
19 hours ago.
Mark mendecih pelan. Sesaat setelah Lucas memberitahunya mengenai rencana penyuntikan mati pada Jeffrey, buru-buru lelaki muda itu langsung meninggalkan teman barunya sendirian dan langsung menghubungi Jea.
"Tampaknya kakek tua itu memang sudah gila. Bisa-bisanya membunuh anaknya sendiri?" Ucap Mark tidak beraturan sembari mengernyit, menunggu sambungannya untuk segera diangkat oleh Jea.
"—Halo?"
"Jea! Kamu harus ke Virginia sekarang!" Mark setengah memekik, saking paniknya dia. Entahlah, Mark sendiri juga tidak tahu-menahu mengapa dirinya yang merasa panik.
Beberapa detik terdiam lantas membuat Jea mengernyit, "Kenapa?"
Karena setahunya, Mark memang bekerja di Virginia. Dan kota itu adalah tempat dimana Jeffrey ditahan. Tentu Jea tahu. Perempuan itu sudah mendengar semuanya dari Mark. Karena bagaimanapun, lelaki muda itu adalah salah satu bekas agent FBI.
"... Apa ini menyangkut Jeffrey?" Untuk sebuah alasan, Jea merasa takut. Setelah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, Jea mati-matian ingin pergi ke Virginia, menemui Jeffrey saat itu juga.
Namun pada saat itu Mark juga yang menghentikannya. Karena bagi Mark sendiri, menjemput Jeffrey untuk keluar dari sana adalah hal yang mustahil. Jika Jea tidak berhati-hati dalam bertindak, bisa saja nyawa Jeffrey yang menjadi taruhannya.
"Iya! Berhubungan dengan Jeffrey— Ah! Aku akan menyuruh temanku kesana buat jemput kamu. Tunggu sebentar."
Sambungan terputus. Kali ini semakin membuat degup jantung perempuan tersebut tidak karuan. Apakah ada sesuatu yang buruk menimpa Jeffrey?
Tidak, Jea sendiri tidak bisa membayangkannya.
Dengan gugup Jea hanya bisa berdiri di perkarangan rumah, menunggu jemputan yang Mark ucapan tadi. Dan benar saja, dalam lima menit kemudian, sebuah mobil krim telah berhenti di depan rumahnya.
"Namamu Jea, Nona?" Tanya sang pengemudi sesaat setelah ia menurunkan jendela mobilnya.
Jea langsung mengangguk lalu bergerak masuk ke dalam mobil. Pikirannya serasa melayang, tidak mampu mencari ide-ide positif akan kabar Jeffrey.
Gadis itu begitu takut.
Jarak antara Greater Sudbury dan Virgina sekitar 1.325 kilometer. Jika ditempuh dengan mobil, bisa memakan waktu hingga 13 jam lewat 45 menit lamanya. Namun karena sang pengendara mobil yang ditumpangi oleh Jea melajukan mobil dengan pesat, kini keduanya bisa sampai di Virginia hanya dalam waktu 13 jam saja.
Jea yang terburu-buru keluar dari mobil hanya sempat tersenyum dan mengucapkan kata terima kasih singkat pada lelaki yang ia kenal sebagai Johnny itu.
Saat ia berjalan mendekati gedung besar yang dirinya tahu sebagai markas CIA itu, Jea mendapati Mark sudah menunggunya di depan gerbang besar.
"Mark!"
Lelaki itu lantas menoleh pada asal suara, membuat pandangannya bertemu dengan Jea. Matanya langsung bergerak kesana dan kemari, setelah memastikan tidak ada orang lain disana, Mark berjalan mendekati Jea.
"Jangan kaget, aku mau memberitahumu sesuatu," Mark menatap perempuan di hadapannya serius, mengakibatkan Jea yang semakin merasa gugup dan tertekan sekaligus.
"A-apa itu? Kenapa kamu malah nyuruh aku kesini? J-Jeffrey dimana?"
Sebelum melontarkan kata-katanya, Mark mengambil nafas terlebih dahulu, "Begini, lima jam lagi Jeffrey akan di suntik mati. Jadi—"
"Apa maksudmu? Jangan bercanda! Siapa yang—"
Dengan cepat Mark memegang kedua bahu Jea yang terlampau terkejut dengan perkataannya barusan, "Calm down, Jea! Calm down! Aku juga awalnya kaget. Tapi kamu harus percaya, karena Tuan Jung itu gila."
