
"... Nyonya Ana, sudah kembali ke Toronto."
Berkali-kali Jeffrey berusaha mencerna apa maksud di balik perkataan tadi. Namun nyatanya ia kembali mendecak. Kenapa perempuan itu harus pulang secepat ini?
Sebenarnya, jika Jeffrey memilih untuk masa bodoh dengan semua hal akan kehidupan Jaehyun, tentu hal itu sangat mudah untuk dilakukannya.
Tapi tidak. Dirinya tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa tubuhnya adalah tubuh Jaehyun juga. Meskipun ia sendiri juga tidak tahu-menahu alasan mengapa sampai detik ini Jaehyun tak pernah muncul kembali.
Ana adalah perempuan penting bagi Jaehyun. Begitu juga dengan keluarga Jaehyun, karena yang Jeffrey tahu, Ana adalah salah satu anak dari teman ayah Jaehyun.
Semuanya akan rumit jika Ana menyadari bahwasanya Jaehyun telah menghilang. Meskipun seisi Toronto sudah cukup gempar karena hilangnya Jaehyun.
Dan jika semuanya berujung dengan ayah Jaehyun yang tahu mengenai fakta satu itu, semua akan kacau.
Perlu diketahui kalau ayah Jaehyun adalah elite politik yang duduk di salah satu kursi tertinggi Uni Soviet. Koneksi pria tua itu tidak main-main. Jeffrey harus ekstra hati-hati jika tidak ingin kembali ke pusat markas FBI.
Sepertinya roda kehidupan Jeffrey memaksa pria itu untuk segera pulang ke Toronto, dan mulai menjalani hidup sebagai Jaehyun dalam kepura-puraan yang ada.
Dan Jeffrey sangat membenci saat fakta menamparnya untuk menjalani hidup yang Jaehyun lakukan.
"Ada apa Jeff?" Setelah hampir setengah jam terdiam di posisi yang sama, Jea mulai berani untuk bersua. Menuntun pandangan Jeffrey agar beralih padanya.
Jeffrey tersenyum, berusaha menenangkan Jea yang hanya bisa menutup bibirnya rapat-rapat. Yang kini perempuan itu yakini, Jeffrey tidak seharusnya tersenyum saat ini.
"There's nothing wrong, babe. It's okay."
Tentu Jea juga ikut mendengar apa yang diucapkan Jungwoo beberapa waktu yang silam, mengenai Ana. Jea masih tak melupakan sosok perempuan itu. Perempuan yang diakui Jaehyun sebagai istrinya.
Lalu saat ini harus bagaimana? Jea yakin jika Ana tidak mengetahui sama sekali mengenai problematika yang Jaehyun hadapi; kepribadian gandanya.
"Kalau kita balik ke Toronto, kamu nggak masalah?" Tanya Jeffrey kemudian, membuat segala suara di kepala gadis itu lenyap seketika.
Berusaha terlihat normal sebisa mungkin, Jea tersenyum cerah lalu mengangguk, "Jea nggak pa-pa, selagi itu yang paling Jeffrey butuhkan saat ini."
Pria itu hanya dapat mengelus puncak rambut Jea pelan. Entahlah— sepertinya kepulangan Ana tidak akan menguntungkan apapun baginya.
Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.
"Kalau begitu, kita pulang ke Toronto sekarang."
【under sun】
Butuh beberapa hari untuk sampai kembali ke Toronto. Kota itu masih padat seperti biasanya, tidak ada yang berubah selain beberapa hal kecil yang tak perlu diperhatikan.
Deruman mobil melaju pesat di salah satu dari sekian banyaknya jalanan Toronto. Panorama sekitar juga bangunan-bangunan masih tak banyak yang terlupakan di benak keduanya.
Toronto masih sama.
Jeffrey mulai kembali mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam setelah memasang military headgear di atas kepalanya.
Beberapa kali Jeffrey melabuhkan elusan di atas permukaan kulit punggung tangan Jea. Sedangkan gadis itu hanya melihat ke luar jendela, menikmati sesuatu yang terasa seperti nostalgia singkat.
Kemudian Jeffrey kembali memikirkan sesuatu mengenai Ana. Seharusnya wanita itu tidak tahu sama sekali mengenai menghilangnya Jaehyun. Karena meski hampir seluruh warga Toronto mengetahui insiden menghilangnya Jaehyun, Jeffrey sudah mengerahkan segala jaringan yang ia punya untuk menutupi mulut-mulut itu.
Sehingga jika sesuai dengan rencananya sampai saat ini, Ana masih belum tahu apa-apa. Wanita itu hanya mengetahui tentang Jaehyun yang kini tengah melakukan tugas kepenyidikan di luar Toronto.
"Sebentar lagi akan sampai, bos," Ucap Jungwoo yang tengah menyetir, menghamburkan lamunan Jeffrey seketika.
