
Tunggu. Ada yang aneh.
Jea sedari tadi terus melihat pemandangan yang—tidak masuk akal. Maksudnya, pria itu adalah pria yang sama dengan malam berdarah beberapa hari yang lalu. Tapi... Kenapa tingkahnya normal sekali saat ini?
Jeffrey masih tidak berucap apapun padanya, hanya berkutat pada kertas-kertas yang Jea sendiri tidak tahu apa isinya. Mungkin laporan? Karena tadi tidak sengaja Jea membaca kata-kata 'tahanan lolos' di salah satu carik kertas itu.
Ya, dia salah satu perempuan yang bisa membaca di era ini. Diam-diam, saat keluarga Collins pergi, Jea akan selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan pribadi keluarga Collins sampai hukuman kembali menderanya.
"Namamu."
Gadis itu tersontak saat tiba-tiba Jeffrey menyerukan isi pikirannya di tengah-tengah keheningan.
"I-Iya.. Tuan..?"
"Siapa namamu tadi?"
Jea meneguk salivanya berat, "Jea.. Jea Cochava."
Kali ini Jeffrey sukses mengalihkan pandangannya pada Jea yang sudah berdiri di sampingnya semenjak tadi, "Kamu takut sama saya?"
Lagi-lagi pria ini sukses membuat pikiran Jea porak-poranda. Bagaimana bisa dia menanyakan hal itu jika hal pertama yang ia lakukan di depan Jea adalah membunuh orang?
"T-tidak.."
Jeffrey menghela nafasnya, "Maaf kalau sebelumnya saya pernah buat kamu takut atau sebagainya. Itu diluar kendali. Dan, nama saya Jaehyun."
Hm? Apa maksudnya? Jea semakin tidak mengerti dengan deraian kata yang baru terpapar dari bibir pria itu.
Bukankah sebelumnya pria ini mengenalkan dirinya sebagai Jeffrey?
"Maaf Tuan.. B-bukannya nama Tuan itu.. J-Jeffrey?"
Mendengar hal itu lantas membuat pandangan Jaehyun sedikit lebih serius dari yang sebelumnya, "Kamu ketemu Jeffrey sebelum ini?"
Tunggu— jadi mereka adalah orang yang berbeda? Kembaran kah? Atau bagaimana? Jea semakin merasa bodoh disini.
Tapi kendati menanyakan apa maksud ucapan tadi, Jea hanya mengangguk, "Iya tuan.."
Jaehyun menghela nafas gusar. Pikirannya benar. Tebakannya sedari tadi yang menari-nari di otaknya terbukti sudah. Lagi-lagi ulah Jeffrey, pikirnya. Pantas saja ia bingung dengan kehadiran perempuan satu ini yang mengaku sebagai budaknya.
"Begini, mungkin kamu bingung. Tapi, malam nanti, jangan kemana-mana dan kunci kamarmu ya?" Tutur Jaehyun lagi yang membuat gadis di sampingnya kembali mengangguk.
Satu hal yang sudah lama melekat dalam diri Jea adalah; jangan pernah banyak bertanya jika tak ingin dihukum.
"Maaf atas ulah Jeffrey ke kamu sebelumnya. Saya juga nggak tau dia ngapain tapi, pasti nggak bagus ya?" Kini tatapan Jaehyun sedikit melunak saat melihat tubuh ringkih Jea yang penuh lebam.
Kali ini Jea bingung harus menjawab apa. Jeffrey memang melakukan hal buruk, tapi bukan pada dirinya. Lantas apa yang harus ia jawab?
"Em.. Tuan Jeffrey tidak melakukan hal buruk ke Jea."
Jaehyun tidak membalas. Namun tatapannya sedikit bingung dan penasaran. Lalu kenapa perempuan ini bisa takut saat melihat sosoknya sebagai Jeffrey? Ah, sudahlah. Ia harus segera mengurus laporan dari beberapa kapten militer di hadapannya ini.
"Kalau kamu capek, duduk aja."
Bukannya senang, Jea malah merasa takut. Apa setelah ia duduk, Jaehyun akan menghukumnya?
"Saya nggak bakal ngapa-ngapain kamu. Duduk."
