
Remang bola lampu berkelap-kelip secara bergantian, dentuman musik masih terdengar kencang.
Berantakan. Pecahan beling berserakan di lantai, sekumpulan manusia tersungkur di atas lantai bersimbah darah.
Dengan tenang Alex berjalan di atas sekumpulan tubuh yang terbaring tanpa ada sedikit pun rasa takut, dan dia terus melangkahi kepala mereka tanpa memiliki beban dalam dirinya.
“Hebat juga kamu! aku tidak menyangka kamu bisa sekejam ini.” ucap Willy sembari melihat ke sekumpulan orang yang berbaring di atas lantai tak sadarkan diri.
Alex terus melangkah tak menghiraukan ucapan Willy dengan membawa satu koper besar berisi uang. Dia melangkah cepat untuk memberikan koper besar itu pada Cassandra, dan dengan begitu Cassandra akan mempercayai dirinya.
Dengan begitu, Cassandra akan mau menerima penawaran yang Alex ajukan kepada Cassandra, dan akhirnya Clara dapat selamat dari penyakit yang menggerogoti tubuhnya di setiap saat.
Jika tidak ditangani dengan cepat, Alex akan kembali merasakan penyesalan, dan kesedihan akan kembali hinggap dalam hatinya dan menghukum kesalahan kecil yang Alex lakukan.
Willy menahan pundak Alex dan meremas pundak Alex dengan sekuat tenaganya, “Hei… apa kamu tuli atau tidak bisa bicara, haruskah kita sebagai partner seperti ini?” tanya Willy kesal.
Alex mengeluarkan sebilah pisau dari balik mantelnya, “Aku lebih suka bekerja daripada mengobrol tentang hal yang tidak penting.” Jawab Alex.
Willy melepaskan remasannya dari pundak Alex, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke atas, “jangan membuatku takut! Pisau itu bisa membuhku! Sebaiknya kamu berhati-hati dengan senjata itu!” ucap Willy sembari tersenyum lebar.
“Diam! dan bekerja! Aku ingin cepat pulang dan tidur.” Ucap Alex sembari memasukan pisau yang ia genggam ke dalam mantel hitamnya.
“Membosankan sekali.” Gumam Willy kesal.
Alex terus melanjutkan langkahnya tak memperdulikan Willy yang tertinggal jauh dibelakangnya, pikirannya hanya terfokus untuk secepatnya, menarik perhatian Cassandra sehingga dapat memuluskan langkahnya untuk menyelamatkan Clara dan membatalkan takdir kematian yang akan memisahkan Clara dari dirinya.
Tanpa adanya Clara, Alex seperti tak memiliki tujuan untuk hidup, semangatnya untuk menjalani hari hilang bersama perginya Clara. Karena Clara adalah satu-satunya tujuan hidup Alex saat ini.
Hidup bahagia bersama Clara. Menikmati susah, senang, dan sedih bersama, melangkah bergandengan tangan bersama Clara adalah harapan yang Alex inginkan.
Alex dan Willy tiba di tempat terakhirnya untuk bekerja, melihat kedatangan Willy sang pemimpin tak banyak bicara dan langsung memberikan apa yang Willy minta, tidak seperti sebelumnya yang harus beradu tinju dan berpesta darah untuk mendapatkan apa yang mereka minta.
Sepertinya Willy sangat terkenal dan memiliki kekuatan yang besar, hingga si pemimpin gemetaran dan terlihat sangat ketakutan saat melihat kehadiran Willy. Memang Alex sudah beberapa kali bekerja bersama Willy di kehidupannya yang sebelumnya.
Tapi, Willy sangat merahasiakan identitas dirinya di masa lalu, hingga Alex tak banyak mengetahui tentang Willy, hanya saja yang Alex tahu Willy sangat tunduk dan patuh pada Cassandra.
Sebelum memasuki ruangan Cassandra Alex berhenti sejenak, “kenapa kamu sangat tunduk dan patuh pada Cassandra?” tanya Alex.
