Under Sun

Under Sun
13. His Cigarettes



Setengah lima sore, keduanya baru sampai kembali di tanah Toronto. Dan sudah dua setengah jam berlalu semenjak kepulangan mereka. Tidak banyak hal yang Jea maupun Jaehyun lakukan. Jaehyun dengan kesibukannya yang biasa, juga Jea yang sibuk membersihkan rumah meskipun sudah Jaehyun larang.


Jaehyun tahu betul, jika sebentar lagi Jeffrey akan kembali. Ia tidak ingat sama sekali, bagaimana Jeffrey memperlakukan Jea atau hal apa saja yang sudah si psikopat itu lakukan. Tapi dari pengamatan Jaehyun selama ini pada Jea, sepertinya Jeffrey tidak melakukan hal aneh-aneh pada perempuan itu.


Kali ini, Jaehyun bersyukur.


Namun kendati, pria itu harus kembali memikirkan bagaimana cara agar Jeffrey tidak lagi bisa mengusik keberadaan Jea. Tidak mungkin jika ia harus mengisolasi Jea di suatu tempat tertentu. Memborgol tangannya sendiri juga tidak efektif. Tahu darimana? Entahlah, hanya firasatnya.


“Tuan,” Jea tiba-tiba saja mencuatkan kepalanya dari daun pintu, membuat Jaehyun sontak menoleh padanya.


“Iya, kenapa?”


“Jea sudah selesai membersihkan kamar Tuan.”


Jaehyun terdiam. Dirinya memang tidak menyuruh Jea untuk melakukan hal itu, bahkan ia terkesan melarang. Tapi tampaknya Jea bisa cukup keras kepala untuk hal yang satu ini. Kini, sebuah ide tiba-tiba saja menyeruak, membuatnya berpikir dua kali.


“Kalau begitu, kamu bisa ke sungai belakang rumah sebentar? Disana ada sepatu saya yang ketinggalan.”


Tepat di belakang rumah Jaehyun, memang ada sungai kecil yang cukup panjang. Tidak dalam, namun alirannya cukup deras.


Jea lantas mengangguk, “Baik, Tuan.”


“Dan—” Jaehyun menggantungkan kalimatnya, membuat Jea yang tadi sudah berbalik, kembali menilik padanya.


“Hati-hati.”


Meski awalnya Jea terdiam, tetapi ia langsung tersenyum saat dirinya sadar bahwa Jaehyun mengkhawatirkannya, “Baik, Tuan.”


Daun pintu tertutup. Meninggalkan keheningan bersama Jaehyun yang tengah menyusun rencana di dalam ruang kerja. Jaehyun sengaja mengirim Jea untuk pergi ke sungai karena selama Jea disana, Jeffrey pasti akan pergi mencari gadis itu ke pusat kota.


Karena Jeffrey yang ia tahu, tidak akan pernah mengitari rumah untuk mencari sesuatu. Lagipula, Jeffrey hanya menghabiskan waktu paling tidak satu jam di dalam rumah lalu akan pergi ke pusat kota dari ingatan buram Jaehyun. Kalau begitu, bagaimana bisa Jeffrey tahu mengenai objek-objek yang berada di sekitar rumah? Bukankah begitu?


Satu-satunya yang Jaehyun harapkan saat ini, Jeffrey tidak akan bisa menemukan Jea untuk malam ini.


【under sun】


Tangannya terasa begitu dingin, apa karena malam ini memang begitu banyak angin? Seharusnya Jea tadi keluar tidak dengan hanya menggunakan gaun putih tipis seperti ini. Tapi memang sedari awal, Jea hanya berpikiran jika pergi ke belakang rumah tidak akan sampai membuat beku seperti sekarang.


Matanya menyipit saat ia berusaha untuk fokus, dengan hanya berbekalan satu lampu lentera gantung dengan lilin temaram di dalamnya, Jea menyusuri jalanan kecil menuju sungai.


Sebelah tangannya menarik ujung gaun, agar tidak terpijak dan kotor. Tidak jauh dari sudut pandangnya, sungai itu sudah terlihat. Jea semakin memelankan langkah kakinya saat jalanan kecil itu semakin terasa licin karena lumut yang basah. Sepertinya siang tadi sedang hujan di Toronto.


Gemericik air terdengar semakin keras ketika Jea sudah berdiri di samping sungai. Pelan-pelan, dirinya sedikit membungkuk, melihat kesana dan kemari.


“Sepatu Tuan ada dimana ya?” Tanyanya sendiri ketika ia tak kunjung-kunjung menemukan barang yang tadi Jaehyun pinta untuk dicari.


