
Berkali-kali Jea menyipitkan matanya sembari berusaha menghangatkan kedua tangannya di balik mantel putih yang tidak terlalu tebal. Hari ini adalah hari ke-4 dimana salju mulai turun, menandakan Desember baru saja membuka lembaran baru di tanah Toronto.
Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan berulang kali, diselingi dengan ujung sepatu Jea yang mengetuk-ngetuk aspal di bawah kakinya.
Jeffrey tak kunjung datang. Padahal sebelumnya, Ana telah memberitahu pada dirinya jika Jeffrey akan menjemputnya sehingga selama ia berbelanja sendirian di St. Lawrence Market, perempuan itu kerap salah membeli barang belanjaannya karena terlampau berdebar-debar.
Rasanya seperti sudah berbulan-bulan Jeffrey dan Jea tak bercakap normal seperti yang biasanya. Perlu di garisbawahi jika selama mereka kembali ke Toronto, Jeffrey tak pernah berbicara banyak padanya selain membicarakan sesuatu yang benar-benar penting.
Tentu, Jea pernah berusaha sedemikian rupa agar bisa mengambil kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Jeffrey, namun— sepertinya pria itu tak mengharapkan hal yang sama.
Kepalanya menunduk, menatap ujung sepatunya yang mulai dijatuhi kepingan putih. Sepertinya sudah dua jam lebih beberapa menit dirinya berdiri di pinggir jalan, menunggu kapan Jeffrey akan menjemputnya.
Tidak, tidak ada sama sekali pikiran buruk yang menghampiri perempuan itu. Dirinya tahu, Jeffrey pasti akan datang.
Matanya mulai beralih pada kumpulan manusia berhilir mudik di sekitaran market. Tidak terlalu padat, namun cukup untung disebut ramai.
Beberapa kedai sudah tutup seiring dengan langit berganti kanvas, abu-abu sebagai tintanya. Sudah lewat dari pukul enam sore, tentu langit menggelap.
Jea mengigit bibirnya sedikit saat gadis itu mendapati dirinya yang mulai kedinginan. Tanpa sarung tangan dan sepatu bot hangat membuat Jea merasa mengigil saat ini.
"Nona Jea?"
Lantas gadis itu langsung menoleh, mendapati lelaki muda tinggi tengah mengernyit ke arahnya, "Jisung?"
Lelaki itu melirik ke sekitar, kemudian kembali menjatuhkan pandangannya pada Jea, "Nona sedang apa? Dimana Jenderal?"
Kedua matanya cukup melebar ketika mendengar penuturan pelan Jisung. Ah, benar juga. Setahunya, Jeffrey benar-benar bersandiwara menjadi Jaehyun. Termasuk dengan kembali bekerja di pusat kepolisian Toronto sebagai Jaehyun.
Beritanya cukup menggemparkan seisi kota. Namun saat itu Jeffrey yang tengah menggunakan identitas Jaehyun hanya beralibi jika dirinya tengah melakukan penyelidikan individual pada komplotan underground group yang dinaungi oleh Jeffrey.
"Sebentar lagi dia datang," Balas Jea singkat, kemudian tersenyum. Meskipun pipinya sedikit terasa sakit karena cuaca yang begitu dingin.
Awalnya Jisung terdiam. Kepalanya menengadah menatap langit yang semakin gelap, "Jenderal tidak akan datang. Ayo ikut saya."
Jisung tahu jelas sudah berapa lama perempuan itu menunggu disana, dilihat dari pipi Jea yang sudah bersemu merah karena dinginnya udara malam itu.
"Tapi—"
"Percaya sama saya. Jenderal tidak akan kesini buat jemput kamu. Kalau ada apa-apa, saya siap tanggung jawab. Jadi kamu jangan takut, ayo," Tegas Jisung sekali lagi, membuat Jea kembali memikirkan ucapannya itu.
