Undo

Undo
Menuju Kegagalan



Alex menjalani hari-harinya menghabiskan waktu dalam ruangan sempit kamarnya, hingga badannya tak terurus. Alex terlihat lebih kurus kehilangan cukup banyak berat bandannya, wajahnya pucat karena tekanan darahnya rendah, area sekitar matanya menghitam karena kurang tidur.


Alex berjuang untuk mencegah penyakit yang Clara derita ditakdir yang terjadi sebelumnya, setiap hari Alex mengingatkan Clara akan segala larangan-larangan yang dia buat.


Segala pemicu penyakit liver Alex cari dan segala makanan serta pola hidup yang menjadi penyebabnya. Dan semua itu Alex larang keras untuk tidak Clara lakukan dan Clara makan.


Alex juga mengawasi perubahan fisik yang menjadi gejala awal penyakit liver setiap harinya, hingga hari ini hampir satu tahun sudah Alex berusaha mencegah penyakit liver dan mengamati Clara setiap harinya.


Hidupnya selama satu tahun belakangan hanya fokus untuk mencegah penyakit liver yang nantinya akan menggerogoti Clara, dan menjadikan kamar rumah sakit sebagai rumah Clara, dan selang infus akan terus menancap di lengan Clara setiap harinya.


Dan untuk mencegah kegagalan rencana Alex mencegah penyakit liver, dia sudah mencari pasar gelap yang dapat menyediakan hati untuk transplantasi, namun harga yang dibayar tidaklah murah.


Dan karena tahu harga dari hati itu tidak murah Alex mencari uang dengan cara apapun, uang dapat dia cari. sebanyak apapun uang yang ada di dunia ini, jauh lebih berharga Clara di mata Alex, sebesar apapun nominal uang itu, bagi Alex tetap jauh lebih berharga Clara.


Alex semakin was-was menunggu hasil dari perjuangannya selama satu tahun ini, hari dimana penyakit Nadia terdiagnosa semakin dekat. Apakah Alex berhasil untuk mencegah penyakit liver hinggap di tubuh Clara, atau dia menemui kegagalan dan perjuangannya selama satu tahun ini menjadi sia-sia, tidak lama lagi hasilnya akan muncul.


Di hari minggu Alex mengajak Clara untuk bertemu disebuah taman di pinggir kota, Alex menunggu Clara disebuah bangku yang dikelilingi tanaman hijau yang terawat dan berbaris rapih, kelopak bunga terbuka, serbuk sarinya terbang mengikuti arah angin berhembus.


Harum semerbak bunga yang bermekaran terperangkap dalam hidung Alex, ia nikmati harum bunga itu sembari memejamkan matanya. Lalu dia menengok ke kanan dan matanya terpaku pada sesosok perempuan yang lebih cantik dan lebih harum dari ribuan bunga yang sedang bermekaran.


Meski wajahnya datar, tetapi aura kecantikannya tetap berpijar, Clara berjalan tenang dan anggun menghampir Alex, lalu dia duduk di sebelah Alex yang matanya tak lepas memandang Clara.


“Maaf… aku lama ya?” tanya Clara.


“Gak masalah sayang, aku sabar kok nunggu kamu.” jawab Alex sembari menatap mata Clara penuh cinta.


Clara dengan cepat mengalihkan pandangannya saat alex menyorot matanya, berkali-kali Alex mencari kesempatan untuk melihat bola mata Clara, tetapi mata Clara selalu menghindar dari tatapan Alex.


“Kamu kenapa sih?” tanya Alex heran, “kamu selalu buang muka kalo aku liat kamu?” tanya Alex.


“Gak ada apa-apa kok.” Jawab Clara sembari tersenyum kecil.


Lalu tertangkap bola mata Nadia oleh pandangan Alex. lalu dia membuka lebar matanya, jantungnya seperti mau pecah saat itu juga, Alex memegang wajah Clara, “Kamu mau apa?” tanya Clara sembari meronta berusaha melepaskan tangan Alex dari wajahnya.