Langkah kakinya semakin menyusuri tepian sungai. Jea bertanya-tanya, apa jangan-jangan sepatu itu hanyut?


Tak ingin berlama-lama mencari, Jea memutuskan untuk langsung mencari di daerah tengah sungai karena ia sudah yakin jika tidak ada sepatu di tepian sungai.


Gadis itu melepaskan alas kakinya, kemudian dengan perlahan ia menyelupkan kaki itu pada air yang terasa begitu dingin. Setelah meletakan lentera gantung itu di samping sungai, Jea bergerak menarik gaunnya sampai sepaha, agar tidak basah.


Dengan pergerakan yang begitu lambat, Jea mulai menelusuri sungai sambil mengamati sekitar. Namun yang ia temukan hanya bebatuan sampai dedaunan yang tenggelam di dasar sungai.


Mungkin sepertinya ia harus bertanya terlebih dahulu pada Jaehyun, dimana tata lokasi yang lebih terperincinya. Jea memutuskan untuk pulang kembali ke rumah.


Namun sialnya, baru saja ia membalikan badan, tak sengaja kakinya menginjak batu yang berlumut di dasar sungai. Membuat tubuhnya oleng hingga terjembab di dalam air.


“Ah...” Gadis itu meringis kecil saat tubuhnya terasa sedikit nyeri. Untung saja Jea cepat-cepat menahan tubuhnya dengan telapak tangan, jadi rambutnya tidak basah.


Tetapi lihatlah sekarang. Tubuhnya sudah basah kuyup. Apalagi gaunnya. Jea menggerutu kecil. Padahal dari awal ia sudah menjaga gaun itu dan sangat berhati-hati agar dirinya tidak meninggalkan setitik nodapun pada gaun yang Jaehyun berikan padanya.


Jea memeras ujung gaun itu. Tidak ada pilihan lain selain benar-benar pulang ke rumah terlebih dahulu. Baru saja Jea ingin keluar dari sungai, matanya memicing pada kegelapan yang bergerak.


Tunggu.


Apa itu tadi.


Dentuman jantung Jea semakin memburu ketika ia menyadari ada orang lain disini. Atau jangan-jangan...


Tidak, tidak!


Jea menggeleng cepat saat skenario terburuk menyapanya. Tidak, bukan hantu yang ia perkirakan. Karena manusia lebih menyeramkan daripada apapun.


“T-Tuan...?”


“Tuan...? Ini Jea,” Jea sedikit melantangkan suaranya yang menggema. Nadanya mulai bergetar, takut.


Tangannya yang sudah dingin sedari tadi terasa semakin dingin. Bukan hanya tangannya, bahkan sekujur tubuhnya sudah terasa beku.


Sesosok bayangan hitam itu berjalan semakin dekat di gelapnya malam. Samar-samar memang, tapi sepertinya Jea bisa memperkirakan siapa manusia dibalik bayangan itu.


Seorang pria jangkung menghentikan langkahnya tepat lima langkah dari tepian sungai. Matanya yang gelap menatap Jea yang masih gemetaran di sungai. Keduanya terdiam. Tidak ada satupun yang mengucapkan sepatah kata, maupun pergerakan lainnya.


Jea tahu jelas bahwa itu adalah Jeffrey. Dengan hanya bermodal cahaya bulan, Jeffrey terlihat begitu tampan meski dilihat dari jauh sekalipun.


Jeffrey bergerak duduk di salah satu batu yang cukup besar di tepi sungai. Tatapannya tetap sama, begitu tenang. Atau harusnya dibilang, begitu tidak bisa ditebak?


Pria itu menghisap puntung rokok yang ada di tangan kirinya. Kemudian, ia menghembuskannya pelan. Matanya tetap melekat pada Jea yang tidak juga kunjung keluar dari sungai.


“Kenapa tidak keluar dari sana? Perlu aku jemput?”


Cepat-cepat Jea menggeleng, lalu ia berjalan hingga sukses mencapai tepi sungai. Kini, gadis itu sudah berdiri di samping Jeffrey yang masih terduduk.


Ujung batang rokok itu menyala merah saat jeffrey kembali menghisapnya. Sesaat, Jeffrey menatap lekat-lekat pada Jea yang basah tubuhnya. Pandangan pria itu turun pada tubuh yang tercetak jelas di balik gaun. Membuat Jeffrey merasa kalang kabut.


Ia memilih untuk melempar puntung rokoknya yang masih setengah ke dalam sungai tatkala merasa jika Jea mengernyit karena asap yang Jeffrey timbulkan, lalu berdiri.


“Kamu sengaja basah-basahan biar aku sentuh ya?”


