
Crete, Greece.
Terlalu terik dan terlalu panas; keadaan dimana sebagian orang lebih memilih untuk berada di bawah atap, terlindungi dari sengat mentari yang ada. Namun beberapa manusia memutuskan untuk bersenang-senang dengan matahari, seperti halnya Jeffrey dan Jea yang kini tengah menatap hempasan ombak dari kejauhan.
"Kamu mau berenang?"
Lantas Jea memutar kepalanya, mengarahkan pandangan pada Jeffrey dengan kacamata hitam yang bertengger diatas tulang hidung pria itu.
"... Enggak."
"Kenapa?"
Kemudian beberapa detik berlalu, meninggalkan Jeffrey yang masih menunggu jawaban untuk terlontar dari bibir ranum perempuan di sampingnya, "Jea nggak bisa berenang," Cicitnya— hampir tidak terdengar.
Jeffrey tersenyum simpul. Jarinya menyisir pelan helaian rambut Jea yang sedikit berserakan. Sepertinya angin memang suka berulah pada gadisnya itu.
"Aku bisa ngajarin kamu, apapun itu. Termasuk berenang—"
"— dan cara ciuman yang benar."
"Jeff!" Dalam sekali pergerakan, Jea sudah mencubit keras pinggang Jeffrey yang tengah menyenderkan tubuhnya di pintu mobil.
Dua lesung pipinya langsung terlihat ketika gelak tawa menghiasi wajahnya, bahunya sedikit bergetar karena tawanya yang cukup menggelegar tak jauh dari bibir pantai.
"Kalau gitu, mau kesana?" Jeffrey menunjuk pada sebuah bangunan kecil yang berdiri sendiri di tengah-tengah pantai.
Lantas perempuan itu mengangguk. Sebuah senyuman tertoreh di wajah Jeffrey yang rupawan. Rambutnya yang lebat itu tersapu kesana-kemari, seiring dengan hembusan udara yang semakin menjadi-jadi.
Kedua tangan mereka tertaut. Berjalan pelan menyusuri butiran pasir lembut yang mengalasi langkah keduanya.
Itu adalah satu-satunya coffee shop yang tersedia di sekitar sini. Kecil, namun terlihat begitu nyaman untuk dipandang.
Pintu bertinta tosca dengan kaca transparan adalah sesuatu yang pertama kali menyapa Jea dan Jeffrey. Keduanya langsung masuk kesana, kemudian mendapati dua orang pelayan muda yang tersenyum ramah pada mereka.
"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa salah satu lelaki muda tinggi itu terlebih dahulu.
Pandangan Jea menyapu pada seluruh penjuru, menemukan kenyataan menyenangkan jikalau tempat ini sangan berkesan baginya. Arsitektur yang unik dengan kesan rumah tua. Seperti tahun 50-an.
Bahkan beberapa meter dari pijakan mereka, Jea bisa melihat pintu belakang coffee shop itu yang terbuka lebar, menunjukan panorama laut yang mengkilau, tak lupa bersama dengan beberapa manusia yang sedang bersantai disana.
"Dua flat white di meja ujung sana," Jeffrey menunjuk pada meja yang masih kosong di luar pintu belakang itu.
"Baik Tuan, harap ditunggu sebentar."
Sepertinya Jeffrey bisa langsung tahu jika Jea benar-benar menyukai tempat ini. Jeffrey kembali mengulas senyum saat gadis itu sudah berlalu terlebih dahulu, meninggalkannya yang masih berdiri di tempat semula.
Jeffrey berjalan mengikuti langkah Jea yang sudah mendudukan dirinya disalah satu bangku meja ujung. Tangannya melambai-lambai seraya tersenyum lebar. Tunggu, Jeffrey berharap tidak ada satupun yang melihat prilaku Jea barusan karena ia tidak ingin ada saingan lain yang harus dirinya bunuh.
"Kamu suka?"