“Diem! Jangan banyak gerak!” perintah Alex, lalu Alex perhatikan mata Clara dari dekat, dia perhatikan dengan teliti dan seksama, dia coba ingat warna mata yang pernah dia lihat di internet dengan warna mata dari Clara.


“Argghh…” teriak Alex sambil melepaskan tangannya dari wajah Clara, “Sialan gagal rencanaku.” Ucap Alex dalam hati.


“Kamu kenapa sih?” tanya Clara takut sekaligus bingung.


“Ikut Aku!” ucap Alex. Dia langsung menarik paksa tangan Clara, “Sakit Lex, kita mau kemana sih?” tanya Clara sambil meronta mencoba melepaskan genggaman tangan Alex.


“Kamu gak usah banyak tanya, diam! dan ikut aku!” perintah Alex.


Alex langsung membawa Clara menuju rumah sakit terbaik dikota itu, saat dalam perjalanan Alex terlihat sangat serius dan sulit untuk diajak bicara. Clara yang baru pertama kali melihat Alex memasang ekspresi wajah itu hanya diam, dan menuruti kemauan Alex, karena Clara sangat takut dengan Alex yang sekarang.


Setibanya dirumah sakit Alex langsung menarik tangan Clara untuk masuk ke dalam rumah sakit, “Lex kita mau ngapain disini?” tanya Clara.


“Jangan banyak tanya! Ikut aja!” perintah Alex.


“Aku gak mau kalo kamu gak kasih tau aku.” Jawab Clara sambil melepaskan tangannya dari genggaman Alex.


Alex menatap tajam Clara, lalu dia mendekatkan badannya pada Clara, “Kita mau cek hati kamu.” jawab Alex.


“Aku gak kenapa-kenapa kok, aku baik-baik aja.” Bantah Clara.


“Mata kamu warna kuning, samar memang, gak terlalu keliatan, tapi aku tau itu bukan warna mata penyakit biasa.” Jawab Alex sambil menatap tajam Clara, “ikut aku sekarang!” Alex menarik lengan Nadia dengan sangat kuat.


Alex membawa Clara untuk melakukan serangakaian tes medis untuk memastikan apakah Clara menderita penyakit liver atau tidak. Alex menunggu Nadia dengan cemas, dia tidak dapat menenangkan dirinya, pikirannya gelisah tak menentu menunggu hasil tes medis yang telah Clara jalani.


Alex terus mondar-mandir dengan wajah kusut, dia terus menjambak rambutnya dan mengacak-ngacaknya hingga tak karuan. Nafasnya tidak stabil dia terus mencoba mengatur nafasnya agar tetap terjaga intensitasnya.


Jantungnya terus berdegup kencang hingga bulir keringat dingin hadir di kening Alex, dia benar-benar kacau tak dapat mengendalikan dirinya sama sekali. Clara yang terus menunduk ketakutan dia acuhkan.


Alex tidak sudah tidak sabar menunggu hasil tes itu, waktu seperti berjalan sangat lamban, hening terjadi antara Clara dan Alex tak ada kata-kata terucap dari mulut mereka, keduanya sama-sama tegang menantikan hasil tes itu.


Hingga Alex dan Clara untuk menghadap dokter yang melakukan tes pada Clara dan masuk ke dalam ruangannya untuk memberikan hasil tes yang telah Clara jalani.


Alex dan Clara duduk di kursi menghadap dokter, wajah tegang mereka tidak dapat disembunyikan.


“Semua hasil tes itu yang sudah dijalani ada disini.” ucap Dokter, sambil memberikan hasil tes itu pada Clara.


Tangan Clara bergetar saat ingin meraih hasil tes itu, karena Alex sudah tidak sabar. Dia langsung menyerobot hasil tes itu dan membaca hasil yang tertulis dengan teliti, tak ada satu huruf pun dia lewatkan, setiap detail yang tertera disitu dia baca.


Dan setelah selesai Alex membaca hasil tes itu tangannya bergetar dan wajahnya pucat, dia menoleh pelan pada Clara, lalu memberikan hasil tes itu pada Clara.