Undesirable Relationship

Undesirable Relationship
NATASHA KE RUMAH GLEN?!



“ laundry ternyata menyediakan jasa pencuci otak ya.” Balas Rachel sambil tertawa.


“ bodo.” Ucap Glen lalu pergi meninggalkan Rachel yang masih tertawa di meja makan.


Setelah meninggalkan Rachel yang dari tadi menertawakannya, ia pergi menuju balkon kamarnya, di sana ia duduk lalu mengambil gitar dan mulai memainkannya. Ya, Glen memang jago bermain gitar, biasanya jika ia sedang bermain, ia juga ikut mengalunkan lagu yang sedang ia mainkan. Dari kecil Glen memang sudah bisa bermain gitar, tak hanya itu, ia juga mampu memainkan piano dan drum dengan baik. Kemampuan bernyanyinya pun tidak bisa dianggap remeh, suaranya yang datar dan dingin saat bernyanyi membuat siapapun yang mendengar terbawa perasaan.


Berbeda dengan Glen yang bermain gitar di balkon kamarnya sendiri, Rachel malah sibuk membereskan rumah sekaligus menelusuri tiap – tiap ruangan. Jujur, Rachel sangat nyaman berada di rumah ini, rumah yang selalu ia idam – idamkan dari mulai desain, furniture, dan lain – lain.


Saat Glen dan Rachel sedang asik dengan kegiatan mereka masing – masing, tiba – tiba terdengar suara bel yang sangat terdengar dari tempat mereka masing – masing berada. Sontak mereka berdua pun turun dan melihat siapa yang membunyikan bel tersebut.


“ siapa yang dateng?” Tanya Rachel saat dirinya sudah bertemu dengan Glen di bawah.


“ mana gue tau.” Jawab Glen santai.


“ ish, ya bukalah.” Suruh Rachel kesal sambil memutar bola matanya malas yang dihadiahi decakan dari Glen.


“ jangan main buka – buka aja, liat dulu orangnya siapa.” Balas Glen malas.


“ dari mana litanya, disini gk ada bolongannya tuh.” Ucap Rachel sambil menulusuri tiap – tiap bagian pintu.


“ CCTV.” Balas Glen singkat lalu bergegas masuk ke ruangan CCTV yang berada di balik lemari pajangannya.


Rachel yang melihat Glen menekan tombol yang berada di salah satu pajangan itu pun terpaku. Ia menutup mulutnya saat ia melihat lemari pajangan tersebut terbelah dua dan menampakkan suatu ruangan yang ia tebak adalah ruangan CCTV.


“ ayo cepet masuk.” Ajak Glen sambil menarik pergelangan tangan Rachel.


“ gila keren bangggettt.” Seru Rachel saat masuk ke ruangan CCTV tersebut.


“ lebay.” Satu kata yang keluar dari mulut Glen.


“ eh itu bukannya Natasha ya?” Tanya Rachel heran saat melihat orang yang sedang marah – marah di depan rumah Glen.


“ kok dia bisa tau?” Tanya Rachel lagi panic.


Baru saja Glen ingin menjawab Rachel, orang yang sekarang masih berada di depan pintu pun bersuara.


“ hey Rachel!! Dasar perempuan jalang!! Ngapain kamu ada di rumannya Glen?!” ucap orang tersebut.


“ Natasha?!” ucap Rachel kaget.


“ ish, dasar perempuan pengganggu.” Ucap Glen kesal.


“ kita harus jelasin ke dia yang sebenarnya.” Ucap Rachel berniat pergi untuk membuka pintu, namun tangannya di tahan oleh Glen.


“ gk usah, udah biarin aja.” Ucap Glen tenang.


“ kok biarin aja sih Glen, gue tuh dikatain perempuan jalang sama dia… kalo aku biarin nanti dia malah nyebarin gossip yang enggak – enggak di sekolah.” Balas Rachel panik.


“ gk bakal.” Ucap Glen santai.


“ memangnya lo jalang?” Tanya glen parda Rachel yang dihadiahi pelototan dari Rachel.


“ ya enggak lah!” jawab Rachel sewot.


“ yaudah, kalo gitu ya gk usah di permasalahin lagi. Sekarang mending lo ikut gue.” ucap Glen santai.


“ ish, gk mau! Pokoknya gue mau jelasin ke Natasha yang sebenarnya.” Balas Rachel keras kepala.