Merasa seperti baru dititahkan, Jea dengan cepat duduk pada kursi yang menempel di dinding. Sudah tak tahu lagi akan hal apa yang akan menimpanya nanti. Tidak peduli, yang penting ia hanya mengikuti perintah.
Tatapan Jea terus jatuh pada Jaehyun. Diam-diam Jea merasa jika Jaehyun adalah pria paling berkarisma yang pernah ia jumpai selama 19 tahun kehidupannya. Apa laki-laki diluar sana memang berbentuk seperti Tuan Jaehyun ini?
Keadaan di ruangan Jaehyun juga... tenang sekali. Beberapa kicauan burung terdengar di balik ventilasi. Ruangannya minimalis, bercat putih tanpa banyak ornamen menghiasi. Hanya satu lemari kayu yang berisi tumpukan kertas, dua kursi yang menempel di dinding, satu kipas biru kecil yang terletak diatas meja, dan satu meja kayu juga kursi besar yang tengah diduduki Jaehyun saat ini.
Entah kenapa, Jea merasa aman disini. Padahal seharusnya, ia harus waspada dengan orang baru yang ditemuinya. Tapi lihatlah, Jaehyun tidak terlihat seperti orang jahat sedikitpun. Bahkan dari gaya ucapannya sedari tadi, tuturnya terkesan terlalu sopan pada budaknya sendiri.
Mungkin sudah satu jam berlalu dengan aktivitas yang hening seperti ini. Jaehyun yang berkutat pada kertas diatas meja, juga Jea yang hanya termenung menatap Jaehyun. Sejujurnya, gadis itu bingung harus bertindak seperti apa. Karena ia belum pernah menjadi budak secara resmi sebelumnya. Ah.. apa ini illegal? Entahlah.
Apa ia harus bersih-bersih? Atau bagaimana?
Jantungnya terperanjat saat melihat Jaehyun yang berdiri tiba-tiba dari kursi. Pria itu memakai mantel hitam yang membalut seragam hijaunya. Lalu tatapan Jaehyun mengarah pada Jea yang semakin berkeringat dingin.
Kentara sekali kalau perempuan itu takut setengah mati padanya.
Jeffrey brengsek.
Jea kembali mengangguk dengan patah-patah. Sepertinya ia harus belajar bagaimana cara untuk tidak takut dengan orang lain, "B-baik Tuan.."
Setelah menatap pada arloji rantainya, Jaehyun berjalan ke arah pintu, "Ayo, kita pergi."
Perempuan itu dengan cepat mengekor di belakang Jaehyun yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan. Jika dilihat-lihat, tubuh Jaehyun ini memang tegap sekali. Bahkan bahunya sangat lebar. Punggungnya juga... indah untuk dilihat. Ah, apa yang Jea pikirkan saat ini?
Mereka melalui beberapa ruangan tertutup juga beberapa sel tahanan. Jea sedikit bergedik ngeri saat melihat tatapan-tatapan bengis dari para tahanan di dalam sel itu. Terlihat sangat sangar. Namun ada beberapa juga yang meringkuk takut di dinding sel.
Markas militer ini besar sekali. Sampai-sampai Jea merasa teramat senang saat ia melihat pagar besar tempat tadi Jea masuk dengan beberapa pria sebelumnya. Akhirnya keluar!
Langkah kaki Jea terus mengikuti Jaehyun yang bergerak menuju sebuah mobil mustang hitam yang terpakir di perkarangan markas militer. Tapi langkahnya langsung berhenti saat Jaehyun masuk ke dalam mobil.
Lantas Jaehyun menatap bingung pada Jea. Apa yang dilakukan perempuan ini? Kenapa malah berdiri di depan mobilnya?
Jaehyun menurunkan kaca mobilnya, "Hei, masuk."
Dengan gerakan kikuk Jea akhirnya mendekati kaca mobil itu, "Maaf Tuan.. Tapi.. Bagaimana caranya?"
Lagi-lagi Jea sukses membuat Jaehyun terkejut entah untuk yang keberapakalinya. Jadi gadis ini belum pernah masuk ke dalam mobil selama hidupnya? Padahal dari informasi yang tadi ia baca, Jea adalah anak angkat dari keluarga Collins.
