
Clara pergi dari rumah Alex tanpa berucap, bahkan wajahnya sangat datar tak berekspresi. Itu adalah ciri-ciri identik Clara jika sedang marah, dia hanya akan diam menatap dingin dengan wajah datar.
Itu adalah salah satu hal unik dari Clara, berbeda dengan wanita kebanyakan yang akan sangat ekspresif menunjukkan kemarahannya, berteriak keras, memasang wajah kesal, dan menatap tajam, mungkin kebanyakan wanita akan melakukan hal itu.
Tetapi Clara tidak, dia akan menatap dingin memasang wajah datar dan mengunci rapat bibirnya tak akan mengeluarkan suara hingga kemarahannya mereda, dan jika sedang marah akan sulit untuk membuat reda amarahnya.
Saat pertama kali berpacaran bahkan Alex pernah merasakan kemarahan Clara selama satu minggu. Jelas Alex Kebingungan mengapa Clara menatap dingin dirinya dan diam tak mengeluarkan suara, mengunci rapat mulutnya. Dan amarah Clara reda saat Alex mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada Clara.
Jujur hati Alex tidak tenang, ingin rasanya dia menghampiri Clara dan memohon maaf padanya. Tetapi syarat untuk meredakan kemarahan dari Clara sudah dapat ditebak, Alex harus membatalkan niatnya untuk cuti dari kuliahnya.
Tetapi Alex tidak dapat melakukan itu tekadnya sudah bulat untuk memfokuskan waktu berjuang menyelamatkan hidup Clara. Kesalahan yang sama tidak ingin dia ulangi, kali ini dia harus berhasil untuk menyelamatkan Nadia dan hidup bersama dengannya.
Alex mengurung diri di kamarnya ditemani sunyi dan segelas kopi, matanya langsung tertuju pada layar komputernya, mempelajari penyakit yang menyiksa Nadia secara perlahan, merenggut tulang rusuknya dan meninggalkan kesedihan yang menghancurkan hidupnya.
Dia baca setiap kata yang nampak di layar komputernya, tidak satu huruf pun luput dari matanya, meski kantuk menyerang dan letih menghalang seribu cara akan dia lakukan untuk mengalahkan rasa letih dan kantuknya.
Layar handphonenya lagi-lagi tidak dia pedulikan, fokusnya hanya tertuju pada layar komputernya, merekam kata-kata penting ke dalam otaknya. Entah sudah beberapa buku dan jurnal yang dia baca, matanya sudah berair dan terasa perih, lehernya kaku dan punggungnya terasa nyeri.
Alex merebahkan badannya di atas kasur empuknya, melemaskan otot-ototnya yang kaku, sambil memainkan handphonenya membalas pesan yang Clara kirimkan padanya.
Belum genap setengah jam dia sudah kembali duduk didepan layar komputernya, dan kembali mengacuhkan pesan-pesan yang Clara kirimkan padanya.
Prioritasnya saat ini adalah secepat mungkin mencatat hal-hal penting tentang penyakit Clara dan mencari cara untuk mencegah dan menghindari penyebab dari pemicu penyakitnya.
“Alex mau sampai kapan kamu gak keluar dari kamarmu?” teriak Ibunya.
“Bentar lagi, aku lagi sibuk.” Teriak Alex dari dalam kamarnya.
“Ini udah jam 8 malam, kamu makan aja belum, mandi juga gak, kamu tuh lagi ngapain?” tanya Ibunya.
“Lagi belajar penyakit li—“ ucap Alex terhenti, alex mendekap mulutnya dengan kedua tangannya, “Aduh… keceplosan.” Gumam Alex.
“Belajar penyakit apa?” tanya Ibu Alex.
“Linu pegel-pegel di punggung.” Ucap Alex spontan, “ada tugas kuliah tentang itu.” jawab Alex.
“Ya udah kalo gitu jangan lupa makan! itu makanannya masih di meja.” Perintah Ibunya.
“Iya Bu! Bentar lagi selesai.” Jawab Alex, “Hufft…” Alex bernafas lega hampir saja dia keceplosan. Semuanya akan semakin sulit jika Ibunya tahu apa yang sedang Alex pelajari.
Ibunya pasti akan mencecar Alex hingga Alex dapat menjawab semua pertanyaan Ibunya dengan jujur. Apapun alasannya dia harus sembunyikan ini terlebih dahulu, peluang penyakit Nadia dapat dicegah masih terbuka lebar, rencana yang dia rancang dengan matang tidak boleh gagal karena satu kesalahan kecil.
Alex melanjutkan aktifitasnya yang terhenti. Dia terus menggerakkan mouse komputernya, hingga Alex tanpa sadar sudah tertidur pulas dengan posisi duduk dan leher menggantung.
