
“Insting?” tanya Cassandra sambil mengernyitkan dahinya, “Jangan bercanda! Berikan aku jawaban lain!” perintah Cassandra.
“Jawabannya… tidak ada selain instingku.” Jawab Alex, dengan tubuh gemetar, aura Cassandra benar-benar mengintimidasi saat ini, meskipun dia adalah wanita, entah mengapa Alex sangat ketakutan dengan Cassandra saat ini.
“Jika aku bilang, aku pernah bertemu dan menjadi bawahannya di waktu sebelumnya mana mungkin dia akan percaya, pasti dia akan menuduhku berbohong padanya.” Gumam Alex.
“Kalo begitu pergilah! perbincangan kita cukup sampai disini.” jawab Cassandra dengan sorot mata tajam penuh selidik.
“Memang sulit untuk berbohong padanya, harus jawab apa aku agar dia mau melanjutkan perbincangan ini?” ucap Alex dalam hati. Dia memutar otaknya dengan sangat keras berusaha mencari jawaban terbaik agar Cassandra mau melanjutkan perbincangan ini, bulir keringatnya muncul diseluruh tubuhnya tak terkecuali, wajahnya nafasnya mulai tak beraturan pertanda Alex sedang gugup dan ketakutan.
“Namamu hanya gak asing aja untukku, sepertinya aku pernah mendengar namamu, tapi aku tidak ingat kapan dan dimana aku mendengar namamu.” Jawab Alex.
“Apakah itu benar?” tanya Cassandra.
Alex menghela panjang nafasnya, “Iya aku benar-benar tidak berbohong.” Jawab Alex dengan tegas.
“Lalu untuk apa kamu bertanya transplantasi hati, apa hatimu bermasalah?” tanya Cassandra.
“Tidak…. Hanya saja salah satu orang yang sangat berharga untukku, hanya bisa hidup dengan cara mentransplantasikan hati.” Jawab Alex sambil mengepalkan tangannya, serta dia menggigit bibirnya menggunakan kedua taring bagian kanannya.
“Keluarga atau kekasih?” tanya Cassandra.
“Kekasih yang akan menjadi keluargaku.” Jawab Alex, kini matanya mengkilat berkaca-kaca, Alex menahan derai air matanya yang ingin pecah.
“Sudah stadium berapa?” tanya Cassandra.
“Mungkin baru dua… tapi, hatiku berkata keadaan dia akan terus memburuk jika tidak dilakukan transplantasi.” Jawab Alex.
“apa bola matanya masih berwarna putih?” tanya Clara.
“Jika dari jauh masih terlihat putih, tapi kalau diperhatikan lebih dekat lagi warna kuning itu mulai terlihat.” Jawab Alex, lalu Alex melangkah mendekat ke arah Cassandra, “Sekarang giliranku yang bertanya.” Ucap Alex.
“Silahkan!” jawab Clara sambil membungkukkan badannya dan menatap Alex lebih dekat.
“Siapa kamu sebenarnya? Dan ada apa tentang transplantasi hati? wajahmu berubah saat aku mengatakan kata Transplantasi hati.” cecar Alex.
“Kamu mencecarku?” tanya Cassandra.
“Itu semua karena aku penasara.” Jawab Alex.
“Duduk!” perintah Cassandra sembari menyandarkan punggungnya di kursinya, “Ceritanya cukup panjang.” Ucap Clara.
Alex langsung duduk dihadapan Cassandra, matanya tak lepas memandangi Cassandra, meski dia sudah pernah menjadi bawahannya selama hampir satu tahun dikehidupan yang sebelumnya, masa lalu tentang Cassandra tak pernah Alex ketahui sedikit pun.
“Jadi darimana harus aku mulai?” tanya Cassandra.
“Siapa kamu sebenarnya sebelum masuk ke dalam dunia hitam ini?” tanya Alex dengan sorot mata tajam.
“Hanya itu?” tanya Alex.
Cassandra tersenyum kecil, lalu dia megalihkan pandangannya pada gelas kaca yang berada di mejanya, dia ambil gelas itu dan dia putar-putar gelas itu, “Aku dokter muda disebuah rumah sakit, awalnya aku diremehkan karena aku menjadi dokter spesialis yang paling muda diantara dokter-dokter yang ada di rumah sakit itu, hingga aku dapat menunjukkan kemampuanku yang sangat mengesankan pandanganku pada mereka berubah, aku menjadi dihormati dan tak lagi dipandang sebelah mata, aku jadi terkenal dan namaku cukup tersohor dikalangan para dokter, tapi itu tak bertahan lama—“ terang Cassandra, suaranya seperti tertahan dikerongkongannya, air mata Cassandra mulai merembes dari kelopak matanya.
