
“ kalo soal itu mah tenang aja, gue gk pake nama Glen kok, gue ganti pake nama lain.” Ucap Rachel enteng.
“ niat banget lo ya.” Sahut Rasya sambil terkekeh pelan.
“ hehehe, iya dong.” Ucap Rachel dengan cengirannya.
Setelah mereka menunggu cukup lama, akhirnya pintu ruang operasi pun terbuka, dengan cepat mereka langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
“ operasinya berjalan dengan lancar, sekarang pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan.” Ucap dokter tersebut yang yang membuat ketiganya sangat bersyukur.
“ terima kasih dok.” Ucap Rachel pada dokter tersebut.
“ kalian bisa menemani pasien di ruang pemulihan nanti, kalau begitu saya permisi dulu.” Ucap dokter tersebut lalu pergi meninggalkan Rachel, Dylan dan Rasya yang sedang menunggu Glen keluar dari ruang operasi.
Tak lama kemudian, Glen pun keluar dari ruang operasi dengan wajah yang sangat pucat. Mereka bertiga pun mengikuti kemana suster tersebut membawa Glen. Setelah Glen di tempatkan di ruang pemulihan, mereka bertiga pun diperbolehkan masuk ke ruangan tersebut oleh pihak rumah sakit.
“ oh iya, kalian berdua pulang aja ya. Besok kan masih sekolah.” Ucap Rachel pada Rasya dan Dylan saat berada di dalam ruang pemulihan.
“ loh, kalo kita pulang, lu sama siapa dong?” Tanya Dylan heran dengan ucapan Rachel barusan.
“ gue gk kenapa – kenapa kok kalo sendirian, kalian berdua pulang aja, dikit lagi juga Glen pasti sadar. Oh iya, tolong izinin gue sama Glen ya besok, tapi jangan bilang kalo Glen masuk rumah sakit. OK?” ucap Rachel dengan senyum manisnya.
“ ok aja lah gue mah.” Ucap Rasya terkekeh pelan lalu mengacak - acak rambut Rachel pelan.
“ Rasya, rambut gue jadi berantakan.” Ucap Rachel sambil memanyunkan bibirnya.
“ kalian tuh ya masih aja bercanda, yaudah kalo gitu kita berdua balik dulu ya. Kalo ada apa – apa kabarin aja, ok.” Ucap Dylan.
“ ok bos.” Ucap Rachel dengan cengirannya.
“ bye, Chel.” Ucap Rasya lalu keluar dari ruangan bersama Dylan.
“ hm, gue laper banget. Tapi gue gk mau ninggalin Glen disini sendiri.” Gumam Rachel pelan setelah Dylan dan Rasya sudah keluar ruangan
Toktotok… suara ketukan dari suster yang membawa nampan berisi makanan dan obat untuk Glen. Setelah suster tersebut menaruh nampan tersebut di atas meja, ia memberi tahu takaran obat yang akan diminum Glen saat sudah bangun dan makan kepada Rachel. Setelah itu, suster tersebut pun keluar dari ruangan Glen.
“ hm Glen, bangun dong… lama banget sih bangunnya… ayo bangun trus makan, abis itu langsung minum obat deh.” Ucap Rachel pada Glen yang masih belum tersadar.
Tak lama kemudian, Glen pun membuka matanya perlahan-lahan untuk menetralisir rasa pusing yang amat sangat menyerang kepalanya. Sontak Rachel pun sangat senang saat Glen sudah sadar, karena dari tadi dia memang sangat kesepian di sini sendiri.
“ eughh..” ringis Glen sambil memegang kepalanya dan perutnya.
“ apanya yang sakit Glen? Gue panggil dokter dulu ya.” Ucap Rachel lalu keluar dari ruangan untuk memanggil dokter.
“ diem.” Ucap Glen dengan suara seraknya sambil menahan tangan Rachel saat ia ingin keluar.