Jaehyun tidak mau banyak bicara. Ia langsung kembali keluar dari mobil mustangnya lalu bergerak ke arah pintu yang berlawanan, "Masuk."
Dengan gugup Jea berjalan mendekat pada Jaehyun yang tengah membukakan pintu mobil untuknya, "Terimakasih Tuan."
Pria itu tidak menjawab. Setelah memastikan jika Jea sudah duduk dengan benar di mobil, ia segera menutup pintu mobil kanan dan bergerak ke sisi sebelumnya.
Mobil itu melaju dengan cepat, membelah jalanan sepi yang terasa panas akibat terik matahari.
Selama perjalanan, masih tidak ada percakapan yang terjadi. Hening. Namun tidak menjadi masalah bagi keduanya. Toh hubungan mereka yang sebenarnya hanyalah sebatas tuan dan budak saja bukan?
Tapi sepertinya Jaehyun tidak berpikiran demikian.
"Saya dulunya tentara di Vancouver, tapi dipindahtugaskan ke Toronto sebagai kepala kepolisian. Tapi kadang saya masih berkunjung ke markas militer sebagai tentara," Papar Jaehyun yang masih sibuk menyetir.
Jea menoleh. Apa tadi Jaehyun baru saja mengajaknya berbincang? Lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri apa ini adalah hal yang normal atau tidak.
Karena bingung, Jea hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Siapa tau kamu penasaran kerjaan saya apa," Balas Jaehyun setelah sekilas melihat anggukan Jea.
"Kamu juga kalau mau ngomong sesuatu, ngomong aja langsung ke saya. Jangan takut. Kamu nggak perlu formal seperti budak ke tuannya. Saya nggak nggangap kamu sebagai budak."
Jea membulatkan matanya. Kenapa Jaehyun bisa mengutarakan hal itu? Pikirnya.
"Saya bukan tipikal orang yang mengabaikan hak asasi manusia."
Tidak tahu harus bagaimana, Jea hanya terdiam. Ternyata Jaehyun ini orang yang susah sekali untuk ditebak. Atau mungkin gadis itu saja yang memang susah untuk mengerti orang lain?
Yah, entahlah.
Mobil mustang Jaehyun berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang terletak sendirian di balik pepohonan rindang. Setelah Jaehyun mengajarkan cara untuk membuka pintu mobil, pria itu langsung keluar dari mustangnya diikuti oleh Jea di belakang.
Rumah yang cantik, pikir Jea yang tengah berjalan di pekarangan rumah itu. Bahkan terlihat lebih bagus dari rumah keluarga Collins dulu. Meski ukurannya hampir sama, tapi rumah keluarga Collins lebih berpatokan pada ornamen kayu ketimbang rumah Jaehyun yang terkesan lebih modern.
"Ayo masuk," Jea lantas melihat pada Jaehyun yang sudah membukakan pintu rumahnya. Gadis itu sedikit berlari-lari kecil setelah melihat Jaehyun yang menghilang dibalik pintu kecoklatan itu.
"Wah.." Ucap Jea tak sadar setelah melihat betapa indahnya segala aspek di dalam rumah ini. Ternyata bukan hanya luaran saja yang mencuri hati, dalamnya juga indah sekali.
Jea terkejut saat matanya tidak lagi mendapati Jaehyun berjalan di depannya.
Namun hal yang lebih membuatnya terkejut adalah suara perempuan lain yang menyeruak ke dalam telinganya.
Cepat, netra coklat Jea terarah pada seorang wanita cantik yang berjalan keluar dari ruangan yang terlihat seperti kamar beriringan dengan Jaehyun.
Sungguh, Jea tidak berbohong saat mendapati kenyataan jika wanita itu terlampau sekali cantiknya.
Siapa perempuan itu?
Terlihat akrab sekali dengan Jaehyun sampai-sampai pria itu bisa tersenyum manis seperti saat ini.
"I will miss you so bad."
Jaehyun kembali menorehkan senyumnya lalu membalas pelukan wanita itu, "Jangan lama-lama, nanti aku rindu."