
Malam ini adalah malam keduapuluh semenjak insiden penangkapan Jeffrey oleh Federal Bureau of Investigation. Gadis itu sudah berusaha sebisanya untuk kembali ke Washington DC, namun usahanya selalu sia-sia karena beberapa intel FBI tampak mengawasinya. Bahkan ia seperti buronan yang tidak bisa kemana-mana. Contohnya saja, ia tidak bisa menggunakan kendaraan laut karena pihak kapal menolak untuk membawanya.
Semenjak insiden itu pula, Jea langsung kembali dipulangkan ke Toronto, dan tinggal sendirian di rumah Jaehyun.
Omong-omong mengenai Jaehyun, Jea juga tidak tahu jelas bagaimana kabar pria itu saat ini. Karena yang Jea yakini, Jaehyun pasti akan terbangun di siang hari.
Namun untung saja, Jisung, salah satu bawahan Jaehyun kerap mengunjunginya dan membawa bahan-bahan makanan untuk gadis itu. Jisung bilang, Jaehyun sempat berpesan padanya untuk menjaga Jea saat Jaehyun hilang tiba-tiba.
Sepertinya pria itu memang sudah berancang-ancang mempersiapkan segalanya dengan sempurna.
Yang Toronto tahu saat ini, Jaehyun menghilang. Benar-benar menghilang tanpa jejak sedikitpun. Bahkan para petinggi-petinggi kemiliteran yang merupakan rekan dekat Jaehyun tidak tahu sama sekali kemana pria itu pergi.
"Terimakasih," Jea sedikit membungkung saat Jisung meletakan sekeranjang buah juga sayur-mayur di atas meja.
"Tidak masalah. Ini semua juga dibeli dengan uang Jenderal Jaehyun."
Mendengar hal itu, Jea terdiam. Demi apapun, ia rasanya benar-benar tidak ingin mendengar nama itu lagi. Jea tidak ingin mendengar nama Jaehyun dan Jeffrey.
Karena setiap ia mengingat pria itu, Jea hanya akan terus menangis.
Bahkan sudah hampir dua hari ia tidak makan apapun jikalau tak dipaksa oleh Jisung.
"Makan, buahnya akan saya kupaskan," Jisung bergerak mengambil swiss army di kantung celana kepolisiannya lalu mengupas kulit persik yang baru saja dicuci.
Jea kini sedang menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Dirinya demam. Tubuhnya terlihat lebih kurus daripada yang sebelumnya.
Sedikit membuat Jisung meringis kasihan.
"Jenderal akan kembali. Kamu jangan khawatir."
Tidak ingin terkontaminasi kembali oleh pikiran buruk, Jea hanya mengiyakan dengan anggukan.
Buah persik itu dipotong kecil-kecil, kemudian Jisung meletakannya diatas paha Jea yang tertutupi oleh selimut tebal, "Makan."
Dengan lemas, Jea hanya bisa mengambil potongan buah persik itu dengan lemas. Meskipun tidak ada selera makan sama sekali, Jea memaksakan dirinya untuk melahap buah itu karena tatapan Jisung yang sangar.
"Lain kali kalau saya tidak ada, tolong tetap makan. Saya tidak punya banyak waktu untuk mengurus kamu kalau kamu sakit terus," Ujar Jisung ketus sambil kembali memotongkan buah yang baru.
Namun kendati, Jea tetap tersenyum. Selama hampir tiga minggu bertemu Jisung, Jea tahu jika lelaki itu baik. Hanya saja memang penuturannya kadang terdengar sedikit kasar, "Iya, maaf."
"Kalau begitu. Saya mau ambil obat kamu dulu, sebentar saja."
Sejujurnya Jea merasa tidak enak karena sudah merepotkan Jisung, "Iya, terimakasih Jisung."
Setelahnya Jisung menghilang dari balik dinding kamar, meninggalkan Jea berdua dengan potongan persik.
Suasana di kamar menghening cukup lama. Seiring dengan waktu yang berdentang lambat.
Jisung sudah pergi cukup lama.
Sebenarnya badannya terasa remuk sekali. Namun untung saja berkat Jisung, tubuhnya terasa lebih ringan dari yang sebelumnya.
Jea ingin mandi, panas sekali rasanya padahal sudah malam. Baru saja langkahnya ingin pergi ke dalam bilik mandi, Jea berputar haluan. Teringat akan sesuatu yang harus ia ambil.