Ucap pria itu setelah ikut mendudukan dirinya di hadapan Jea. Kemudian beralih memperhatikan Jea yang kini tengah memejamkan matanya erat-erat; menyesapi bagaimana angin mengelus lembut kulitnya yang mampu teraih.
Sepertinya hari ini Jeffrey tidak bisa menghitung, berapa banyak ia harus tersenyum karena Jea. Jeffrey benar-benar memuja perempuan itu.
Perlahan, tangan Jeffrey bergerak mengelus pipi Jea yang terlihat sedikit bersemu merah— mungkin akibat mentari yang cukup terik hari ini.
Jemari itu terasa nyaman, lembut, dan apa yang benar-benar Jea butuhkan saat ini. Jari-jarinya bergerak menyampirkan helaian rambut gadisnya di belakang telinga.
Lalu dengan lembut Jeffrey sedikit berbisik, "Hari ini kamu cantik."
【under sun】
Lagi-lagi Jea kembali mengernyit. Tunggu— memangnya ada yang salah? Sedari tadi perempuan itu tak habis pikir, sebenarnya apa yang tengah mengganjal di benaknya.
Baiklah, jika boleh jujur, Jea tentu masih bingung dan bertanya-tanya mengenai perkara beberapa hari yang lalu; tentang Jeffrey dengan ketakutan luar biasanya di malam gelap itu.
Jea sungguh hampir mati karena khawatir, dirinya hampir ingin melontarkan beribu pertanyaan mengenai kejadian itu, tapi entahlah— Jea sepertinya tahu jika hal tersebut bukanlah hal yang bagus untuk kembali diperbincangkan.
Namun kini ia harus berurusan lagi dengan setumpuk pemikiran tidak masuk akal. Mengapa dirinya merasa jika Jeffrey terasa begitu tidak asing?
Tunggu— jangan salah paham. Jea memang merasa nyaman dengan pria itu tapi ada beberapa sisi yang ia temukan dibalik sosok Jeffrey dan itu terasa begitu familiar dan ... teramat ia rindukan.
Seperti, Jea pernah bertemu dengan pria itu sebelum insiden malam berdarah sebelumnya. Dikala Jeffrey membantai seluruh keluarga Collins dan bertemu dengannya.
Pemikiran yang sungguh diluar nalar.
"Kamu kenapa? Sakit?" Jeffrey yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku tak biasa Jea langsung bertanya.
Karena semenjak mereka meninggalkan pantai, Jea terlihat lebih diam dari yang biasanya.
Jea menoleh dengan cepat, matanya terbuka lebar— sedikit kaget, "Ah? E-enggak."
Lantas Jeffrey mengernyit, "Kamu—"
Suara sinyal walkie talkie yang terdengar cukup keras membuat keduanya memandangi benda yang terletak di atas dashboard mobil Jeffrey.
"Sebentar," Jeffrey langsung meraih benda itu lalu menekan tombol hitam di samping tubuh walkie talkie.
"Maaf bos, ada sesuatu yang harus saya laporkan."
Sepasang alis pria itu bertaut, suara Jungwoo barusan terdengar lebih serius dari pada yang biasanya, "Katakan."
Awalnya terdengar sunyi. Tidak ada sepatahkatapun yang keluar dari sebrang sana; Jungwoo. Pria itu hanya terdiam seribu bahasa. Entah sengaja ingin membuat Jeffrey marah karena Jeffrey paling tidak suka dibuat menunggu, atau memang masalah yang ingin dibicarakannya terlampau sulit.
"... Istri Jaehyun sudah pulang."
Sontak mobil yang tengah Jeffrey kendarai itu berhenti mendadak. Dan untungnya tangan kiri Jeffrey yang tengah memegang walkie talkie itu sigap menahan tubuh Jea di sampingnya agar tak terhantuk ke depan.
"Apa maksudmu?"
"... Nyonya Ana, sudah kembali ke Toronto."