Undesirable Relationship

Undesirable Relationship
KARNAVAL?



“ pokoknya ke suatu tempat deh. Sumpah gue janji gk bakalan macem – macem kok.” Ucap gue yang membuat dia terkekeh kecil.


“ Iya – iya aku percaya, yaudah ayo.” Balasnya yang membuat gue tersenyum senang lalu menggandeng tangannya dan membawanya ke parkiran.


“ pake helm-nya, biar nanti bapak polisi gk marah sama kita.” Ucap gue sambil memberikan helm untuknya. Ya, dari rumah gue emang berjaga – jaga jika Luna datang lagi ke barat, gue bakal ngajak dia jalan – jalan.


“ Iya,” balasnya sambil tersenyum manis. Hiks, senyumnya aja manis banget… jadi terharu saya. Sstt, lebay banget sih gue.


“ ayo cepet naik,” ucap gue yang dibalas anggukan oleh Luna.


“ pegangan dong manis, nanti kalo jatoh kan gue juga yang repot.” Ucap gue yang duga membuat pipi putihnya kembali memerah.


“ Udah, ayo bang jalan.” Ucapnya yang membuat gue terkekeh


“ Udah bisa bercanda ya neng.” Goda gue yang langsung mendapat cubitan ringan dari Luna.


“ Alka, ayo cepet jalan… Nanti kemaleman,” ucap Luna sambil menundukkan kepala yang bisa gue rasakan di punggung gue.


“ ok siap neng, pegangan yang kenceng ya. Soalnya abang mau ngebut nih.” Ucap gue langsung menghidupkan mesin motor.


“ jangan— Alkaaa!!!” pekik Luna sambil memeluk gue erat saat gue melajukan motor dengan kecepatan tinggi.


“ Hehe, bagus Lun… peluk gue yang kenceng ya!” teriak gue agar Luna bisa mendengar ucapan gue di tengah kemarahan kota. Asek dah tuhh…


“ Alka kamu nyebelin banget sihh… kurangin kecepatannya! Aku gk mau mati mudaaa!!” Balas Luna yang membuat gue tertawa lepas.


“ nikmatin aja anginnya Lun, kali – kali lo ngerasain kejamnya angin malam bersama cowok se-kece gue.” Ucap gue pede yang membuat Luna juga ikut terkekeh.


“ iyain aja deh, aku mah bisa apa.” Balas Luna yang lagi – lagi membuat gue tertawa.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit. Kita pun akhirnya sampai di sebuah karnaval yang buka sebulan sekali di kota ini.


“ Wahhh, aku baru pernah liat karnaval nyata seperti ini. Biasanya aku Cuma bisa liat di kartun.” Ucap Luna senang saat kami berdua sudah masuk ke karnaval tersebut.


“ heheh, karnaval ini Cuma di buka sebulan sekali di setiap kotanya loh.” Ucap gue yang membuat Luna menoleh ke arah gue.


“ yaahhh, berarti kita gk bisa sering – sering ke sini dehh..” ucap Luna yang membuat gue terkekeh lagi.


“ Eh yaudah, mau main apa dulu nih?” tanya gue pada Luna.


“ aku mau naik bianglala!” jawab Luna bersemangat.


“ oke deh..” ucap gue lalu langsung membawa Luna ke wahana bianglala.


“ Lun, ini tinggi banget loh bianglala-nya. Yakin mau naik nih?” tanya gue memastikan setelah membeli tiket masuk.


“ Yakin dong, kamu takut ya?” tanya Luna meremehkan gue.


“ Eitsss, jangan ngeremehin gue ya… seorang Alka tidak pernah takut akan ketinggian.” Jawab gue lalu kami berdua pun masuk ke salah satu ruangan, eh tempat, eh gk tau deh apalah itu.


“ Wahh, bianglala-nya udah mulai berputar.” Ucap Luna tersenyum senang sambil menatap jendela yang menampilkan suasana karnaval malam.


“ Beneran belum pernah kesini ya?” tanya gue yang sebenarnya hanya ingin memecah suasana hening diantara kami.


“ belum, aku belum pernah ke tempat seperti ini sejak dulu. Tapi, waktu ibuku masih ada… aku pernah di ajak ke pasar malam, tapi tetap tidak ada wahana seperti ini.” Jawab Luna dengan senyum manisnya.


“ ibumu masih ada, maksudnya?” tanyaku heran.


“ oh, iya… ibuku sudah meninggal saat aku berusia kurang lebih 5 tahun.” Jawabnya tetap mempertahankan senyum manisnya.


“ Loh, terus yang waktu itu siapa?” tanyaku kebablasan.


“ waktu itu? Wah, ternyata kamu ngintip ya.” Jawabnya yang membuatku menyengir pasrah.


“ maaf, abisnya gue khawatir aja.” Ucap gue yang membuat senyumnya berubah menjadi senyum miris.


“ ah, kamu baik banget ya. Itu, mereka itu adalah mama dan kaka tiri aku. Selang setahun ibu meninggal, ayahku menikah lagi dengan janda yang mempunyai seorang putri. Dan saat itu pula, mama dan kaka tiriku selalu berbuat seperti itu. Tapi, aku yakin mereka punya alasan tersembunyi akan perbuatan mereka padaku. Hm, tapi kamu jangan bilang siapa – siapa ya soal ini. Aku gk mau kalo mereka berdua dianggap tidak baik oleh orang – orang. Kamu juga jangan berpikir seperti itu ya. Mereka sebenarnya baik kok, mama tetap memberiku makan setiap harinya.” Balasnya yang membuat gue kesal entah kenapa.


“ Apa ayah kamu gk tau perbuatan mama dan kaka tiri kamu?” tanya gue yang masih tak habis pikir.


“ Ah, ayahku gk tau dan aku berharap dia gk akan pernah tau. Aku gk mau nanti ayah menceraikan mama karena tahu tentang masalah ini.” Jawab Luna yang membuat gue semakin geram.