“ loh, kan lu udah sadar… jadi gue harus panggil dokter lah buat ngecek keadaan lo.” Ucap Rachel.
“ gk usah.” Ucap Glen lalu mengambil nampan yang ada di atas meja sebelah ranjangnya.
“ eh mau ngapain?” Tanya Rachel saat tangan Glen sudah menyentuh bibir nampan.
“ makan.” Ucap Glen serak.
“ gue aja yang ambilin.” Ucap Rachel lalu mengambil nampan yang berisi makanan dan obat tersebut.
“ biar gue yang suapin ya.” Ucap Rachel.
“ udah, ayo buka mulut lu.” Ucap Rachel lalu menyodorkan sendok ke mulut Glen. Akhirnya Glen pun pasrah, ia pun membuka mulutnya agar sendok yang Rachel sodorkan masuk ke mulutnya.
“ pinter..” ucap Rachel setelah menyuapi Glen lalu mengacak pelan rambutnya, persis seperti ibu yang sedang mengacak rambut anaknya.
“ kepala gue masih sakit Chel.” Ringis Glen pelan.
“ m-ma-maaf Glen gk sengaja…” ucap Rachel merasa bersalah.
“ buka mulut lo.” Ucap Glen menyodorkan sendok ke mulut Rachel.
“ loh, kok gue?” Tanya Rachel heran.
“ gue tau lo belum makan. Cepet buka.” Ucap Glen tegas. Akhirnya Rachel membuka mulutnya pasrah.
“ pinter..” ucap Glen meniru perlakuan Rachel tadi dengan wajah datarnya.
“ ishh Glen, lu mau bales gue ya. Lagian kan tadi gue pelan, kok lu kasar sih… rambut gue berantakan tau.” Ucap Rachel sambil memanyunkan bibirnya.
“ iya iya maaf.” Ucap Glen dengan senyum yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapapun sambil mengelus rambut Rachel lembut.
“ Glen senyum?? Gue gk mimpi kan?? Apa jangan – jangan dikit lagi kiamat?” cerocos Rachel yang membuat Glen terkekeh pelan.
“ lebay lo.” Ucap Glen kembali datar.
“ ahhh, kok datar lagi sihh.” Ucap Rachel sambil berdecak pelan.
“ kita makannya berdua aja ya, lu kan juga belum makan… nanti malah lu sakit.” Ucap Glen yang membuat Rachel diam mematung, pasalnya ia baru mendengar Glen berbicara sepanjang ini dengan nada lembut.
Setelah makanan habis, Rachel pun memberikan obat yang tadi suster bawakan untuk Glen.
“ ini, kata suster lo harus minum ini abis makan.” Ucap Rachel menyodorkan tiga butir obat dengan segelas air putih. Lalu Glen pun meminum semua obat tersebut.
“ lo gk mandi?” Tanya Glen setelah minum obat.
“ gue gk bawa baju ganti, heheh.” Jawab Rachel sambil terkekeh pelan.
“ tolong ambilin tas gue.” Ucap Glen.
“ nih.” Ucap Rachel menyodorkan tas Glen.
“ pake.” Ucap Glen menyodorkan kaos putih polos ke Rachel.
“ eh, serius nih gk kenapa – kenapa kalo gue pinjem baju lo dulu?” Tanya Rachel memastikan.
“ pake aja.” Jawab Glen singkat.
Tak perlu menunggu lama, Rachel pun mengambil hotpants di dalam tasnya dan bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, ia pun keluar dari kamar mandi. Kaos yang tadi Glen berikan terlalu besar di tubuhnya, sehingga hotpants yang ia pakai sampai tertutup oleh kaos putih polos tersebut.
“ kebesaran Glen.” Ucap Rachel saat keluar dari kamar mandi.
“ bagus kayak gitu.” Ucap Glen jujur.
“ hm, yaudah deh.” Ucap Rachel lalu duduk kembali di kursi sebelah ranjang Glen.