
Setelah mereka semua duduk, suasana semakin menegangkan, tubuh Reza dan Steven gemetar hebat, sedangkan yang lain selain Glen dan Rachel hanya dapat terkikik sangat pelan agar tidak terdengar Glen dan Rachel.
“ gue haus.” Ucap Glen bangkit dari sofa menuju ke dapur yang berada di belakang sofa. Sedangkan semuanya hanya bisa diam tak berkutik berusaha menelan saliva mereka sendiri.
Brakkk… suara gelas pecah terdengar sangat nyaring memecah kesunyian mereka saat ini. Tentu saja mereka semua terlonjak kaget mendengar suara tersebut, mereka benar – benar tegang sekarang. Mereka tau jika gelas itu memang sengaja Glen pecahkan.
“ maaf gk sengaja.” Ucap Glen dengan nada yang sangat dingin dan datar saat kembali dari ruang tamu.
“ hm, biar gue yang bersihin ya.” Ucap Chelsea yang sebenarnya hanya tidak ingin melihat amukan Glen.
“ gue ikut.” Tambah Lauren cepat.
“ makasih.” Ucap Glen dengan senyuman yang membuat semuanya membelalakkan mata mereka. Sedangkan Chelsea dan Lauren sudah lari terbirit – birit ke dapur.
“ kalian pada diem, gk ngelakuin sesuatu gitu?” tanya Glen penuh makna. Sontak mereka semua pun berusaha pergi meninggalkan ruang tamu dengan cepat. Sedangkan di ruang tamu hanya tersisa Reza, Steven, Rachel, dan Glen.
“ jadi, apa tujuan kalian ngerjain kita kayak gini?” Tanya Rachel memulai percakapan.
“ gk tau.” Jawab Reza dan Steven bersamaan sambil menundukkan kepala mereka.
“ gue capek tau gk tiap hari ngeliat tingkah laku kalian yang bisa dibilang konyol setiap hari.” Ucap gue masih dengan nada biasa – biasa saja.
“ maaf Chel.” Sahut mereka bersamaan.
“ kalian lihat sendiri kan, apa akibat yang kalian udah perbuat. Glen masuk rumah sakit, dan dia juga harus di operasi gara – gara ulah kalian berdua.” Ucap gue lagi masih dengan nada biasa.
“ maaf Chel, Glen, kita berdua gk tau kalo ternyata Glen punya luka di lambungnya.” Jawab Reza.
“ jadi–“ ucap gue terpotong karena ucapan Glen.
“ kalian tau gk, kenapa lambung gue bisa luka?” tanya Glen dengan seringainya sambil mencekik leher Reza dan Steven. Rachel yang melihat itupun tidak bisa melakukan apapun karena Glen sudah memberi peringatan untuknya agar tidak ikut campur lewat tatapan mata Glen.
“ g-gk tau.” Jawab Reza terbata – bata karena lehernya dicekik oleh Glen.
“ itu semua juga karena kalian, BASTARD!!!” bentak Glen yang terlihat sangat marah.
“ hah?” sahut Steven tak mengerti. Begitupun dengan Reza dan Rachel, mereka bertiga sama – sama tidak mengerti dengan ucapan Glen barusan.
“ dan kalo sampai lambung Rachel luka juga gimana HAH?! " Bentak Glen lagi langsung membanting tubuh Reza dan Steven dengan sangat kasar dan kencang lalu pergi meninggalkan Reza, Steven, dan Rachel yang masih berada di ruang tamu. Glen pergi keluar dengan membawa kunci mobil. Hal itu membuat Rachel khawatir, tapi Reza dan Steven juga perlu dikhawatirkan sekarang.
“ AHKK!!” jerit Reza dan Steven bersamaan karena mereka berdua benar – benar terbanting sangat keras.
“ WOII!!! CEPET SINI BANTUIN!!” teriak Rachel memanggil semua sepupunya.
“ ahhkk…. Sakit banget gila ahkkk!!!” jerit Reza saat di gotong oleh Alka dan Rasya.
“ aaahhh… sakit banget…. Mati aja deh gue mendingan… aaawww..” ringis Steven sambil menangis.
“ jangan nangis woi ah, cengeng banget sih lu.” Ucap Dylan sambil menggotong Steven yang dibantu oleh Reyhan.
“ eh, tolong urus Reza sama Steven dulu ya. Gue mau nyari Glen, takutnya dia kenapa – kenapa di jalan, soalnya luka jahitannya juga masih basah.” Ucap Rachel.
