
"Ada yang luka?" Suara Jaehyun mengagetkan Jea yang sibuk mencari dimana keberadaan pria itu. Nyatanya, Jaehyun kini sudah berjongkok di belakang tubuhnya sambil menatap nyalang ke arah pohon tadi.
Bagaimana bisa derap kaki Jaehyun tidak terdengar sama sekali? Jea juga sudah menyapu seluruh penjuru untuk mencari keberadaannya. Lalu...
"T-Tuan! Bagaimana bisa—"
"Kamu tadi terluka?" Tanya Jaehyun ulang, membuat Jea menggeleng lemah.
"Bagaimana dengan Tuan?"
Jaehyun hanya terdiam, matanya fokus menatap pada beberapa orang berseragam serba hitam yang mulai bermunculan dari balik pohon rindang. Jea mengikuti arah pergerakan mata Jaehyun lalu kembali terkejut. Siapa mereka?
Tangan Jaehyun mulai merogoh sesuatu di balik mantel hijau tua kepolisiannya, lalu bisa Jea lihat jika sebuah pistol terpampang nyata di tangan besar itu. Jaehyun mulai memasukan enam amunisi ke dalam pistol dan menarik pelatuknya.
Tangan kiri Jaehyun menarik tubuh Jea, lalu mendekapnya erat, "Jangan bergerak atau jauh dari saya."
"Baik Tuan," Ucap gadis itu dengan bibir yang sudah bergetar. Sebenarnya apa yang tengah terjadi saat ini? Matanya kembali terpejam erat saat beberapa tembakan meletus memekakan telinga.
Para pria berseragam hitam itu mulai menembak ke arah mereka. Membuat Jea dan Jaehyun harus berlindung di balik runtuhan bangunan. Saat gilirannya tiba, tangan Jaehyun dengan gesit menembaki peluru-peluru itu, hingga beberapa dari manusia berseragam hitam tumbang.
Jea sempat memekik kecil saat beberapa runtuhan bangunan kecil itu berubah menjadi pasir. Namun fokusnya kembali teralihkan pada tangan Jaehyun yang masih memeluk tubuhnya. Bahkan tubuh mereka sudah sangat menempel saat ini. Jea mendadak merasa sedikit malu.
Bunyi pelatuk yang terus menerus ditarik dan bunyi letusan amunisi menjalar memenuhi seisi kepala Jea. Beberapa suara kesakitan juga sempat berhilir masuk ke dalam telinganya. Tidak, bukan Jaehyun, tapi orang-orang itu.
Suasana menghening.
Tidak ada pergerakan cepat yang dilakukan Jaehyun seperti tadi. Tidak ada juga ledakan tembakan yang nyaring. Waktu seperti berhenti sejenak. Hanya deruan nafas Jaehyun yang sedikit menggebu-gebu. Jea sedikit memundurkan kepalanya untuk melihat ekspresi Jaehyun.
Menyadari bagaimana posisi mereka saat ini, Jaehyun lantas melepaskan dekapannya. Membuat kedua pasang mata itu saling bertabrakan.
"Maaf, saya nggak berniat meluk kamu sembarangan."
Jea mengangguk mengiyakan, "Apa Tuan terluka?"
"Tidak," Lalu Jaehyun memasukan kembali pistol nya itu ke dalam saku di balik mantel hijau tua.
Gadis itu menoleh pelan-pelan, sedikit memiringkan tubuhnya agar pandangannya terlepas dari jeratan runtuhan bangunan. Matanya sedikit membelalak saat jelas-jelas ia bisa melihat dua belas orang berseragam hitam tadi terkapar di aspal dengan genangan darah yang mengalir menyatu.
Namun tidak berlangsung lama, matanya tiba-tiba menggelap. Ternyata tangan Jaehyun menghalau mata Jea untuk melihat, "Jangan dilihat. Nanti kamu nggak bisa tidur."
Jea memutar posisi tubuhnya hingga berhadapan dengan Jaehyun. Lamat-lamat ia menatapi Jaehyun yang hanya berdiam diri. Lantas mereka harus bagaimana sekarang? Mobil mustang itu sudah hangus terbakar.
Jaehyun kini tengah mengambil walkie talkie di dalam saku besar di celananya. Kemudian ia melontarkan kata-kata yang tak bisa Jea pahami. Kendati, Jea tetap memperhatikan segala tingkah laku Jaehyun dalam diam.
