Under Sun

Under Sun
9. Smirk Like A Devil



"Benar Jenderal. Beberapa komplotan pembelok tampak bermunculan kembali."


Di bawah lampu temaram, Jaehyun membalikan lembaran kertas dengan cetakan infomasi disana, "Lalu?"


Lelaki muda di hadapannya terdiam sebentar, "Sudah ada 3 bank yang dibobol. Dua rumah yang mengalami kasus kebakaran disengaja, juga pengedaran narkoba yang semakin marak."


Benar. Semua hal yang diucapkan oleh lelaki bernama Jisung itu sudah sesuai dengan informasi yang tertera di lembaran kertas tersebut. Segala kejadian beruntun mulai dari kaburnya beberapa tahanan penting sampai pengedaran narkoba, semakin menjadi-jadi. Bahkan ia masih belum tahu siapa dalang dibalik penyerangan tadi siang. Dan semuanya mulai terhubung dengan Michigan sebagai titik pusatnya.


"Kalau begitu, berikan ini pada kolonel Jackson di distrik sembilan," Jaehyun menyerahkan satu map biru pada lelaki muda tadi yang langsung disanggupi.


"Kalau begitu, saya mohon pamit undur diri, Jenderal."


Dengan cepat tangan Jaehyun menahan bahu Jisung yang tadinya sudah bergerak untuk pergi. Lelaki muda itu pun berbalik dengan ekspresinya yang cukup kebingungan.


"Ada yang bisa saya bantu, Jenderal?"


Helaan nafas pelan menghembus sebagai jawaban. Sekali lagi, Jaehyun melirik pada jam dinding yang sudah menunjukan pukul delapan kurang lima menit. Artinya, waktunya sebagai Jaehyun memang tidak banyak lagi.


"Borgol tangan saya pada tiang ranjang ini," Lantas Jaehyun mengeluarkan sebuah borgol dari saku celananya lalu menyerahkan benda tersebut pada Jisung yang semakin heran.


"Tidak usah bertanya kenapa," Tambah pria itu lagi saat raut Jisung menunjukan tanda-tanda ingin bertanya. Sontak membuat Jisung langsung meraih borgol tadi dari tangan Jaehyun.


Meski masih tak mengerti dengan maksud dan tujuan atasannya melakukan hal seperti ini, Jisung tetap memborgol kedua tangan Jaehyun di antara besi ranjang. Setelah melakukan hal tersebut, Jisung langsung pamit undur diri dan segera pergi dengan beribu-ribu pertanyaan.


Sejujurnya, Jaehyun sendiri juga bingung. Kenapa setelah sekian lama Jeffrey kembali muncul? Seingatnya, Jeffrey kembali muncul saat Jaehyun tengah bertugas di Minnesota. Itu pun hanya sebentar, sekitar tiga hari. Lalu ia dipindahtugaskan ke Vancouver, namun anehnya, hampir setiap pagi ia harus kembali berangkat menuju Vancouver karena tubuhnya berada di Toronto secara begitu tiba-tiba.


Jeffrey memang segila itu.


Dan sekarang, kepalanya sudah berdenyut-denyut tidak karuan.


Tiga ketukan terdengar disela-sela keheningan. Jaehyun mengernyit, siapa lagi sekarang? Ini bukan waktu yang pas untuk menyambut tamu atau sekedar bercakap-cakap dengan seseorang.


"Tuan??"


Merasa tidak ada jawaban di dalam, Jea kembali mengetuk-ketuk daun pintu kamar 207. Niatnya, ia ingin bertanya masalah beberapa fasilitas di kamar yang tak Jea mengerti bagaimana cara memakainya. Tentu ia harus bertanya pada Jaehyun. Namun sayangnya, Jea langsung bergegas mencari keberadaan tuannya itu dan tak menghiraukan pukul berapa sekarang.


"... pergi."


"Ya?" Jea sedikit mendekatkan telinganya pada pintu kamar itu saat ia bisa mendengar suara serak yang menyapa telinganya. Tetapi tidak begitu jelas sehingga Jea tak mendengarnya.


"Ini Jea, Tuan," Mungkin sudah ketukan yang ke dua belas yang Jea layangkan pada daun pintu. Jea mulai bertanya-tanya dan berspekulasi. Jangan-jangan tuannya ini tidur atau... pingsan di dalam?


"Tuan—"


"Masuk."


Suara berat yang terdengar begitu jelas membuat Jea tiba-tiba merasa bergedik ngeri. Kenapa seketika ia merasa begini? Tuannya sudah mengizinkannya untuk masuk bukan? Lantas Jea langsung membuka knop pintu itu perlahan, ternyata tidak dikunci.