“ eh jangan Chel, ini udah sore, udah gitu mendung lagi. Takutnya lu malah kenapa – kenapa di jalan.” Cegah Lauren sebelum Rachel pergi.
“ Rachel kok gk bawa mobil!!” teriak Lauren saat Rachel belum terlalu jauh.
“ gk usah.” Balas Rachel sambil berteriak juga.
Rachel yang sebenarnya tidak tahu keberadaan Glen sekarang tetap berusaha mencarinya kemana pun.Rachel sudah berlari mencari Glen cukup jauh dari rumah mereka. langit sudah semakin gelap, namun ia tetap saja mencari Glen, ia sudah mencari Glen di manapun, namun Glen juga masih belum dia temukan. Sampai akhirnya ia berhenti di dekat café untuk beristirahat.
“ udah berapa jam gue cari Glen, dan sekarang masih belum ketemu juga. Gue gk tau sekarang gue ada dimana, mana dikit lagi hujan.” Gumam Rachel.
“ loh, dompet gue kemana? Apa jangan – jangan ketinggalan di sofa??”
“ ahhh, gimana dong nasib gue sekarang, mana hp gue mati lagi, kenapa gue gk bawa mobil aja tadi ya, ahkkk gue harus gimana.” Gerutu Rachel saat menyadari bahwa sejak tadi ia tidak membawa dompet, ia sangat merutuki dirinya sendiri sekarang karna sangat ceroboh.
Tak lama kemudian hujan pun turun dengan sangat deras, anginnya juga saat kencang saat ini, membuat Rachel yang sedang jongkok di samping café pun menggigil kedinginan. Tubuhnya saat ini sangat dingin, nafasnya juga sangat sesak. Ia benar – benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Setelah kehujanan dan kedinginan kurang lebih satu jam, seseorang pun datang menghampirinya. Rachel yang menyadari bahwa ada seseorang yang mendekatinya pun merasa takut. Orang itu membawa paying dan memakai topi hitam, sehingga wajahnya tidak terlihat oleh Rachel. Namun saat orang itu sudah semakin dekat…
“ Rachel?” ucap orang itu tak percaya.
“ G-Glen?” ucap Rachel lirih.
“ lo ngapain disini?” Tanya Glen heran lalu menggendong Rachel meninggalkan payung yang tadi ia bawa, sehingga Glen pun juga ikut kehujanan bersama Rachel.
“ cari lo.” Jawab Rachel susah payah. Glen pun hanya bisa menghela nafasnya berat, lalu mempercepat jalannya menuju mobil.
“ buat apa sih lo nyari gue?” Tanya Glen tegas yang hanya mendapat gelengan pelan dari Rachel.
“ gue anter lo ke rumah sekarang ya, abis itu lo langsung minum obat.” Ucap Glen lalu menyalakan mesin mobil.
“ tapi lu ikut gue pulang kan?” Tanya Rachel dengan nada gemetar.
“ gue gk ikut pulang dulu.” Ucap Glen tanpa melihat Rachel.
“ trus lu kemana?” Tanya Rachel semakin melemah.
“ bukan urusan lu.” Sahut Glen datar.
“ gue gk mau pulang, gue mau ikut lo aja.” Ucap Rachel yang membuat Glen mengerem mobilnya mendadak dan menatap Rachel tajam.
“ dengan keadaan lo kayak gini, lo masih aja keras kepala. Lo harus pulang Chel, lo butuh banyak istirahat, kali ini aja lo dengerin omongan gue.” Tegas Glen pada Rachel.
“ gk, pokoknya gue mau ikut lo.” Sahut Rachel mantap.
“ Chel, please kali ini aja lo dengerin gue.” Ucap Glen kesal.
“ gk mau Glen, udah ya jangan banyak omong, kepala gue pusing banget soalnya.” Sahut Rachel lemah. Glen pun hanya bisa menghela nafasnya berat, saudaranya yang satu ini memang sangat keras kepala. Akhirnya ia pun pasrah, Glen membawa Rachel ke apartemen miliknya.
“ hm?” gumam Rachel pelan saat Glen memakaikan jaket yang ia pakai ke tubuh Rachel.
“ udah diem aja.” Sahut glen cepat membuat Rachel bungkam.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, akhirnya mereka berdua pun sampai di apartemen milik Glen. Rachel yang awalnya bingung dan ingin bertanya kepada Glen yang bisa mengurungkan niatnya saat Glen memberikan isyarat dirinya untuk diam dan mengikuti saja kemana Glen pergi.