah dengan penyakitnya presentase keberhasilannya tidak akan lebih dari 10%.” Terang Cassandra.
“Tingkat keberhasilannya terlalu kecil, dan resikonya terlalu besar.” jawab Alex.
“Masih terlalu dini untuk melakukan transplantasi, dan resiko transplantasi juga sangat besar, tidak berbeda jauh juga.” Ucap Cassandra.
Alex menyandarkan punggunya pada kursi dan menyilangkan kakinya, “tapi kamu bisa meminimalisir resikonya bukan? bukankah tingkat keberhasilan operasimu diatas 99%.” Ucap Alex yang berusaha bertindak setenang mungkin, meskipun kakinya mengalami gemetar hebat, “dari 200 kali percobaan, hanya 1 yang gagal.” ucap Alex.
“Apakah kamu bisa membaca pikiran? Atau masa lalu seseorang?” tanya Cassandra yang mulai gelisah.
“Mana ada orang yang bisa melakukan itu, bahkan aku saja tidak percaya dengan ramalan cuaca.” Elak Alex.
“Hahaha…” Cassandra tertawa terbahak-bahak sembari menggebrak-gebrak mejanya, “aku seperti telanjang dihadapanmu.” Ucap Cassandra sembari memegangi perutnya.
“Dulu kamu setiap hari melakukannya, Cassandra.” ucap Alex dalam hati.
“Aku sepertinya tak memiliki privasi lagi, hampir semua rahasiaku dapat kamu ketahui, bahkan sampai ukuran pakaian dalam yang sangat privasi untuk wanita kamu bisa tahu.” Ucap Cassandra sembari mengusap air matanya yang merembes saat tertawa, “Sebenarnya kamu itu siapa? Apa hubunganku denganmu sebelumnya?” tanya Cassandra sembari tersenyum kecil.
“Saat aku datang kesini, itu adalah perbincangan pertama kita. Aku bukanlah siapa-siapa aku pastikan kamu tidak akan mengenalku, meskipun aku menunjukan wajahku padamu.” Jawab Alex.
“Siapa kamu sebenarnya? Sialan!” bentak Cassandra sembari berdiri menggebrak meja.
“Aku sudah bilang, sama sekali tak terlintas dalam pikiranku untuk membohongimu.” Jawab Alex dengan tenang.
Prang… Cassandra membanting gelasnya ke lantai, “siapa kamu sebenarnya?” tanya Cassandra dengan tatapan tajam.
Alex berdiri dan mendekati Cassandra, lalu dia memegang lengan Cassandra dengan erat, “mau apa kamu?” tanya Cassandra.
“Tenang! gejala serangan panikmu kumat lagi, tenangkan dirimu!” perintah Alex. Lalu Alex mengambil botol minuman yang berada di atas meja Cassandra, “minum dan tenangkan dirimu!” perintah Alex.
Cassandra kembali duduk di kursinya dan dengan cepat dia meneguk air dalam botol itu.
“Apakah kita masih bisa melanjutkan pembicaraan ini?” tanya Alex.
“Kerjakan tugasmu! Keputusanku sudah bulat untuk mengobatinya terlebih dahulu agar penyakitnya tidak bertambah parah. Untuk mencari hati yang cocok untuknya sangat sulit untukku sekarang, Night Raven belum memiliki kekuatan untuk masuk ke dalam pasar gelap.” Jawab Cassandra.
“Aku serahkan padamu, aku jamin hanya beberapa bulan lagi Night Raven akan menguasai kota ini.” ucap Alex sembari melangkahkan kakinya pergi dari ruangan Cassandra.
Cassandra menatap tajam Alex yang sedang pergi menjauh dari dirinya. Dia meremas kencang botol yang ia genggam sembari merapatkan giginya, “siapa kamu sebenarnya Alex? Kenapa kamu bisa sangat tahu banyak tentangku?” ucap Cassandra dalam hati.