"Sebentar lagi mobil saya akan sampai disini. Nggak masalah buat kamu kan?" Ucapnya sambil kembali memasukan walkie talkie nya.
"Tidak apa-apa Tuan."
Jaehyun mengangguk, lalu matanya tiba-tiba teralih pada telapak tangan Jea yang sedikit tergores, "Ini apa? Kenapa tadi kamu bilang nggak ada luka?"
Jea sedikit bergedik ngeri saat matanya mendapati tatapan serius dari Jaehyun, "Maaf Tuan.. Jea pikir itu bukan luka, luka itu bukannya yang seperti ini?"
Gadis itu menyingkap sedikit blouse putihnya, menunjukan luka sayatan lumayan besar pada perutnya. Jaehyun tidak berbicara, namun ia menghembuskan nafas gusar.
"Yang seperti ini juga luka. Dan," Tangan Jaehyun bergerak menyentuh blouse putih itu dan kembali menurunkannya. Pandangannya sengaja ia arahkan pada bebatuan kasar di samping mereka.
"Lain kali jangan sembarangan buka-bukaan seperti ini apalagi sama orang lain."
Jaehyun mulai kembali meraih sesuatu di balik mantel hijau tua yang dikenakannya. Sebuah plester kecil juga sebotol kecil alkohol ia keluarkan.
"Tahan sebentar," Tangan mungil gadis itu ia tarik sedikit, lalu Jaehyun menumpahkan seluruh cairan itu pelan-pelan pada telapak tangan yang tadi terluka. Jea meringis kecil.
"Maaf, sakit?" Raut Jaehyun sedikit khawatir.
"Tidak Tuan.."
Setelahnya, Jaehyun membersihkan sisa-sisa cairan alkohol pada telapak tangan Jea dan mengelapnya dengan sapu tangan kotak-kotak. Sebuah plester kini sudah menempel rapi di tangannya.
Entah mengapa, bibir mungil itu bergerak untuk tersenyum. Ia senang, "Terimakasih banyak Tuan."
Selang lima belas menit setelah kejadian itu, mobil ford coklat menjemput mereka. Mendapati salah satu bawahannya tengah melambai, Jaehyun lantas berdiri dan memberi kode pada Jea untuk bergerak dan segera masuk ke dalam mobil.
Keduanya kini telah sampai di salah satu motel terkenal di Michigan. Jaehyun masih sibuk berbicara dengan beberapa bawahannya yang sudah menunggu di lobby motel sembari berjalan menuju kamar 207, kamar yang akan di tempati olehnya.
Namun, Jea sempat berkali-kali tersasar, entah bagaimana caranya, padahal ia sedari tadi berjalan tak jauh di belakang Jaehyun. Membuat Jaehyun kewalahan sendiri.
"Kamu jalannya di samping saya aja," Kini dengan kikuk, pria itu memilih untuk menggengam tangan Jea.
Keduanya mulai berjalan beriringan, menaiki tangga putih menuju lantai dua. Diikuti oleh dua lelaki muda berseragam militer ikut di belakang. Pertamanya, Jea sedikit aneh karena Jaehyun menggengam pelan tangannya. Entahlah, tiba-tiba saja rasanya dadanya berdesir lebih cepat.
"Ini kamar saya," Jaehyun berdiri di depan kamar bernomor 207.
Kemudian ia menunjuk pada kamar di sebelahnya, "Dan ini kamar kamu."
Jea mengangguk-angguk. Sedangkan Jaehyun, kembali berbicara dengan bawahannya di depan pintu kamar.
"Kalau begitu, kami mohon pamit undur diri terlebih dahulu, Jenderal."
Setelah mendapati persetujuan Jaehyun, kedua lelaki muda tadi segera memberikan hormatnya dan berlalu. Kini tatapan keduanya kembali bertubrukan satu sama lain.
"Kamu belum punya baju kan?"
Mendengar hal itu lantas membuat Jea menggeleng, "Benar Tuan."
Senyuman tipis terpatri pada wajah rupawan itu, "Kalau gitu, ayo, biar saya beliin baju buat kamu."