Jea menggeleng dengan cepat. Matanya menatap Mark tidak percaya, "Mark ini tidak lucu."
"Jea, kalau kamu begini terus, sisa waktu Jeffrey akan terbuang sia-sia. Seenggaknya, kamu harus menemani momen-momen terakhirnya 'kan?"
Tubuh perempuan itu terdiam. Netranya bergerak tidak yakin pada ucapan tersebut. Namun yang ia percayai, Mark tidak mungkin berbohong padanya. Lantas gadis itu hanya bisa mengigit bibirnya kuat-kuat tatkala kakinya ikut merasa lemas.
"Aku sudah ngatur semuanya supaya kamu bisa ketemu sama Jeffrey. Percaya sama aku," Tambah Mark lagi berusaha meyakinkan. Lelaki itu hanya bisa tersenyum pelan lalu menggengam tangan Jea lembut.
"Ayo?"
【under sun】
Tatapan kelam itu semakin kosong seiring dengan waktu yang berjalan lebih cepat. Apa mungkin di setiap kematian, akan ada fasenya waktu tidak lagi ada apa-apanya?
Posisi pria itu tidak berubah sedikitpun semenjak dua jam yang lalu. Kepalanya masih ia senderkan pada dinding dingin di belakangnya. Rambut Jeffrey terlihat acak-acakan, sama sekali tidak tertata rapi seperti yang seharusnya ia lakukan.
".. Jea."
Entah untuk yang keberapakalinya nama itu kerap terlantun dari bibir pucat itu. Terdengar lemah, namun begitu lembut.
Apa sekarang Jea sudah menemukan seseorang yang baru?
Karena— siapapun gerangan itu, Jeffrey hanya ingin Jea akan mendapatkan seorang pria yang jauh lebih baik darinya.
Seorang pria yang selalu ada disana, menemaninya siang dan malam.
Seorang pria yang bisa merengkuh gadis itu kapanpun, dimanapun, tanpa ada satupun yang bisa menghalau.
Dan juga— seorang pria normal yang bisa menjaga gadisnya sampai di akhir hayat mereka.
Meskipun Jeffrey berharap seseorang itu adalah dirinya.
"JEFFREY!"
Kedua tatapan kosong yang jatuh pada lantai marmer langsung bergerak cepat pada pintu besi di ujung kanan ruangan.
Tunggu, apa dirinya salah dengar? Atau suara barusan yang memanggilnya itu benar-benar gadis yang ia harapkan?
Tidak mungkin. Bagaimana bisa Jea berada disini. Pasti itu hanya halusinasinya lagi.
"Jeffrey!" Seru perempuan itu sekali lagi, membuat Jeffrey kini yakin jika Jea memang ada disini.
"... Jea?"
"J-Jeffrey!" Pekik perempuan itu lagi, kini terdengar lebih jelas dari yang sebelumnya.
"Jea!" Suaranya terasa tercekat keluar. Mungkin karena selama berada disini, Jeffrey sungguh teramat jarang mengonsumsi air dalam bentuk apapun itu.
"Jea, kamu Jea?" Tanya Jeffrey lagi, masih belum percaya sepenuhnya jika kini dirinya dengan gadis itu hanya dibataskan oleh sebuah pintu besi yang cukup tebal.
Suara Jea terdengar sedikit bergetar. Namun kendati demikian, Jea berupaya tersenyum meskipun ia tahu Jeffrey takan bisa melihatnya, "Iya Jeffrey. Ini Jea. Dan Jea tau semuanya."
Samar-samar Jeffrey tersenyum. Tubuhnya langsung ambruk begitu saja ketika Jeffrey tidak lagi bisa menahan bobot tubuhnya sendiri.
"J-Jeffrey?!" Jea memekik khawatir. Isak tangis mulai terdengar hingga Jeffrey berusaha untuk menyenderkan tubuhnya yang terjatuh pada pintu besi nan dingin.
"I'm okay, baby. I'm okay."
Susah payah Jeffrey mengupayakan sebuah senyuman, meskipun Jea juga tidak bisa melihatnya.
"Maaf, Jea. Maaf. Aku gagal jadi manusia yang baik buat kamu," Ucap Jeffrey pelan, hampir tidak terdengar.
Buru-buru Jea mengusap pipinya yang sudah basah, "Jeff, jangan bicara seperti itu."
