
Tapi bagaimanapun juga, keadaan saat ini masih terlalu bahaya. Pihak kepolisian dan juga militer Toronto tidak hanya diam atas menghilangnya Jaehyun yang begitu tiba-tiba. Apalagi setelah adanya konfirmasi oleh federal paling besar sedunia. Tentu cukup menggemparkan seisi daratan Amerika Utara.
Jeffrey dan Jea sempat beberapa kali berpindah-pindah. Dari benua satu ke yang lainnya. Mereka sempat tinggal di Republik Chile, sampai Stockholm. Namun sekarang sudah lima hari lamanya Jea dan Jeffrey menetap di Osaka, Jepang.
"— Bereskan."
Samar-samar terdengar suara yang tidak jelas dari telepon bertali yang ada di atas nakas, mungkin sambungan dari bawahan Jeffrey.
Semenjak kepindahan Jeffrey, underground group-nya masih berjalan. Meskipun tidak seaktif sebelumnya. Kendati kembali menjalankan bisnis, mereka sekarang lebih sibuk untuk menghalau lacakan FBI atas Jeffrey.
Membunuh mata-mata FBI yang ada dimana-mana juga tidak gampang.
"Ya, potong semua jarinya kalau dia masih diam," Lanjut Jeffrey setelah mendengar beberapa patah kata dari sisi sebrang. Kemudian, sambungan terputus.
Ini masih terlalu dini untuk menggangu gadisnya tidur. Pukul satu malam, kalau ingin tau. Jeffrey tadi diam-diam meninggalkan Jea yang tengah tertidur pulas di kamar karena harus menyelesaikan urusannya yang tidak kunjung selesai.
FBI sialan.
Jeffrey melirik pada sekitar. Hening, dan gelap. Hanya remang-remang yang terlihat akibat sinar rembulan yang cukup terang merembas lewat ventilasi. Bunyi tetesan dari keran dapur bisa terdengar, saking sunyinya.
Jeffrey tidak suka keheningan seperti ini.
Jeffrey membencinya.
Pria itu memilih untuk kembali ke kamar, memeluk gadisnya lagi lalu tertidur. Seperti beberapa minggu ini yang sudah mereka lalui bersama-sama. Namun belum sempat lima langkah berjalan, Jeffrey mengernyit sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba pening.
Tunggu, sial. Jeffrey berusaha merutuki dirinya sendiri.
Dengan cepat ia menoleh kembali, menyapu pandangannya pada seluruh penjuru saat Jeffrey bisa mencium bau amis yang semakin menjadi, menyeruak masuk, menyengat hidungnya.
Matanya membulat, saat dengan jelas dirinya melihat tubuh yang tidak berdaya di lantai, penuh dengan darah yang hampir menenggelamkannya.
Tubuh Jeffrey mematung, masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Badannya mulai bergetar hebat, pandangannya tetap tidak lepas dari sosok mayat yang sudah terbaring bersimbah darah.
Deru nafasnya mulai memburu. Berkali-kali pikirannya mulai saling berkecambuk. Saling menyalahkan satu sama lain. Suara-suara di kepalanya semakin berkelebat menjadi satu, memarahinya, memakinya.
Jeffrey terduduk di lantai.
Tangannya terasa kebas dan tidak dapat digerakan saat perlahan air matanya mulai mengalir turun.
"I-Ibu."
Di suramnya kegelapan, tubuh itu masih ada disana, menemaninya dalam keheningan.
Pria itu mulai menunduk, menjambak rambutnya kuat, "J-jangan."
"J-jangan bunuh Ibu."
"JANGAN BUNUH IBU, BRENGSEK!"
Berkali-kali Jeffrey berteriak, memaki mengusir segala keheningan yang semakin menekannya. Jeffrey kalap. Benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan.
Bisikan-bisikan halus semakin terdengar kencang, memekik untuk segera dilepaskan. Jeffrey mengepalkan tangannya kuat-kuat. Berusaha menghalau bisikan itu yang terus-menerus menyuruhnya untuk hilang, atau mati.
"M-Mayat disana bukan perbuatanku."
Suaranya semakin melemah seiring dengan ketakutan yang semakin merayapi seisi tubuhnya. Tubuh pria itu meringkuk, begitu rapuh.
"I-Ibu maafkan aku..."
Jeffrey berkali-kali melontarkan kalimat yang sama. Mati-matian berusaha mengalihkan pandangannya dari mayat perempuan di lantai marmer sana.
"JEFFREY?" Jea yang beberapa menit yang lalu sudah terbangun lantas keluar dari kamarnya, ketika ia menyadari tidak ada Jeffrey di sampingnya.
Sontak gadis itu terkejut. Baru kali ini ia bisa melihat sosok Jeffrey yang ketakutan seperti itu. Buru-buru ia menghampiri pria itu lalu memeluk tubuh besar yang bergetar milik Jeffrey.
"J-Jeffrey? A-ada apa?"
Jelas-jelas bisa Jea rasakan bahwa tubuh itu benar-benar tidak karuan. Entah karena apa. Jeffrey tidak kunjung menjawab. Pria itu hanya bergumam tidak jelas sambil sesekali menyebutkan kata 'ibu' dari mulutnya.
"I-Ibu."
"I-Ibu? Apa maksudnya Jeffrey?"
Akhirnya, perlahan Jeffrey mengangkat kepalanya, mencuatkan matanya yang merah dan raut wajahnya yang begitu kacau. Demi apapun, Jea begitu terkejut sekarang. Dan entah bagaimana menjelaskannya, Jea seperti ikut merasa sakit melihat kondisi Jeffrey yang seperti ini.
"Ada apa Jeffrey??"
"Ibu— disana."
Lantas gadis itu melirik pada jari telunjuk Jeffrey yang mengarah pada suatu tempat. Tapi— tidak ada. Jea sama sekali tidak bisa melihat apapun disana. Tentu saja langsung membuat gadis itu semakin kebingungan.
"Tidak ada apa-apa disana, Jeffrey."
"Ibu. Disana ada Ibu."
Mata gadis itu menatap nanar. Tidak tau harus bagaimana. Dengan erat Jea mendekap tubuh Jeffrey ke dalam pelukannya, kemudian menangis.
Apa yang salah dengan Jeffrey saat ini?
Sungguh, Jea membenci jika ada sesuatu yang bisa membuat Jeffrey kesakitan.
Jea membencinya.
"Jeffrey nggak pa-pa. Ada Jea disini. Ada Jea. It's gonna be okay," Ujar gadis itu seraya mengelus-elus rambut Jeffrey yang nyatanya begitu lembut.
Berkali-kali, Jeffrey berusaha untuk menenangkan deruan nafasnya yang tidak menentu. Pikirannya mulai tidak sericuh sebelumnya saat elusan itu terasa begitu menenangkan.
Jeffrey memejamkan matanya erat-erat. Berusaha mengembalikan kesadarannya yang tadi sempat menghilang. Pelukan Jea terasa begitu hangat sampai-sampai Jeffrey merasa dunia tidak seburuk realita.
Benar. Saat ini ada Jea. Satu-satunya yang ia butuhkan adalah gadis itu, dan akan selalu begitu.
Kedua lengan besar itu membalas pelukan gadisnya. Dengan suaranya yang rendah, Jeffrey berbisik pelan, "Jangan tinggalkan aku."