Under Sun

Under Sun
28. I Think It’s Over Now



Pagi masih cerah. Mentari masih terbit seperti biasanya. Seberkas cahaya yang mencuri masuk melalui ventilasi kecil sedikit demi sedikit mulai membangunkan gadis itu dari tidurnya.


Namun satu hal yang perlu disadari; semuanya jelas berbeda.


Mata Jea yang terlihat membengkak sedikit menyipit, hampir tidak bisa membuka kedua matanya ketika cahaya remang-remang mulai menggerogoti seluruh inci di ruangan itu.


Kepalanya sakit, berdenyut-denyut kuat. Mungkin karena ia baru bisa terlelap saat malam sudah hampir menerang kembali.


Perlahan-lahan Jea membuka matanya, tidak menggubris pernyataan jika mata itu masih sembab. Jemarinya sedikit meremas selimut putih yang terasa dingin.


Hari ini adalah hari dimana Jea sudah memutuskan untuk pergi. Benar-benar pergi seutuhnya— meninggalkan semua yang telah terjadi sampai kini.


Di ujung kamar sudah tergeletak ransel hitam yang tidak terlalu besar. Hanya berisikan beberapa pakaian yang memang ia beli sendiri dan juga persediaan makanan.


Jea hanya tidak ingin lagi mengusik kehidupan Jeffrey.


Langkah kakinya mulai menapak pada lantai yang benar-benar terasa dingin. Syal yang ia lilitkan di leher tampaknya masih belum bisa sepenuhnya menghangatkan tubuh mungil itu.


Jea bergerak duduk di depan meja rias. Menatap pantulan dirinya di cermin bundar. Tidak ada lagi senyuman disana. Salah satu jarinya menyentuh bibir pucat itu, mengelusnya pelan.


Mungkin, tidak seharusnya Jea memikirkan pria itu sampai merugikan dirinya sendiri. Tapi apa yang harus dirinya perbuat ketika prioritas utama di dalam hidupnya adalah Jeffrey?


Sesukar mungkin, Jea tersenyum di depan cermin itu. Meyakinkan dirinya sendiri jika semuanya akan membaik. Karena di setiap kesempatan yang ada, Jea selalu bisa bangkit kembali mau bagaimanapun dunia meruntuhkan tubuhnya.


Jea lantas mengambil mantel putih yang tergeletak di atas nakas kemudian dipakainya secepat kilat. Kakinya kembali bergerak, berjalan menuju ruangan dan mengambil ransel hitam itu.


Matanya menilik pada jam yang berdentang di dinding. Sejam lagi, kereta yang seharusnya ia tumpangi akan berangkat menuju destinasi yang dirinya tuju.


Dengan cepat gadis itu keluar, sedikit melebarkan langkahnya menuju pintu utama rumah ini.


Pagi itu rumah terasa sepi, tentu saja. Perlu diketahui jika Jea memutuskan untuk pergi dari rumah itu di pagi hari seperti ini karena setahunya Jeffrey dan Ana sedang melakukan perjalanan singkat ke Brampton. Entahlah, ia tak ingin mengulik lebih dalam alasan mengapa keduanya pergi kesana.


"Sudah siap?"


Seorang lelaki muda yang tenggah kembali menyalakan mesin motor besarnya melirik Jea ketika perempuan itu muncul dari balik pintu krim.


Sebagai balasan, Jea hanya mengangguk. Dengan segera ia mendudukan tubuhnya di atas jok belakang ketika kepala Jisung mengisyaratkan agar ia tidak lagi berlama-lama menghabiskan waktu mereka dan langsung duduk di kursi penumpang.


"Pegangan," Ujar Jisung lagi, membuat Jea langsung memegang kedua sisi pinggang lelaki itu.


Dan tanpa berbasa-basi lagi, motor itu segera melaju pesat membelah jalanan yang cukup sepi.


Sejujurnya Jea merasa beruntung karena semalam, Jisung secara tak sengaja mengunjungi rumah itu ketika Jeffrey sedang tidak ada di tempat. Membuat dirinya dan Jisung dipertemukan dalam keadaan yang tak pernah dipersiapkan pula sebelumnya.