Tidak biasanya Jeffrey seperti ini, Jea sendiri juga tak mengerti. Tapi yang perempuan itu yakini, pasti ada alasan di balik segala perbuatan Jeffrey padanya.
Hal itu lantas membuat Jea mengangguk pelan lalu mendudukan dirinya di atas motor besar yang Jisung kendarai.
【under sun】
"Ya Tuhan! Maafin saya ya? Saya lupa ngingatin Jaehyun buat jemput kamu! Duh, Jae, kok kamu lupa juga sih?"
Teriakan Ana yang cukup nyaring dari ruang tamu sama sekali tak digubris Jeffrey yang berada di lantai dua. Entahlah, tidak ada balasan sama sekali yang ia lontarkan terkait perbuatannya.
Ana hanya menghembuskan nafasnya kesal. Matanya kini beralih menatap Jea kembali sembari menggenggam kedua tangan perempuan itu erat, "Maafin saya ya? Tapi kamu nggak pa-pa 'kan?"
Sejujurnya Jea hanya ingin mengganti pakaiannya yang lembab dan duduk di depan perapian saja sekarang. Namun penuturan lembut wanita di hadapannya terlanjur membuat dirinya hanyut, Jea hanya dapat mengangguk sambil tersenyum— mengisyaratkan jika dirinya tidak masalah dengan hal itu.
"Kalau gitu kamu ganti pakaian aja ya sekarang? Nanti kamu sakit," Ujar Ana lagi, membuat Jea langsung tersadar jika tujuan awalnya adalah berganti pakaian dengan segera.
"Ah, terus barang belanjaannya biar saya yang susun aja," Tambah wanita itu lalu mengambil beberapa kantong plastik kebutuhan pokok yang Jea beli beberapa saat yang lalu dari tangan gadis itu.
"Baik Nyonya, terima kasih."
Gadis itu melangkahkan kakinya, meninggalkan sesosok wanita bersurai hitam di ruang tamu. Tubuhnya sedikit lemas, mengingat dirinya habis berdiri selama berjam-jam tanpa penghangat apapun.
Tangannya sedikit bergetar ketika ia memegang gagang pintu kamarnya. Benaknya mulai berkecamuk tanpa arah.
Apakah Jeffrey memang sengaja melakukan ini semua?
Kedua netranya melirik pada jendela. Kemudian beralih pada ranjang putih polos di sampingnya. Bayangan pria itu kembali menghampiri, menancap kuat di pikirannya seperti duri.
Sepertinya kali ini Jea harus mempertaruhkan apapun agar ia bisa berbicara langsung dengan Jeffrey. Bagaimanapun caranya.
Setelah mengganti pakaiannya dan membenarkan letak tata surainya, Jea memutuskan untuk ke luar kamar; mencari keberadaan Jeffrey di tengah-tengah rumah besar itu.
Pandangannya melahap seluruh ruangan, berusaha menemukan dimana sosok pria yang terus mengusik pikirannya tanpa lelah.
Langkah kakinya mulai ia pelankan saat Jea menuruni anak tangga yang cukup panjang. Tiada suara yang cukup berisik untuk terdengar, hanya lalapan api atas kayu sebagai pangannya.
Sekelebat bayangan memenuhi retina matanya. Jea lantas terdiam di tempat, tak kembali beranjak seperti sedia kala tatkala pandangannya jatuh pada dua manusia yang tengah duduk tak jauh dari perapian ruang tamu.
"Jae, jangan pegang-pegang ah, geli!" Kekehan pelan wanita itu mulai menusuk telinga Jea yang berdiri tepat beberapa meter di belakang mereka.
"Kamu tuh kenapa sih? Kok tadi nggak jemput Jea? Kan aku udah bilang ke kamu."
Keadaan kembali menghening ketika Jeffrey tak kunjung membalas tuturan wanita itu. Namun kendati demikian, ia tersenyum.
"Lupa."