Suara pintu yang diketuk dengan kasar membuat Alex sadar dari tidurnya, kepalanya terjatuh membentur keyboard komputernya, “Argghh…” teriak Alex menahan sakit dibagian kepalanya yang terbentur dengan sangat keras. Belum lagi lehernya yang terasa sangat sakit dan sangat kaku, dia berusaha merenggangkan otot-otot lehernya yang terkunci.
“Alex bangun!” teriak Ibunya.
“Udah Bangun.” Teriak Alex sambil memegangi kepala dan lehernya.
“Clara udah nungguin diluar.” Teriak Ibunya.
“Apa Bu?” tanya Alex kaget, “Yang bener Bu Clara udah disini?” tanya Alex.
Alex cepat-cepat merapihkan kamarnya, dan mematikan komputernya, lalu dia membasuh wajahnya dan langsung berlari menghampiri Clara yang sudah duduk menunggu Alex didepan.
Alex menegapkan badannya dan berusaha untuk tenang menemui Clara, “Kenapa sayang pagi-pagi udah kesini?” tanya Alex sambil tersenyum pada Clara.
Clara menoleh pelan dan menatap tajam Alex, ekspresi wajahnya sangat datar hingga membuat Alex bingung untuk berbuat apa, kata-kata tak keluar dari mulutnya, dan akhirnya Alex mencoba bertanya pada Clara.
“Ada yang salah?” tanya Alex salah tingkah.
Clara mendekatkan layar Hpnya pada Alex, “Jam segini masih pagi?” tanya Clara.
Alex menelan ludahnya, dia melihat angka 14 : 12 tertera di layar Hp Clara, lalu dia tersenyum salah tingkah, Clara membalasnya dengan tatapan tajam penuh amarah.
“Aku ketiduran, asyik nonton film semalem.” Jawab Alex.
“Film apa yang kamu tonton, jangan bilang film yang aku hapus waktu itu?” tanya Clara.
“Bukan dong, film lama cuma aku pengen nonton lagi aja.” Jawab Alex.
“Apa bener gitu?” tanya Clara menatap Alex penuh selidik.
“Aku gak bohong sayang.” Ucap Alex sambil mengangkat kedua tangannya, “yang aku mau nanya?” tanya Alex sambil duduk dikursi yang berada disebelah Clara.
“Tanya apa?” tanya Clara acuh.
“Perut kamu sering nyeri gak, terus sering mual sama muntah gitu gak?” tanya Alex.
Clara mengangkat satu alis dan bahunya, “pertanyaanmu aneh, aku gak pernah tuh ngerasain itu?” jawab Nadia.
Lalu Alex melirik ke arah pergelangan kaki Clara, dia perhatikan dengan teliti dan seksama, lalu matanya beralih memperhatikan kulit tangan Clara dan bola mata Clara.
“tanda-tandanya gak kelihatan, mungkin masih bisa dicegah.” Pikir Alex.
“yang kamu kalo makan masakannya jangan terlalu asin, terus jangan lagi minum minuman bersoda, jangan makan kentang goreng, sama makanan kaleng!” perintah Alex.
“Kenapa?” tanya Clara penasaran.
“Gak apa-apa, cuma aku mohon kamu dengerin omonganku kali ini aja.” Jawab Alex.
“Kamu aneh deh dari kemaren, tiba-tiba mau cuti kuliah, terus larang aku makan, minum ini itu, belum lagi nanya-nanya aku sering mual, muntah sama perutku sering nyeri atau gak, aku curiga sama kamu Lex kalo begini.” Ucap Clara.
“Apa yang kamu curigain sih, itu sama sekali gak aneh, aku cuma tanya kondisi kesehatanmu gimana, dan aku cuma mau nasihatin kamu supaya kamu gak sakit, apa salah kalo aku, pacarmu gak mau kamu kenapa-kenapa?” tanya Alex.
Clara terdiam sesaat matanya memandangi alex penuh selidik dari atas ke bawah, kecurigaanya pada Alex semakin menjadi. Tanda tanya besar tentang perubahan sikap Alex berkutat dikepala Clara.
“Gak apa-apa kok, makasih ya kamu udah perhatian sama aku.” Jawab Clara sambil tersenyum manis pada Alex.
“Kalo aku gak perhatian kamu bisa pindah ke lain hati nanti.” Jawab Alex dengan penuh percaya diri.
Akhirnya Alex dapat lega karena Clara mau mengiyakan perintah Alex, satu langkah rencananya sudah berhasil ia jalankan tinggal menunggu hasil yang akan terjadi diakhir nantinya.