
Setelah menemui Clara Alex, pergi menuju rumah sakit tempat salah satu krunya dirawat, dalam perjalanan Alex selalu tersenyum bahkan tertawa sendiri seperti orang gila, atau mungkin dia memang gila.
Senyum dan semangatnya telah kembali dari tidur panjangnya, rasa lapar yang sudah lama tidak dia rasakan, kini dapat dia rasakan. Tapi, Alex harus mengurungkan niatnya untuk mengisi perutnya yang keroncongan, dia harus menengok salah satu krunya terlebih dahulu.
Alex berjalan melewati lorong rumah sakit masih menggunakan maskernya, dengan tenang dia melangkah melewati gerombolan krunya yang sedang bersiap siaga, saat ingin masuk dia terkejut saat dihadang oleh krunya sendiri.
“Siapa kamu?”.
Alex bingung melihat krunya sendiri menghalanginya masuk ke dalam ruangan, “kamu lupa siapa bosmu? ha…” bentak Alex dengan suara lantang.
“Maaf Bos! Sudah tidak mengenali Bos, soalnya Bos pakai masker jadi kami kira orang mencurigakan.” Jawab salah satu kru yang menghadangnya.
“Oh iya, aku lupa masih pakai masker.” Gumam Alex.
“Ehem… aku mau lihat Frengky sebentar.” ucap Alex dengan tegas dan penuh wibawa.
“Silahkan Bos!” ucap anak buahnya sembari membukakan pintu untuk Alex.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Alex sembari melangkah masuk menuju ke dalam ruangan.
“Masih belum sadar Bos, dia masih kritis, sepertinya dia dikeroyok, mukanya benar-benar hancur dan dia kehilangan banyak darah.” Jawab Anak buahnya sembari menunduk.
“Kenapa dia waktu itu bisa sendiri?” tanya Alex, lalu dia duduk di kursi samping ranjang.
“Waktu itu, dia mau beli makanan Bos, kata dia biar saya sendiri aja, jadinya, kami gak temenin dia, terus kami rasa kok, dia lama banget beli makannya, jadi kami susul takut ada apa-apa. Nah, sekitar jarak satu kilo dari tempat kami nongkrong, kami temukan dia sudah roboh dengan darah yang berceceran, dia sepertinya ada perlawanan karena darahnya itu ada dimana-mana Bos, banyak sekali soalnya, saya dan teman-teman langsung bawa dia kesini, dan kabarin Kru lainnya, kalau Frengky diserang orang.” Jelas salah satu anggota kru panjang lebar.
“Begitu ya, jadi motifnya belum diketahui?” tanya Alex.
“Maaf Bos, kami belum tahu apa motifnya, dan pelakunya siapa juga kami belum tahu.” Jawab Anggota Krunya.
Alex langsung berdiri dari kursinya, “jaga dia baik-baik, dan jangan sampai kalian berpisah, sepertinya mereka sengaja menghabisi kita satu demi satu, aku yang akan selidiki sendiri siapa yang bertanggung jawab atas perbuatan ini.” ucap Alex.
“Apa perlu saya temani Bos?” tanya salah satu Krunya.
“Tidak usah, mereka sepertinya mengincar orang-orang yang paling lemah terlebih dahulu, Frengky baru beberapa bulan ini bergabung, kan?” tanya Alex.
“Iya Bos, baru tiga bulan dia jadi Anggota Kru.” Jawab Anak buahnya.
“Mereka pasti kesini nanti, kalian siap-siap hubungi Willy jika diserang!” perintah Alex, lalu dia keluar dari ruangan itu dan pergi meninggalkan rumah sakit.
Alex berusaha menyelidiki kasus pemukulan yang menimpa Anggota Krunya. Namun, hasilnya nihil, Alex tak mendapatkan apa-apa, karena sudah terlalu lelah Alex memutuskan pulang untuk menemui Cassandra dan juga Willy.
Sesampainya disana Alex melepaskan maskernya dan masuk dengan tenang dan penuh wibawa melewati para Anggota Kru yang sedang berjaga, tidak lama kemudian Cassandra terlihat datang menghampiri Alex, “Sayang kamu tidak apa-apa?” tanya Cassandra dengan raut wajah khawatir.