Jea menggeleng cepat, “E-enggak, ini karena Jea tadi jatuh di sungai...”


Jeffrey menyeringai, “Kalau gitu, biar aku yang gantiin baju kamu. Gimana?”


Sontak Jea membelalak, bagaimana bisa Jeffrey mengatakan hal tabu segampang itu?


“Tapi—”


Belum sempat Jea melanjutkan rentetan katanya, tubuhnya sudah melayang dalam gendongan Jeffrey. Tentu saja membuat gadis itu terpekik kaget, “J-Jeff, mau kemana?”


“Rumah kita.”


Sehabis Jeffrey mengutarkan tujuannya, pria itu langsung berlalu meninggalkan sungai beserta lentera yang tadi Jea letakan disana.


Tangannya terasa basah, bahkan Jeffrey juga tahu jika kemeja hitam yang ia kenakan turut lembab karena bersentuhan langsung dengan tubuh basah Jea. Namun ia tak memperdulikannya. Hal yang paling ia hindari saat ini bukanlah pakaiannya yang basah, tapi tubuh Jea yang nanti akan sakit jika terlalu lama berada di luar saat malam.


Jeffrey menutup pintu saat ia sudah mendudukan Jea di depan perapian. Tubuh gadisnya masih basah,  jadi Jeffrey memutuskan untuk mencari baju ganti terlebih dahulu.


Pria itu kembali datang mendekati Jea yang tengah menggosok-gosokan kedua telapak tangan di depan perapian panas. Kendati, Jeffrey lebih memilih mengambil kemejanya yang lain karena ia sendiri tidak tahu dimana letak gaun-gaun Jea yang lainnya.


“Sini.”


Jea menoleh, memandang Jeffrey yang sudah duduk di kursi kayu tepat di depan perapian. Jea yang tadinya duduk di karpet merah lantas berjalan pada Jeffrey.


“Duduk di pangkuanku,” Jeffrey menepuk-nepuk pahanya, mengisyaratkan Jea untuk duduk disana.


Ragu-ragu, Jea menuruti titah Jeffrey barusan. Membuat sang empu menyeringai menang.


Keduanya menghening, menyisakan suara kayu yang terbakar di perapian dan dentuman jantung yang kencang. Baik Jea, maupun Jeffrey.


Pelan-pelan, tangan itu mulai melepas satu demi satu kancing gaun yang Jea kenakan. Tidak ada penolakan, entah mengapa. Mungkin karena gadis itu sudah cukup terbiasa dengan kelakukan Jeffrey.


Mata pria itu masih beradu dengan milik Jea. Terkesan memuja. Jeffrey begitu memuja gadis yang kini tengah duduk di pangkuannya.


Tangan itu mulai mengelus bahu telanjang Jea dengan gerakan yang begitu perlahan, sedikit membuat geli.


Jea bisa melihat langsung ke dalam netra gelap berpantulan merah cahaya perapian, jika Jeffrey tidak melepaskan pandangannya sedari tadi. Seolah-olah jika Jeffrey melirik yang lain, gadis itu akan menghilang seketika.


“Apa kamu disentuh seperti ini juga sama laki-laki lain?” Jeffrey mendekatkan bibirnya lalu mengecup kecil bahu basah itu.


“T-tidak.”


“Apa kamu dicium seperti ini juga sama laki-laki lain?” Jeffrey bergerak mencium pipi Jea cukup lama.


“Itu, tidak juga...”


Jeffrey lantas tersenyum, “Apa kamu pernah menunjukan tubuhmu seperti ini di depan laki-laki lain?”


Kali ini Jea menggeleng sebagai jawaban. Malu-malu, gadis itu mengalihkan pandangannya ketika ia juga menyadari jika Jeffrey adalah pria pertama yang pernah melihat tubuhnya tanpa pakaian.


Tangan kekar itu beralih memeluk pinggang Jea posesif. Dikecupnya berkali-kali belahan dada Jea yang terpampang nyata di hadapannya.


Jea langsung menahan bahu Jeffrey pelan, merasa sudah teramat malu.


“Call out my name, baby.”


“... Jeffrey.”


“Yes, i'm yours.”


Jeffrey bergerak menciumi bibir Jea perlahan. ********** seperti yang pernah ia lakukan. Tangannya menarik tengkuk gadis itu untuk mendekat.


Jea tidak menolak saat sebuah pernyataan fakta menyeruak di dalam benaknya; jikalau ciuman Jeffrey memang sehangat itu.


“Aku memang bukan pria baik-baik buat kamu—”


“But if you like, driving through the night with the window's down, make some trouble in the street, burn out the money, or punch some brats in the face—”


“—I can be the boss for you.”