"Aku harus berpura-pura jadi Jaehyun buat sementara. Kamu keberatan?" Tanyanya pelan, diiringi dengan suara rendahnya yang terdengar sedikit serak.
"Jea nggak keberatan."
Perempuan itu hanya tersenyum dan melontarkan tiga patah kata. Terlalu bingung ingin menjawab apa. Pikirannya benar-benar kosong untuk beberapa alasan, ia sendiri juga tak mengerti mengapa.
"I'll make sure everything is gonna be okay for you," Tambahnya lagi, lalu mengecup bibir Jea singkat.
Setelah kecupan itu, mobil yang Jungwoo kendarai berhenti tepat di perkarangan rumah yang sudah lama sekali rasanya tidak mereka lihat. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun.
Tepat beberapa detik sebelum Jeffrey membuka pintu mobilnya, ia kembali melihat gadis di sampingnya. Lalu ia memilih untuk segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah dua tingkat itu.
Jea ikut berjalan mengekori Jeffrey setelah keluar dari mobil dan mengucapkan terima kasih terlebih dahulu pada Jungwoo. Matanya mendapati jika Jeffrey sudah masuk ke dalam rumah. Sejujurnya, sedikit membuat Jea berdebar.
Bagaimanapun, Ana adalah istri Jaehyun. Dan tubuh Jeffrey adalah tubuh Jaehyun juga. Tentu mereka berbagi perasaan juga pikiran yang sama. Apakah Jeffrey akan memperlakukan Ana seperti pria itu memperlakukan dirinya?
Pelan-pelan Jea mengintip ke dalam rumah, tidak mendapati siapapun disana.
Lantas ia memilih untuk segera masuk ke dalam. Pandangannya berputar kesana-kemari, mencari keberadaan sepasang manusia yang entah dimana.
Matanya sedikit membulat ketika ia mendengar jelas tawaan lembut yang sudah lama tak Jea dengar. Sosok Ana muncul di balik ruang tengah, seraya menautkan jemarinya pada Jeffrey.
Rasanya aneh. Gelenyar aneh mulai memenuhi seisi tubuh dan pikirannya. Mata gadis itu tak mampu terlepas dari tautan tangan Jeffrey dan Ana. Sungguh, rasanya Jea tidak suka melihat hal itu.
"Oh, hei, sudah lama tidak bertemu," Ana berjalan sedikit lebih cepat dari Jeffrey, setelah tadi tak sengaja tatapan keduanya bertemu.
"H-Halo Nyonya," Jea sedikit menundukan kepalanya yang hanya dibalas pekikan pelan Ana.
"Jangan begitu! Saya bukan siapa-siapa kamu sampai kamu harus nunduk begitu ke saya," Ana kemudian tersenyum lalu menggengam kedua tangan Jea.
"A-Ah, maaf."
Gadis itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya pelan. Lidahnya kelu, kembali merasa gugup dan tidak tahu harus bagaimana dalam mengungkapkan ekspresinya.
Mata Jea tak sengaja bersitatap dengan milik Jeffrey. Pria itu hanya ikut terdiam. Tidak mengutarakan hal apapun, bahkan tidak dengan sedikit torehan senyum.
"Kalau begitu, gimana kalau kita makan dulu? Saya sudah lama nggak makan sama suami saya, kamu mau ikut?" Tanya Ana kemudian, membuat kontak mata keduanya langsung terputus.
Rasanya seperti ada yang menancap di dadanya ketika Ana mengakui Jeffrey sebagai suaminya, dan pria itu sama sekali tidak menentang.
"K-Kalau tidak mengganggu, Nyonya."
Ana tersenyum lebar. Wanita itu beralih berjalan mendekati Jeffrey lalu mengecup pipi pria itu singkat, "Sepertinya makan bertiga juga seru, iyakan Jaehyun?"
Jeffrey lantas melirik Ana yang tengah berbinar-binar. Membuat pria itu ikut tersenyum, menampilkan dua lesung pipinya yang begitu dalam.
"Iya, tapi makan berdua sama kamu itu yang paling enak," Jeffrey beralih mengelus puncak rambut Ana dan mengecup singkat kening wanita itu, seraya melirik pada gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Sekujur tubuh perempuan itu rasanya lemas. Kakinya terasa tidak mampu menopang berat tubuhnya sama sekali. Sekuat tenaga Jea berusaha menormalkan ekspresinya di hadapan dua sejoli itu.
Jika ia tidak ingin menghancurkan segala rencana Jeffrey, dirinya harus menjaga sikap dengan sempurna tanpa cela.
Jea tahu jika semuanya hanya sekedar sandiwara, tapi mengapa perasaannya juga tak bisa memahami keadaan— dan ikut bersandiwara sebagaimana yang seharusnya?