
Alex tiba di depan gedung Night Raven, sebelum keluar dari dalam mobilnya, dia memakai masker untuk menutupi wajahnya serta kacamata hitam agar sorot matanya tidak dapat dibaca oleh Cassandra.
Alex melangkah dengan tenang dengan warna hitam dominan menyelimuti tubuhnya, tanpa ada keraguan Alex melangkah, meski sudah ada beberapa orang yang menghadang jalannya di pintu masuk.
“Stop!” dua orang berbadan besar dan tegap menghadang jalan Alex, “ada perlu apa? dan cari siapa?” tanya salah satu orang itu dengan tatapan mata penuh selidik.
“Aku ingin bertemu dengan Cassandra.” jawab Alex dengan tegas.
“Kamu siapa memangnya? Apa kamu sudah ada janji dengan Bos?” tanya salah satu orang itu kembali.
“Kalau janji tidak ada, aku hanya ingin berbicara sesuatu dengan Bos kalian.” jawab Alex dengan santai tanpa beban.
Lalu mereka saling berbisik-bisik dan salah satu dari mereka tiba-tiba saja pergi masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, datanglah sosok yang tidak asing di mata Alex, “ternyata kamu sudah jadi anjingnya Clara sejak lama, Willy.” Gumam Alex.
“Kamu ingin bertemu dengan Bos Cassandra?” tanya Willy yang melihat Alex dari atas ke bawah berulang kali.
“Betul, aku ingin berbicara sesuatu dengan Bosmu.” jawab Alex.
“Nama?” tanya Willy singkat dengan tatapan penuh selidik.
“Alex.”
Lalu tangan Willy bergerak ingin meraih dan menyopot masker yang sedang Alex kenakan, “jangan sentuh wajahku atau kamu akan menyesal telah melihat wajahku!” alex menangkap tangan Willy dan menggenggamnya dengan seluruh tenaganya.
“Kamu terlalu mencurigakan.” Jawab Willy dengan tatapan mata tajam dan bersiap untuk bertarung dengan Alex.
Alex melepaskan genggamannya pada tangan Willy, “geledah aku, jika aku memang mencurigakan, asal jangan sentuh masker dan kacamataku.” Ucap Alex sembari mengangkat tinggi kedua tangannya.
“Geledah dia!” perintah Willy pada kedua orang yang tadi mencegat Alex.
Kedua orang itu menggeledah sekujur tubuh Alex tanpa pikir panjang, dan tidak lama kemudian penggeledahan selesai dilakukan, lalu mereka menoleh ke arah Willy sembari mengelengkan kepala mereka bersamaan.
“Ikut aku!” perintah Willy. Lalu Willy memutar badannya dan melangkah masuk ke dalam diikuti Alex di belakangnya.
Alex mengikuti Willy yang berjalan dengan tenang, sembari memerhatikan ke sekeliling lorong menuju ruangan Cassandra, “bangunan ini sepertinya masih baru, dinding-dindingnya saja masih ada yang belum di cat.” Pikir Alex.
Hingga tiba di depan sebuah ruangan Willy mengehntikan langkahnya, lalu Willy mengetuk daun pintu dengan lembut, “tunggu dulu disini!” perintah Willy, setelah itu dia langsung masuk menemui Cassandra dan berbisik di telinga Cassandra.
Cassandra memperhatikan Alex yang sedang menunggu di depan pintu dengan tatapan tajam menerawang Alex, lalu dia menganggukan kepalanya, “Masuk!”perintah Willy.
Alex melangkah masuk ke dalam ruangan dan hingga dia tiba di hadapan Cassandra yang sedang melihatnya dengan tatapan penuh selidik, “boleh aku duduk?” tanya Alex.
“Silahkan!” perintah Cassandra, lalu Alex duduk di atas kursi yang berhadapan dengan Cassandra dengan tenang.
Cassandra menaruh tangannya di atas meja sembari menatap Alex, “jadi, apa maumu?” tanya Cassandra.
“Bisakah kita mengobrol berdua saja?” tanya Alex sembari menyilangkan kakinya, dan tangannya ia silangkan di depan dadanya.
“Hei… jangan bertindak tidak sopan kamu!” bentak Willy.
“Cukup Willy!” ucap Cassandra dengan nada tinggi, “kita harus menyambut tamu dengan baik, keluarlah!” perintah Cassandra.
“Tapi Bos—“ tatapan tajam dari Cassandra menghentikan gerakan bibir dari Willy, lalu dia membungkukan badannya, “baik Bos.” Ucap Willy, lalu dia melangkah pergi keluar dari ruangan dan menutup pintu ruangan.
“Langsung menuju intinya!” perintah Cassandra.
“Aku ingin meminta bantuanmu, Si legenda Dewi Penyelamat Hati.” ucap Alex.
“Aku hanya orang biasa, tidak bisa dibandingkan sedikitpun dengan dirimu… siapa yang tidak mengenal dokter muda jenius seperti kamu, Cassandra Si Anak Ajaib.” Jawab Alex dengan tenang.
