Under Sun

Under Sun
22. When Jeffrey Kisses Jea



Hari ini adalah hari dimana Saint James Festival datang. Salah satu dari hari penting lainnya yang teramat ditunggu-tunggu selama pertengahan tahun di Santiago.


Sudah hampir jam sepuluh malam, dan hampir tidak ada tempat kosong yang masih tersedia di sepanjang jalanan Santiago. Semuanya ricuh, meramaikan festival yang kini tengah diselenggarakan besar-besaran.


Bunyi terompet sedari tadi berkumandang, diiringi dengan suara canda tawa anak-anak yang berlarian, juga riuh dari obrolan campur aduk masyarakat di trotoar.


"Kamu mau?"


Karena terlalu berisik, Jea sedikit mendekatkan tubuhnya pada Jeffrey yang baru saja bertanya padanya, "Apa Jeffrey?"


Mendapati pertanyaan yang lagi-lagi sama, Jeffrey mendekatkan bibirnya hingga terasa menyentuh daun telinga dingin Jea, "Anting ini, kamu mau?"


Lantas Jea melirik pada barang yang sedang Jeffrey sentuh, sepasang anting berkilau berwarna keemasan dengan permata tunggal yang berukuran cukup sedang.


"Boleh," Jea tersenyum saat Jeffrey langsung menyerahkan selembar uang pada kakek tua yang mendagangkan barang-barang diatas meja panjang.


"Jangan bergerak."


Di tengah-tengah kepadatan yang membludak, keduanya tampak seperti memiliki dunianya sendiri. Jea hanya terdiam, bermaksud mengikuti titah Jeffrey barusan ketika pria itu sedang memasangkan anting-anting baru tadi pada telinga Jea.


"Anything looks great on you, babe," Jeffrey langsung mengecup singkat pipi Jea, membuat gadis itu sedikit membelalak lalu melirik ke sekitar, merasa malu karena mendapati beberapa pasang mata tak sengaja memergoki keduanya.


"J-Jeffrey!"


Lantas pria itu tertawa, diikuti pergerakan Jea yang memukul pelan bahu Jeffrey yang sedikit bergetar.


Sudah dua jam lamanya mereka menghabiskan waktu di jalanan Santiago, bersama-sama. Menikmati panorama malam yang tidak ada duanya.


Jeffrey kembali menggengam tangan gadis itu, memasukan kepalan tangannya bersama Jea agar masuk ke dalam saku mantelnya ketika dirinya bisa merasakan jika jemari Jea terasa sedikit lebih dingin dari pada yang sebelumnya.


Mereka berjalan beriringan, menelusuri di tepian jalan yang padat. Jalanan Santiago seperti menjadi pasar dadakan. Stand jualan berada dimana-mana. Boneka badut bergerak kesana-kemari, menemani anak-anak yang memang bermain bersama.


Tadi, Jeffrey dan Jea sempat berhenti sebentar untuk melihat pertunjukan permainan alat musik klasik di trotoar. Mereka juga menyempatkan diri untuk ikut menari bersama yang lainnya saat terompet juga harmonika berkumandang, membuat para penduduk Santiago beramai-ramai berdansa dengan pasangannya di tengah jalanan.


"Ayo," Jeffrey dengan pelan menarik tangan Jea, pergi ke suatu tempat demi menghindari kericuhan yang semakin menjadi.


Jea tidak bertanya, hanya ikut berjalan membelok pada sebuah lorong yang dihimpit oleh dua bangunan tua, semakin menjauh dari keramaian.


Keadaan semakin menghening seiring dengan derap kaki mereka yang mulai terdengar lebih berisik dari pada apapun itu.


Jea mulai mengernyit ketika Jeffrey menuntunnya untuk berjalan di antara semak-semak yang sedikit mengelitik. Tidak ada penerangan, maupun orang.


"Jeff—" Sontak gadis itu berhenti. Tidak berniat untuk melanjutkan ucapannya tadi saat kakinya ikut menghentikan tapakan seperti apa yang Jeffrey lakukan.


Remang-remang Jea bisa melihat pria itu melirik ke belakang, tersenyum padanya seirama dengan hembusan angin yang terasa semakin dingin.


"Pakai," Jeffrey melepaskan mantelnya, lalu menyampirkan di bahu Jea yang sebenarnya sudah memakai mantel juga. Menyisakan kaos hitam cukup tipis yang menyetak tubuh atletis itu.


"Tapi, Jeffrey?"


"I'm fine, so take that."


Kemudian sesuai apa yang dititahkan, Jea mengangguk dan memakai mantel itu. Sehingga tubuhnya terlihat lebih menggembung karena menggunakan dua mantel tebal sekaligus.


Jeffrey kembali berjalan beberapa langkah, berdiri di tepian danau yang luas. Dirinya tersenyum lagi.