"Duh Jae, tapi Jea kan—"
Omongan Ana barusan langsung terpotong dikala Jeffrey menimpalnya dengan rentetan kata miliknya, "Kamu kenapa bawa-bawa nama perempuan lain terus? Kita disini cuma berdua. Aku nggak suka kamu begitu."
Mata Jea sesekali berkedip, berusaha kembali menelan mentah-mentah ucapan Jeffrey yang baru saja pria itu lontarkan.
Rasanya seperti suasana di sekitarnya menghening. Benar-benar sunyi dan gelap. Benaknya kosong, tidak mampu memikirkan hal apapun lagi ketika perkataan itu lolos dari mulut Jeffrey.
Jea berusaha kembali pada kenyataan dimana dirinya hanyalah sebatas perempuan asing yang tak sengaja bertemu dengan Jeffrey.
Tentu, pria itu memiliki kehidupannya sendiri. Seharusnya dari awal Jea tahu akan hal itu, lantas mengapa— Jea memutuskan untuk menaruh perasaan lebih padanya?
Matanya semakin memanas ketika senyuman Jeffrey bukan lagi untuknya. Pria itu tersenyum berkali-kali pada wanita lain yang juga tengah melakukan hal yang sama.
Dua lesung pipi yang selalu menjadi pusat perhatian Jea kini kembali menghiasi wajah rupawan pria itu. Namun sayang sekali— kali ini senyuman itu tidak tertuju padanya.
"Kamu tau 'kan aku cuma sayang sama kamu? Jadi jangan nyebut nama perempuan lain lagi ya?" Tangan besar itu mengelus lembut surai rambut Ana. Sedangkan Ana hanya mampu terdiam, menatap lurus pada kedua mata gelap Jeffrey yang memabukan.
"Maaf Jae."
Keduanya terdiam untuk beberapa detik, sebelum pada akhirnya Jeffrey membawa tubuh wanita itu untuk mendekat. Perlahan demi perlahan, wajah Jeffrey semakin mendekati Ana yang lantas membuat wanita itu turut memejamkan sepasang kelopak matanya erat-erat.
Deru nafas keduanya terasa bersahutan ketika bibir pria itu hampir melekat pada milik Ana.
Tepat sebelum Jeffrey memberikan sebuah cumbuan manis untuk wanita itu, matanya melirik pada Jea yang berdiri tepat di belakang sofa merah, tempat dirinya dan Ana berada saat ini.
Mata Jea mulai memanas ketika pada akhirnya Jeffrey melirik dirinya. Perasaannya membuncah tidak karuan. Dadanya terasa pilu, bersamaan dengan pikiran yang abu-abu.
Bulir-bulir itu berjatuhan, membasahi kedua pipinya yang terasa dingin. Gadis itu mengigit bibirnya kuat-kuat, berusaha meredam suara isak tangis yang hampir tersuakan ketika tangisannya semakin mendesak untuk keluar.
Jeffrey hanya terdiam ketika pandangannya mendapati gadis yang dulu selalu berada di dalam dekapannya— tengah menangis.
Pria itu memutuskan kontak matanya dengan Jea tatkala Jeffrey memutuskan untuk ikut memejamkan matanya, memfokuskan dirinya pada cumbuan singkat di depan perapian hangat.
Beribu-ribu pertanyaan mulai menyala, menerangi gelapnya benak Jea yang tak seimbang.
Dan di antara pertanyaan-pertanyaan itu, sebuah pernyataan muncul setelahnya.
Kini, tiada lagi jemari panjang Jeffrey yang akan mengusap pipinya ketika ia menangis. Tiada lagi pundak lebar yang akan menampung keluh kesahnya di hari-hari yang mampu membuatnya letih. Dan tiada lagi usapan lembut yang berlabuh di atas kulitnya, memacu adrenalinnya tanpa henti-hentinya.
Dan yang paling terpenting ialah; tidak akan ada lagi kata untuk bersama di dalam hubungannya dengan Jeffrey.