“Jangan terlalu banyak basa-basi, siapa kamu sebenarnya?” bentak Cassandra dengan raut wajah penuh emosi.
“Jangan memasang wajah menyeramkan seperti itu, tidak akan ada pria yang akan tertarik padamu, jika kamu terlalu galak dan menyeramkan.” Ucap Alex, lalu Alex mencondongkan wajahnya maju ke depan, “aku sudah bilang aku bukan siapa-siapa, dan aku jujur tidak sedikitpun berbohong, karena aku tahu kamu sangat membenci pengkhianatan dan ketidakjujuran.” Jawab Alex.
“Aku justru semakin mencurigaimu.” Ucap Cassandra sembari menatap tajam mata Alex, “buka maskermu atau pembicaraan kita selesai disini!” perintah Cassandra.
“Kamu akan menyesal jika melihat wajahku, dan disini bukan aku yang sedang tertekan tapi kamu, karena kamu tidak ingin ada yang tahu tentang masa lalumu, bukan?” tanya Alex.
“Sebutkan keinginanmu!” perintah Cassandra, lalu dia menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya.
“Aku ingin kamu menyelamatkan seorang wanita yang hatinya bermasalah dan sebagai imbalannya aku akan menjadi anak buahmu dan mendatangkanmu lebih banyak uang lagi, bagaimana? tawaran yang menarik bukan?” tanya Alex, yang juga menyandarkan punggunya pada kursi.
Sejenak Cassandra terdiam, tangannya gemetaran dan mengalir keringat di dahinya, lalu dengan tergesa-gesa dia menuangkan air berwarna merah yang ada dalam botol tidak jauh darinya ke dalam gelas.
Dengan cepat dia teguk air itu sembari mengerutkan dahinya dan memejamkan matanya. “hufftt…” Cassandra mengatur nafasnya yang tak beraturan, dan tidak lama kemudian gejala serangan panik yang menyerang Cassandra menghilang.
“Aku tidak dapat lagi melakukan operasi, hanya dengan mendengar tentang masa laluku saja aku merasa hampir mati, kamu cari orang lain, dengan berat hati aku menolak tawaranmu, meskipun sangat menggiurkan bagiku.” Jawab Cassandra.
“Jangan terburu-buru! pikirkanlah kembali baik-baik tawaranku ini, mau sampai kapan serangan panik itu menyiksa hidupmu? bukankah ini kesempatan yang bagus agar kamu dapat lepas dari traumamu?” ucap Alex berusaha untuk meyakinkan Cassandra agar mau membantunya.
Kembali mata Cassandra terbelalak, “sejauh apa kamu tahu tentang diriku?” tanya Cassandra.
“Cukup banyak, kamu ingin mulai darimana? ukuran pakaian dalammu, makanan kesukaanmu, atau tentang alasan kamu berhenti menjadi seorang dokter, aku tahu itu semua.” Jawab Alex dengan tenang.
Cassandra terdiam sejenak sembari menundukan kepalanya, “Menarik…” ucap Cassandra secara tiba-tiba hingga membuat Alex kaget, “sangat menarik, ini benar-benar menarik, baiklah aku akan terima tawaranmu.” Ucap Cassandra sembari menyeringai lebar dan mata yang terbuka dengan sangat lebar, hingga Alex meneguk air liurnya sendiri beberapa kali.
“Memang dia psycho dari dulu ternyata.” Ucap Alex dalam hati.
“Jadi, dimana wanita yang harus kuselamatkan?” tanya Cassandra yang masih menyeringai lebar memandangi Alex.
“Rencanaku berhasil.” Gumam Alex, lalu Alex mengepalkan tangannya dan merapatkan tubuhnya, “Clara sebentar lagi kita bisa hidup bahagia.” Ucap Alex dalam hati.
“Aku tidak bisa membawanya sendiri kesini, karena aku tidak ingin dia tahu tentang aku.” Jawab Alex.
“Tidak masalah, berikan aku fotonya dan juga alamat rumahnya. Sisanya, serahkan padaku.” ucap Cassandra.
“Baiklah, tapi jangan sampai terjadi apa-apa dengannya!” jawab Alex.
“Pacar?” tanya Cassandra dengan sorot mata penuh selidik.
“Adikku.” Ucap Alex spontan.
“Maafin aku sayang.” Gumam Alex sembari menghela nafasnya.
“Hm… begitu, akan aku pastikan dia akan baik-baik saja. Tapi, kamu harus tunjukan kemampuanmu hari ini juga!” perintah Cassandra.
“Izinkan aku membawa pria tadi, aku hanya butuh dia, selain dia aku tidak mau bergerak.” Jawab Alex dengan tegas.
“Tunggu saja diluar, dan dia akan menghampirimu nanti!” perintah Cassandra.
Lalu Alex bangkit dari duduknya dan tak lupa dia membungkukan badannya, lalu Alex melangkah keluar dari ruangan Cassandra, “Rencana awalku berjalan mulus.” Gumam Alex.