【under sun】
Jea sendiri juga tidak mengerti, tubuhnya mendadak lemas. Apa pasar normalnya memang seramai ini? Pandangannya kembali berputar ke sekeliling. Ricuh yang dibuat oleh para manusia di sekitarnya memberikan efek yang tidak main-main. Bahkan tangannya sudah berkeringat dingin. Sungguh, Jea tidak terbiasa untuk bertatap muka dengan orang-orang sebanyak ini.
Tapi Jaehyun sepertinya menyadari gerak-gerik yang sedikit aneh dari gadis di sampingnya, membuat Jaehyun berpikir sebentar. Apa ada yang salah? Ah, baru saja ia mengingat dengan latar belakang Jea yang ia baca semalam. Keluarga Collins memang seburuk itu kan?
"Kalau kamu takut, pegang tangan saya. Atau kalau kamu nggak nyaman, pegang saya dimanapun yang kamu mau."
Setelah memikirkan ucapan barusan, Jea memutuskan untuk menggengam mantel hijau tua Jaehyun dengan pelan, "Apa seperti ini tidak apa-apa, Tuan?"
"Ya."
Kedua insani itu kembali melanjutkan langkah kaki mereka. Menyusuri tepian jalan yang penuh dengan gerai-gerai jualan. Beragam macam, mulai dari makanan sampai hal-hal mistis seperti kartu tarot. Bagi Jaehyun sendiri, keadaan di pasar memang sedikit penuh. Sampai-sampai mereka harus sedikit berdesak-desakan hanya untuk melihat apa yang tengah dijual oleh beberapa gerai tertentu.
Mata hitam itu terpaku pada sebuah gerai yang cukup sepi, membuat langkahnya menuju ke arah sana. Jea sedikit mengerutkan alis kebingungan saat Jaehyun ternyata memasuki gerai butik pakaian wanita.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Sambutan ramah terpapar dari seorang wanita paruh baya lengkap dengan senyumannya di wajah bulat itu.
Jaehyun kini tengah menatap pada beberapa mid-dress yang bergantungan di atap pendek gerai. Namun netranya kembali terjatuh pada sebuah gaun coklat tipis polos yang terletak paling ujung, "Bisa lihat yang itu?"
Lantas sang pemilik segera meraih gaun tersebut dan memberikannya pada Jaehyun, "Itu gaun selutut yang manis. Pasti cocok untuk Nyonya ini."
Tapi sepertinya Jaehyun sedikit tidak setuju. Bukan, bukan di bagian manis, namun di bagian selutut. Jea terlalu pendek untuk dikategorikan sebagai wanita dewasa, pasti gaun ini akan sampai di betisnya.
"Saya mau yang ini dan semua gaun dari ujung ke ujung," Sedikit tersenyum tipis, Jaehyun menunjuk pada deretan gaun yang masih bergantungan.
"B-Baik Tuan!"
"T-Tuan.."
Jaehyun sedikit menatap ke arah bawah, "Ya?"
"Apa tidak masalah?"
Tentu pria itu paham jelas kemana arah pertanyaan Jea tertuju, pasti mengenai pakaian yang ia beli, "Kenapa harus jadi masalah?" Jea terdiam, tidak tahu harus berucap apa untuk membalas lontaran pertanyaan balik Jaehyun.
Pria ini memang baik, terlampau baik malah. Tetapi tentu, membuat Jea kewalahan karena tidak mengerti dengan segala jenis sikap Jaehyun yang tidak biasa.
"Saya juga mau yang ini," Jaehyun meraih sebuah head scarf yang awalnya Jea pikir adalah sapu tangan. Tunggu, warnanya biru muda dengan motif floral yang menghiasi kain itu. Apa selera Jaehyun memang unik?
Jea semakin terperanjat saat Jaehyun melipat head scarf itu menjadi bentuk segitiga, tangan besar itu mengelus-elus kepala Jea, mungkin bermaksud merapikan rambut kecoklatan Jea yang sedikit kusut. Setelahnya, Jaehyun memasangkan kain tersebut diatas kepala Jea.
“Ternyata kamu cantik."
Diam-diam, jantungnya kembali berdebar-debar. Belum pernah ada satupun manusia yang pernah memberikan kata-kata seperti itu pada dirinya. Pipi Jea terasa panas. Tuhan, apa yang salah dengannya?