“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?” tanya Willy dengan tatapan mata penuh selidik, “sebaiknya kamu jangan terlalu mengusik masa lalu seseorang, kamu bisa mendapatkan masalah besar jika terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan masa lalu seseorang.” Terang Willy.
“Bukankah kamu ingin aku lebih akrab denganmu? Kenapa tidak kamu mulai dari masa lalumu dengan Cassandra?” tanya Alex penasaran.
“Apa yang terjadi sebenarnya antara Willy dan Cassandra?” Alex bertanya-tanya pada dirinya sendiri, “mungkin aku akan mendapatkan sesuatu yang bagus, jika dapat mengetahui kejadian antara Willy dan Cassandra di masa lalu.” Pikir Alex.
Lalu Alex masuk ke dalam ruangan mengikuti Willy dan menaruh dua koper besar di atas meja Cassandra, “isi koper itu bukan daun atau uang palsu, kamu bisa buktikan sendiri!” ucap Alex.
Tanpa basa-basi lagi, Cassandra membuka koper itu dan mengecek keaslian uang itu dengan penuh ketelitian.
Lalu dia kembali menutup koper itu, dan tersenyum kecil menatap dalam Alex, “Willy tinggalkan aku berdua dengan Alex, aku ingin berbicara empat mata dengannya!” perintah Cassandra.
“Baik Bos.” Jawab Willy sembari membungkukan badannya, lalu Willy memutar badannya dan melangkah pergi keluar dari ruangan Cassandra sembari menutup rapat pintu ruangan Cassandra.
“Apa kemampuanku membuatmu terkesan?” tanya Alex.
“Sangat mengagumkan, aku sangat menyukainya.” Jawab Cassandra sembari memberikan tepuk tangan kecil untuk Alex, “kamu sangat misterius dan membuatku sangat tertarik padamu.” Jawab Cassandra sembari menyipitkan kedua matanya.
“Jadi, bagaimana dengan penawaranku? Kapan kamu bisa membantuku untuk menyelamatkan adikku?” tanya Alex dengan jantung berdebar-debar.
“Sekarang juga aku bisa.” Jawab Cassandra dengan sombong, “tapi ini saja belum cukup bagiku.”
“Akan aku beri lebih banyak lagi, kamu tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang akan kamu lakukan jika ada orang yang mengkhianatimu.” Terang Alex.
“Haha… menarik, kamu benar-benar membuatku semakin penasaran, sepertinya kamu tahu segalanya tentang diriku?” tanya Casandra sembari menyeringai lebar.
“Tidak mungkin aku bisa tahu segalanya tentangmu, yang barusan aku cuma menebak saja… lagipula, siapa yang suka dikhianati, tidak ada satu orang pun di muka bumi ini yang mau dikhianati.” Bantah Alex.
“Hmphh… apa benar seperti itu?” tanya Cassandra yang tidak mempercayai perkataan Alex.
“Kamu tidak perlu meragukannya, aku benar-benar berkata jujur dan mengungkapkan pandanganku terhadap dunia ini, tidak lebih.” Jawab Alex.
“Baiklah… aku akan terima permintaanmu, besok akan aku suruh Willy untuk membawanya kesini.” ucap Cassandra sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
“Aku ada permintaan lagi, tolong rahasiakan tentang aku, dan jangan sampai terjadi hal yang tidak aku sukai pada adikku, pastikan dia baik-baik saja!” pinta Alex.
“Benar-benar Kakak yang penyayang, aku jadi ingin memiliki Kakak.” jawab Cassandra sembari tersenyum kecil, “kamu tidak perlu khawatir, istirahatlah! Dan bawakan aku uang lagi besok!” perintah Cassandra dengan tegas.
“Kalau begitu aku permisi!” Alex berdiri dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan Cassandra.
“Semoga ini yang terakhir kalinya aku menggunakan kekuatan ini.” ucap Alex dalam hati.