Undesirable Relationship

Undesirable Relationship
SEGANTENG ITUKAH GUE??



“ oh iya, pasti cowok – cowok ganteng gk ada


yang mau sama gue. Kalo enggak lo dulu aja yang nyobain, lo kan ganteng banget


tuh… cewek – cewek juga pada ngantri kok buat dijadiin pacar sama lo. Nanti


kalo lo udah ngerasain, cerita sama gue, rasanya gimana.” Jawab Rachel yang


membuat Glen geleng – geleng kepala tak percaya.


“ lo juga cantik kali Chel, cowok – cowok


juga pada ngantri. Kenapa gk lo aja yang coba, gue gk usah.” Ucap Glen ketus.


“ masa sih? Tapi masih ada yang lebih cantik


dari gue di sekolah kita. Kalo lo kan gk ada saingannya.” Balas Rachel.


“ masih banyak juga yang lebih ganteng dari


gue.” Ucap Glen acuh.


“ ih enggak tau, dari yang gue liat dari


sekolah lama sampai sekolah kita yang baru ini, menurut gue Cuma lo yang paling


ganteng. Jujur sih, ka Aldi juga ganteng, tapi masih lumayan jauh kok sama lo.”


Balas Rachel panjang lebar yang terlihat bersemangat saat berbicara.


“ seganteng itukah gue?” Tanya Glen terkekeh


pelan dan menaikkan sebelah alisnya saat menatap Rachel.


“ iyalah, bahkan bisa dibilang sempurna.”


Jawab Rachel spontan. Ucapan Rachel barusan membuatnya tanpa sadar


mengembangkan senyum merekah dari bibirnya itu. Tentu saja, Rachel yang baru


melihat Glen tersenyum seperti itu pun terdiam tak bergeming. Iris mereka


berdua bahkan saling mengunci satu sama lain sampai akhirnya salah satu dari


mereka pun harus mengalihkan pandangnnya terlebih dahulu.


“ udah malem, tidur.” Ucap Glen mengalihkan


pandangan lalu beranjak dari kasurnya menuju sofa.


“ eh, mau kemana?” Tanya Rachel menahan


tangan Glen sebelum ia menuju sofa.


“ mau tidur lah.” Jawab Glen enteng.


“ lo harus tidur deket gue!” ucap Rachel.


“ yaudah di sofa kan deket juga.” Balas Glen


malas.


“ jauh, disini aja ya please..” bujuk Rachel


dengan wajah memelas.


“ huh.. ok.” Balas Glen malas lalu


membaringkan tubuhnya di samping Rachel pasrah.


“ nah gitu dong.” Ucap Rachel dengan nada


penuh kemenangan.


Tidak ada sahutan dari Glen, akhirnya Rachel


pun memejamkan matanya berusaha untuk tidur. Namun ternyata hasilnya nihil, dia


tetap tidak bisa tertidur. Sejujurnya ia sangat iseng sekarang, sedangkan Glen


sepertinya sudah tertidur pulas memunggunginya.


akhirnya. Ia memang benar – benar tidak bisa tidur sekarang.


“ udah.” Jawab Glen setelah beberapa detik


menghiraukan pertanyaan Rachel.


“ trus siapa dong yang jawab?” goda Rachel


memeluk tubuh Rachel sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Glen berniat


menggoda saja.


“ minggir, berat.” Balas Glen yang masih


setia menutup matanya.


“ lah apanya yang berat coba?” Tanya Rachel


heran.


“ tangan lo berat, leher gue pegel.” Jawab


Glen masih menutup matanya.


“ elah, gitu doang juga. Btw, buka dong mata


lu, berasa lagi ngomong ama mayat hidup tau gk.” Ucap Rachel sambil mengguncang


– guncang tubuh Glen.


“ emang gue mayat hidup.” Balas Glen lalu


membalikkan tubuhnya seraya membalas pelukan Rachel. Sedangkan Rachel yang


awalnya tidak mengira bahwa Glen akan membalas pelukannya pun hanya diam memat


“ cepet tidur, atau gue berubah jadi mayat


hidup beneran.” Ucap Glen mengeratkan pelukannya dengan Rachel. Jujur, ia


sangat nyaman dengan posisinya sekarang seperti ini.


“ eh, emangnya bisa?” Tanya Rachel menimpali.


“ bisa, tapi gue harus mati bunuh diri dulu.”


Jawab Glen asal masih dengan mata tertutup.


“ serem banget woi. Eh btw, itu mah namanya


arwah gentayangan kali, bukan mayat hidup.” Balas Rachel yang membuat Glen


terkekeh pelan.


“ emang.” Sahut Glen yang membuat Rachel


memutar kedua bola matanya malas.


“ gk jelas banget.” balas Rachel malas.


“ udah tidur, jangan banyak omong.” Ucap Glen sambil mengelus lembut rambut Rachel. Rachel yang mulai merasa nyaman di


pelukan Glen pun akhirnya tertidur pulas, sedangkan Glen menyul setelah


beberapa menit kemudian.


Cahaya yang masuk sedikit demi sedikit


melalui celah – celah jendela kamar Glen yang masih tertutup tirai itupun


membuat tidur sepasang saudara sepupu tersebut terusik. Rachel yang membuka


matanya terlebih dahulu pun sempat kaget dengan posisinya saat ini. Bagaimana


tidak, jarak wajahnya dan wajah Glen saat ini memang begitu dekat, ia juga bisa


merasakan nafas teratur milik Glen di wajahnya. Rachel yang melihat Glen


tertidur dengan wajah damainya pun menarik kedua sudut bibirnya tersenyum.