“Aku baik-baik saja, kenapa kamu keluar dari kamar? Aku sudah suruh kamu untuk jangan kemana-mana bukan?” tanya Alex sembari mendekap Cassandra, “Willy! Kenapa kamu perbolehkan Cassandra keluar dari kamarnya?” tanya Alex berpura-pura marah pada Willy.
“Kenapa kamu nakal sekali?” tanya Alex.
“Habisnya, aku kesepian, aku juga khawatir saat tahu, kamu pergi sendiri.” Jawab Cassandra dengan manja.
“Percaya padaku dan semuanya akan baik-baik saja! Lain kali kamu kalau butuh apa-apa, bilang saja pada Willy atau pembantu, aku tidak mau kamu terlalu lelah.” Perintah Alex dengan tegas.
“Tapi—“ bantah Cassandra, “aku tidak terima bantahan darimu oke! Sekarang ayo kita tidur aku sudah terlalu capek.” Potong Alex.
Cassandra mengaggukkan kepalanya, dan bergelayut manja pada Alex, “kamu ingin aku gendong?” bisik Alex lembut di telinga Cassandra.
Cassandra mengagguk pelan dengan wajah merah padam, lalu Alex gendong Cassandra seperti menggendong tuan putri, Cassandra melingkarkan tangannya pada leher Alex dan menatapnya penuh kasmaran.
Sesampainya di kamar Alex menurunkan Cassandra di ranjang dengan lembut, lalu Alex menjatuhkan badannya di samping Cassandra, dan memeluk erat Cassandra, hingga dia tertidur lelap.
Cassandra yang berpura-pura tertidur melepaskan pelukan Alex dan mengambil Handphone-nya dia mengirim pesan pada Willy untuk menunggu di depan pintunya.
Tidak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar, Cassandra berjingkat pelan menuju pintu kamarnya, dan membukanya secara perlahan, “ada apa nyonya?” tanya Willy.
“Kamu ingat wanita yang waktu itu aku suruh culik?” bisik Cassandra pelan.
“Aku ingat.” Jawab Willy sembari menganggukan kepalanya.
“Bunuh dia malam ini juga, aku tidak mau tahu bagaimana caranya!” perintah Cassandra.
“Baik Nyonya, saya akan laksanakan perintah.” Jawab Willy.
“Dan satu lagi, jangan sampai Alex tahu hal ini, kamu mengerti.” Ucap Cassandra dengan tatapan tajam.
“Siap Nyonya.” Jawab Willy dengan tegas, “saya berangkat sekarang.” Jawab Willy, lalu dia memutar badannya dan pergi dari hadapan Cassandra untuk menjalankan perintah dari Cassandra.
Cassandra menyeringai lebar, menghampiri Alex yang sedang tertidur pulas, dia membelai wajah dan rambut Alex dengan lembut, “ini akibatnya kalau kamu melanggar perjanjian kita sayang!” gumam Cassandra.
Willy melaksanakan perintah dari Cassandra, dia masuk ke halaman rumah Clara dengan melompati pagar rumahnya, lalu dia masuk ke dalam rumah Clara dengan membobol jendela rumah Clara.
Rumah Clara sudah sepi, semua orang yang berada di rumahnya telah tidur karena sudah memasuki waktu dini hari, Willy membuka kamar secara perlahan satu demi satu, hingga dia mendapati Clara sedang tertidur pulas di atas ranjangnya.
Willy mengendap-endap masuk mendekati Clara, lalu dia membekap mulut Clara dengan tangan kekarnya, Clara membulatkan matanya karena dirasa ada tangan besar yang sedang membekap mulutnya hingga kesulitan bernafas.
Clara berusaha berteriak dan berontak. Namun, sebilah pisau Willy keluarkan dari dalam bajunya, dia hujamkan pisau itu ke jantung Clara, berkali-kali hingga nyawa Clara benar-benar hilang.
Willy langsung mengelap pisaunya dengan saputangannya, dan tak lupa dia memotret dan mengirimkan gambar kematian Clara ke Cassandra, setelah itu dia langsung pergi meninggalkan Clara yang sudah tak bernyawa bersimbah darah.
Handphone milik Cassandra berdering, dengan cepat dia mengambil handphone miliknya, dan membuka isi pesan yang dikirimkan oleh Willy, dengan senyum lebar dan hati yang bahagia, Cassandra menatap Alex, “rasakan akibatnya!” gumam Cassandra.