Jeffrey tidak menjawab. Bibirnya hanya mampu untuk terus tersenyum ketika ia merasa teramat bersyukur bisa mendengar suara itu lagi.
Jika pria itu diizinkan untuk mengucapkan permintaan terakhirnya, maka hal terakhir yang ingin ia minta ialah memeluk tubuh gadisnya.
Cukup itu. Jeffrey hanya menginginkan hal itu.
"Jea, kamu ingat awal kita ketemu?"
Jea mengigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan isak tangis yang terus menerjangnya berkali-kali. Ia lantas terduduk di atas marmer, menyenderkan tubuhnya pada pintu besi sel Jeffrey.
"Ingat. Pas itu Jeffrey menyeramkan."
Jawaban itu lantas membuat Jeffrey terkekeh pelan, "Tapi kamu nggak tau kan, kalau aku udah pernah ketemu kamu sebelum itu?"
Jea mengernyit heran, "Sebelum kejadian itu? Kapan?"
Jeffrey menarik nafasnya pelan, "Tepat sehari sebelum kamu di angkat sebagai anak dari keluarga Collins, you wrote me a letter because you saw me fall down the stairs."
Lagi-lagi Jea mengernyit. Otaknya berusaha mengingat-ingat kapan hal itu terjadi. Karena setelah ia menjadi salah satu bagian dari keluarga Collins, dirinya sudah tidak bisa mengingat memori silam sebelum dirinya disiksa habis-habisan oleh keluarga Collins.
"Kamu pasti lupa. Tau salah satu isi suratnya apa?" Tambah Jeffrey lagi ketika Jea tak kunjung menjawab perkataannya.
"Apa itu?"
"Don't die. I'd sign this with love."
Kemudian, Jeffrey kembali tertawa pelan, "Maaf. Tapi sepertinya aku tidak bisa mewujudkan perkataan itu."
"Jeffrey!"
Lantas keduanya terdiam, saling terhanyut pada dunia pemikiran yang mereka selami.
"Jeffrey, how's life?" Ucap Jea begitu tiba-tiba. Hadir di tengah keheningan yang melanda.
"Life is good, Jea. Karena ada kamu."
Sebuah senyuman kembali terukir di bibir mereka masing-masing. Detakan itu masih terdengar sama. Berirama dan tergesa-gesa. Namun keduanya merasa nyaman dan tenang.
"Jea, aku jatuh cinta."
"Dengan siapa?"
"Kamu."
Tanpa bisa terhenti lagi, Jea kembali menangis dalam diam. Keheningan terasa begitu memekakan telinga ketika satu-satunya yang hadir ialah luka. Tangan perempuan itu bergerak menyentuh pintu besi yang dingin, merasa tidak lagi bisa menahan rasa yang ingin segera berlabuh.
Jea ingin memeluk pria itu.
"Kamu tau? Perempuan itu cantik. Cantik sekali. Matanya seperti bintang malam. Semua yang ada di dalam diri perempuan itu menggambarkan kehidupan. Dia seperti bunga di tengah padang pasir. Fall in love with her feels like the wramth of the sun on a cold January morning," Ucap Jeffrey perlahan. Nafasnya terdengar sedikit lebih berat dari pada yang sebelumnya, "Aku berharap, dia bahagia. Semoga juga, dia bisa mencintai dirinya sendiri lebih dalam dari pada yang aku lakukan untuknya—"
"—Dan aku bersyukur bisa bertemu dengan perempuan sekuat dirinya."
Tangisan perempuan itu semakin kencang seiring dengan bait kata yang terlontar dari suara rendah Jeffrey. Jea menangis dengan keras, tidak lagi mempedulikan siapapun yang akan melihatnya.
Jea tidak peduli dengan apapun lagi kini.
"Jeffrey," Jea berusaha setengah mati untuk kembali berbicara dikala nafasnya hampir habis. Dadanya terasa begitu sesak sampai rasanya Jea hanya ingin menghilang saat ini juga.
"Yes baby?"
"Please, never say goodbye to me. Can you?"
Lantas Jeffrey terdiam untuk sesaat. Matanya melirik pada ventilasi yang melekat pada atap di atasnya cukup lama.
Jeffrey lalu menunduk.
Pria itu menangis.
"I won't forget you, baby. And maybe that is the only forever for us," Jeffrey berkata dalam heningnya malam, diiringi dengan waktu yang semakin berdentang, berlalu meninggalkan keduanya di tengah-tengah rasa yang takan pernah sirna.