Cepat-cepat Jea membuka pintu lalu melihat ke bawah. Benar saja, lagi-lagi secarik surat diletakan disana.
Tidak, gadis itu juga tidak tahu siapa gerangan yang dengan misteriusnya terus-menerus memberikannya surat setiap dua malam sekali.
Tidak mungkin... pria itu?
Kepalanya menoleh ke segala penjuru, memastikan tidak ada satupun manusia yang melihat aksinya saat ini. Selain dirinya, tidak ada orang lain yang mengetahui tentang surat itu.
Ah, kecuali si penulis dan pengirim surat.
Tujuan awalnya yang ingin membasuh diri langsung diurungkan. Buru-buru gadis itu pergi ke kamar, membuka surat itu dengan tergesa-gesa.
09.13 pm
in my dream, i kiss your neck. you are so wet
down there. in my thoughts,
we make love all night long.
Tubuhnya sedikit meremang setelah membaca surat itu. Entah bagaimana caranya, runtaian kalimat yang ditujukan padanya itu membuatnya teringat akan sesosok pria yang teramat ia rindu.
Tidak cukup akan hanya satu surat, Jea kembali membongkar isi lacinya lalu mengeluarkan kembali surat-surat yang terus-menurus berada di depan pintu rumah Jaehyun.
10.28 pm
i really want to do all the dirty
things inside my head to you like,
right now if i could.
11.11 pm
and i don't want to forget
how your soft voices sounds
8.19 pm
i've been craving for you
and this is so bad
9.17 pm
and if heaven could speak,
it will sound like you
11.12 pm
last night,
i talked to some guys that interested in you,
i said, "i licked her, so she is mine."
Darahnya terasa berdesir hebat. Jea tidak pernah merasakan hal ini kecuali saat jemari panjang pria itu menyentuh permukaan kulitnya. Menyentuhnya dengan lembut. Menciumi setiap inci tubuhnya.
Jea memejam erat-erat. Berusaha mengingat bagaimana rasanya saat pria itu melakukan hal-hal yang diluar ambang rasionalitas.
Jeffrey,
Jeffrey,
Jeffrey.
Berulang kali Jea memanggil nama itu disetiap malam menghampiri.
【under sun】
Jea melenguh panjang setelah berhasil menenggelamkan sebagian besar tubuhnya di dalam kolam kecil yang terbentuk dari sekumpulan bebatuan yang berada tak jauh dari rumah Jaehyun. Letaknya berada di samping hutan, jarang sekali ada manusia yang berlalu-lalang disini jadi gadis itu tak takut untuk menanggalkan seluruh pakaiannya dan berendam disana.
Setelah lelah menerka-nerka siapa dalang dibalik surat-surat tadi, Jea akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati betapa dinginnya air kolam yang tidak terlalu dalam itu. Mungkin hanya sebatas pahanya jika ia berdiri.
Kepalanya terasa sedikit pusing. Jea memilih memejamkan matanya erat setelah ia menyenderkan kepalanya di salah satu dinding batu yang lembab.
Apa malam ini Jeffrey masih bernafas?
Jika iya, apa yang sedang pria itu lakukan?
Apa Jeffrey tengah memikirkannya seperti Jea yang juga sibuk meracau akan Jeffrey di dalam pikirannya?
Demi apapun, gadis itu sama sekali tidak mengerti dengan perasaan ini. Apa yang salah dengannya sampai-sampai ia merasa begitu kehilangan sosok menyeramkan itu?
Jea tidak paham sama sekali. Seharusnya tidak begini. Seorang budak hanyalah seorang budak. Tidak memiliki hak untuk jatuh cinta terhadap orang lain apalagi dengan seseorang seperti Jeffrey.
Apakah dirinya pantas bersanding dengan pria itu?
Tidak ada yang tahu.
Mungkin tidak ada lagi kata-kata lain yang lebih pantas untuk mendeskripsikan betapa Jea sangat merindukan Jeffrey. Tidak ada satupun orang yang mampu menandingi pria itu, sampai kapanpun.
Tampaknya, Jea terlalu sibuk berbicara dengan dirinya sendiri sampai-sampai tidak menyadari pergerakan pelan dari arah semak-semak sana. Langkah kaki itu begitu sunyi, mendekat tanpa berbisik.
Jantung gadis itu hampir berhenti berdetak saat tiba-tiba saja kedua matanya yang memang sudah tertutup sedari tadi, terbalut oleh seuntai kain panjang yang kini benar-benar menutup jalur penglihatannya.