
Setelah gue terus berjalan entah kemana, gue pun beristirahat sejenak di gang kecil yang tampak sepi dan bersih, namun gue sempat mencium bau alcohol yang menyengat dari arah rumah yang penuh dengan coretan – coretan abstrak. Sebenernya sih gue agak sedikit takut, tapi kaki gue lemes banget kalo sampe di buat jalan lagi, akhirnya gue berusaha membuat pikiran – pikiran negative gue dan melonjorkan kaki gue yang terasa sangat berat itu.
Dan ternyata dugaan gue benar, tak lama kemudian pintu rumah tersebut pun terbuka dengan sangat kasar yang diikuti oleh beberapa laki – laki dengan keadaan urakan sambil membawa botol di tangan mereka masing – masing yang gue yakini botol tersebut merupakan alkohol yang tadi sempat tercium oleh gue. Saat laki – laki tersebut melihat gue dengan tatapan lapar, jantung gue memompa lebih cepat. Gue takut, gue benar – benar takut sekarang, gue berharap ada orang yang nolongin gue tepat waktu.
Gue langsung berdiri waspada saat laki – laki tersebut menghampiri gue. Dan saat gue ingin kabur, mereka semua malah ngepung gue dengan seringai di bibir mereka masing – masing. Gue bener – bener gk tau lagi harus apa. Gue gk bisa berontak, karena kalau gue berontak pastinya mereka akan lebih bringas. Saat ini gue hanya bisa berdoa agar seseorang datang nolongin gue tepat waktu.
“ mukanya biasa aja dong cantik.” Ucap salah satu laki – laki di antara mereka sambil mengelus pipi gue.
“ tolong!!” teriak gue saat salah satu laki – laki tersebut melepas ikatan rambut gue dan mulai meraba kaki gue.
Glen POV.
Gue bener – bener frustasi, sampai saat ini gue masih belum bisa menemukan Rachel. Gue bener – bener nyesel sama perbuatan gue tadi, gue kesel sama diri gue sendiri. Gue gk bisa nemuain Rachel. Ahhhk…. Gue gk tau harus nyari Rachel ke mana lagi.
Saat gue mencari Rachel, gue mendengar suara teriakan minta tolong dari arah gang yang gk jauh di depan gue sekarang. Firasat gue gk enak, tanpa menunggu lama gue berlari ke arah gang tersebut. Saat gue sudah berada di depan gang tersebut, rahang gue mengeras melihat pemandangan menjijikan di hadapan gue saat ini, tanpa berfikir panjang, gue langsung menyerang segerombolan laki – laki yang sedang ingin memperkosa seorang gadis yang sejak tadi gue cari – cari.
Author POV.
Bughh.. suara pukulan keras yang diikuti tumbangnya salah satu laki – laki tersebut membuat Rachel yang sedang menutup matanya rapat – rapat tersentak, begitu pun dengan laki – laki yang sedang memberi kissmark di leher mulusnya.
Glen menyerang segerombolan laki – laki tersebuat sendirian tanpa ampun, muskipun jumlah laki – laki tersebut lumayan banyak, namun Glen mampu membuat semuanya tak sadarkan diri dalam sekejap.
Laki – laki yang dari tadi berdiri di samping Rachel pun akhirnya turun tangan, ia mengeluarkan pisau dari saku celananya.
“ Glen, awas!!” teriak Rachel saat laki – laki tersebut ingin menusuk Glen. Glen pun langsung berbalik dan…
belum sempat menghindar, laki – laki tersebut pun sudah lebih dulu menancapkan pisaunya ke perut Glen.
“ Akhh!!!” teriak Glen saat perutnya tertusuk pisau tajam yang amat menyakitkan.
Rachel yang melihat kejadian itu pun langsung berteriak histeris dan menangis.
Dengan gesit, ia langsung mencabut pisau tersebut dari perutnya dan bergantian menancapkan pisau tersebut ke perus laki – laki tersebut.