Suasana di kamar ini gelap sekali. Tangan Jea mulai meraba-raba dinding, berusaha menemukan dimana letak tombol penghidup lampu otomatis. Ah, ketemu!


Jea menghidupkan lampu kuning temaram. Tunggu, dimana tombol untuk lampu putih yang terang menderang seperti di kamarnya? Entahlah, yang penting kondisi ruangan ini tidak segelap tadi lagi.


Gadis itu berjalan mendekati tuannya yang duduk di samping ranjang dengan tangan yang... terborgol. Lagi-lagi Jea harus menebak-nebak atas unsur apa tuannya bisa dalam keadaan seperti itu.


"Tuan? Tangan Tuan kenapa?" Tanya Jea mulai penasaran saat Jaehyun tak kunjung melepaskan tatapannya dari Jea. Satu hal yang perlu digarisbawahi, tatapan itu sedikit membuat bulu kuduk Jea meremang.


"Tuan?"


"... Tuan—"


"Jeffrey."


Jea sedikit mengerutkan alisnya saat nama itulah yang terlontar dari bibir pria itu. Tunggu, oh tidak. Jea baru menyadari jika sekarang sudah jam delapan lewat dua menit. Ini waktunya Jeffrey muncul kan? Gadis itu sedikit meringis saat ia melanggar kata-kata tuannya untuk tidak berurusan dengan Jeffrey.


"Sayang.."


Baru saja Jea ingin pergi dari ruangan itu karena kebetulan juga tangan Jeffrey yang diborgol pada sisi ranjang sehingga tak mungkin bisa menghentikannya, terpaksa menghentikan langkahnya. Dengan takut-takut Jea menoleh sedikit ke belakang, "Y-ya T-Tuan..?"


"Mendekatlah."


Jea ingin menggeleng keras dan langsung lari sekuat tenaga dari ruangan itu. Namun entah mengapa, tubuhnya tidak mau menuruti kata-kata logika. Sedikit kaku namun pasti, kakinya bergerak mendekat pada Jeffrey yang semakin terlihat menyeramkan dari sini. Seringainya di bawah lampu temaram memang tidak ada duanya.


"Duduk di sampingku."


Ingin sekali Jea memukuli kepalanya karena tidak mau menuruti niat hati yang sebenarnya. Kenapa ia malah mengikuti segala instruksi yang Jeffrey berikan? Mungkin dirinya juga sudah gila.


Setelah mengikuti perintah Jeffrey, kedua telapak tangan gadis itu semakin basah. Rasa takut juga gugup bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana ini, apalagi yang harus ia lakukan sekarang. Seharusnya ia kabur dari sini. Sungguh bodoh.


Jeffrey bergerak mencondongkan tubuhnya ke arah Jea, membuat gadis itu terkejut karena ulahnya, "Tuan..?" Tangan Jea menahan dada Jeffrey yang hampir menempel pada tubuhnya.


Dengan tangan yang sudah diborgol saja Jeffrey sudah seagresif ini, bagaimana jika tidak?


"Ah.."


Jeffrey sedikit mendesah saat ia sadar betapa dirinya menginginkan Jea. Di tambah dengan tangannya yang tidak bisa bergerak bebas seperti ini, membuat jantungnya menggebu-gebu.


"Mendekat lagi sayang," Ujar Jeffrey pelan penuh penekanan yang entah mengapa lantas membuat Jea sedikit bergerak lebih dekat pada Jeffrey.


Jangan tanyakan kenapa, karena Jea sendiri juga tidak mengerti.


Jarak mereka sudah tidak bersisa lagi. Bahkan paha pria itu dengan Jea sudah saling menempel satu sama lain. Tentu Jeffrey langsung memanfaatkan keadaan. Tubuh besar itu kembali ia condongkan hingga Jea bisa merasakan nafas hangat Jeffrey di pipi kirinya.


Jea menatap lurus pada dinding. Tidak, ia tidak mau menoleh pada Jeffrey karena pasti jarak antara wajah mereka akan benar-benar tak bersisa sama sekali. Gerak-gerik Jeffrey saat ini nyatanya sukses mengakibatkan Jea merasa kegelian sendiri.


Bahu kecil Jea sedikit bergetar saat lidah panas Jeffrey menyapu pipinya. Kemudian, beberapa kecupan ringan mendarat pada pipi yang sudah terlanjur basah itu.


"Sayang.." Ucap Jeffrey disela-sela kecupan itu. Lalu, bibir panasnya bergerak turun ke arah leher. Jea mulai kembali merasakan sensasi yang sangat tidak familiar karena Jeffrey menjilati leher putih itu dengan pelan-pelan. Sedikit menciptakan rasa geli yang bercampur dengan debaran jantung yang semakin menggila.


