
Suara kicauan burung dan sinar matahari yang masuk melewati celah – celah jendela pun berhasil membangunkan Rachel dari tidur lelapnya. Ia membuka mata sembabnya perlahan – lahan untuk menesuaikan sinar matahari yang masuk ke kamarnya itu.
Setelah seluruh nyawanya sudah berkumpul. Tanpa berpikir panjang, Rachel pun masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya yaitu mandi.
Setelah selesai, ia baru ingat bahwa ia saat ini tidak memiliki baju sama sekali. Bahkan yang tadi ia pakai adalah baju Glen. Namun, untung saja di kamar mandi tersebut terdapat bathrobe yang dapat dipakainya untuk sementara waktu.
Dengan berat hati, akhirnya Rachel berusaha melupakan kejadian kemarin dan berniat untuk berdamai dengan Glen. Setelah itu, ia akan meminjam baju Glen untuk ia kenakan.
Rachel yang masih memakai bathrobe pun mengetuk pintu kamar Glenyang terdengar sunyi dari luar.
Toktoktokk… sudah berapa kali Rachel mengetuk pintu kamar tersebut. Namun hasilnya tetap nihil. Glen tak kunjung membukakan pintu untuknya. Namun, saat Rachel memutar knop pintu, ternyata pintu tersebut tidak terkunci. Tanpa berpikir panjang, Rachel pun langsung membuka pintu kamar Glen dan ia langsung melihat tubuh Glen yang terbaring lemah di atas kasur.
“ Glen?” panggil Rachel sambil mendekat ke arah Glen yang masih setia menutup kedua matanya rapat – rapat dan tubuh yang tertutup selimut tebal sampai sebatas dada.
“....” tak ada sahutan dari Glen. Rachel mempercepat langkahnya dan langsung duduk di sebelah Glen yang masih saja diam.
“ Glen, lo kenapa?” tanya Rachel lagi dengan nada khawatir.
“.....” masih tak ada sahutan dari Glen.
“ Glen ish jawab.” Sambil berniat mengguncang tangan Glen pelan. Namun, saat ia menyentuh tangan Glen, ia langsung menarik lagi tangannya menjauh dari tangan Glen dengan raut wajah panik.
“ Glen, bangun Glen!” Ucap Rachel panik karena suhu tubuh Glen sangat tinggi.
“ Glen, ayo bangun.... Kita ke rumah sakit sekarang.” Ucap Rachel lagi yang sangat khawatir dengan kondisi Glen saat ini.
“ Glen, pasti gara-gara gue semalam ya? Kalo gitu maafin gue ya, gue bener – bener tersulut emosi semalam. Sekarang lo bangun dulu ya, kita ke rumah sakit. Setelah itu, lo bebas deh marahin gue sepuasnya. Asalkan lo bangun dulu dong.” Ucap Rachel pada Glen yang masih memejamkan matanya sambil mengusap pelan rambut Glen.
“ Glen, sumpah lo kenapa sih?!” ucap Rachel lagi yang sangat panik saat Glen masih mau membuka matanya.
“ Glen maafin gue, Glen…..gue mahon jangan bikin gue panik kayak gini dong…” ucap Rachel sesegukan karena memang saat ini air matanya sudah tak bisa ia tahan lagi.
“ Glen lo kena-” ucapan Rachel terhenti saat ia membuka selimut yang sedari tadi menutupi tubuh Glen dan mendapati perut penuh darah Glen yang masih terbalut kaos.
“ Glen tahan sebentar lagi ya, gue mau ngambil obat dulu sebentar.” Ucap Rachel pada Glen yang masih menutup matanya dengan bibir pucat.
Setelah itu, Rachel langsung bergegas mencari kotak P3K yang kemarin ia pakai untuk mengobati luka Glen. Setelah dapat, Rachel berlari kecil ke kamar Glen untuk mengobati luka Glen yang terbuka lagi entah karena apa.
“Glen maaf, gue buka baju lo dulu ya.” Izin Rachel sebelum membuka baju Glen yang penuh dengan darah itu.
“ aaahhh, gimana ini?!” panik Rachel setelah membuka baju Glen dan mendapati luka Glen yang semakin melebar. Tanpa berpikir lagi, Rachel langsung mengeluarkan peralatan dan obat – obat dari P3K dan langsung mengobati luka Glen sebisanya.
“ Glen, tahan sedikit lagi ya….ini udah mau selesai kok, mudah – mudahan aja apa yang gue lakuin semua ini itu benar dan lo bisa cepet sadar.” Ucap Rachel bermonolog dan masih mengeluarkan air matanya. Setelah itu, Rachel kembali menyelesaikan kegiatannya yaitu mengobati luka Glen. Setelah selesai, ia langsung membereskan P3K beresta isinya dan duduk di sebelah Glen sambil menggenggam erat Tangan Glen sedangkan tangan yang satunya terus mengelus lembut rambut Glen yang sedikit mengeluarkan keringat. Mungkin itu efek rasa sakit yang tengah ia rasakan saat ini.
Tak lama kemudian, Rachel yang sedang menunduk sambil terus menangis pun merasakan genggamannya dibalas oleh Glen, sontak Rachel pun langsung mendongak dan mendapati Glen yang sedang berusaha membuka matanya perlahan.
“ Glen, apa yang sakit?” Tanya Rachel khawatir saat Glen meringis kesakitan. Pertanyaan yang Rachel lontarkan pun hanya dibalas dengan gelengan lemah oleh Glen.
“ Glen, ngomong dong…apa yang sakit?” Tanya Rachel lagi sambil menangis.
Glen yang tak tahan melihat Rachel menangis pun perlahan mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Rachel yang mengalir di pipi sang pemilik. Rachel yang mendapat perlakuan tersebut terbelalak kaget dengan apa yangsedang Glen lakukan saat ini, ia menatap dalam mata Glen yang sedang menatap dalam matanya juga.
“ gk usah nangis, lebay banget sih…” ucap Glen lirih dan tangannya masih terus menghapus air mata Rachel yang tak henti – hentinya mengalir.
“ ish lagi sakit aja masih nyebelin.” Balas Rachel sambil menepis tangan Glen yang tanpa sengaja menyenggol perut Glen.
“ aahhkk..” ringis Glen saat perutnya tersenggol oleh tangan Rachel.
“ ahh, m-maaf…gue gk sengaja..” ucap Rachel merasa bersalah.
“ iya gk kenapa – kenapa kok,tadi Cuma nyeri sedikit doang.” Ucap Glen sambil mengelus pelan rambut Rachel.
“ beneran?” Tanya Rachel lagi memastikan.
“ iya.” Jawab Glen.