Under Sun

Under Sun
7. Different Creatures



"Makanannya tidak enak ya?"


Cepat-cepat Jea mengalihkan tatapannya yang tadi kosong pada pria itu, "T-tidak Tuan.." Jea menggeleng kemudian.


Jaehyun tidak membalas, ia hanya kembali lanjut memakan sebuah apel hijau dingin di tangannya. Netra hitam itu berkali-kali menatap pada arloji perak di tangan kiri Jaehyun, lantas ia semakin mempercepat kunyahannya.


Mengenai semalam, Jea masih tidak habis pikir. Bagaimana bisa ia bertemu kembali dengan pria yang mungkin sangat ingin Jea hindari? Entahlah, Jeffrey memang terlihat seperti sudah menyelamatkannya, tapi tetap saja menakutkan bukan?


Berkali-kali Jea sempat merutuki dirinya sendiri saat ia kelepasan memeluk Jeffrey dengan begitu erat saat guntur mengagetkannya. Bahkan Jea benar-benar tak bisa berkutik di hadapan Jeffrey yang sedang meraba-raba permukaan kulitnya. Bahkan bibir basah itu mencium bibir Jea! Tidak masuk akal.


Namun hal yang lebih membuat Jea penasaran adalah, kemana Jeffrey saat pagi menyapa? Di malam dengan hujan deras itu, Jea tidak sadar telah tertidur dalam dekapan Jeffrey. Tetapi saat perempuan itu membuka mata, tidak ada lagi tangan yang mengukung tubuhnya posesif. Hilang, begitu saja. Seperti tidak ada hal yang terjadi sebelum ini.


Jea sedikit terkejut saat mendengar helaan nafas berat dari pria di sebrangnya. Apa Jea lagi-lagi membuat sebuah kesalahan?


"Maaf."


Maaf? Maksudnya? Jea mulai berpikir keras atas ucapan yang barusan terlontar dari mulut Jaehyun. Apa ucapan tadi untuknya? Karena Jaehyun mengucapkan hal itu sambil melihat jelas pada sepasang matanya.


"M-Maksudnya Tuan?"


Jaehyun awalnya berdiam diri. Tidak mengucapkan hal apapun. Meski tatapannya masih terarah pada Jea yang terlihat kebingungan. Apa perempuan ini memang sebingung itu?


"Maaf atas perlakuan Jeffrey ke kamu."


Lagi-lagi Tuannya ini berbicara tentang Jeffrey. Seolah-olah Jaehyun dan Jeffrey adalah sobat karib yang teramat akrab. Mengapa harus Jaehyun yang meminta maaf atas prilaku Jeffrey? Jea bahkan sudah pusing memikirkan segala jenis perkiraan yang tersusun di dalam otaknya.


"Jeffrey itu saya. Saya itu Jeffrey. Sampai sini kamu paham?" Tutur Jaehyun lagi, kali ini sedikit lebih serius daripada yang sebelumnya.


Jea masih bingung tentang kalimat yang harus ia lontarkan sebagai jawaban. Melihat ekspresi Jea yang tak banyak berubah dari yang sebelumnya, membuat Jaehyun sedikit berinisiatif untuk memaparkan lebih lanjut.


"Saya mengidap penyakit yang, cukup langka. Dalam kasus penyakit ini, saya punya dua kepribadian. Saya dan Jeffrey. Kami berbagi satu tubuh tapi kami tetap berbeda. Alasan saya nyuruh kamu buat langsung masuk ke kamar sebelum jam delapan malam karena itu adalah waktu Jeffrey muncul. Saat siang, saya akan menjadi Jaehyun yang semua orang tahu, dan malam... Jeffrey. Tubuh saya milik Jeffrey."


Gadis itu tampak berpikir sebentar, lalu ia mengedipkan matanya berkali-kali, "Jadi... Tuan Jaehyun dan Tuan Jeffrey itu sama?"


Jaehyun hanya berdehem sekilas sebagai jawaban, membuat Jea hanya mengangguk-angguk, entah mengerti atau tidak. Namun satu hal yang pasti, Jea paham betul jika Jaehyun dan Jeffrey adalah orang yang sama, meski mereka berbeda. Ah... sungguh sulit untuk dijabarkan.


"Lain kali, berusahalah untuk jangan berurusan dengan Jeffrey. Bahaya," Jaehyun kembali memberhentikan aktivitasnya lalu kembali melihat ke arah perempuan itu yang tampak linglung. Apa ucapannya memang bisa membuat Jea sebingung itu?


"Baik Tuan," Jea mengangguk, berusaha untuk terlihat paham, agar setidaknya Jaehyun tidak lagi terus-menerus menatapnya.


Jaehyun lantas berdiri saat rotary phone yang berdering di atas meja kayu ukir. Jea mengarahkan tatapannya pada si tuan yang tengah berbincang-bincang dengan seseorang di sebrang sana. Berkali-kali juga netra coklatnya bertubrukan dengan milik Jaehyun, membuat Jea mulai bertanya-tanya.


"Sebentar lagi saya akan kesana."