"Tuan, berhenti.."


"Tuan Jeffrey.."


Akhirnya, Jea mulai memberanikan diri untuk sedikit merubah posisinya. Kini, kedua tangan itu sudah menahan sepasang bahu lebar Jeffrey. Ia harus cepat-cepat melakukan hal ini sebelum Jeffrey akan semakin tidak terkontrol.


"Berhenti Tuan Jeffrey."


Meski bibirnya sedikit bergetar, setidaknya Jea sudah melontarkan deretan kalimat yang benar-benar berasal dari niat hatinya. Kendati, pikiran Jea kembali berkecambuk saat tatapan Jeffrey menggelap. Apa pria ini marah?


"Kalau begitu, lepaskan ini," Jeffrey sedikit mengangkat tangannya ke atas, membuat suara peraduan besi terdengar. Lantas Jea ikut mengarahkan pandangannya pada sepasang tangan itu.


Apa ia harus membuka borgol itu?


Ya, Jea memutuskan untuk membukanya. Toh, dengan begitu Jeffrey akan berhenti melakukan hal-hal yang aneh seperti tadi.


"Tapi Tuan, bagaimana caranya?" Tanya Jea jujur. Karena sebenarnya, ia sendiri juga tidak tahu bagaimana cara memasang dan melepaskan sebuah borgol.


Mata Jeffrey terarah pada sebuah penjepit rambut Jea yang terlihat seperti kawat tipis, "Gunakan penjepit rambut itu, lalu masukan ke dalam lubang kecil disini."


Jea menuruti perkataannya. Setelah memasukan penjepit rambutnya ke dalam lubang yang dimaksud oleh Jeffrey tadi, Jea segera memutarnya. Dan, borgol itu terlepas.


Hal pertama yang Jeffrey lakukan setelah borgol itu terlepas adalah menyeringai. Sebentar, kenapa Jeffrey mendadak seperti ini? Jea sedikit memundurkan posisinya hingga tubuhnya menempel pada sandaran kasur.


"Tuan? Bukannya—"


"Aku tidak pernah bilang akan melepaskanmu, kan?" Sela Jeffrey sambil tangannya mengelus permukaan pipi Jea tadi.


Rasanya Jea ingin menangis saja saat ini. Kenapa ia bisa sebodoh itu. Kini, Jeffrey bergerak mengambil borgol tadi, dan memasangkannya pada kedua tangan Jea yang sudah berkeringat dingin entah sedari kapan, "Kini giliranmu, sayang."


Tangan Jeffrey mulai menjelajah pakaian gadis itu. Pas sekali. Saat ini, Jea tengah mengenakan kemeja merah tipis yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Perlahan, Jeffrey mulai melepaskan kancing kemeja itu satu per satu. Menampilkan tubuh bagian atasnya yang hanya tertutupi dengan bra putih.


Nafas pria itu semakin memberat. Dengan begitu intens, bibirnya bergerak mencumbui semua permukaan tubuh itu. Jeffrey mulai menghisap pelan bagian dada atas Jea. Setelah itu, ia bergerak menjilati tulang selangkanya, membuat Jea memeram seketika. Rasanya begitu aneh, namun... tidak menyakitkan.


Jeffrey mulai menjilati perutnya, lagi-lagi melewati bagian dada Jea. Untungnya, Jeffrey tidak menjilati bagian bekas luka yang ada di perut Jea. Hembusan nafas hangat itu menerpa kulit putih perut gadis tersebut.


Dan kini, Jeffrey kembali bergerak ke atas. Wajahnya hanya berjarak setengah jengkal dari wajah Jea. Nafas panas keduanya saling beradu. Lagi-lagi Jeffrey harus terpana dengan tatapan sayu gadis di bawahnya. Sungguh, apakah ada perempuan lain yang bisa membuatnya segila ini selain dia?


Pelan-pelan, Jeffrey mengecup bibir Jea. Namun tidak seperti sebelumnya. Jeffrey mulai mengulum bibir ranum gadis itu. Beberapa kali Jeffrey mengigit pelan bibir merah muda tersebut dan menarik bibir bawah Jea sedikit. Membuat Jea sedikit membuka mulutnya. Sontak Jeffrey menelusupkan lidahnya ke dalam. Dan mulai mengajari Jea bagaimana cara untuk saling mengaitkan lidah satu sama lain.


Ingin sekali Jea meronta meminta dilepaskan namun tentu, mustahil. Sekarang, siapapun itu tau jika ia sudah tak bisa lagi kemana-mana.