Dan hal yang lebih membuat Jea terkejut ialah ketika Jisung langsung menawarkan tumpangan untuknya. Bahkan Jisung pula yang menyarankan dirinya untuk segera pergi dari sana.


Bagi Jisung sendiri, hidup dalam keadaan seperti itu tidak ada bedanya dengan bunuh diri.


Jadi, Jea hanya mengiyakan segala saran yang Jisung kerahkan untuknya. Bahkan perempuan itu masih tak habis pikir mengapa Jisung mau merepotkan diri hanya untuk sekedar membantu dirinya yang bukan siapa-siapa di dalam silsilah kehidupan lelaki itu.


Jarak dari rumah besar milik Jeffrey dengan stasiun kereta yang ingin Jea tumpangi tidaklah terlalu jauh. Hanya memakan dua puluh menit dengan berkendara secara normal. Namun karena Jisung bukanlah salah satunya, maka mereka bisa sampai di stasiun dalam kurun waktu lima belas menit.


"Terima kasih. Jea nggak tau lagi bagaimana harus bilang terima kasih pada Tuan," Ucap Jea yang pertama kali setelah lima belas menit menghening bersama dalam perjalanan tadi.


"Sudah saya bilang, panggil saja Jisung. Jangan Tuan."


Dengan gugup Jea mengangguk kikuk, "Ah— maaf."


Beberapa detik Jisung habisi untuk menatap wajah pucat Jea yang sudah turun dari motornya. Jisung menggeleng pelan. Bagaimana bisa Jenderalnya yang ia yakini tidak akan melakukan hal seburuk itu bisa berlaku seperti ini?


Jisung beralih melepaskan syal hitam yang ia kenakan. Perlahan, lelaki itu melilitkan syal itu di leher Jea yang sebenarnya sudah terlilit oleh syal lain.


"J-Jisung?"


Lelaki itu melirik Jea sekilas, lalu menepuk pelan syal yang perempuan itu kenakan— agar setidaknya butiran salju itu tidak lagi menempel disana, "Hati-hati. Kamu tau kamu bisa hubungi saya kapan saja."


Setelahnya, Jea terdiam. Seiring dengan Jisung yang kembali melajukan motornya meninggalkan tempat yang cukup padat itu.


Lima belas menit lagi kereta menuju Greater Sudbury akan sampai. Jea harus segera mempersiapkan dirinya agar tidak tertinggal kereta itu. Mengingat kawanan manusia di sekitarnya sungguh ramai.


Kedua tangannya yang dingin mengeratkan pegangannya pada rok coklat panjang yang ia kenakan. Entah mengapa, dirinya merasa begitu gugup saat ini. Apa mungkin karena pada kenyataannya Jea belum pernah menghadapi dunia sendiri?


Kerumunan manusia masih membuatnya takut dan gugup. Tapi perempuan itu tahu, tiada pilihan lain.


"Jea."


Matanya sedikit bergerak kesana dan kemari, mencari dari mana asal suara familier yang baru saja menyebutkan namanya dengan lantang.


Kedua netra itu jatuh tepat pada sesosok pria tinggi yang berdiri di antara kerumunan manusia. Sontak, membuat tubuhnya mendadak kelu— membeku di tempatnya.


Pria dengan jaket kulit hitamnya itu berjalan mendekat, seolah-olah membelah keramaian yang mengusiknya. Semakin mendekat sampai-sampai Jea tidak tahu harus memasang mimik seperti apa pada pria itu.


"Jea," Panggilnya sekali lagi. Suara itu terasa menggema, terdengar sama, terlantun hangat.


Dan semakin membuat gadis itu tidak tahu harus bagaimana.


Jeffrey menghembuskan nafasnya pelan ketika ia sudah berhasil memperkecil jarak di antara keduanya. Membuat perbedaan tinggi mereka yang kontras terlihat seketika.


Rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan membuat Jea tahu, jika laki-laki itu agaknya terburu-buru untuk kesini.


"I just want to tell you something."