Sambungan itu tertutup. Awalnya, Jaehyun bergeming, seperti... tengah memikirkan sesuatu. Lalu ia berjalan mengambil mantel hijau tua nya, "Ayo ikut saya."


"M-maksudnya Tuan..?" Jea mengerutkan alis tak mengerti.


"Saya di panggil ke Michigan karena ada kasus penting disana. Nggak mungkin kan saya ninggalin kamu disini sendirian?" Jaehyun melemparkan pertanyaan balik yang lantas mengakibatkan Jea termenung. Ah.. begitu rupanya.


Jaehyun mengambil mantel lain berwarna cream dengan ukuran yang terlihat lebih kecil daripada yang digunakan oleh pria itu. Kemudian Jea kembali bingung dengan perlakuan Jaehyun padanya, kenapa tuannya ini menyodorkan mantel padanya?


Dengan gerakan perlahan, Jea meraih mantel itu. Sepertinya Jea memang harus banyak-banyak belajar tentang prilaku Jaehyun dan Jeffrey yang sangat tidak biasa, "Terimakasih banyak Tuan.."


Pria itu mengangguk sekilas lalu berlalu, mengambil kunci mobil mustang dan meraih topi kepolisiannya. Jaehyun berjalan ke arah pintu sebelum akhirnya ia menoleh, "Ayo."


Jea sedikit berlari kecil demi mengikuti langkah Jaehyun yang terpaut beberapa meter di depan. Matanya sedikit menyipit dikala sinar mentari merembas masuk ke dalam netra matanya, sepertinya gadis itu memang belum terbiasa dengan cahaya matahari.


Mobil mustang hitam itu melaju pesat di tengah-tengah jalanan kosong. Jea menatapi beberapa pejalanan kaki yang berdiri di tepian jalan sambil memegangi kardus dengan tulisan terpatri disana. Dua dari mereka ada yang melambai ke arahnya, membuat Jea tersenyum kikuk.


Selama perjalanan, tidak ada percakapan khusus yang terjadi. Jaehyun yang fokus dengan kegiatan mengemudinya, juga Jea yang sibuk melihat ke arah luar jendela lalu berkali-kali terkejut. Sampai membuat Jaehyun merasa aneh, apa yang sebenarnya dikejutkan oleh Jea? Sedari tadi mereka hanya melewati bangunan-bangunan minimalis dengan cat yang sudah pudar, juga beberapa pejalanan kaki.


Perjalanan menuju Michigan memakan waktu sekitar lima jam menggunakan mobil. Sedangkan mereka baru saja melewati dua jam pertama. Sesekali, Jaehyun melirik Jea yang ternyata masih bersemangat menatap ke luar jendela.


"Sebentar," Jea mengalihkan tatapannya pada Jaehyun saat pria itu tiba-tiba memecahkan keheningan di antara mereka.


Mobil itu berjalan ke arah sebuah mesin pengisi bahan bakar lalu berhenti, mengakibatkan Jea terlihat bingung mengapa mobil ini berhenti seketika.


Jaehyun keluar dari mobilnya, lalu mulai memasukan dua lembar uang dan memencit tombol di mesin itu. Setelah selesai, Jaehyun kembali masuk ke dalam mobil.


"Itu apa Tuan??" Tanya Jea penasaran.


"Mesin pengisi bahan bakar."


Jea hanya mengangguk-angguk meski ia masih belum mengerti. Namun tak lama setelahnya, raut wajah Jaehyun terlihat sangat serius. Ekor matanya kini mengarah pada pohon yang cukup rindang di tepian jalan.


"Hitungan ketiga, kamu keluar dari mobil, dan lari ke belakang runtuhan bangunan di depan."


Lagi-lagi gadis itu harus mengernyit tak paham, "Maksudnya—"


"Cepat."


Jea tak lagi bertanya. Ia memutuskan untuk menjalankan instruksi pria itu karena tampaknya ada sesuatu yang bermasalah.


"Satu."


"Dua."


Jaehyun melirik Jea sekilas, "Tiga."


Buru-buru Jea keluar dari mobil dan berlari secepat yang ia bisa. Tiga detik sebelum Jea sempat berlindung di balik runtuhan bangunan kecil, sebuah ledakan memekakan telinganya.


Mata gadis itu memejam kuat saat telinganya merasa ngilu. Ledakan dalam radius dekat seperti tadi memang cukup berbahaya untuk pendengaran. Jea yang sudah sukses berlindung di balik runtuhan lantas menoleh melihat ke arah Jaehyun.


Netranya membulat ketika mendapati mobil mustang hitam tersebut sudah dilalap api, bahkan daerah di sekitar mesin pengisi bahan bakar itu juga sudah meledak. Jea cepat-cepat menengok ke kiri dan kanan, bahkan pandangannya ia sapukan ke seluruh penjuru. Tidak ada. Jaehyun menghilang.


Bagaimana dengan Jaehyun?


Apa.. tuannya itu tidak sempat keluar dari mobil?


Oh tidak, Jea mendadak lemas.