“ Rachel, ayo pergi!” ucap Glen sambil memegang perutnya yang masih terus mengeluarkan darah.
“ Glen, maafin gue..” ucap Rachel menangis histeris sambil membatu Glen berjalan.
“ ayo cepet pergi dari sini.” Balas Glen menarik tangan Rachel untuk berlari.
Glen terus berlari secepat mungkin dengan tangan kirinya menarik Rachel dan tangan kanannya memegang lukanya. Ia bersyukur karena rumahnya memang berada di sekitar sini, jadi ia dan Rachel tak perlu menggunakan mobil atau naik angkutan umum untuk pulang ke apartemen miliknya juga.
“ buka gerbangnya, cepet!” bentak Glen yang terlihat sangat pucat dan tak bertenaga.
“ i..iya..” balas Rachel lalu membuka gerbang seperti yang Glen perintahkan.
“ ayo masuk!” ucap Glen berjalan karena sudah tak kuat lagi untuk berlari.
“ sekarang buka pintunya.” Ucap Glen sambil menyodorkan sebuah kunci kepada Rachel.
“ iya..” balas Rachel menurut lalu membuka pintu tersebut.
“ tutup pintunya, antar gue ke kamar itu.” Ucap Glen menunjuk kamar yang berada di lantai dua tersebut. Rachel hanya mengangguk dan melakukan semua perintah Glen.
“ kuat naik tangganya?” Tanya Rachel memastikan saat berada di depan tangga.
“ iya.” Jawab Glen lirih lalu Rachel membantu Glen menaiki tangga dengan hati – hati.
“ kuncinya..” ucap Glen sangat lirih menyodorkan kunci pintu kamar tersebut kepada Rachel dengan gemetar.
“ tahan ya Glen..” balas Rachel dengan nada menahan isakan tangis sambil membuka pintu kamar tersebut.
“ ahh..” ringis Glen saat dirinya dibantu Rachel untuk berbaring di atas kasur.
“ gue telfon dokter Fandi dulu ya.” Ucap Rachel sambil mencari – cari nama dokter tersebut di kontaknya. Iya tidak meminta bantuan orang lain atau sepupunya itu karena Glen sudah memperingatinya terlebih dahulu agar merahasiakan kejadian ini dengan siapa pun.
“ jangan…” tegas Glen dengan lirih.
“ tapi luka lo gimana Glen, lo itu ketusuk, dan itu bukan hal yang kecil.” Balas Rachel gusar, karena ia sangat menghawatirkan Glen saat ini.
“ gue bilang jangan…ya..jangan…sekarang…tolong ambilin…kotak P3K aja…di meja belajar gue..” ucap Glen susah payah. Rachel pun akhirnya menurut pasrah, ia mengambil kotak P3K tersebut dan mengambil sebaskom air dari kamar mandi.
“ bisa buka baju sendiri gk?” Tanya Rachel yang sebenarnya agak gugup. Glen hanya bisa menggeleng lemah tanpa menjawab pertanyaan Rachel.
“ ssshh..” ringis Glen seakan sudah tak kuat menahan sakitnya lagi. Saat Rachel membuka baju Glen, ia pun histeris melihat tubuh Glen yang penuh dengan darah. jika saja Glen sedang baik – baik saja, mungkin dia histeris karena melihat tubuh atletis Glen yang sempurna. Tanpa menunggu lagi, Rachel langsung mengobati luka – luka Glen dengan obat yang ada di kotak P3K tersebut, ia tahu bagaimana cara mengobati orang dengan luka seperti ini karena ia merupakan anggota PMR dari dulu.
“ jangan nangis mulu, sayang – sayang air matanya.” Ucap Glen lirih lalu langsung tak sadarkan diri. Rachel yang tadinya tersenyum mendengar perkataan Glen langsung merubah raut wajahnya seketika, ia menangis histeris dan memeluk tubuh Glen sambil mengguncang tubuh Glen.