Kedua alis Jea mulai tertaut ketika pada akhirnya Jeffrey menyuakan hal itu. Mengapa? Mengapa harus sekarang? Kenapa Jeffrey harus menjelaskan segala perbuatannya disaat Jea sudah memutuskan untuk pergi?


Namun kendati demikian, gadis itu tetap mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Untuk beberapa detik, keduanya sama-sama saling terdiam. Baik Jea dan Jeffrey, tidak ada satupun yang tampak melantunkan deraian kata terlebih dahulu. Sampai di penghujung keadaan, Jeffrey kembali memutuskan untuk melanjutkan perkataannya.


"Maaf."


Kedua mata hitam itu jelas menatap lamat-lamat pada sepasang netra Jea yang juga turut membalas tatapannya. Sendu, dan sayu. Untuk beberapa alasan, Jea hanya ingin memeluk sosok pria yang berada di hadapannya kini.


Karena perempuan itu tahu, tatapannya tak pernah berbohong.


"Kemarin, aku belum siap buat bilang ini ke kamu. Aku tau kamu mau pergi sekarang. Tapi sebelum itu, aku mau kamu tau kalau kita harus berhenti sampai disini."


Sejujurnya, Jea sudah menduga jika hal itulah yang akan keluar dari bibir pria itu. Namun entah mengapa, mendengarnya langsung tetap membuat dadanya sakit. Mati-matian Jea mengeratkan kepalan tangannya, menahan gejolak yang hampir keluar dari pelupuk matanya.


"I love you. And that's fact. Aku nggak mau kamu pergi tanpa tau hal itu. Tapi kamu harus tau kalau aku juga nggak bisa ninggalin Ana. Aku sadar kalau dia tetap perempuan yang sudah sah jadi istri dari tubuh ini. Aku juga harus bertanggung jawab—"


"— karena dalam status sosial, aku juga suaminya."


Untuk beberapa saat Jea memejamkan kedua matanya. Kepalanya kembali berdenyut secara tak beraturan ketika kata-kata itu menusuknya begitu kuat.


Tidak ada yang salah dari perkataan itu. Yang salah hanyalah dirinya dan kenaifan yang ia miliki sampai saat ini.


Namun mau bagaimanapun, tidak ada yang bisa membantunya. Karena pada hakikatnya, hati perempuan itu sudah terjatuh teruntuk segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada Jeffrey.


Jea berkali-kali berusaha menenangkan deru nafasnya yang sedikit tidak karuan, "Kalau begitu, ayo kita akhiri sampai sini saja, Jeffrey."


Wajah pria itu samar-samar sedikit tersenyum pelan, "Maaf kalau aku tiba-tiba berubah dan nggak bilang apa-apa ke kamu. I'm sorry for hurting you."


Sekuat tenaga, Jea berusaha membalas senyuman itu, "Boleh Jea peluk Jeffrey buat yang terakhir kalinya?"


Awalnya Jeffrey bergeming di tempatnya. Membisu dalam beribu bahasa sebelum pada akhirnya ia merengkuh tubuh gadis itu yang terasa sedikit bergetar.


Jea menangis dalam diam. Tanpa direncanakannya, air mata itu lagi-lagi membasahi pipinya hingga terjatuh tepat di atas jaket kulit hitam yang Jeffrey kenakan.


Dalam keramaian yang ada, Jea dan Jeffrey saling terdiam dalam keheningan yang hanya dimengerti oleh keduanya. Gadis itu kian bergetar ketika tangan Jeffrey mengelus pelan punggungnya.


"Lain kali, jangan berharap lebih kepada siapapun. Hope will keeps us breathing just to kill us in the end," Ucap Jeffrey samar-samar. Membuat gadis di dalam dekapannya semakin terasa hancur berkeping-keping dalam beragam rasa yang hanya ia rasakan sendiri.


Jea mencintai Jeffrey, begitu pula dengan pria itu. Tapi disaat keduanya dihadang pada kenyataan yang tidak lagi bisa dielak, satu-satunya keputusan yang bisa Jeffrey lakukan hanyalah melepaskan gadis itu.