“ gue gk pernah terima bantahan dari siapa pun!” tegas Glen sambil memegang pergelangan tangan Rachel erat lalu ditariknya Rachel untuk mengikutinya.


“ Glen lepasin!” berontak Rachel saat tangannya ditarik oleh Glen.


“ gk!” tegas Glen.


“ lepas…sakit..” ringis Rachel yang membuat Glen berhenti dan melepas genggamannya dari tangan Rachel.


“ maaf..” ucap Glen merasa bersalah setelah melihat bekas cengkeramannya di pergelangan tangan Rachel.


“ lo, kasar!” balas Rachel penuh penekanan.


“ maaf gue gk bermaksud.” Ucap Glen tulus.


“ iish.” Kesal Rachel lalu berlari ke kamarnya.


“ Chel, maafin gue!” ucap Glen sedikit keras agar Rachel bisa mendengar suaranya.


“ gk! Lo pergi!” balas Rachel dari dalam kamar.


Glen sadar, bahwa perbuatannya barusan telah melukai Rachel. Jadi, ia memutuskan untuk pergi dari depan kamar Rachel agar Rachel bisa menenangkan diri terlebih dahulu.


“ gue bodoh.” Ucap Glen kecil dengan penuh penekanan. Setelah itu ia baru benar – benar pergi dari depan pintu kamar Rachel dan memutuskan untuk pergi ke balkon kamarnya.


Rachel POV.


aku benar – benar kesal dengan Glen saat ini. Aku sudah terbiasa dengan perilaku dinginnya selama ini, tapi aku tidak terbiasa dengan sikap kasarnya terhadapku. Sebenarnya aku hanya ingin menjelaskan ke Natasha yang sebenarnya kalo hubungan kami berdua hanya sebatas saudara sepupu, tidak lebih. Dan juga menjelaskan bahwa kami berdua tidak melakukan apapun di sini, aku tidak mau di ejek sebagai jalang di sekolah nanti. Makanya aku ingin berusaha menjelaskan semuanya ke dia.


Saat ini aku masih mengurung diri di kamar hingga malam. Aku sempat kecewa karena Glen tidak berusaha membujukku atau apapun itu. Tapi aku sadar, dia bukan orang yang peduli dengan suatu hal yang dia anggap tidak penting. Dan mungkin saat ini aku tidak penting dimatanya, jadi dia tidak peduli kepadaku.


Jujur, aku sangat kelaparan sekarang, tapi aku terlalu gengsi untuk kebawah dan melihat wajah Glen saat ini. Akhirnya aku membaringkan tubuhku ke kasur dan memejamkan mataku untuk tidur. aku berharap rasa laparku ini akan hilang jika aku tidur dan besok pagi saat aku bangun, aku akan langsung mencari makanan di bawah.


Baru saja aku memejamkan mata, tiba – tiba pintu kamar terbuka perlahan. Aku tetap berpura – pura tidur saat ada orang yang masuk ke kamarku yang dapatku tebak orang tersebut adalah Glen.


Saat terdengar bunyi dari atas meja, beberapa menit kemudian aku merasakan tangan hangat memngelus rambutku lembut. Detak jantungku bergemuruh, namun aku sangat nyaman dengan semua ini. Setelah beberapa menit aku merasakan rambutku diusap dengan lembut, aku juga merasakan sesuatu yang menempel di keningku. Benda tersebut sangat hangat dan kenyal, keningku bagaikan disengat listrik seketika. Aku dapat merasakan sesuatu yang berbeda di dalam diriku saat ini.


“ maafin aku ya, aku tadi gk ada niatan untuk berbuat kasar ke kamu. Dan itu aku bawain makanan, siapa tau nanti kamu kebangun trus laper, jadi makanannya udah aku taruh di atas meja ya… good night dear.” Bisiknya di telingaku yang membuatku lemas hanya karena mendengar perkataannya barusan.


Setelah itu, aku mendengar suara pintu terbuka yang menandakan bahwa ia sudah keluar sekarang. Aku membuka mataku perlahan, aku melihat lampu kamar yang sudah dimatikan olehnya dan sepiring nasi beserta lauk kesukaanku di atas meja yang tadi ia taruh. Tanpa menunggu lagi, aku langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambil nampan yang berisi sepiring makanan dan segelas susu tersebut dan memakannya sampai habis. Sejujurnya, sedaritadi aku memang sedang menahan lapar, namun aku merasa gengsi jika harus turun kebawah untuk makan.