"Aku mau berduaan sama kamu."


Perkataan Jeffrey barusan mampu membuat Jea menghangat. Bahkan pipinya sedikit bersemu merah muda. Jea lantas mengikuti langkah Jeffrey dan ikut berdiri di sampingnya.


Pria itu kembali menggengam tangan Jea. Ia lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam sebuah sampan yang berada di samping danau. Pelan-pelan Jeffrey membantu Jea untuk ikut masuk ke dalam sampan sampai gadis itu juga bisa mendaratkan tubuhnya diatas kayu tempat duduk sampan.


Sepasang mata perempuan itu terus terbelalak saat dirinya menyadari bahwa berada di tengah-tengah danau saat malam datang itu terasa begitu hebat.


"Kamu—"


Sontak Jea menilik pada Jeffrey yang terdengar ingin berbicara sesuatu ketika ia sudah berhenti mendayuh. Cukup lama gadis itu harus berdiam diri, penasaran karena tidak ada lagi lanjutan dari sang empu.


"Kamu pasti lebih nyaman sama Jaehyun kan?"


Jeffrey menatap Jea dalam diam. Berusaha menemukan celah yang sungguh ia harapkan dari bola mata yang juga melirik padanya. Jea tak kunjung menjawab, membuat Jeffrey lagi-lagi harus merutuki dirinya kenapa ia harus menyadarkan dirinya dengan fakta itu.


"Tuan Jaehyun? Ya, Jea nyaman bersama Tuan Jaehyun," lontar Jea yang langsung menorehkan senyuman tipis di wajah Jeffrey. Tentu, seharusnya Jeffrey sudah tahu jika tidak ada satupun yang akan menganggapnya lebih dari sekedar onggokan sampah.


Sama seperti bagaimana ayahnya melihat dirinya.


"Tapi Jeffrey... Jeffrey lebih berarti."


Awalnya Jeffrey sedikit menunduk ke bawah, tidak lagi ingin melihat sosok rupawan di hadapannya.


"Apa?"


Pria itu kembali mendongak, menatap perempuan yang teramat ia gilai dengan sepenuh hati. Lagi-lagi berusaha mencari makna tersirat dari netra itu, "Apa?" Ulangnya lagi, masih ingin ditampar lebih dari sekali dengan runtaian kalimat tadi.


Malu-malu Jea sedikit melihat ke sekitar, tidak ingin membalas tatapan Jeffrey yang seperti berusaha menelanjanginya, "Um, Jea lebih suka Jeffrey."


Entah apa yang bisa membuat Jeffrey sesenang ini di sepanjang hidupnya. Dalam pertama kali, Jeffrey tersenyum begitu lebar.


Jea ikut tersenyum saat ia tahu siapa pelaku dibalik senyuman Jeffrey.


Sekilas, rentetan kalimat heran memenuhi kepalanya. Bagaimana bisa pria itu menanyakan hal yang sudah jelas?


Jea dulu membenci malam.


Malam selalu gelap, dan menakutkan.


Tapi malam juga yang selalu mempertemukan keduanya.


Lantas, bagaimana mungkin Jea bisa membenci malam terlebih dalam?


"Tanggungjawab."


Sepasang alis Jea mengerut tidak mengerti, "Maksudnya?"


Masih belum ada jawaban. Baik Jeffrey maupun Jea bergeming di tempatnya. Hembusan angin terasa semakin dingin, pohon-pohon yang berada di sekitar danau juga mulai bergoyang satu sama lain.


Air yang begitu tenang seolah-olah membawa mereka masuk ke dalam pusat dunia paralel. Cukup mereka berdua, tiada lagi lainnya. Seperti seisi danau hanya Jeffrey dan Jea.


"Ini gara-gara kamu, tanggungjawab," Ujar Jeffrey, beriringan dengan gestur tangannya yang meraih tangan perempuan itu untuk menyentuh dadanya.


Degup jantung yang tidak karuan, Jea tahu jelas. Sungguh kacau sehingga menular melalui tangan, atau mungkin melalui tatapan mata?


Debaran mereka menggila, seirama dengan rambut keduanya yang mulai berkibas-kibas dibawa semilir angin.


"I love it when i can touch and kiss you everytime, from now on."


Sampan sedikit bergoyang tidak seimbang ketika pria itu meraih tangan gadisnya untuk semakin mendekat. Hingga Jea terduduk tepat diatas pangkuan Jeffrey yang lebar dan hangat.


Tangan Jeffrey menyentuh tengkuk Jea, mengecup bibir ranum itu begitu pelan dan tak tergesa-gesa. Sungguh sangat berbeda dari yang biasanya.


Di sela-sela itu, Jea mulai mengalungkan tangannya pada leher Jeffrey, merasa jika hal yang paling ia butuhkan saat ini, juga sedang sangat membutuhkan dirinya.