
Di tengah emosinya yang sedang meluap, Clara hadir dalam pikiran Alex. Perlahan emosi Alex dapat ia kendalikan dan hilang akibat sebuah nama yang mengganggu benaknya.
Alex berdiri lemas dan memakai masker dan pakaian serba hitam agar dirinya tidak mudah dikenali oleh Clara. Dia melangkah lemas menuju ke ruangan tempat Clara sedang dirawat.
Sesampainya disana, Alex dapat tersenyum lebar saat melihat Clara sudah sadarkan diri, meski wajahnya terlihat masih sangat lemah, Alex sudah cukup senang karena Clara memperlihatkan tanda-tanda ke arah yang baik.
Cassandra melihat Alex yang sedang berada diluar memerhatikan Clara, Cassandra langsung berinisiatif untuk membukakan pintu untuk Alex, dia melangkah menuju ke depan pintu, dan membuka pintu itu secara perlahan.
“Masuklah! mau sampai kapan kamu melihatnya dari situ!” perintah Cassandra.
Alex berjalan mendekati Cassandra dengan tatapan mata lemah menahan pilu, lalu dia mendekat ke ranjang Clara yang berwajah pucat dan sangat lemas.
“Kamu tahu Alex dimana?” tanya Clara dengan suara yang sangat lemah.
Alex menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Clara, dia menatap lemah kekasihnya yang sedang berjuang lari dari maut, “Semangat sayang! Jangan mau kalah dengan takdir.” Gumam Alex dengan mata berkaca-kaca.
Lalu Alex memutar badannya dan melangkah cepat pergi dari ruangan, Cassandra dengan cepat menangkap lengan Alex, “mau kemana?” bisik Cassandra di dekat telinga Alex, “setelah ini dia akan aku isolasi kembali, kamu tidak ingin melihatnya lebih lama lagi?” tanya Cassandra.
“Selamatkan saja nyawanya!” ucap Alex, lalu dia melepaskan tangan Cassandra yang menggenggam lengannya, dan melanjutkan langkahnya yang terjeda.
Alex menyopot masker yang menutupi wajahnya, lalu dia basuh wajahnya dengan air segar. Setelah itu dia duduk berjongkok bersandar pada tembok air matanya sudah tak dapat dia tahan lagi, bulir air matanya keluar dari kelopak matanya yang masih merah akibat kelelahan.
Isak tangisnya tertahan di kerongkongannya, dadanya terasa sakit, sesak, dan panas, seperti ingin meledak. Dia menjambak-jambak rambutnya sendiri hatinya benar-benar tidak rela untuk memberikan singgasananya pada wanita lain,
Jika memilih mati atau melupakan Clara, Alex lebih baik mati dan membawa kenangan indahnya bersama Clara, ke dalam alam kematian.
Tetapi, permasalahan yang sedang dia hadapi berbeda, yang menjadi bayaran dari tindakannya adalah nyawa Clara, bukan nyawanya.
“Clara, maafkan aku! Aku harus menjauh darimu sekarang! Kamu tidak perlu khawatir tidak akan ada orang yang bisa duduk disinggasanamu, meski tubuhku milik orang lain… tapi, hatiku tetap hanya untukmu, tetap hanya kamu yang dapat memiliki ruang dalam hatiku, hanya dirimu satu-satunya tidak akan kubiarkan siapapun untuk memilikinya.” Gumam Alex.
Lalu dia kembali membasuh wajahnya, untuk menyembukan sisa-sisa tangisnya. Dia kembali menuju ruangan Cassandra, dia melamun sembari menatap kosong ke arah langit malam yang terhalang mendung, cahaya bulan dan bintang tak dapat menembus tebalnya awan pekat itu, hanya kilatan cahaya petir yang kadang tertangkap oleh matanya.
“Aku harus cari rencana untuk menyingkirkan Cassandra.” gumam Alex.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Satu bulan telah terlewati, baru kemarin Clara dipulangkan oleh Cassandra, dengan kepulangan Clara kembali ke rumahnya, menandakan Alex telah resmi menjadi pemimpin dan pemegang kendali Night Raven.
Hari ini Cassandra mengumpulkan seluruh anggota kru Night Raven untuk mengumumkan pemimpin Night Raven yang baru, dan meresmikan Alex sebagai penguasa Night Raven.
