Undesirable Relationship

Undesirable Relationship
ALKA MABUK?!



“ Siapa nama lo?” tanya gue padanya.


“ Namaku Luna. Nama kamu siapa?” Jawab dan tanyanya pada gue.


“ nama gue Alka, salam kenal.” Jawab gue pada Luna.


“ mau ikut gue kesana? Gue gk akan macem – macem kok.” Ucap gue sambil menuju tempat duduk di pojok, yang terlihat sepi.


“ Boleh.” Balas Luna sedikit ragu.


Gue pun langsung berdiri dan berjalan menuju tempat duduk tersebut, diikuti Luna di belakang gue.


“ ayo duduk dan cerita kenapa lo bisa ada di tempat kayak gini.” Ucap gue setelah duduk di tempat yang tadi gue maksud.


“ Iya, Terima kasih.” Ucapnya.


“ Jadi, aku kesini karena katanya temanku ingin diperkosa disini. Ia meminta bantuan ku untuk datang kesini. Namun, ternyata ia menipuku, dan aku malah di paksa oleh lelaki tadi. Dan untung saja kamu datang tepat waktu.” Lanjutnya sambil menundukkan kepala.


“ hm, sudahlah. Lo gk perlu takut lagi, lupain aja yang tadi. Dan btw, rumah lo dimana?” tanya gue padanya.


“ Rumahku lumayan jauh dari sini, kamu pasti tidak tahu.” Jawabnya.


“ apa boleh lo gue anter? Ini udah malem, lo gk mau kan kejadian tadi terulang lagi” ucap gue padanya.


“ hm, apa tidak merepotkan?” tanyanya padaku malu – malu. Oh, dia sangat imutt.


“ Tidak, ayo.” Jawab gue langsung menarik tangannya menuju motor gue.


“ pake jaket gue ya, udaranya lagi dingin soalnya.” Ucap gue yang diberi anggukan olehnya.


“ Terima kasih.” Ucapnya dengan pipi merona. Sudah kukatakan bukan, DIA SANGAT CANTIK.


“ sama – sama, ayo cepat naik.” Ucap gue padanya.


“ pegangan ya, gue bakal ngebut soalnya.” Modus gue.


“ i-iya” balasnya lalu dapat gue rasakan tangan mungilnya melingkar di pinggang gue.


“ ok.” Ucap gue lalu mulai mengendarai motor dengan kecepatan agak tinggi.


“ Apa kamu takut?” tanya gue saat merasakan pelukannya semakin mengerat.


“ s-sedikit.” Jawabnya.


“ Ok, gue kurangin deh kecepatannya.” Ucap gue mengurangi kecepatan agar Luna tidak takut lagi.


“ Terima kasih ya sudah repot – repot mengantarkanmu sampai ke rumah. Dan Terima kasih juga telah menolong ku tadi.” Ucap Luna ke gue setelah ia turun dari motor.


“ Sama – sama, masuk sana. Nanti orang tua lo khawatir loh anaknya jam segini belum pulang juga.” ucap gue pada Luna yang diberi anggukan olehnya.


“ Iya, sampai jumpa lagi dan hati – hati di jalan ya.” Ucapnya sambil melambaikan tangannya ke arah gue dan tersenyum manis….sangatt manis…


“ ya, gue balik ya.” Ucap gue lalu mulai mengendarai motor gue.


Setelah gue pergi dari halaman rumah Luna, gue gk langsung pulang dulu sebenarnya. Gue mengintip Luna masuk ke rumah di balik pohon rindang yang pastinya Luna tak akan bisa ngeliat gue.


Saat Luna mulai mengetuk pintunya, gue bisa melihat dua perempuan yang keluar dari rumah Luna yang gue yakini perempuan tersebut adalah mamah dan kakak Luna.


Gue tersentak saat mamah Luna menampar pipinya yang mulus hingga Luna pun jatuh terduduk sambil menunduk dan memegang pipinya yang gue tebak pasti bakalan merah.


Dan tidak sampai disitu, gue melihat kakak Luna menarik rambut adiknya dan menyeretnya masuk ke rumah. Saat pintu ditutup, gue sangat khawatir akan apa yang mereka lakukan pada Luna. Namun, saat kulihat tirai jendela yang tampaknya lupa mereka tutup gue dapat melihat Luna yang dipukuli dan ditentang oleh keduanya hingga Luna pun terlihat tak berdaya lagi. Tapi, memang sejak tadi Luna tidak memberontak sedikitpun, ia hanya pasrah menerima semua perlakuan mamah dan kakaknya.


Melihat tubuh mungil Luna tak berdaya, entah kenapa hati gue juga ikut melemah. Ingin sekali rasanya gue menolong dan membawanya ke pelukkan gue. Apa dia selalu diperlakukan seperti itu oleh mamah dan kakaknya? Dan bagaimana bisa ia bertahan sampai saat ini dan tetap tersenyum manis dengan apa yang sudah ia alami.


Saat sang kakak ingin menutup tirai jendela, hampir saja dia melihat gue yang sedaritadi melihat semua perlakuan mereka. Dan setelah tirai tertutup, gue langsung menghampiri motor yang gue parkir di pohon sebelum dan berniat untuk pulang karena hari sudah sangat larut.


Namun, saat gue ingin menghidupkan motor. Terdengar jeritan pilu dari rumah Luna. Pikiran gue langsung menuju ke Luna, apalagi yang mereka lakukan pada Luna hingga ia menjerit kesakitan seperti itu? Gue bener – bener gk sanggup kalo lama – lama disini. Dengan cepat, gue menghidupkan motor dan mulai mengendarainya.


Tuhan… tolong jaga Luna… semoga dia baik – baik aja….


Author POV.


Matahari sudah mulai menaik, langit pun lama – kelamaan mulai menerang. Cahaya yang masuk melalui celah – celah jendela pun mengusik tidur lelap empat makhluk hidup yang masih meringkuk di bawah selimut mereka masing – masing.


Kringgg…suara alarm terdengar sangat nyaring menggema di dalam kamar. Dengan kesal, Alka pun membanting alarm tersebut dengan sekuat tenaga hingga hancur berkeping – keping.


“ ***** lo ka, udah berapa alarm kita beli dan berapa kali juga alarm itu lo banting,” Ucap Steven dengan nada seraknya khas bangun tidur sambil mengucek matanya yang masih berat.


“ bodo. Gue gk perduli,” balas Alka lalu kembali meringkuk di dalam balutan selimut.


Alka sangat mengantuk karena semalam ia memang baru tidur kurang lebih jam 4 pagi, pasalnya dari rumah Luna ia mampir kembali untuk meminum berbagai macam bir / alkohol hingga ia merasa sedikit mabuk.


“ Alka bangunn…” Ucap Dylan sambil mengguncang – guncang bahu Alka untuk membangunkan.


“ Ngantuk Lan…” Balas Alka dengan mata tertutup.


“ hmm… sama… gue juga ngantuk…” Ucap Dylan lalu ikut bergelung dalam selimut Alka.


“ Hehehe… ayok kita tidur bareng..” ucap Alka lalu memeluk Dylan bagaikan guling.