Undesirable Relationship

Undesirable Relationship
SESAKIT ITUKAH...?



“ Restorannya bener – bener romantis ya.” Ucap Chelsea dengan mata berbinar setelah menghabiskan makan malamnya yang membuat Dylan tersedak seketika.


“ uhuk… uhuk… aihh perih tenggorokan gue…” Ucap Dylan yang membuat Chelsea panik.


“ Lo kenapa sih Lan, minum aja bisa keselek gitu.” Ujar Chelsea sambil mengelap bibir basah Dylan menggunakan tisu.


“ bisa lah, ini buktinya gue keselek.” Balas Dylan sinis.


“ Ish, lagian kenapa tiba – tiba sih? Memangnya gue salah ngomong ya?” tanya Chelsea heran.


“ e-eh, enggak… tadi Cuma lagi kebetulan keselek aja kok.” Jawab Dylan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


“ hm, makanya kalo minum tuh pelan – pelan biar gk keselek.” Ucap Chelsea.


“ iya – iya deh, lain kali minumnya pelan – pelan…” Pasrah Dylan pada akhirnya.


“ hm, lo mau pulang sekarang?” Tanya Chelsea setelah Dylan menghabiskan Milkshakenya.


“ terserah lo, mau pulang sekarang emangnya?” jawab dan tanya Dylan pada Chelsea.


“ Gue takut nanti malah yang lain nyariin kita karena jam segini belum pulang, mending kita balik. Sekarang aja yuk.” Ucap Chelsea yang dibalas anggukan oleh Dylan.


“ yaudah tunggu gue minta bill-nya dulu.” Balas Dylan lalu memanggil waiter untuk meminta bill.


“ ini bill-nya kak,” ucap waiter tersebut sopan. Lalu, Dylan pun langsung mengeluarkan 4 lembar seratus ribuan dan ia serahkan ke waiter tersebut.


“ terima kasih kak, saya permisi dulu.” Ucap waiter tersebut lalu berlalu pergi meninggalkan meja mereka berdua.


“ Udah, ayo.” Ucap Dylan pada Chelsea lalu bangkit dari kursinya dan turun dari rooftop menuju pintu keluar.


“ Terima kasih, selamat datang kembali di restaurant kami.” Ucap penjaga pintu sambil menunduk sopan yang hanya dibalas senyuman oleh Dylan.


“ Dingin ya,” ucap Chelsea sambil mengarahkan pandangannya ke arah langit yang membuat Dylan tersenyum kecil.


“ iya, untung gue pake mantel.” Balas Dylan cuek yang membuat Chelsea mengerucutkan bibirnya kecewa dengan balasan Dylan barusan.


“ Huu jahat, lo mah gk rom—” kalimat Chelsea terpotong akibat perlakuan Dylan yang membuat pipi sang empunya memerah padam.


“ masih dingin, hm?” tanya Dylan menggoda Chelsea yang wajahnya memerah seperti tomat.


“ l-lepas, malu Lan.” Jawab Chelsea sambil menundukkan kepalanya malu.


“ kenapa malu sayang? Katanya dingin?” tanya Dylan semakin gencar menggoda Chelsea yang semakiiinnn malu.


“ Dylan diem gk!” Ucap Chelsea kesal semakin menundukkan kepalanya dan semakin mempererat cengkraman nya di jaket Dylan.


“ Yah aku gk bisa diem yang, gimana dong?”


“ Dylan diem gk! Awas aja nanti di rumah ya!”


“ Duh, kamu mau apaain aku sih sayang? Jadi takut duluan nih akunya.”


“ Aw! Sakit dong yang… iya deh aku diem,”


“ bagus..”


“ Tapi diemin pake bibir kamu donggg….”


“ DYLAN!!!”


Bughh..


“ Akhhh!!! Sialan!!!” pekik Dylan kencang saat Chelsea menendang juniornya dengan sangat keras. Dylan yang tak kuat menahan nyeri pun langsung jatuh terduduk sambil terus memegang miliknya yang kesakitan.


Beruntung saat ini keadaan jalanan sangat sepi, jadi tak ada yang mendengar pekikan Dylan yang begitu menggelegar.


“ Aakkhhh!! Sakit bangett!!” rintis Dylan tanpa sadar mengeluarkan air matanya yang membuat Chelsea tergelak.


“ Dylan, sesakit itu kah?” tanya Chelsea polos yang membuat Dylan mendongak menatap Chelsea tak percaya.


“ l-lo masih nanya?!” tanya Dylan terbata – bata dengan nada kesalnya.


“ upss! Maaf, gue kira gk sesakit itu.” Jawab Chelsea jadi ikut panik.


“ a*jir sakit banget Sal,,, akhh perih.” Rintis Dylan dengan kekesalan yang sudah memuncak sampai ke ubun – ubun.


“ Eh, aduh,, yaudah ayo berdiri pelan – pelan…. Mending kita cept – cepet pulang biar lo juga bisa diobatin.


“ ughh..” ringis Dylan saat Chelsea membantunya berdiri lalu mulai berjalan pelan menuju rumah mereka. Dylan tidak terlalu jelas mendengar omongan Chelsea tadi, jadi ia hanya menuruti perlaku Chelsea.


“ WOI BUKAA!! PAKE DIKUNCI SEGALA ELAHH!!” teriak Chelsea setelah sampai di pintu utama rumah.


“ Beris— eh yaampunn lo ngapa Lan?!” Panik Alka setelah membuka pintu.


“ Nanti aja jelasinnya, mending lo bantu gue bawa dia ke kamar deh.” Ucap Chelsea yang dibalas anggukan oleh Allah. Setelah itu, Chelsea dan Alka pun menuntun Dylan untuk naik ke atas.


“ Kenapa dia bisa kayak gini?” tanya Alka sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dada setelah membaringkan Dylan di kasur.


“ E-eh, itu…. Tadi gue tendang anunya dia.” Jawab Chelsea takut – takut.


“ Hah?! Gila lo ya? Tapi kenapa dia bisa sampe segininya.” Ucap Alka sambil menatap Chelsea tak percaya.


“ hm, t-tadi gue rendangnya dengan sekuat tenaga gue.” Balas Chelsea sambil menundukkan kepalanya.


“ sumpah gila lo Sal, kalo lo tendang sekuat tenaga lo mah pasti bakal nyeri banget. Gue malah takutnya itunya dia kenapa – napa.” Ucap Dylan sambil menggeleng – gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan sepupunya ini.


“ hah?! Separah itu ya?” panik Chelsea yang dibalas anggukan oleh Alka.


“ arrghh,,, sakitt…” Lirih Dylan pelan berniat untuk tidak mengganggu percakapan Chelsea dan Alka, namun Chelsea yang berada di sebelah nya pun dapat mendengar ringis annya.