“Lalu?” tanya Alex penasaran.
“Aku menjalankan operasi transplantasi hati sebanyak 200 kali dengan tingkat keberhasilan diatas 99%, karena itu aku dijuluki Cassandra Si Dewi Penyelamat Hati.” jawab Cassandra.
“Lalu kenapa kamu berhenti dan memilih masuk ke dalam dunia hitam ini, padahal karirmu sangat gemilang?” tanya Alex.
“Aku gagal menyelamatkan hati seseorang satu kali.” Jawab Cassandra, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya, Alex yang melihatnya merasa heran kenapa Cassandra bisa sesedih itu, padahal dia selalu terlihat tenang dan tak memiliki beban sama sekali.
“Setidaknya kamu hanya gagal satu kali dari 200 kali percobaan, 199 nyawa dapat kamu selamatkan. Jadi, mengapa kamu harus berhenti?” tanya Alex penasaran.
“Kamu tahu siapa yang gagal aku selamatkan?” tanya Cassandra dengan sorot mata tajam berkilau air matanya.
“Siapa?” tanya Alex.
“Ibuku sendiri.” Jawab Cassandra, dia langsung menenggak air berwarna merah dalam gelasnya setelah menjawab pertanyaan Alex, setelah itu dia seperti seorang yang panik dan tubuhnya merasakan gemetar hebat yang tak dapat dia kendalikan.
Hampir terpekik kaget Alex saat mendengar jawaban Cassandra, belum lagi dia melihat reaksinya setelah itu, Cassandra terlihat sangat lemah dan menderita, hingga Alex tidak tega untuk bertanya lebih jauh, “Maafkan aku, aku rasa aku sudah salah menanyakan hal itu padamu.” Ucap Alex sembari menundukkan kepalanya.
“Tidak masalah… aku memang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita piluku, karena semenjak hari itu, aku tidak dapat lagi memegang pisau bedah, saat melihat pisau bedah tanganku bergetar hebat dan aku sangat panik, pikiranku tidak dapat tenang, karena itu aku berhenti menjadi seorang dokter.” Jawab Cassandra.
“Pasti itu sangat berat untukmu, dan sekali lagi aku minta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam karena sudah mengingatkanmu pada hal yang ingin kamu lupakan.” Ucap Alex.
Cassandra hanya tersenyum kecil sambil kembali meneguk air merah dalam gelasnya hingga habis. Dan setelah itu, perlahan-lahan gemetar tubuhnya berangsur-angsur menghilang.
“Apakah kamu terkena gejala Panic Attack?” tanya Alex.
“Iya bisa dibilang, aku selalu gelisah setiap harinya setelah hari itu, hingga hari ini aku masih merasakan gelisah hebat itu.” jawab Cassandra.
“Kenapa tidak kamu obati?” tanya Alex bingung.
“Satu tahun penuh aku terapi dan meminum berbagai macam obat untuk menghilangkan rasa gelisah itu, tapi keadaannya tak sedikit pun membaik, hingga akhirnya aku mencoba untuk meminum ini.” Cassandra menunjuk botol beling yang berada dimejanya, “Setelah aku meminum ini, aku menjadi lebih tenang, dan rasa gelisahku dapat sedikit berkurang, serta tanganku tak lagi gemetaran, aneh bukan?” tanya Cassandra.
“Aneh? Itu tidak aneh, kamu sudah mencoba segala hal dan akhirnya berhasil, dimana letak keanehan itu, aku kagum padamu yang berjuang keras untuk mengusir trauma itu, kamu pantas untuk menjadi panutanku.” Jawab Alex.
Cassandra tersenyum kecil pada Alex, sorot matanya terasa hangat bagi Alex, Cassandra sudah mulai kembali seperti semula, tenang dan sangat berwibawa.
“Awalnya aku ingin meminta bantuanmu, tapi aku rasa itu tidak mungkin, kalau begitu aku akan cari cara lain saja, terima kasih… aku permisi.” Ucap Alex sambil bangkit dari duduknya.
“Tunggu!” perintah Cassandra, Alex yang tadinya ingin berbalik badan berhenti seketika, “Aku akan membantumu dengan satu syarat.” Ucap Cassandra.
Dengan cepat Alex kembali duduk, dan menatap tajam Cassandra, “Apa syaratnya?” tanya Alex sambil mengepalkan tangannya.