Cassandra melangkah menuju podium ditemani oleh Alex. Cassandra mengenakan gaun merah muda terlihat anggun dan lembut, tidak seperti sebelumnya yang terlihat sangat tegas dan berwibawa.
sedangkan Alex yang berada disamping Cassandra mengenakan pakaian serba putih, baju celana dan sepatu semuanya serba putih, Alex melihat ke sekerumunan orang-orang yang berkumpul dengan tatapan tajam penuh amarah.
“Aku perkenalkan pada kalian semua pemimpin baru Night Raven, Alex.” Ucap Cassandra dengan penuh semangat.
Bukan tepuk tangan meriah yang menyambut teriakan penuh semangat dari Cassandra, melainkan bisikan-bisikan yang merendahkan Alex, tatapan mereka juga memandang rendah Alex yang masih terlalu muda dan belum lama bergabung sebagai anggota Night Raven.
Seketika keadaaan menjadi hening tak ada suara menggema dalam ruangan, semuanya diam seribu bahasa sembari menundukkan kepalanya, tatapan mata Alex yang dipenuhi amarah meruntuhkan mental mereka semua.
“Cepat! siapa yang tidak setuju jika aku menjadi penguasa disini, cepat maju semua, akan kuhadapi semuanya sekaligus!” Bentak Alex, suara lantangnya sampai menggema dalam ruangan.
“Berarti semuanya setuju jika aku menjadi pemimpin Night Raven?” tanya Alex dengan suara lantang
Seluruh anggota kru hanya diam dan menunduk. Hal itu, membuat Alex kesal, Dor… Dor… Dor… Alex menarik pelatuk pistolnya ke arah langit-langit ruangan, “Jawab sialan!!!” teriak Alex.
“Saya setuju!” jawab seluruh anggota yang hadir dengan lantang dan bersamaan.
Lalu Cassandra menepuk tangannya diiringi dengan tepuk tangan meriah dari para anggota yang hadir, Alex tersenyum sinis pada mereka, “Willy!” panggil Alex.
Willy mendekat kepada Alex yang memanggil dirinya, “Willy akan kujadikan tangan kananku, bagi siapapun yang tidak setuju akan mati hari ini juga.” Ucap Alex dengan lantang, lalu Alex menghela nafasnya, “Willy, mengamuklah!” perintah Alex sambil menyeringai lebar menatap Willy.
“Baik Bos! Laksanakan perintah.” Jawab Willy membalas seringai lebar Alex, “Kalian semuanya, ikuti aku!” perintah Willy.
Willy melangkah keluar dari ruangan, diikuti seluruh anggota kecuali Cassandra dan Alex, lalu Alex dan Cassandra pergi meninggalkan ruangan pertemuan itu menuju ruangan baru milik Alex.
Sesampainya disana Alex langsung duduk di kursi kebesaran yang selama ini ditempati oleh Cassandra, tanpa basa-basi Cassandra pun duduk di pangkauan Alex.
“Cassandra apa-apaan kamu?” tanya Alex kaget.
“Memangnya salah, kalau aku duduk di pangkauan kekasihku?” tanya Cassandra sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Alex dan menatapnya dengan penuh cinta.
“Aku capek, kamu cari tempat lain!” jawab Alex cepat.
“Apa kamu mau aku pijat?” tanya Cassandra dengan manja.
“Ide bagus, panggilkan aku tukang pijat, punggungku seperti mau hancur rasanya.” Jawab Alex.
“Biar aku yang memijatnya, aku ingin membuktikan kasih sayangku padamu.” Ucap Cassandra, lalu Cassandra mulai membuka kancing baju Alex.
“Cassandra.” ucap Alex sambil memegang tangan Cassandra dengan erat, “aku tidak mau kamu terlalu lelah, bagaimana kalau kita panggil tukang pijat untuk kita berdua.” Jawab Alex sembari tersenyum kecil.
Wajah Cassandra merah padam seketika, dia menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Alex, “ka-kalau itu mau ka-kamu, a-aku juga mau.” Jawab Cassandra terbata-bata.
“Kamu bisa panggilkan untukku?” tanya Alex.
“Tentu saja.” Jawab Cassandra, lalu dia langsung bangkit dari pangkuan Alex, “tunggu sebentar ya, aku akan siapkan semuanya untukmu!” Ucap Cassandra, lalu Cassandra pergi meninggalkan Alex sendiri dalam ruangannya.
Alex termenung saat Cassandra pergi meninggalkannya, baru saja kemarin Clara pergi dan pulang ke rumahnya. Tetapi Alex sudah merasa sangat rindu dan ingin bertemu dengan Clara.
“Aku kangen Clara.” Gumam Alex sembari menatap langit-langit ruangan.